Kutukan Patah! Berkat Pelatih Ini Sebuah Klub Akhirnya Angkat Trofi

spot_img

Seperti yang pernah kita pelajari di bangku sekolah, masa paceklik merupakan kondisi di mana perbekalan stok makanan semakin menipis sehingga dapat menyebabkan bencana kelaparan yang serius. Faktor penyebabnya bisa berupa musim kemarau panjang atau musibah banjir. Paceklik bisa semakin lama jika faktor-faktor tersebut terjadi secara terus-menerus.

Dalam dunia sepak bola juga ada yang namanya masa paceklik, lebih tepatnya paceklik gelar. Sebuah keadaan saat suatu tim, bisa klub ataupun timnas lama sekali tidak mengangkat piala bergengsi. Durasinya bervariasi, ada yang 10 tahunan, 20 tahunan, bahkan ada yang sampai 70 tahunan. Contoh teranyar, Newcastle United yang sempat lama menanti sejak 1955 untuk mendapatkan major trophy sebelum datangnya anugerah berupa Carabao Cup. 

Selain Eddie Howe, deretan pelatih ini berjasa menjadi mastermind di balik keberhasilan sebuah tim menuntaskan masa paceklik gelar yang berkepanjangan. Siapa saja mereka? Mari kita ulas. 

Claudio Ranieri Leicester City 2016

Pertama, ada sosok pelatih senior dari Italia, Claudio Ranieri. The Tinkerman mengguncang seisi Inggris saat berhasil mengantarkan Leicester City ke podium juara Premier League musim 2015/16. Sebelum mempersembahkan gelar, jalan Ranieri bersama The Foxes sempat menemui nada sumbang dari banyak pihak, bahkan sejak awal penunjukannya. 

Legenda timnas Inggris, Gary Lineker jadi salah satunya. Lineker heran terhadap pemilihan Ranieri sebagai nakhoda baru menggantikan peran Nigel Pearson, otak di balik promosinya Leicester dari Championship. Meski begitu, Ranieri tetap saja mendapat dukungan kuat dari keluarga Srivaddhanaprabha, pemilik Leicester dari Thailand. 

Dengan CV yang bukan kaleng-kaleng, Ranieri diberi tanggung jawab untuk mempertahankan klub berlogo rubah di Premier League setelah di musim sebelumnya, Leicester sempat hampir terperosok lagi ke divisi dua padahal baru naik kasta. Pengalaman menangani Chelsea dari 2000-2004 membuat manajemen Leicester percaya kalau pria 73 tahun sudah paham dengan atmosfer liga Inggris. 

Bermodalkan materi pemain seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, N’golo Kante, Riyad Mahrez, sampai Jamie Vardy, Ranieri tidak hanya sekadar memperbaiki posisi Leicester, tapi juga melesatkan anak asuhnya ke puncak klasemen. Secara mengejutkan, tim-tim anggota big six dipantati oleh Leicester di pekan terakhir, termasuk Arsenal yang sebelumnya memimpin di paruh musim.

Leicester bersama Ranieri seketika jadi big headline berita di media mana pun. Upacara pemberian trofi Premier League dilakukan di hadapan ribuan fans yang menyemut di tribun King Power Stadium seusai laga melawan Everton 7 Mei 2016. Hari itu dicatat sejarah sebagai kemenangan Premier League pertama sepanjang 141 tahun berdirinya Leicester. 

Selain jadi gelar liga divisi satu pertama, capaian ini juga membuat Leicester mengakhiri paceklik gelar selama 16 tahun. Sebelum Ranieri datang, klub asal East Midlands ini terakhir kali merasakan juara saat memenangi Piala Liga Inggris (EFL Cup) tahun 2000 usai mengalahkan Tranmere Rovers 2-1 di Wembley.

Saat itu Leicester ditangani oleh manajer asal Irlandia Utara, Martin O’Neill dan diperkuat oleh pemain-pemain seperti Muzzy Izzet, Robbie Savage, Theodoros Zagorakis, dan Emile Heskey. 

Roberto Mancini Timnas Italia 2021

Masih dari figur pelatih berkebangsaan Italia, yang kedua ada Roberto Mancini. Don Mancio banjir sanjungan satu Italia seusai membawa pulang Piala Eropa ke Roma. Skuad Gli Azzurri pimpinannya tampil mengesankan sepanjang turnamen Euro 2020 dengan menyapu bersih kemenangan di 7 pertandingan.

Sejak babak grup, Italia telah menyingkirkan lawan-lawan yang menjadi kandidat juara, seperti Belgia di perempat final dan Spanyol di semifinal.  Sampailah Ciro Immobile cs ke final yang dihelat di London. Untuk merengkuh trofi Henri Delaunay, Italia lebih dulu dihadang oleh Inggris yang membawa slogan football’s coming home.

Pertandingan berjalan alot hingga 120 menit dan terpaksa berlanjut ke adu penalti. Gigi Donnarumma menjadi pahlawan super dengan menggagalkan sepakan 12 pas dari Jadon Sancho dan Bukayo Saka.   Italia balik kampung sambil membawa trofi Euro yang pertama sejak 1968.

Ya, sebelum menundukkan armada Gareth Southgate di rumah mereka, Italia harus puasa gelar antar negara-negara Eropa selama 52 tahun. Sebagai informasi, Italia menjadi kampiun Euro 1968 setelah menang 2-0 atas Yugoslavia di Olimpico Stadium. Skuad Italia saat itu masih dihuni oleh Dino Zoff, Pietro Anastasi, dan Sandro Mazzola. 

Bagi Roberto Mancini, ini bukan pertama kalinya ia memperlihatkan magis sebagai pelatih spesialis pemutus dahaga gelar bagi tim yang diasuhnya. Sebelumnya, dia pernah membawa Inter Milan menjuarai Serie A 2005/06. Raihan scudetto itu menyudahi paceklik Nerazzurri atas gelar liga selama 17 tahun sejak terakhir pada musim 1988/89. 

Jangan lupakan saat Mancini datang ke Etihad Stadium dan memberikan titel Premier League untuk Manchester City musim 2011/12. Gelar liga tersebut membuat The Sky Blues merengkuh trofi liga yang perdana dalam 44 tahun atau sejak musim 1967/68.

Jose Mourinho AS Roma 2022

Ketiga, ada manajer kenamaan Portugal, Jose Mourinho. The Special One mencetak sejarah bersama AS Roma saat memenangi Conference League 2022. Serigala Ibukota menerima tantangan dari Feyenoord yang ketika itu masih dilatih Arne Slot pada final yang berlangsung di Tirana, Albania. Mou perlu berterima kasih pada Nicolo Zaniolo yang mencetak gol semata wayang serta Rui Patricio yang cekatan menepis serangan musuh. 

Arena Kombetare jadi saksi bisu pecahnya berbagai rekor di malam yang gegap gempita itu. Kita mulai dari AS Roma-nya dulu. Gelar Conference League 2022 menjadikan rival Lazio sebagai tim pertama yang memenangi ajang ini. Seperti yang diketahui, musim 2021/22 merupakan tahun pertama diselenggarakannya Conference League oleh UEFA. 

Lalu, trofi ini menjadi titel Eropa pertama sepanjang sejarah Roma. Jauh sebelum final 2022, Roma sudah dua kali menderita kekalahan di final Liga Champions 1984 atas Liverpool lewat adu penalti dan di final UEFA Cup 1991 atas sesama tim Italia, Inter Milan. Sejatinya, Roma pernah menjuarai Inter Cities Fairs 1961 atas Birmingham City. Namun, kompetisi tersebut tidak berafiliasi dengan UEFA. 

Berkat kemenangan ini juga, Roma berjaya memungkasi paceklik gelar selama 17 tahun sejak 2008. Gelar yang didapatkan saat itu adalah Coppa Italia setelah mempermalukan Inter Milan 2-1. Luciano Spalletti adalah pelatih yang memimpin di final itu. 

Sementara bagi Mou, dengan mengantarkan Roma meraih Conference League, ia menjadi pelatih pertama yang memenangkan tiga kompetisi utama antar tim di Eropa. Sebelumnya, pria kelahiran Setubal sudah mengoleksi 2 Liga Champions bersama Porto dan Inter, serta 2 Europa League bareng Porto dan Manchester United. 

Oliver Glasner Eintracht Frankfurt 2022

Keempat, ada Oliver Glasner. Pelatih berpaspor Austria ini berperan atas buka puasanya Eintracht Frankfurt di pentas Eropa dengan menjuarai Europa League 2022. Glasner membuat Die Adler jadi buah bibir dengan capaian yang top, 7 kali menang, 6 kali seri, dan tidak pernah tersentuh kekalahan sepanjang kejuaraan . 

Belum berhenti sampai situ, Frankfurt juga menyingkirkan West Ham hingga Barcelona untuk menyegel tiket final yang diadakan di Ramon Sanchez Pizjuan. Sesuai dengan alur bagan, Frankfurt ditakdirkan berjumpa dengan raksasa Skotlandia, Glasgow Rangers yang dikomandoi legenda Belanda, Giovanni van Bronckhorst. 

Laga final tersaji seru. Frankfurt tertinggal lebih dulu lewat gol Joe Aribo menit 57 sebelum Rafael Borre samakan kedudukan menit 69, sehingga skor 1-1 bertahan hingga extra time. Pada babak tos-tosan, Kevin Trapp jadi penyelamat Frankfurt usai menggagalkan eksekusi Aaron Ramsey. Wakil Bundesliga pun menang dengan keunggulan 5-4 berhak atas piala. 

Keberhasilan menggenggam Europa League membuat Frankfurt akhiri penantian panjang selama 42 tahun untuk meraih trofi bergengsi Eropa. Sebelumnya, tim yang bermarkas di Deutsche Bank Park sudah pernah memenangi UEFA Cup atau nama lama dari Europa League pada 1980. Kala itu, Frankfurt berjaya menjinakkan sesama Jerman, Borussia Monchengladbach dengan unggul dalam aturan gol away meskipun agregatnya sama 3-3. 

Xabi Alonso Bayer Leverkusen 2024

Kelima, ada Xabi Alonso yang namanya diabadikan di hall of fame sebagai pelatih pertama yang mempersembahkan double winner bagi Bayer Leverkusen, Bundesliga dan DFB Pokal musim 2023/24. Xabi yang datang mengambil alih kursi kepelatihan Die Werkself pada musim 2022/23 awalnya diprediksi tidak akan lama berada di BayArena melihat track record-nya yang belum meyakinkan sebagai pelatih kepala. 

Namun, justru itulah yang membuat mantan gelandang Liverpool dan Real Madrid terlecut untuk membuktikan kematangannya dalam meracik strategi. Hasilnya, Leverkusen keluar menjadi penguasa Liga Jerman untuk pertama kalinya dalam 120 tahun sejarah mereka. Kemenangan Leverkusen mengakhiri dominasi cengkeraman Bayern Munchen di liga.

Xabi tak hanya mengawal Leverkusen mewujudkan mimpi mereka yang mustahil. Lebih dari itu, pria 43 tahun mempersembahkan skuad yang tak terkalahkan di Bundesliga. Torehan 28 kali kemenangan dan 6 hasil imbang menjadikan Leverkusen masuk dalam jajaran longest unbeaten run di Bundesliga, bersanding dengan Munchen, Dortmund, dan Hamburg. 

Prestasi sebagai Deutsche Meister semakin lengkap dengan datangnya trofi DFB Pokal. Leverkusen memenanginya usai menundukkan Kaiserslautern melalui gol tunggal dari Granit Xhaka di menit 17. Kemenangan di Berlin menyudahi dahaga gelar kompetisi piala domestik bagi Leverkusen sejak terakhir kali mengamankan DFB Pokal musim 1992/93.  

Ernesto Valverde Athletic Bilbao 2024

Keenam, ada pelatih yang merupakan putra daerah Basque, Ernesto Valverde. Valverde ikut masuk dalam daftar ini karena membantu Athletic Bilbao memenangkan Copa del Rey 2024 setelah mempermalukan Mallorca melalui adu penalti 4-2 dalam laga final yang digelar di Estadio de La Cartuja, Sevilla. 

Bilbao sempat tertinggal lebih dulu di babak pertama setelah Dani Rodriguez membawa Mallorca unggul pada menit 21. Untungnya, Oihan Sancet menyamakan kedudukan bagi Los Leones saat babak kedua baru berjalan 5 menit. Tidak ada lagi gol yang tercipta hingga bubarnya perpanjangan waktu. 

Saat adu penalti, keempat pemain Bilbao yang dipilih Valverde sebagai algojo sukses menjalankan tugas. Sementara, di kubu Mallorca, Manu Morlanes sebagai penendang kedua dan Nemanja Radonjic sebagai penendang ketiga gagal.

Kiper Julen Agirrezabala bermain gemilang dengan beberapa kali melakukan penyelamatan penting selama pertandingan, termasuk menggagalkan tendangan penalti dari Morlanes. Bilbao berhak atas penganugerahan piala raja yang ke-24 sepanjang sejarah klub. 

Setelah mengalami kegagalan selama bertubi-tubi, Bilbao dalam arahan Valverde akhirnya berhasil meraih trofi bergengsi lagi setelah 40 tahun. Tepatnya saat merebut Copa Del Rey 1984 atas Barcelona dengan skor 1-0. Laga yang terkenal dengan insiden Diego Maradona yang memicu keributan antar pemain kedua tim sebagai bentuk kekesalan. 

Gian Piero Gasperini Atalanta 2024

Terakhir, ada Gian Piero Gasperini. Gasperini yang pernah melatih banyak diingat sebagai allenatore yang mengakhiri paceklik Atalanta. Gelar yang dipersembahkan pun bukan ecek-ecek, yakni Europa League. Gasperini memimpin La Dea menuju final dengan taktik khasnya. 

Fans Atalanta sempat kaget melihat lawan yang dihadapi tim kesayangan mereka di partai puncak. Bayer Leverkusen yang kala itu sedang begitu mengerikan di Bundesliga datang ke Aviva Stadium dengan optimisme tinggi untuk mengejar treble pertama mereka. 

Nyatanya, Atalanta justru membalikkan prediksi para pengamat yang tidak mengunggulkan mereka. Adalah Ademola Lookman, gelandang sayap Nigeria yang sekonyong-konyong menjelma jadi monster yang sangat menakutkan bagi Matej Kovar. Lookman melesatkan hattrick yang membantu Atalanta mengakhiri musim tak terkalahkan Leverkusen. 

Berkat Lookman pula, Atalanta mengakhiri kekeringan prestasi selama 61 tahun lamanya. Sebelum angkat piala bergengsi di Dublin, klub asal daerah Bergamo ini terakhir kali berpesta juara saat menggenggam Coppa Italia musim 1962/63 usai membekuk Torino dengan skor 3-1. 

theguardian.com, bundesliga.com, sport.optus.com.au, bbc.com, .dw.com, tempo.co, bola.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru