Benar kata Ali bin Abi Thalib. Berharap paling menyakitkan adalah berharap kepada manusia. Berharap pada manusia yang kita kenal baik saja, terkadang begitu pedih akhirnya. Apalagi berharap pada Manchester City, klub yang berisi pemain, pelatih, staf yang sama sekali tidak kita kenal.
Selain Real Madrid, barangkali Manchester City jadi tim yang paling sukses membuat fansnya patah hati musim ini. Sebagai peraih treble winner dua musim lalu dan juara bertahan Liga Inggris musim lalu, City malah sekadar jadi tim yang rebutan jatah Liga Champions dengan klub seperti Aston Villa dan Nottingham Forest.
Dulu mereka bilang kalau City adalah mesin yang tak terkalahkan. Namun, ketika musim 2024/25 datang, semua berubah. Taktik jenius? Seketika tak terlihat, dan Pep Guardiola? Mulai terlihat seperti bapak-bapak komplek biasa. Jika kalian merasa ini adalah penggambaran yang berlebihan, maka kalian harus menyimak video berikut ini, video yang membuktikan seburuk apa City tahun ini.
Daftar Isi
Kekalahan Memalukan di FA Cup
Belum lama ini satu-satunya trofi yang bisa diraih malah raib. City dengan gagah masuk ke Wembley untuk melakoni final Piala FA. Keyakinan bahwa The Citizens akan memenangkan gelar itu berdesir sejak jauh-jauh hari. Bahkan yakin deh, yang bukan fans mereka pun, percaya kalau Bernardo Silva dan kolega akan memenangkan pertarungan. Lawannya Crystal Palace ini.
Keyakinan bahwa City akan memenangkan Piala FA kian membesar karena di laga tersebut 79% penguasaan bola dipegang pasukan Guardiola. Pasukan Oliver Glasner dibuat seperti bocah nggak bisa main bola. Di laga itu, Manchester City tak hanya main kucing-kucingan, tapi 23 tembakan menyasar gawang Dean Henderson, sedang dari Palace hanya melepas tujuh tembakan. Menunjukkan betapa superioritasnya The Citizens.
Tapi nilai tembakan-tembakan tadi 0 besar. Tak ada satu pun yang membobol gawang Henderson, tak terkecuali tendangan 12 pas Omar Marmoush. Hari itu, Henderson cosplay Lev Yashin. Aksi heroiknya gagalkan peluang emas bertahtakan berlian milik City membuat pendukung Palace di belakangnya bersorak.
Di sisi lain, saat lini depan City impoten, Palace bisa menyergap pertahanan City lewat sebuah serangan balik cepat. Gol tercipta dari sana, buah kreasi tiga orang: Mateta, Munoz, dan Eze. Dan itu terjadi ketika laga belum genap 20 menit!
Kekalahan ini jelas memalukan bagi City yang benar-benar membutuhkan gelar itu untuk memperbaiki reputasi di sepakbola Inggris. Reputasi? Memangnya, seburuk apa reputasi City musim ini?
Di Premier League?
Di kompetisi lain, performa Manchester City juga tak kalah buruk. Musim 2024/25, dengan menyisakan dua pertandingan, City masih di posisi keenam klasemen sementara Premier League, dengan perolehan 65 poin. Jika menyapu bersih sisa pertandingan, paling mentok, City bakal finis di urutan ketiga. Itu pun jika Chelsea, Newcastle United, dan Aston Villa tampil buruk di laga terakhir mereka.
Hasil yang sebetulnya masih bisa diterima, apalagi City berlaga di kompetisi paling kompetitif di Eropa. Tapi, ini Manchester City, bukan Chelsea, apalagi Leicester City. Bagi City yang ditukangi pelatih kaliber Pep Guardiola? Tidak. Dengan status sebagai juara Premier League empat tahun berturut-turut, ini adalah kegagalan.
City sering kalah dalam pertandingan penting, kehilangan poin di momen-momen krusial, dan terlihat kehabisan energi di bulan-bulan terakhir. Mesin dominasi yang biasanya berjalan presisi, kini terlihat seperti kekurangan oli. Pertahanan yang rapuh, lini tengah yang mudah ditembus, dan lini depan yang tumpul saat dibutuhkan.
Performa di UCL
Di Liga Champions pun demikian, Manchester City terlunta-lunta sejak babak penyisihan atau babak liga. Dari delapan pertandingan di babak liga, City hanya menang tiga kali. Kemenangan yang diperoleh pun dari klub-klub yang tidak dijagokan, seperti Club Brugge, Sparta Praha, dan Slovan Bratislava.
Sisanya, City jadi bulan-bulanan Sporting CP, PSG, dan Juventus. Erling Haaland dan kolega bahkan ditahan imbang oleh Feyenoord dan Inter Milan. Hasil ini membuat City harus melewati fase play off untuk lolos ke babak 16 besar. Sialnya, lawan yang dihadapi adalah Real Madrid. City pun kalah.
Kekalahan di babak play off sekaligus jadi penanda rekor buruk City di Liga Champions. Musim ini jadi kali pertama City asuhan Pep Guardiola gagal melaju ke 16 besar. Dan itu jadi yang pertama dalam sejarah karir kepelatihan Pep Guardiola.
Lebih Buruk Dari Musim 2016/17?
Jika gelar Community Shield tak dihitung, kegagalan di empat kompetisi membuat Manchester City gagal meraih gelar di musim 2024/25. Itu menyamai catatan musim 2016/17, musim perdana Pep Guardiola menangani Manchester City. Namun, musim itu masih dapat banyak pemakluman. Karena musim transisi dan pembangunan pondasi. Banyak bongkar pasang pemain juga.
Sedangkan musim ini, pemakluman itu sudah tidak ada. Jika berbicara tentang Manchester City ya erat kaitannya dengan menang dan gelar juara. Toh, apabila dibandingkan pun, performa City musim ini jauh lebih buruk dari City versi musim 2016/17. Nggak percaya? Mari kita bedah satu per satu.
Kita mulai dari jumlah poin terlebih dahulu. Musim 2016/17, Pep Guardiola berhasil membawa City finis di urutan ketiga dengan perolehan 78 poin. Sedangkan musim ini, City masih bercokol di urutan keenam dengan perolehan 65 poin. Dengan dua laga tersisa, poin maksimal yang bisa diperoleh City cuma 71 poin saja. Poin segitu jadi yang terendah dalam sejarah Pep di City.
Produktivitas
Masih kurang? Dari segi kemenangan, musim ini juga jadi yang terburuk jika dibandingkan dengan delapan tahun Pep Guardiola menangani Manchester City. Hingga narasi ini ditulis, City baru mengumpulkan 19 kemenangan. Jika menang di dua laga sisa sekalipun, itu tidak bisa menyelamatkan. Karena jumlah kemenangannya menjadi 21. Itu lebih buruk musim 2016/17 yang berakhir dengan 23 kemenangan.
Musim ini City sudah menelan sembilan kekalahan, itu menyamai jumlah kekalahan terburuk City pada musim 2019/20. Apabila di dua laga terakhir melawan Bournemouth dan Fulham, The Sky Blue kembali menelan kekalahan, maka musim ini sah jadi musim dengan kekalahan terbanyak dalam sejarah kepelatihan Pep Guardiola.
Tak berhenti di situ, Kevin De Bruyne dan kolega juga mencatatkan rekor buruk soal jumlah gol. Musim ini, City baru mengemas 67 gol dalam 36 pertandingan Premier League. Ini jelas jadi yang terburuk, karena City biasanya mencetak 90+ gol setiap musim. Mereka justru pernah mencetak lebih dari 100 gol. Itu terjadi di musim 2017/18 dan 2019/20.
Masalah Internal
Jika ditanya apa penyebabnya, Manchester City musim ini seperti pemuda banyak cicilan. Banyak yang mengganggu fokusnya dalam bekerja. Dimulai dari masalah rumit yang datang dari internal tim, hingga masalah hukum yang datangnya dari eksternal.
Masalah internal yang paling berdampak barangkali soal badai cedera. Cedera panjang pemain kunci seperti Kevin De Bruyne, John Stones, dan terutama Rodri memberi dampak besar pada kestabilan tim. Guardiola dinilai terlalu bergantung pada pemain-pemain ini. Bahkan, ada pengakuan mengejutkan dari pelatih asal Spanyol itu.
Guardiola sendiri tanpa malu mengakui bahwa City tidak tahu bagaimana caranya menang tanpa Rodri. Ketergantungan pada beberapa individu ini menandakan kurangnya kedalaman skuad atau kegagalan dalam rotasi pemain yang efektif. Ya, gimana mau rotasi ya? Wong pemainnya cedera semua. Inget kan, waktu City cuma punya 13 pemain yang sehat? Sisanya ngejogrok di klinik kesehatan.
Terus, pas udah pada pulih, masalah lain muncul, yakni konsistensi. Pemain-pemain penting, macam Phil Foden, Kevin De Bruyne, hingga Erling Haaland performanya tak terjaga. Jumlah golnya masih oke, tapi menurun. Coba tanya aja sama pemain Fantasy Premier League. Pasti mereka sudah nggak mengandalkan Haaland di lini depan. Karena Haaland sudah tidak bisa menjamin one game one goal.
Masalah Eksternal
Selain dari dalam, masalah juga datang dari luar. Kalau mau dibedah satu-satu banyak banget sih. Namun barangkali yang paling berpengaruh pada kondisi tim adalah investigasi kasus financial fair play. Manchester City masih menghadapi 115 tuduhan pelanggaran. Itu menimbulkan perubahan besar pada sistem kerja klub.
Meskipun belum ada vonis resmi, isu ini memberi tekanan psikologis kepada pemain, pelatih, dan manajemen. Fokus internal terganggu, terutama dalam urusan perencanaan jangka panjang dan rekrutmen pemain baru. City jadi tidak bisa leluasa dalam memperkuat tim di jeda transfer. Kasihan juga liatnya, tapi siapa tahu ini adalah karma bagi mereka.
____
Sumber: AS, Sky Sport, The Guardian, Kompas


