Pemain Paling Diremehkan Dalam Sejarah Liga Primer Inggris

spot_img

Dalam sebuah kompetisi, selalu ada saja pemain yang kerap tampil memukau. Namun begitu, tidak sedikit dari mereka yang tidak mendapat perhatian lebih. Artinya, meski terus kesankan para penggemar, pemain tersebut jarang mendapat sorotan dan cenderung diremehkan. Padahal, sekali lagi, bila melihat kontribusinya bagi tim, seringkali ada pemain tersebut dalam daftar paling berpengaruh.

Pada kesempatan kali ini, kami akan menyajikan daftar pemain paling diremehkan di kompetisi Liga Primer Inggris.

 

Steed Malbranque (Fulham)

Semua pecinta Liga Primer Inggris tentu ingat dengan nama Steed Malbranque. Steed Malbranque begitu diingat ketika masih membela Fulham. Dalam total 172 penampilan yang dijalani, dia berhasil melesakkan sebanyak 32 gol.

Steed Malbranque dibeli Fulham dari Lyon sebagai salah satu gelandang paling kreatif yang pernah ada. Lebih dari itu, dia bahkan pernah menjadi pencetak gol terbanyak klub pada musim 2002/03, saat Fulham masih terus berjuang untuk keluar dari zona degradasi.

Steed Malbranque, selama karirnya di Fulham, dianggap sebagai salah satu pemain paling berpengaruh bagi tim. Meski tak selalu ciptakan momen spektakuler, aksinya di lapangan seringkali mengundang decak kagum. Dia adalah pemain yang selalu memberikan 110% kemampuannya untuk klub yang dibela.

 

Youri Djorkaeff (Bolton)

Youri Djorkaeff merupakan salah satu pemain terbaik yang dimiliki timnas Prancis. Sebelum datang ke Liga Primer Inggris untuk membela Bolton, Youri Djorkaeff lebih dulu tampil bersama banyak klub, termasuk Paris Saint Germain dan juga Inter Milan.

Pada saat bergabung dengan Bolton di kompetisi Liga Primer Inggris, Youri Djorkaeff tampil luar biasa bersama dengan nama-nama hebat seperti Ivan Campo dan Jay-Jay Okocha, yang berada dibawah asuhan pelatih Sam Allardyce.

Sebagai pemegang gelar Piala Dunia bersama Prancis, Youri Djorkaeff punya segalanya untuk bisa menjadi pemain andalan. Benar saja, dia menjadi salah satu pemain yang ditakuti lawan ketika berada di atas lapangan. Dia punya keterampilan berkelas dan kemampuan tak tertandingi, untuk bisa mencetak sebanyak 20 gol dari 75 pertandingan yang dijalani.

 

Diego Forlan (Manchester United)

Masa Diego Forlan di Manchester United memang banyak diremehkan orang. Padahal, meski hanya dua tahun membela Setan Merah, dia berhasil persembahkan gelar Liga Primer Inggris dan juga Piala FA. Forlan menjadi salah satu pemain yang cukup diandalkan MU, yang didatangkan dari Independiente pada 2002 silam. Namun memang ada beberapa hal yang membuatnya sedikit lambat berkembang hingga sang pemain memutuskan hijrah ke Villarreal pada tahun 2004.

Forlan yang mampu mencetak 17 gol dari 98 pertandingan bersama MU banyak dipandang remeh. Namun begitu dia pernah menjadi pahlawan MU di laga krusial. Salah satu momen terbaiknya bersama MU, yang pastinya tidak akan dilupakan penggemar adalah ketika dia berhasil mencetak dua gol ke gawang Liverpool, untuk memberikan kemenangan 2-1 bagi MU pada Desember 2002 silam.

 

Paolo Di Canio (West Ham)

Paolo Di Canio, pria Italia yang punya cerita istimewa di tanah Britania. Di Canio sudah banyak sekali membela klub Italia, dimana salah satu karirnya pernah terukir bersama West Ham. Meski bukan tim dari negara asalnya, Di Canio berhasil keluar sebagai seorang legenda. Namun sayang, namanya tak terlalu didengungkan.

Dia datang ke West Ham pada tahun 1999 dan langsung menjadi pemain penting bagi The Hammers. Di Canio bisa bermain di berbagai posisi sekaligus mampu menciptakan deretan gol yang tak terlupakan oleh para penggemar. Salah satu gol terbaiknya adalah sepakan voli nya ke gawang Wimbledon.

Selama tampil di Inggris, dia dikenal sebagai pemain yang tangguh. Dengan segala performa terbaiknya di klub tersebut, Di Canio bahkan berhasil menyabet gelar pemain terbaik West Ham menurut para suporter pada tahun 2000 silam.

 

Tugay (Blackburn)

Tugay Kerimoglu, seluruh penggemar Liga Inggris di era 2000 an tentu masih ingat betapa heroiknya aksi pemain ini di tengah lapangan Blackburn Rovers.

Tugay pindah ke Blackburn dari Rangers pada tahun 2001 dengan biaya senilai 1,3 juta euro atau setara 22 miliar rupiah. Dia sudah berusia 31 tahun saat itu namun masih memiliki kualitas terbaik sebagai seorang gelandang. Pengalamannya bersama klub Turki, Galatasaray, juga tidak bisa diremehkan. Dia berhasil meraih enam gelar liga dan piala domestik lainnya.

Saat datang ke Blackburn, Tugay menjadi idola di lini tengah tim. Dia banyak membantu tim dalam hal serangan maupun pertahanan. Pada tahun 200 atas aksi luar biasanya di lapangan, termasuk mencetak gol-gol indah, Tugay berhasil menyabet penghargaan sebagai pemain terbaik klub.

Dia mencetak gol terakhirnya pada usia 38 tahun dan menjadi salah satu pencetak gol tertua di Liga Primer Inggris, sebelum putuskan pensiun pada tahun 2009.

 

Matt Le Tissier (Southampton)

Tak banyak yang memandang Matt Le Tissier sebagai seorang pemain hebat. Padahal, aksinya di lapangan sering mengundang decak kagum. Dia tak jarang mencetak gol indah dan menampilkan aksi-aksi memukau di atas lapangan. Salah satu spesialisasinya adalah menjadi algojo penalti. Sepanjang karir, dari sebanyak 50 kesempatan tendangan penalti yang didapat, pemain berjuluk ‘Le God’ ini hanya gagal sebanyak satu kali saja.

Matt Le Tissier menghabiskan kebanyakan karirnya bersama Southampton. Selama 16 tahun karirnya bersama tim tersebut, dia berhasil mengemas 209 gol dari total 540 pertandingan. Dia benar-benar mencintai klub tersebut dan kerap menolak tawaran dari klub besar. Mungkin karena tidak pernah bermain untuk tim ternama itulah, sosoknya jarang diketahui publik.

 

Mario Balotelli (Manchester City)

Nama Mario Balotelli memang lebih lekat dengan berbagai hal kontroversi ketimbang rentetan prestasi. Akan tetapi jangan salah, musimnya bersama Manchester City layak membuat sang pemain mendapat pujian.

Balotelli merupakan pemain yang turut andil dalam memberikan gelar Liga Primer Inggris pertama bagi Manchester City. Dia bahkan tak jarang membantu tim dalam pertandingan lewat gol-gol ciamiknya.

Namun tetap saja, Balotelli lebih sering dipandang sebagai bocah yang tak serius, ketimbang pemain yang selalu tampil mengagumkan. Maka dari itu, sebagai bentuk protes darinya yang terus dikritik, pemain asal italia ini pernah melakukan selebrasi dengan memperlihatkan kalimat bernada “Why Always Me?”.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=2kTJdY5kbIE[/embedyt]

 

Sumber referensi: FourFourTwo, Punditfeed

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru