Kalau ada klub yang paling nggak tau diuntung di dunia ini, sudah jelas Tottenham Hotspur jawabannya. Pemutusan hubungan kerja dengan Ange Postecoglou jadi contoh nyata bagaimana ayam sayur dari London emang klub yang kurang ajarnya luar biasa. Lah gimana tidak? Ange adalah orang yang memimpin Spurs memutus paceklik trofi bergengsi setelah 17 tahun lamanya.
Pria asal Australia juga mempersembahkan Europa League yang pertama sejak 1984 silam. Dengan pengorbanan dan kerja keras berbuah hasil seperti itu saja, eks manajer Celtic masih tak luput dari pemecatan yang dilakukan oleh Daniel Levy. Emang sih Spurs mengakhiri liga musim lalu di posisi yang buruk, tapi masa Ange yang dipecat sih? Kalah dong dari Ruben Amorim yang sudahlah nyaris bawa MU degradasi, nggak dapet trofi pula.
Lantas, bagaimana huru-hara yang terjadi dari perjalanan Ange Postecoglou hingga di PHK? Benarkah ini bukan pertama kalinya Daniel Levy mendepak pelatih yang berjasa bagi timnya?
Daftar Isi
Aroma Pemecatan Sejak Sebelum Final
Aroma pemecatan Ange Postecoglou diketahui sudah tercium jauh sebelum final Europa League melawan Manchester United dimulai. Bahkan sedari pertengahan musim 2024/25. Sekalipun gagal berlaga di Liga Champions setelah hanya menduduki posisi lima di musim sebelumnya, Ange masih mendapat nada percaya dari Chairman Spurs, Daniel Levy.
Sejatinya, di awal musim lalu, The Lilywhites mengawali Premier League dengan lumayan menjanjikan. Salah satunya ketika menumbangkan Manchester City 4-0 di Etihad Stadium, pada gameweek ke-12, November 2024. Posisi Spurs pun steady di empat besar alias zona persaingan menuju spot Liga Champions.
Namun, bencana mulai datang setelah kemenangan penting tersebut. Spurs dihinggapi badai cedera yang melanda para pemain kunci hingga terpaksa menepi cukup lama. Alhasil, dengan skuad yang compang-camping, Spurs alami turbulensi yang parah di Inggris.
Di liga, posisi mereka terus merosot tajam dan makin menjauh dari perebutan tiket Eropa. Di FA Cup, Spurs bertekuk lutut dari Aston Villa di putaran keempat. Sementara di Carabao Cup, Dominik Solanke cs disingkirkan Liverpool dua leg di semifinal.
Biasanya nih, kalau sudah tahu kondisi tim sedang minus pemain karena badai cedera, petinggi klub akan berani jor-joran belanja di bursa transfer terdekat. Tapi, itu tak terjadi pada Daniel Levy. Pria tanpa sehelai rambut di kepalanya itu sekadar ngomong doang yang katanya mau fokus di jendela transfer musim dingin Januari lalu. Nyatanya, Spurs cuma bisa mendatangkan pemain seadanya.
🚨⚪️ Mathys Tel has signed his contract at Tottenham… with buy option included in the loan agreement.
Bayern have accepted the conditions as Spurs will cover the salary until June + have chance to trigger the clause for €60m in the summer.
Tel completed his medical today. pic.twitter.com/6XbVPYgScQ
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) February 3, 2025
Dua pemain utama yang hadir ke Tottenham Hotspur Stadium adalah Mathys Tel dengan status pinjaman dari Bayern Munchen dan Kevin Danso seharga 25 juta euro dari RC Lens. Selebihnya? Spurs malah memboyong pemain usia muda.
Dengan pergerakan di bursa transfer yang begitu lesu, Ange tak punya pilihan lain untuk menempatkan skala prioritasnya demi mendapatkan hasil yang terbaik. Maka, Europa League yang dipilih menjadi fokus utama Spurs sejak Februari. Dengan begitu, mereka mulai tak lagi mempedulikan penampilan di Premier League.
Walau trek Spurs di Europa League menunjukkan hasil yang positif, Levy malah geram dengan keputusan yang diambil Ange. Levy tetap menuntut agar pelatih 59 tahun keturunan Yunani itu tetap memasukkan Premier League sebagai skala prioritas, sembari melanjutkan langkah lebih jauh di pentas Eropa. Dari sini udah kelihatan kan siapa yang kebangetan?
Meski ditekan, Ange tetap teguh pada pendiriannya. Posisi Spurs terjun bebas hingga menyentuh papan bawah, sementara laju di Eropa terus ngegas sampai tahap semifinal. Melihat hal itu, Levy diisukan sudah mulai berkomunikasi dengan petinggi klub lainnya terkait upaya pemakzulan Ange. Beberapa calon kandidat bahkan dihubungi oleh Levy sejak Maret.
Tottenham fans chanted “you don’t know what you’re doing” to manager Ange Postecoglou after he made his subs at Chelsea tonight…
Spurs lost the game 1-0. 😭pic.twitter.com/UaetPq02Fr
— Football Away Days (@FBAwayDays) April 3, 2025
Tak hanya dewan klub saja yang kontra dengan rencana Ange, kelompok fans awalnya juga merasa tak senang dengan jomplangnya laju Spurs di domestik dan Eropa. Gerakan mosi tidak percaya mulai kencang digaungkan fans, termasuk tagar #AngeOut yang bertebaran hingga dibuatkan spanduk dan dibentangkan saat Spurs main.
Menanggapi tekanan tersebut, mantan arsitek Yokohama F. Marinos sempat menantang balik fans. Salah satunya saat dirinya memperlihatkan gestur menutup telinga dengan kedua tangan ke arah fans saat laga tandang ke Stamford Bridge, 4 April kemarin.
Final Yang Sempat Memberi Harapan
Satu bulan setelah konfrontasi dengan fans sendiri, kondisi mulai menunjukkan perubahan drastis. Momennya muncul ketika Spurs membungkam Bodo/Glimt di semifinal Europa League, sehingga otomatis menapak ke partai puncak. Tingkah laku fans yang semula mengganyang, kembali menunjukkan dukungan pada Ange.
Kesempatan untuk buka puasa gelar sejak 2008 terbentang di hadapan. Namun, sebelum itu Spurs kudu melewati hadangan dari Setan Merah yang juga memburu juara demi menyelamatkan musim yang berantakan di liga. Hasilnya seperti yang sudah diketahui, Brennan Johnson mencetak gol semata wayang kemenangan Spurs.
London Putih disahkan sebagai juara Europa League untuk yang ketiga kalinya. Masa bodoh dengan opini yang mengatakan final edisi 2025 adalah yang terburuk sepanjang sejarah Europa League karena mempertemukan dua tim badut. Bagi Ange, trofi itu begitu berharga. Secara, sebelum final bergulir, Ange berujar hanya dengan keluar juara yang bisa mengubah masa depan Spurs dan tentu saja masa depannya.
Tottenham are Europa League winners 🤍#UELfinal pic.twitter.com/twwpGwvrIr
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) May 21, 2025
Trofi Europa League juga menjadi tanda bahwa Ange membuktikan klaim dirinya yang selalu memberikan juara di musim kedua selama melatih. Stadion San Mames Bilbao berpesta khusus untuk Spurs. Semua elemen Spurs menunjukkan raut kegembiraan, tak terkecuali Daniel Levy yang tampak memeluk Ange dengan rona bahagia di wajahnya.
Pemandangan yang segera diartikan oleh media sebagai momentum berakhirnya keretakan hubungan di antara keduanya.
Habis Parade, Terbitlah Pemecatan
Usai berakhirnya partai final, skuad Spurs segera pulang untuk mempersiapkan pesta meriah berupa parade mengelilingi London dengan bus atap terbuka. Ribuan fans tumpah ruah menyaksikan Ange Postecoglou yang sumringah menunjukkan trofi barunya bersama Spurs. Nama Ange benar-benar dielu-elukan fans sepanjang parade berlangsung.
Ange pun membalas puja-puji untuknya itu dengan ucapan yang membangkitkan lagi optimisme fans. Dengan mikrofon di tangannya, Ange berkata “Selayaknya serial televisi ternama, musim ketiga akan berjalan jauh lebih baik”. Sontak, ucapan itu dikaitkan dengan pertanda bahwa Ange akan tetap membersamai Spurs musim depan dengan semangat lebih menggebu.
Sayangnya, harapan itu tak akan pernah terwujud. Selang beberapa hari setelah parade, muncul kembali isu pemecatan Ange. Kali ini, nama yang mulai terbongkar sudah kontakan dengan Levy adalah pelatih Brentford, Thomas Frank. Hingga pada akhirnya, Spurs secara resmi mengumumkan pemutusan kerjasama dengan Ange Postecoglou dalam akun media sosial pada 6 Juni kemarin.
BREAKING: Tottenham Hotspur sack Ange Postecoglou 🚨 pic.twitter.com/zaK7VD32uG
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) June 6, 2025
Kendati Ange menuliskan pesan perpisahan dengan nada yang legowo, amarah justru meletup-letup di ruang ganti Spurs. Menurut sumber terdekat di internal Spurs yang dilaporkan The Sun, beberapa pemain dikabarkan sangat muak dengan keputusan klub dan berencana untuk angkat kaki dari Spurs.
Tak hanya dari kalangan pemain, beberapa legenda Inggris turut berkomentar terkait pemecatan Ange Postecoglou. Mantan penyerang Three Lions, Chris Sutton mengatakan pemecatan Ange yang setidaknya mempersembahkan piala adalah hal tergila yang pernah dilakukan Spurs. Begitupun dengan Alan Shearer yang berujar bahwa didepaknya pria Australia menunjukkan betapa bodohnya keputusan Spurs.
Bukan Yang Pertama, Tapi Yang Paling Sakit
Ngomongin soal hal gila yang dilakukan Spurs pada pelatihnya di era Daniel Levy, Ange bukanlah korban pertama. Sebelumnya sudah ada Mauricio Pochettino yang ditendang setelah final Liga Champions 2019 dan Jose Mourinho yang dikeluarkan menjelang final Carabao Cup 2021.
Meski bukan yang pertama, kasus yang menimpa Ange jelas yang paling sakit di banding Poche dan Mou. Benar-benar definisi peribahasa habis manis, sepah dibuang. Kalo menurut football lovers, setuju nggak kalau pemecatan Ange Postecoglou hal tergila yang diperbuat Spurs?
bbc.com, tntsports.co.uk, thesun.co.uk, mirror.co.uk, teamtalk.com


