Setelah 17 Tahun Menanti, Jangan Sebut Spurs Klub Miskin Trofi Lagi!

spot_img

“Manchester United tak terkalahkan di Liga Malam Jum’at!” Kira-kira begitu gembar-gembor para fans Setan Merah jelang kick off final Europa League melawan Tottenham. Namun semesta punya caranya sendiri untuk mengutuk manusia-manusia yang sombong. Fans United dibuat lupa kalau final ternyata dimainkan di malam Kamis, bukan Jum’at. 

Spurs yang justru menang dengan skor tipis, 1-0. Setipis apa pun skornya, sudah cukup untuk menuliskan sejarah dengan tinta emas. Kemenangan Tottenham tercipta berkat gol semata wayang Brennan Johnson di menit ke-42. Dengan sedikit kecerobohan Andre Onana, Johnson mencocor bola agar masuk ke gawang.

San Memes pun bergetar dibuatnya. Orang-orang yang mengenakan atribut serba putih itu melompat kegirangan. Namun, sebelum tawa bahagia mekar di wajah mereka, ada luka, hinaan, dan kesedihan yang sudah dilewati Spurs. Mereka bahkan selama bertahun-tahun jadi bahan guyon akun-akun troll sepakbola. Ngenes memang. Lantas, bagaimana mereka survive dari penderitaan itu?

Trofi Pertama Sejak 2008

Tren buka puasa gelar memang sedang digandrungi oleh klub-klub mendang-mending di Eropa musim ini. Setelah Crystal Palace yang juara Piala FA untuk pertama kali dalam sejarah, Bologna yang menjuarai Coppa Italia setelah 51 tahun, dan Newcastle United yang kembali meraih gelar setelah 71 tahun lamanya, Spurs pun berusaha join the trend

Gelar Europa League musim ini adalah gelar pertama sejak tahun 2008. Atau setara dengan 17 tahun lalu. 17 tahun bukan waktu yang sebentar. Itu waktu yang cukup bagi sepasang suami istri untuk melahirkan anak dan membesarkannya hingga lulus SMA. Namun, gelar kali ini lebih istimewa, karena ini adalah gelar Eropa.

Pada tahun 2008 lalu, piala yang mereka dapat hanya piala ciki, tepatnya Carling Cup atau yang kita kenal sekarang sebagai Carabao Cup. Saat itu, Spurs menundukan rival satu kota, Chelsea dengan skor 2-1. Kala pemain-pemain kaliber Dimitar Berbatov, Robbie Keane, dan Didier Zokora masih memperkuat Spurs. Agaknya wajar jika mereka juara.

Sedangkan tahun ini, Spurs juara Eropa tanpa pemain-pemain bintang. Di saat pemain hebat seperti Harry Kane, Hugo Lloris, dan Kieran Trippier sudah memutuskan pergi, mereka hanya mengandalkan pemain-pemain muda dan pemain yang namanya tak begitu bersinar. 

Praktis, hanya Son Heung-min dan Christian Romero yang layak menyandang status bintang di skuad Spurs musim ini. Spurs juara bukan dengan nama besar, bukan juga dengan label “calon juara” layaknya Manchester United. Tapi Spurs  meraih gelar dengan bara kecil yang dipelihara hari demi hari, sehingga menjadi sebuah kobaran ambisi.

Masa-masa Sulit

Tentunya tidak keterlaluan jika tidak mengunggulkan Spurs di laga final melawan United semalam. Sebab, Spurs adalah aib London Utara. Bagaimana tidak? Setelah menjuarai Piala Liga, Spurs tak pernah berprestasi lagi. Di kompetisi Premier League pun, Spurs cuma kayak pelengkap aja. Mereka jadi satu-satunya klub yang paling nggak pantas menyandang status “Big Six”.

Mereka mendapat gelar itu bukan karena tim dengan raihan trofi terbanyak macam Liverpool atau Manchester United. Tapi memang Spurs yang sering muncul di enam besar. Tapi ya sekadar muncul aja. Kayak cameo dalam film. Perannya tidak begitu penting, tapi kalo nggak dimunculkan, kayak ada yang kurang aja gitu.

Di awal musim, kadang mereka gas pol. Memuncaki klasemen selama beberapa pekan. Namun, setelah itu ngempos. Mulai sering kalah, dan akhirnya finis di urutan empat atau lima. Kayak nggak punya ambisi. Lolos UCL ya syukur, nggak juga nggak papa. Toh masih ada Europa League, begitu kira-kira pedoman hidup Spurs. 

Tottenham barangkali jadi satu-satunya tim yang terlalu sering dipuji karena bermain cantik, namun nyaris tak pernah menyentuh makna sejati dari sebuah kemenangan. Spurs rajin ikut perebutan gelar juara Premier League, tapi tak pernah sekalipun benar-benar menjuarai trofi tersebut. 

Mereka adalah pelari yang selalu memimpin hingga tikungan terakhir, hanya untuk tersandung pada langkah penentu. Di antara riuh gelar Manchester City, kedigdayaan Liverpool, dan kebangkitan Arsenal, Spurs seperti anak tiri yang duduk di ujung meja. Tetap diperhatikan. Tetap disorot, tapi tak pernah diprioritaskan sebagai “calon juara”.

Sampai-sampai, mereka jadi bahan olok-olok di media sosial. Narasinya bahkan ada yang menyebut aneh orang yang masih ngefans Spurs. Kayak nggak ada klub lain aja. Mimin pun mengakui, Starting Eleven Story dan Starting Eleven cukup sering menguliti tim yang satu ini. 

Final UCL

Meski cuma jadi penggembira di Premier League, bukan berarti Spurs tak pernah membanggakan karena tampil di luar ekspektasi publik. Pada musim 2018/19, Spurs jadi tim yang paling bikin penasaran di Liga Champions. 

Padahal, Liga Champions musim 2018/19 adalah musim yang dimulai dengan keraguan oleh Spurs. Mereka bahkan nyaris tersingkir di fase grup. Tiga laga pertama berakhir tanpa kemenangan. Di titik itu, banyak yang telah mencoret nama Spurs dari daftar tim jagoan di Liga Champions.

Tapi mereka memilih untuk melawan takdir. Dengan satu nafas tersisa, mereka menahan imbang Barcelona. Spurs akhirnya lolos ke fase gugur bukan sebagai unggulan, melainkan sebagai tim yang menolak menyerah. Cobaan Spurs pun belum usai, di fase gugur, tim-tim kaliber Borussia Dortmund, Ajax Amsterdam, hingga Manchester City pun menantang.

Namun, dengan bermodalkan permainan kolektif, anak asuh Mauricio Pochettino bisa bertahan dari gempuran lawan. Menang 4-0 dari Dortmund, unggul gol tandang dari City, dan menggusur tim ajaib Ajax di babak semifinal. Tottenham Hotspur, klub yang tak pernah dianggap cukup tangguh untuk bersaing di Eropa, berdiri di final Liga Champions.

Sayangnya, final di Madrid melawan Liverpool tidak berakhir bahagia. Dua gol tanpa balas memupus mimpi Spurs. Tapi malam itu bukan tentang kalah. Melainkan tentang membungkam sinisnya dunia dengan kerja keras dan hati yang tak hancur oleh ribuan meme sarkas di luar sana.

Final Carabao Cup yang Aneh

Kekalahan di final Liga Champions musim 2018/19 masih bisa termaafkan. Karena lawan mereka adalah Liverpool. Tim yang sudah solid dan berstatus finalis di musim sebelumnya. Yang sulit untuk dimaafkan, bahkan oleh penikmat sepakbola yang tak mendukung Spurs adalah final Carabao Cup musim 2020/21.

Dengan Son Heung-min dan Harry Kane yang sedang on-fire, dan pelatih Jose Mourinho yang koleksi trofi yang lebih banyak dari seluruh lemari Tottenham jika digabungkan. Spurs tampak hanya tinggal selangkah dari akhir penantian panjang. Namun bukan Spurs namanya kalau tak suka aneh-aneh. 

Enam hari sebelum final, klub mengambil keputusan yang aneh bin ajaib. Mereka memecat sang nahkoda, Jose Mourinho. Alasannya adalah hasil buruk di liga. Tapi waktu pengumumannya dirasa kurang tepat. Padahal, Mourinho punya win rate 100% di partai final saat itu. Seharusnya, Mou bisa memutus tren buruk Spurs yang tak kunjung meraih trofi. 

Dan benar saja. Di final yang digelar di Wembley, Spurs tampil seperti kapal tanpa arah. Mereka bertahan, menunggu, dan berharap Manchester City melakukan kesalahan. Tapi harapan tak cukup melawan tim sekelas City. Gol tunggal Aymeric Laporte merobek mimpi Spurs dan mengubur peluang trofi yang sudah terasa begitu dekat.

Jangan Sebut Spurs Klub Minim Trofi!

Daripada kekalahan, para fans lebih tidak terima mengapa Daniel Levy memecat Jose Mourinho tepat sebelum final. Fans dibuat bertanya-tanya dalam tidurnya. Mengapa? Mengapa mengambil kesempatan satu-satunya meraih trofi, dengan cara mencopot arsitek yang tahu caranya memenangkan partai puncak?

Sampai sekarang, fans belum mendapatkan jawaban yang masuk akal dari manajemen. Namun, mereka mungkin sudah tak memerlukannya. Karena Spurs akhirnya bisa mengobati luka dan rasa penasaran itu dengan sebuah trofi Europa League. Kembali ke partai puncak, manajemen seakan tak mau mengulangi kesalahan yang sama.

Meski Ange Postecoglou tak becus menangani pertandingan Spurs di Premier League, manajemen tak buru-buru memecatnya. Mereka bersabar karena yakin dengan ucapan Ange yang menjanjikan sebuah trofi di musim keduanya. Janjinya ditepati. Trofi diraih, nama buruk Spurs pun diperbaiki. Mulai sekarang, para haters tak boleh sebut Spurs sebagai klub miskin trofi lagi! 

___

Sumber: Sky Sport, The Guardian, BBC, CNN

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru