11 Tahun Gendong Inggris di UCL, Manchester City Berubah Jadi Aib

spot_img

Tahun demi tahun Manchester City mengejar Liga Champions. Mati-matian. Tak kurang dari 11 tahun, ya, satu dekade lebih, Manchester City berubah dari yang semula kesulitan lolos ke Liga Champions menjadi tim yang langganan bermain di sana. Bahkan selama 11 tahun itu, The Citizens seolah jadi tim yang menggendong Inggris, karena selalu lolos ke fase gugur alias 16 besar.

Namun, supremasi yang dibangun 11 tahun lamanya itu runtuh. Persis di musim ketika Liga Champions mengganti formatnya. Manchester City kalah dari Real Madrid dan gagal menembus 16 besar. Ini fenomena langka. Ini peristiwa yang mungkin, butuh dua kali kabisat untuk mengulanginya.

Bagaimana Manchester City berubah dari penggendong Inggris di UCL menjadi aib Inggris di Eropa, karena menjadi satu-satunya tim Inggris yang gagal lolos ke fase 16 besar kompetisi Eropa musim ini? Mari kita membahasnya.

Musim 2024/25, Memalukan Bagi Manchester City

Gejolak keraguan sudah terpancar dari awal musim. Josep Guardiola, pelatih ambisius dengan segudang rencana di kepalanya, risau mengetahui perubahan format Liga Champions. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Guardiola tak mungkin bisa mengembalikan Liga Champions ke format lama.

Guardiola bersama Manchester City-nya harus legowo. Tapi kecemasan yang terpantik sejak sebelum peluit awal Liga Champions dibunyikan, ternyata menjadi lelembut yang menghantui kepala Guardiola. Kecemasan dan overthinking itu pada gilirannya membunuh ketajaman seorang Guardiola.

Manchester City bermain cenderung sporadis di Liga Champions. Seakan tanpa rencana, tanpa kontrol, dan tanpa pertimbangan matang. Manchester City blingsatan. Babak belur menjadi nama tengah mereka selama babak liga di Liga Champions musim ini. Dari delapan laga yang disediakan UEFA, pasukan Guardiola hanya mampu memenangkan tiga laga saja.

Karena hanya menang tiga pertandingan, Manchester City berada posisi 22. Hal itu membuat The Citizens mesti bertarung di babak play-off untuk memperebutkan jatah di 16 besar. Sial bagi mereka. Baru di babak play-off mesti bertemu Real Madrid, sang empunya Liga Champions.

Entah kesambet penyakit dari tim medioker mana, alih-alih otomatis ke 16 besar, Los Blancos malah ikutan main di babak play-off. Mungkin sebagai raja, El Real ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi rakyat. Dan sebagai raja yang ‘turun gunung’, Real Madrid langsung bertemu dengan rakyat yang kaya raya.

Rakyat yang kaya raya itu lantas dihajar habis-habisan oleh sang raja. Sempat menunjukkan perlawanan sengit di leg pertama. Tapi Manchester City tetap bertekuk lutut di hadapan raja. Skor 3-2 tersaji di akhir laga. Nah, di leg kedua, rakyat yang kaya raya itu bertamu di rumah sang raja.

Bagaimanapun kekayaan tak ada apa-apanya di balik kekuasaan. Di rumah sendiri, Los Galacticos pamer keperkasaan. Kylian Mbappe yang sudah nyetel menjadi algojo yang menumpas perlawanan City. Tiga golnya hanya mampu dibalas gol hiburan dari Nico Gonzalez di penghujung laga. Manchester City kalah lewat agregat 6-3.

Tersingkir!

Manchester City terhenti. Ini adalah untuk kali pertama setelah 11 tahun City tak menembus fase gugur. Ini juga kali pertama bagi Josep Guardiola.

Guardiola dan Manchester City-nya dipaksa menginjak bumi juga bukan hanya karena ini adalah ketidakberhasilan pertama ke 16 besar Liga Champions, namun juga karena selain Manchester City, musim ini tidak ada klub Inggris lain yang tak lolos ke 16 besar kompetisi Eropa. Dan ini serius.

Pertama di Liga Champions. Musim ini Inggris mengirim empat wakilnya: Liverpool, Arsenal, Aston Villa, dan tentu saja Manchester City. Namun dari keempat tim hanya Manchester City yang gagal melaju ke 16 besar. Tiga tim lain bahkan bisa melaju tanpa babak play-off.

Jika Manchester City menjadi wakil Inggris di Liga Champions dengan peringkat terendah, mungkin ini tak memalukan-memalukan amat. Tapi kan tidak. City lolos ke Liga Champions sebagai juara Liga Inggris musim lalu. Dan bukan cuma itu, gelar Liga Inggris yang diraih musim lalu juga gelar keempat mereka secara beruntun.

Masa juara Liga Inggris dalam empat musim beruntun tak lebih baik dari Manchester United dan Tottenham Hotspur? Sebapuk-bapuknya MU dan Spurs, mereka bergandengan tangan lolos langsung ke babak 16 besar Liga Eropa.

Chelsea yang jadi single fighter di Liga Konferensi Eropa juga telah memastikan tiket 16 besar, setelah memuncaki klasemen tanpa tersentuh satu hasil imbang maupun kekalahan.

Membangun Sejak 2011/12

Perjalanan Manchester City di Liga Champions sendiri adalah perjalanan yang teramat panjang. Mereka memulai bermain di Liga Champions di musim 2011/12. Waktu itu, City sudah masuk “Grup Neraka”, yakni Grup A. Di situ, City dipaksa menghadapi Bayern Munchen, Napoli, dan Villarreal.

Meski berada di Grup Maut, Roberto Mancini, pelatih City saat itu, sumringah. “Bermain di Liga Champions setelah bertahun-tahun adalah hari yang sangat penting dan istimewa,” kata Mancini.

City mengawali musim perdananya di Liga Champions menghadapi Napoli di rumah sendiri. Dengan bantuan suporter yang bergemuruh, ditambah musik Liga Champions yang khas, semangat para pemain terbakar. Usai dibobol Cavani, tak berapa lama, Aleksandar Kolarov menyamakan kedudukan.

Setelah cuma imbang di laga awal, City harus menelan kekalahan di pertandingan kedua. Die Roten yang sudah empat kali menggamit Si Kuping Besar kala itu masih terlalu tangguh. Tapi di pertandingan pamungkas, City berhasil revans dengan mengalahkan Bayern Munchen.

Sayang, kemenangan atas Die Roten tak mampu membawa mereka ke 16 besar. Sebab City sudah takluk di Kota Naples lebih dulu. Sementara di waktu yang sama ketika City mengalahkan Munchen, Napoli memetik kemenangan. Gagal finis di dua besar, Liga Eropa menjadi tempat mereka terlempar.

Pertama Kali ke 16 Besar UCL

Liga Champions musim 2011/12 laksana modal bagi The Citizens. Modal berharga yang jadi suplemen penambah keyakinan di setiap musimnya. Terbukti sejak saat itu, City ketagihan ke Liga Champions. Kendati di percobaan kedua, City masih juga gagal ke 16 besar. Keberhasilan pertama City ke 16 besar baru terjadi tatkala tim ini melakukan perombakan besar.

Musim 2013/14, Manchester City memulai era baru dengan menunjuk manajer baru bernama Manuel Pellegrini. Manajer asal Chile itu mengantongi 25 tahun pengalaman gemilang. Dengan reputasi itu, Pellegrini membawa filosofi baru ke Manchester City. Permainan tim berubah menjadi sepak bola yang mengalir dan berorientasi menyerang.

Bukan hanya itu, Pellegrini juga mendatangkan darah baru seperti Stevan Jovetic, Alvaro Negredo, Martin Demichelis, Jesus Navas, hingga Fernandinho. Kelak nama-nama ini menjadi aset berharga The Citizens. Di edisi ini, kembali lagi, Manchester City segrup dengan Bayern Munchen.

Hanya saja kali ini lawan lainnya lebih mudah. Cuma CSKA Moscow dan Viktoria Plzen. Kesempatan pun tak disia-siakan. Di Grup D saat itu, Pellegrini menjadikan City tim yang produktif mencetak gol dengan 18 gol, menjadi yang terbanyak. CSKA Moscow dan Plzen adalah korban pembantaian Manchester City.

Kecuali satu laga melawan Bayern Munchen, City selalu menang di fase grup musim itu. Menariknya, City yang ditaklukkan Munchen di markas sendiri, berhasil berbalik menang ketika bertamu ke Allianz Arena.

City finis di posisi kedua. Hanya kalah selisih gol dari Bayern Munchen. City pun lolos ke 16 besar untuk kali pertama. Namun Barcelona terlalu tangguh bagi tim yang baru pertama main di 16 besar. Lionel Messi dan kolega waktu itu mengalahkan The Citizens dalam dua leg.

Musim 2015/16, Satu-Satunya Wakil Inggris di Perempat Final

Lalu kapan dong istilah gendong Inggris di Liga Champions itu muncul? Lima musim, ya, lima musim setelah kelolosan pertama di Liga Champions. Masih bersama Manuel Pellegrini, ambisi meraih gelar Eropa dipelihara. Strateginya, sang pelatih mendatangkan mesin-mesin baru. Nicolas Otamendi, Raheem Sterling, hingga sang orkestrator, Kevin de Bruyne di antaranya.

Kala itu, di Liga Champions musim 2015/16, Manchester City segrup dengan Sevilla, Borussia Monchengladbach, dan Juventus. Tidak ada Bayern Munchen, City waktu itu diprediksi akan melaju nyaman tanpa mengecewakan. Tapi prediksi itu meleset. Semuanya tak berjalan mulus. Pertandingan pertama saja, City mesti menelan kekalahan di kandang sendiri atas Juventus.

Terpongkeng di laga pertama, para punggawa City menaikkan kewaspadaan. Tapi kewaspadaan itu malah hampir membuat The Citizens tergelincir lagi. Di pertandingan kedua, bertandang ke Monchengladbach, City tertinggal lebih dulu lewat gol Lars Stindl. City bangkit di 30 menit terakhir.

Mula-mula gol Stindl disamakan Demichelis. Lalu di ujung babak kedua, City mendapat hadiah penalti yang itu, tidak disia-siakan oleh Kun Aguero. Drama lain tersaji saat Sevilla melawat ke City of Manchester. Yevhen Konoplyanka sempat membawa tim tamu unggul, sebelum Adil Rami memasukkan bola ke gawang timnya sendiri enam menit berselang.

Pertandingan menjadi alot, dan hingga menit ke-90 seolah tak ada pemenang. Namun pada menit 90+1, Kevin De Bruyne mencetak gol, memberi kemenangan pada Manchester City. Saat itu kendati dua kali kalah dari Juventus, City lolos ke 16 besar dengan mengungguli Juve satu poin. City bersama Arsenal dan Chelsea mewakili Inggris di babak 16 besar.

Nasib baik memayungi Manchester City. Kala dua tim Inggris lain mesti hadapi lawan berat: Chelsea dengan PSG dan Arsenal akan melawan Barcelona, City mendapat lawan mudah yakni Dynamo Kyiv. Seperti kata Akhdiyat Duta Muljo, mudah saja, ya, mudah saja bagi The Citizens mengalahkan wakil Ukraina.

Sementara itu, dua tim Inggris lain terkapar. Chelsea dipecundangi PSG, sedangkan The Gunners dimudikkan Trio MSN. Jadilah City satu-satunya wakil Inggris di perempat final. Di sana City menghadapi PSG. Les Parisiens dengan Zlatan Ibrahimovic-nya adalah musuh yang tidak mudah.

City bermain lebih dulu di kandang lawan dan nyaris kebobolan belum ada seperempat jam laga berjalan. Untung penalti Zlatan Ibrahimovic berhasil dimentahkan Joe Hart. Leg pertama berjalan alot dan laga dipaksa berakhir seri 2-2. Tensi pertandingan meningkat saat City jadi tuan rumah.

Laga seperti akan kembali imbang dalam 90 menit. Namun, 15 menit sebelum Carlos Velasco Carballo menempelkan peluit di bibirnya, De Bruyne mencetak gol sekaligus mencatatkan namanya di buku sejarah. Gol itu membawa Manchester City pertama kalinya ke semifinal Liga Champions.

Musim Guardiola Awal

City pun kian digdaya di Liga Champions, utamanya saat Josep Guardiola i Sala ditunjuk sebagai pelatih. Musim 2016/17, penunjukan Guardiola makin memperlihatkan keseriusan City di kasta tertinggi Eropa itu. Guardiola bukan hanya bisa memberi gelar, tapi juga punya filosofi permainan yang khas.

Sejumlah pemain baru seperti John Stones, Ilkay Gundogan, Oleksandr Zinchenko hingga Leroy Sane juga bergabung ke City. Lantaran cuma finis di posisi keempat di Liga Inggris musim sebelumnya, waktu itu posisi keempat tak otomatis ke UCL, Manchester City harus melewati babak play-off. Di sanalah petualangan City dimulai.

City mengamuk di Rumania. Tuan rumah Steaua Bucuresti yang pernah menjuarai Liga Champions diamuk 6-0 tanpa balas dalam dua leg. Kemenangan tersebut membawa City ke Liga Champions. Berada di Grup C, Pep Guardiola akan bertemu mantan timnya, Barcelona.

Selain Blaugrana, City juga akan berjumpa Borussia Monchengladbach dan wakil Skotlandia, Celtic. City cukup kesulitan, termasuk ketika menghadapi Barcelona. Di Catalan, City dibantai 4-0. Tapi saat bermain di depan pendukungnya sendiri, City menghajar Barcelona 3-1. Kala itu, City berhasil lolos ke 16 besar bersama Barcelona. Tapi sayang, di babak 16 besar City takluk atas AS Monaco.

Kiprah menjadi satu-satunya wakil Inggris di perempat final yang pernah dilakukan Manuel Pellegrini diulangi oleh Pep Guardiola di musim 2019/20. Mirisnya, City dihempaskan Lyon dan gagal ke semifinal.

Juara di Era Pep Guardiola

Gelar Liga Champions sebenarnya bisa lebih cepat mereka dapatkan. Pada musim 2020/21, saat terus bermain di stadion-stadion kosong lantaran pandemi, Manchester City dan Chelsea menjadi dua wakil Inggris yang lolos ke 16 besar dan berjuang bersama di bagan yang berbeda.

Keduanya, kita tahu, bertemu di partai puncak. Tapi City gagal menjuarainya. Chelsea yang diasuh Thomas Tuchel lah yang keluar sebagai juara berkat gol semata wayang Kai Havertz. Kegagalan di musim itu mengecewakan. Tapi Guardiola belum sepatah arang sekarang.

Pep masih menyimpan kepercayaan bahwa suatu hari nanti, bersama Manchester City ia akan meraih gelar Liga Champions. Gelar itu akhirnya tiba di musim 2022/23 lewat perjalanan tak mudah. Sebelum ke final City mesti menghadapi Los Blancos, tim yang mengalahkan mereka di semifinal musim sebelumnya.

Pep Guardiola akhirnya bisa revans dari kekalahan atas Carlo Ancelotti. Setelah menahan imbang Madrid di leg pertama, tak tanggung-tanggung, City menggilas mereka 4-0 di leg kedua. Dan mereka pun menjuarainya setelah mengalahkan Inter.

Trofi itu menjadi pelengkap trofi Liga Inggris dan Piala FA. Menjadikan mereka tim Inggris berikutnya yang meraih treble bersejarah.

Runtuh

Setelah ditaklukkan di musim itu, Carlo Ancelotti sepertinya menyimpan dendam pada City dan Pep Guardiola. Keduanya pun lagi dan lagi, dipertemukan di Liga Champions musim selanjutnya. Tidak di semifinal, melainkan di perempat final. City melaju ke sana setelah dengan mudahnya membekuk FC Copenhagen.

Perlawanan sengit terjadi. Kedua tim saling jual-beli serangan. Itulah kenapa dalam dua leg, hasil imbang yang tersaji. Tapi mentalitas UCL Madrid terbukti lebih kuat. Di babak tos-tosan di leg kedua, hanya Luka Modric dari kubu Madrid yang gagal menjadi eksekutor, sedang dari pihak City, dua orang gagal. City kalah, Madrid melaju.

;

Jika melihat fasenya, ketika bertemu lagi di musim 2024/25, jatahnya City yang menang. Tapi justru Real Madrid. Kedua tim sebetulnya sedang compang-camping. Performa City amburadul dan angin-angin, sementara Los Blancos diterpa tsunami cedera.

Permainan di atas lapangan yang menentukan. Guardiola terlalu naif dengan meminta pemain menekan Real Madrid lewat garis pertahanan tinggi. Lucunya hal itu tak dibarengi intensitas pressing. Kecerobohan itu pun terbaca Ancelotti. Real Madrid pun menghukum kelalaian Manchester City dua kali.

City pun tak cuma menjadi satu-satunya tim Inggris yang gagal ke 16 besar kompetisi Eropa musim ini. Di babak play-off kemarin, City berhak disebut sebagai tim dengan jumlah kebobolan terbanyak setelah Stade Brestois. Miris. Memalukan sekaligus menyedihkan.

Sumber: ManCity, ESPN, Goal, TheGuardian

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru