Jika mendengar nama Maldini dalam tubuh Milan, seluruh desiran darah seketika akan mengalir deras. Nama itu bukan sembarang nama. Maldini punya cerita, dan Milan menjadi wadah dimana barisan kata tersusun rapih dalam setiap lipatan yang terselip sejarah.
Sepakbola tak ubahnya menjadi tradisi dalam keluarga Maldini. Mereka berhasil menghipnotis setiap insan sepakbola Italia untuk selalu mengikuti tiap untai cerita yang disuguhkan dalam rona si kulit bundar.
Maldini memahami betul bagaimana konsep untuk meraih prestasi tinggi, menjadi yang paling dicintai, dan membuat namanya terkenang abadi.
Dinasti Maldini, begitulah orang-orang memberi nama Maldini pada tiap generasi. Dimulai dari Cesare, yang merupakan generasi pertama Dinasti Maldini, pria yang telah tutup usia pada April 2016 itu lebih dulu menaruh gema kebesaran keluarganya dalam rangka stadion kebanggaan Milan.
Untuk pecinta bola era modern, Cesare Maldini mungkin hanya dikenal sebagai pelatih bermental baja yang merupakan ayah dari legenda sepakbola Italia, Paolo Maldini.
Lebih dari itu, sepak terjang Cesare dalam tubuh AC Milan dan timnas Italia pantas dikenang sebagai salah satu legenda sepanjang masa.
Karier sepakbolanya berawal di Triestina, klub di kota ia dilahirkan. Usai memperkuat Triestina selama semusim, Cesare membaktikan dirinya kepada AC Milan selama 12 tahun. Selama memperkuat Rossoneri, Cesarone, julukannya, mempersembahkan 4 gelar Liga Italia serta 1 Piala Eropa, atau yang kini kita kenal sebagai Liga Champions.
Berposisi utama sebagai bek tengah, Cesare Maldini dapat pula dimainkan di posisi full-back atau gelandang bertahan. Pernah menjabat sebagai kapten timnas Italia, Cesare disebut-sebut sebagai salah satu bek terbaik Italia sepanjang masa. Hal itupun kemudian “diwarisi” oleh sang anak, Paolo.
Nama Cesare banyak menggema di persepakbolaan Italia. Ia menjadi salah satu pilar penting dalam keberhasilan AC Milan yang berhasil mengalahkan Benfica dalam laga final Liga Champions Eropa. Perlu diketahui, saat itu Benfica merupakan satu kekuatan terbesar sepakbola Eropa. Mereka miliki banyak pemain bintang dan menjadi pemutus era kejayaan beruntun Real Madrid di kompetisi Eropa.
Usai mengabdikan seluruh kemampuannya untuk AC Milan, Cesare pergi meninggalkan San Siro pada tahun 1966. Ia sempat memperkuat Torino selama satu musim sebelum memutuskan gantung sepatu.
Namun sayang seribu sayang, kegemilangannya dalam mengawal pertahanan AC Milan tak tersalur ke timnas Italia. Cesare memperoleh 14 caps selama memperkuat Gli Azzurri dari tahun 1960 hingga 1963. Ia pernah memperkuat tim nasional Italia di Piala Dunia 1962 di Chile. Namun, Italia saat itu gagal lolos babak kualifikasi grup.
Setelah puas berpetualang di lapangan hijau, Cesare sempat beristirahat selama tujuh tahun sebelum kembali ke Milan. Ia saat itu didaulat sebagai asisten pelatih Nereo Rocco.
Dua musim menjadi asisten, Cesare kemudian resmi melatih AC Milan pada tahun 1972. Dirinya pun berhasil mempersembahkan gelar double untuk Rossoneri yaitu Winners Cup dan Coppa Italia di musim 1972/73. Gagal meraih gelar liga, saat itu Milan memutuskan mengganti Cesare oleh rekannya saat bermain di Milan, Giovanni Trapattoni.
Setelah itu, Cesare terus berpetualang hingga mampu menembus kursi kepelatihan timnas Italia, sebelum akhirnya kembali ke Milan pada 2001.
Dari sekian prestasi yang membelit perjalanan kariernya, satu yang paling diingat dari Cesare adalah ia mampu menelurkan bakat berdarah Maldini lainnya, dalam diri Paolo.
Paolo Maldini memang menjadi nama yang begitu lekat dengan AC Milan. Ia benar-benar sukses dalam meneruskan era kejayaan Milan pasca kepemimpinan sang ayah. Berposisi sebagai bek, Paolo meawarisi seluruh yang ada dalam diri Cesare.
Ia begitu handal, berjiwa kepemimpinan tinggi, dan menjadi ikon klub yang miliki tujuh gelar Liga Champions Eropa.
Nama Paolo jelas lebih dikenal oleh para penggemar sepakbola era sekarang.
Paolo Maldini yang berposisi utama sebagai bek kiri, memiliki julukan ‘il Capitano’. Sosok yang lahir pada 26 Juni 1968 ini punya karier tak kalah cemerlang dari sang ayah. Bahkan, Paolo turut mengantarkan Rossoneri juara Serie A tujuh kali dan meraih gelar Liga Champions sebanyak 5 kali.
Meski tak pernah meraih penghargaan Ballon D’or, Paolo Maldini telah mendapat banyak pengakuan dunia. Ia disebut-sebut sebagai bek terbaik yang sampai saat ini belum ada yang mampu gantikan pamor nya.
Jika kalian pernah melihat iklan Nike yang begitu ikonik, maka akan langsung terbesit dalam pikiran bahwa memang benar, Maldini adalah jagonya menyapu bola.
Dalam iklan tersebut, terlihat sosok Maldini dengan dilengkapi kalimat,
“Penjaga gawang Italia merupakan pekerjaan paling mudah di Eropa”
Wajah AC Milan saat itu telah diubahnya menjadi sebuah dinasti bernama Maldini.
Fisik kokoh, keseimbangan ideal, kecepatan yang memadai, serta kecerdasan membaca permainan di atas rata-rata menjadi faktor penentu yang sukses membuatnya tak kesulitan memainkan peran sebagai tembok pertahanan tim.
Keperkasaan serta kharisma yang dimiliki Paolo Maldini bahkan sukses membuat bek sekaliber Carles Puyol meleleh. Bek legendaris milik FC Barcelona dan timnas Spanyol tersebut bahkan menjadikan Maldini sebagai panutannya dalam urusan mengolah bola.
Kedigdyaan pemimpin era kejayaan Milan itu juga diakui langsung oleh eks pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson.
“Aku menyaksikan pertandingan Milan melawan Bayern dan Maldini bermain 90 menit tanpa melakukan tekel. Itu adalah seni dan ia adalah penguasanya. Dia pemain hebat. Kalian tidak dapat mengabaikan pengalaman yang ia miliki,” (via planetfootball)
Maldini memahami betul filosofi dalam bertahan. Kualitasnya juga diakui oleh legenda sepakbola Brasil, Luiz Nazario Ronaldo Da Lima. Ia mengungkapkan bahwa Maldini berhak mendapatkan penghargaan pemain terbaik, bahkan tak hanya sekali, tetapi untuk beberapa kali.
“Jujur, bek bertahan yang sulit aku hadapi adalah Paolo Maldini. Dengan kualitas yang dimilikinya, ku rasa ia berhak mendapatkan penghargaan sebagai pemain terbaik dunia. Tak hanya sekali saja menurutku, tetapi beberapa kali, ia pantas meraihnya,” (via planetfootball)
Cerita kebesaran Paolo Maldini memang tak pernah ada habisnya. Bak buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya, ia benar-benar mengemban amanah sang ayah. Ia mempertahankan seni dalam bertahan, dan menjaga harkat martabat tim merah hitam dalam setiap pertandingan.
Maldini adalah simbol sepakbola AC Milan. Lebih dari itu, ia pantas disebut sebagai bek terbaik yang pernah mengisi susunan pemain tim nasional Italia.
Ia tak pernah berteriak untuk bisa dipandang hebat. Ia hanya perlu menjaga pertahanan dari terkaman lawan dengan cara yang penuh hormat.
Kini, Cesare bisa tersenyum diatas sana. Pasalnya, dinasti yang telah ia bangun di kubu AC Milan tak hanya diteruskan oleh Paolo, namun juga putra peraih lima gelar Liga Champions itu, Daniel.
Daniel Maldini, yang merupakan putra Paolo setelah Christian telah resmi mencatatkan debut di Serie A bersama AC Milan di San Siro.
Seperti yang kita tahu, gelandang berusia 18 tahun tersebut merupakan generasi ketiga keluarga Maldini, setelah Paolo dan Cesare, selaku ayah dan kakeknya, yang lebih dulu menjadi legenda I Rossonero.
Meski sudah masuk kedalam skuad Milan sejak pramusim 2019/20, Daniel harus menunggu hingga putaran kedua musim ini untuk melakoni penampilan perdananya.
Debutnya datang pada menit ke-93, dalam laga kontra Hellas Verona yang berakhir imbang 1-1.
Daniel Maldini melakoni debutnya 35 tahun setelah ayahnya, Paolo, dan 66 tahun setelah kakeknya, Cesare.
Patut dinantikan ekspedisi Daniel Maldini dalam wajah AC Milan. Semua penggemar I Rossoneri tentu berharap jika Daniel mampu teruskan tongkat kejayaan merah hitam di panggung dunia.


