Bayern Munchen vs Leverkusen: Duel Jerman dan Murid Pep Guardiola di UCL

spot_img

Setelah puas menikmati waktu santai karena lolos tanpa melewati babak play off, pasukan Bayer Leverkusen akan menghadapi Bayern Munchen di babak 16 besar Liga Champions.

Menariknya, dua klub ini sama-sama dari Bundesliga. Tentu saja bila melihat ke belakang, Die Roten lebih diunggulkan ketimbang Die Werkself. Sebab di kancah domestik, Bayern Munchen lebih sering menang daripada kalah ketika bertemu Leverkusen. Namun itu di kompetisi domestik. Di ranah Eropa, ceritanya bisa jadi lain.

Apalagi Bayern Munchen di Liga Champions musim ini dalam performa yang kurang bagus. Karena tim ini harus melewati play off dan menundukkan Celtic dulu baru bisa lolos ke fase selanjutnya. Jadi, mungkinkah Bayer Leverkusen akan memanfaatkan itu untuk menumpas perlawanan rivalnya itu di 16 besar Liga Champions? Atau, justru kekalahan lah yang, lagi-lagi bakal menimpa Die Werkself?

Diawali Hasil Imbang

Pertemuan antara Bayern Munchen dan Bayer Leverkusen sudah sering terjadi di Bundesliga. Dua tim ini sudah bertarung sebanyak 33 kali. Dari banyaknya laga itu, Bayern Munchen masih unggul di atas Bayer Leverkusen.

Uniknya head to head keduanya diawali dengan hasil imbang. Waktu itu Bayern Munchen bertandang ke markas Bayer Leverkusen di Bay Arena pada musim 2010/2011. Kedua tim hanya berbagi angka 1-1.

Gol Mario Gomez di menit 34 memecah kebuntuan Bayern Munchen. Gol tercipta lewat assist dari Bastian Schweinsteiger. Lalu disundul masuk oleh Mario Gomez. Lalu dibalas dengan gol penalti oleh Arturo Vidal di menit 45.

Dominasi Bayern Munchen dan Kebangkitan Leverkusen

Dominasi Bayern Munchen atas Bayer Leverkusen memang kuat setelah momen pertemuan pertama. Leverkusen sering kena bantai Bayern Munchen. Die Roten menang 17 kali dari Die Werkself. Sementara Leverkusen baru menang 8 kali dan imbang 8 kali.

Yang paling mengesankan ketika Munchen membantai Leverkusen 4-0 dalam laga lanjutan Bundesliga pada 1 Oktober 2022. Di mana Gerardo Seoane langsung dipecat dan digantikan Xabi Alonso.

Tetapi bila melihat 6 pertandingan terakhir, ada tren kebangkitan Bayer Leverkusen. Klub yang berdiri sejak tahun 1904 itu belakangan cukup impresif. Alhasil, dari 6 pertandingan itu Bayer Leverkusen mampu menang 3 kali dan 3 seri melawan Bayern Munchen.

Belakangan ini, penampilan Die Werkself luar biasa dan konsisten. Kalau dihitung-hitung, itu dimulai dari musim lalu. Persis ketika Xabi Alonso membawa tim ini juara Bundesliga dengan rekor tak terkalahkan. Kala itu Leverkusen bisa unggul jauh dari Bayern Munchen yang duduk di posisi ketiga.

Musim ini pun sebetulnya Bayer Leverkusen bukan lawan yang mudah bagi pasukan Vincent Kompany. Lihat saja, misalnya, di 16 besar DFB Pokal. Skuad asuhan Vincent Kompany harus gugur setelah tunduk melawan Bayer Leverkusen. Sementara di Bundesliga musim ini, Die Roten tak sekali pun sanggup mengalahkan pasukan Xabi Alonso. Terakhir, mereka ditahan imbang 0-0.

Dari Liga Domestik ke Liga Champions

Pertemuan Vincent Kompany dan Xabi Alonso akan berlanjut ke kompetisi kelas wahid di Eropa. Vincent sangat diuntungkan melatih Bayern Munchen. Sejak jadi pelatih Bayern Munchen pada 1 Juli 2024, Vincent tak perlu berdarah-darah membawa tim melaju ke kompetisi Eropa seperti yang dilakukan Xabi Alonso.

Sebab Munchen finish di posisi ketiga klasemen Bundesliga. Yang akhirnya Vincent bisa mendapatkan pengalaman serunya bertanding di Liga Champions. Sementara Xabi Alonso harus melalui proses yang panjang nan berat. Xabi dituntut membawa perubahan untuk Bayer Leverkusen. Setelah sebelumnya saat dilatih Gerardo Seoane, Leverkusen mengalami penurunan performa.

Untungnya di tangan Xabi, performa Leverkusen meningkat. Hingga pada akhirnya Leverkusen finish di posisi 6 klasemen Bundesliga pada musim 2022/23. Berkat capaian itu, Leverkusen berhak berkompetisi di Liga Eropa musim berikutnya. Secara mengejutkan Leverkusen berhasil melangkah ke final. Sayangnya di partai final kalah dari Atalanta. Leverkusen bahkan dibantai 3-0 oleh wakil dari Italia itu.

Setelah kalah di final melawan Atalanta, juga menjuarai Bundesliga, Xabi boleh dibilang lebih matang menghadapi kompetisi Eropa. Terbukti musim ini, Leverkusen yang bermain di Liga Champions, menembus 16 besar tanpa perlu melakoni babak play off.

Sementara Vincent Kompany tampak masih gugup menghadapi kerasnya kompetisi Eropa. Bayern Munchen harus lewat fase play off dulu untuk bisa mencapai fase 16 besar. Sebab di fase liga, Die Roten hanya duduk di posisi 12.

Performa Bayern Munchen di Liga Champions

Boleh dibilang klub asuhan Vincent Kompany di Liga Champions tak sesangar di liga domestik. Raksasa Jerman itu mengalami statistik yang kurang positif sepanjang Liga Champions berjalan. Die Roten bahkan harus menelan kekalahan memalukan 3 kali. Dua di antaranya bahkan menghadapi tim yang seharusnya bisa dikalahkan.

Bayern sudah kalah dari Aston Villa di pertandingan kedua. Lalu Bayern Munchen yang biasanya mudah saja menghadapi Barcelona, justru berbalik kena bantai. Namun barangkali kekalahan yang paling memalukan terjadi saat melawan Feyenoord.

Bayern Munchen dibantai 3-0 di De Kuip. Hasil mengecewakan ini membuat Bayern Munchen harus melewati babak play off. Di babak play off melawan Celtic pun, Bayern Munchen tak kelihatan mode bantainya. Bayern Munchen bahkan nyaris kalah saat menjamu Celtic di Allianz Arena.

Bagaimana tidak? Bayern Munchen baru bisa menyamakan kedudukan di menit 90+4 setelah kebobolan di menit 63. Gol dari Alphonso Davies mengantarkan Die Roten lolos ke 16 besar tanpa drama adu penalti.

Performa Bayer Leverkusen di Liga Champions

Sementara wakil Jerman lain justru impresif. Bayer Leverkusen penampilannya bisa dibilang lebih baik. Skuad asuhan Xabi Alonso itu berhasil menggilas wakil Belanda, Feyenoord 4-0.

Hal itu tak lepas dari tangan dingin Xabi Alonso dalam mengasuh Bayer Leverkusen. Dibanding Vincent Kompany, capaian Xabi Alonso di Liga Champions cukup bagus. Sebab Bayer Leverkusen menang 5 kali, imbang 1 kali dan kalah 2 kali. Dari sini Leverkusen finish di posisi 6 klasemen Liga Champions.

Satu-satunya kekalahan telak Bayer Leverkusen terjadi saat melawan Liverpool. Pasukan Xabi Alonso harus tunduk 0-4 dari pasukan Arne Slot. Padahal di laga tersebut Leverkusen unggul dalam hal penguasaan bola. Tapi memang, Liverpool berhasil menahan gempuran Leverkusen. Juga cerdik memanfaatkan serangan balik ketika tim Xabi Alonso kehilangan bola.

Kedua Pelatih adalah Murid Pep Guardiola

Yang menarik, pelatih dari kedua tim punya sejarah yang hampir sama. Di mana Xabi Alonso dan Vincent Kompany termasuk murid dari Pep Guardiola sewaktu masih aktif jadi pemain. Xabi Alonso jadi murid Pep saat di Bayern Munchen.

Kepindahannya dari Real Madrid ke Bayern Munchen, waktu itu membawanya bertemu dan berguru pada Pep. Xabi belajar banyak tentang bagaimana cara menghubungkan lini tengah dan lini belakang. Serta bagaimana membangun serangan dari lini pertahanan.

Sementara Vincent Kompany bertemu Pep Guardiola saat dirinya jadi captain di Manchester City. Vincent yang kala itu jadi bek tengah, belajar banyak dari Pep. Terutama soal bagaimana memanfaatkan area pelebaran. Tujuannya untuk menciptakan ruang di lini tengah lawan.

Tak heran jika gaya main Bayer Leverkusen dan Bayern Munchen ada kesamaan dari satu sisi. Dua tim dari Bundesliga ini punya kecenderungan bermain menyerang. Selain itu, baik Vincent Kompany maupun Xabi Alonso kerap menerapkan ball possession penuh.

Gaya Permainan Vincent Kompany

Meski begitu, kedua pelatih yang pernah mendapat ilmu dari Pep, juga punya perbedaan yang signifikan. Vincent Kompany cukup taat dalam menerapkan gaya permainan Pep Guardiola. Bayern Munchen yang dilatih oleh Vincent, identik dengan penguasaan bola tinggi. Hal itu bisa dilihat dari garis pertahanan tinggi yang sering digunakan Pep Guardiola.

Bahkan Vincent Kompany juga menerapkan false nine ala Pep Guardiola di lini depan. Fungsinya untuk mengecoh pemain belakang lawan. Inilah yang jadi andalan Vincent dalam melatih Bayern Munchen. Membuat Munchen selalu menang soal ball possesion.

Tapi masalahnya Bayern Munchen selalu kebobolan lebih dulu. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan. Skuad asuhan Vincent Kompany punya masalah krusial di lini belakang. Transisi dari menyerang ke bertahan mereka kacau. Hal inilah yang membuat tim asuhan Vincent Kompany kebobolan saat terjadi serangan balik.

Lihat saja ketika melawan Feyenoord. Saat mendapat serangan balik di laga itu, para pemain belakang Bayern Munchen kocar-kacir. Akibatnya terjadi disorganisasi yang itu dapat dimanfaatkan oleh lawan.

Gaya Permainan Xabi Alonso

Sementara Xabi Alonso agak sedikit berbeda. Memang Xabi Alonso juga menerapkan gaya menyerang, tapi lebih teknis. Pelatih asal Spanyol itu bermain lebih efisien dan cepat.

Ketika memegang bola, Xabi menginstruksikan pemainnya agar membentuk kerja sama dengan antar 1,2, atau 3 pemain. Namun Xabi tidak meminta pemain banyak menguasai bola. Sebaliknya, ia juga meminta para pemain untuk lebih cepat mengirim bola ke depan.

“Kami harus mencari penyerang kami dan kami tahu seberapa banyak kualitas yang kami miliki di depan,” kata Granit Xhaka.

Lalu ketika para pemain asuhan Xabi Alonso kehilangan bola, mereka akan melakukan pressing ketat. Para pemain tengah Bayer Leverkusen juga akan mundur untuk membantu lini pertahanan. Dari sinilah Leverkusen membangun pertahanan yang solid saat terjadi serangan balik lawan.

Prediksi Taktik Kedua Tim

Lalu bagaimana laga Bayern Munchen melawan Bayer Leverkusen di Liga Champions? Nah, musim ini akan terjadi untuk pertama kalinya. Berkaca dari pertandingan sebelumnya, taktik yang akan digunakan oleh Bayern Munchen dan Leverkusen takkan jauh berbeda. Bayer Leverkusen akan tetap berusaha menguasai bola. Pelatih asal Belgia itu akan menggunakan formasi 4-2-3-1.

Bayern Munchen akan mengandalkan Harry Kane dan Jamal Musiala di sektor depan. Kedua pemain ini tentu akan bermain lebih cair. Tak jarang Vincent menjadikan Jamal Musiala sebagai false nine untuk memecah fokus pemain Bayer Leverkusen.

Sementara Leverkusen akan disiplin dan waspada terhadap gerak-gerik pemain Bayern Munchen, sambil menunggu momen yang tepat untuk melakukan serangan balik. Kemungkinan Xabi Alonso akan menggunakan formasi 4-4-2 saat melawan Bayern Munchen sebagaimana di Bundesliga kemarin.

Xabi Alonso tentu saja akan mengandalkan Granit Xhaka yang piawai mengatur ritme permainan Bayern Munchen. Dengan empat pemain di lini tengah, tujuannya untuk mematahkan ball possession Bayern Munchen. Taktik Xabi Alonso sekaligus untuk menghentikan pergerakan Musiala. Selain itu Xabi juga mengandalkan Florian Wirtz yang cerdik dalam menemukan ruang kosong.

Well, menurut FotMob, Bayern Munchen lebih diunggulkan di pertandingan nanti, dengan persentase 55%. Sementara kemungkinan Die Werkself mengalahkan Bayern Munchen ada di angka 33%. Tapi yang namanya sepakbola, semua tidak pasti dan penuh kejutan. Bukan begitu, football lovers?

Fotmob, Bola, Transfermarket, Football London, IDN Times, Beinsport, Taktikfootbalanalysis.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru