Kanal berita BBC melaporkan bahwa Presiden Indonesia, Prabowo Subianto terus berusaha untuk memperluas peran militer di ranah sipil. Mulai dari melibatkan TNI dalam program nasional, hingga menunjuk anggota aktif TNI untuk jabatan sipil. Dari sini, mimin jadi kepikiran, apakah pasukan militer bisa merambah dunia sepakbola juga?
Setelah berselancar di internet, Starting Eleven menemukan fakta bahwa ada banyak campur tangan pasukan militer di dunia sepakbola. Bukan di Indonesia saja, melainkan di banyak negara-negara besar di Eropa. Bahkan, ada beberapa klub sepakbola yang memiliki hubungan erat dengan pasukan militer di negaranya. Penasaran, klub apa sajakah itu? Mari kita bahas.
Daftar Isi
CSKA Moscow – Rusia
Klub pertama yang terkenal dengan background militernya adalah CSKA Moscow. Salah satu klub tertua di Rusia itu didirikan oleh tentara Soviet pada tahun 1911. Nah, yang mungkin kalian belum tahu, apabila diartikan dalam bahasa Inggris, CSKA adalah “Central Army Sport Club” atau sederhananya, CSKA Moscow ini klub sepakbola angkatan darat Rusia.
Namun, sejak Uni Soviet mengalami perpecahan, kepemilikan CSKA dibagi menjadi dua, yakni kementerian pertahanan Rusia dan tentara nasional. Baru pada tahun 2012, menteri pertahanan Rusia terbuka untuk melepas 25% sahamnya kepada salah satu perusahaan bernama Blue Castle Enterprise. Namun, kabarnya, Blue Castle sudah angkat kaki pada tahun 2020.
Kini, CSKA dikelola oleh VEB, badan usaha pembangunan dan perusahaan investasi milik negara Rusia. Sementara secara prestasi, CSKA masih jadi salah satu tim tersukses di Negeri Beruang merah. Menurut situs Transfermarkt, CSKA mengoleksi enam gelar juara Liga Rusia, delapan Piala Rusia, 7 Piala Super dan satu gelar Piala UEFA pada musim 2004/05.
CSKA Sofia – Bulgaria
Masih ada sentuhan CSKA nya, ada CSKA Sofia. Beda dengan CSKA Moscow, CSKA Sofia tidak berbasis di Rusia, melainkan Bulgaria. Tim yang identik dengan warna merah ini sejatinya sudah didirikan pada 1923. Namun baru diakui secara resmi 15 tahun berselang. Keterlibatan Uni Soviet yang pada awal abad ke-20 menduduki Bulgaria ikut ambil bagian dalam berdirinya klub ini.
Hingga sekarang, CSKA Sofia juga masih dikenal dengan julukan ‘The Army Men’, sama dengan CSKA Moscow. Bukan cuma julukannya, Sofia juga memiliki kiprah yang kurang lebih sama dengan Moscow. tim yang pernah dilatih Alan Pardew ini adalah klub yang bisa dibilang sukses di persepakbolaan Bulgaria.
Mengutip situs Transfermarkt, mereka mengantongi 31 gelar juara Liga Bulgaria, 21 kali juara Piala Bulgaria, dan empat kali juara Piala Super Bulgaria. Sayangnya, Sofia tidak memiliki gelar Eropa layaknya saudara jauhnya di Rusia. Selain itu, klub ini juga menjadi tempat pemain-pemain besar Bulgaria memulai karier, antara lain Hristo Stoichkov dan Dimitar Berbatov.
FK Partizani Tirana – Albania
Bergeser ke Albania, ada FK Partizani Tirana. Klub yang lagi-lagi bernuansa merah ini didirikan 79 tahun lalu, tepatnya 1946. Dan secara historis, kental hubungannya dengan tentara Albania. Partizani juga punya pengalaman yang lumayan panjang di kancah sepakbola domestik Albania.
Klub ini pertama kali tampil dalam kompetisi resmi Albania pada tahun 1947. Menariknya, mereka langsung jadi juara di Kejuaraan Nasional Albania. Setelah itu, Tirana menjelma jadi klub yang cukup mendominasi kompetisi domestik. Meski telah mengantongi 17 gelar Liga Albania, Tirana bukan klub tersukses di Liga Albania.
Masih ada FK Tirana, rival Partizani Tirana yang mengantongi 26 gelar Liga Albania. Lantas, bagaimana kiprah Partizani Tirana di kancah Eropa? Catatan mereka cukup buruk di Eropa. Tirana hanya mencapai ronde-ronde awal kualifikasi Liga Champions, Europa League dan Conference League lantaran kalah superior dengan tim Eropa lain.
Warriors FC – Singapura
Tak cuma di Eropa, di Asia pun tren klub sepakbola yang berasosiasi dengan tentara cukup populer. Di Singapura misalnya, ada Warriors FC. Klub yang bermarkas di Choa Chu Kang, Singapura itu didirikan pada tahun 1975. Awalnya, klub ini didirikan untuk menjadi wadah bagi para angkatan militer Singapura yang memiliki hobi bermain sepakbola.
Di awal berdirinya Warriors FC, mereka dinamai dengan Singapore Armed Forces Football Club atau SAFFC. Meski kala itu Warriors menggunakan nama yang sangat melambangkan angkatan bersenjata Singapura, pada akhirnya mereka tidak hanya menggunakan pemain dari angkatan militer saja.
Warriors FC tetap memasukan pemain-pemain nasional Singapura dan pemain asing demi menjaga tingkat kompetitif di Liga Singapura. Sepak terjangnya di Liga Singapura pun impresif. Warriors FC sudah sembilan kali menjuarai Liga Singapura. Sayangnya, pada tahun 2019, Warriors memutuskan untuk undur diri dari Liga Singapura.
Gimcheon Sangmu FC – Korea Selatan
Di Korea Selatan pun ada klub yang serupa, mereka adalah Gimcheon Sangmu. Klub yang masih eksis hingga saat ini merupakan gabungan atau merger dari tiga klub sepakbola militer di Korea Selatan. Yang pertama adalah Army FC, lalu Marine Corps FC, dan Air Force FC. Pada 2021, nama Gimcheon Sangmu dipatenkan menjadi nama resmi setelah sempat berganti-ganti nama.
Sebelum menetap di Gimcheon Stadium, Sangmu pernah bermarkas di Gwangju, kemudian pindah ke Sangju Gyeongsangbuk-do. Awalnya, Sangmu tidak ambil bagian di kompetisi profesional Korea Selatan atau K League dan hanya bermain di turnamen semiprofesional. Namun, seiring berjalannya waktu dan diskusi panjang dengan operator liga dan pemerintah Korsel, Sangmu bisa tampil di kompetisi profesional.
Meski sudah tampil di kompetisi profesional, Sangmu memiliki aturan ketat yang tidak boleh dilanggar. Pertama, mereka tidak boleh menjual saham ke investor. Kedua, mereka tidak diizinkan berkompetisi di Liga Champions Asia meski nantinya menjuarai K League 1. Ketiga, mereka tidak diizinkan menggunakan pemain asing. Terakhir, Sangmu hanya boleh menggunakan pemain yang berstatus wajib militer atau produk akademi. Lucu juga yaaa.
MS ABDB FT – Brunei Darussalam
Peraturan yang hampir sama dengan Sangmu juga diaplikasikan oleh klub Brunei Darussalam, Royal Brunei Armed Forces Sports Council. Jika mayoritas klub di daftar ini mengizinkan pemain-pemain asing untuk ikut bermain, maka Royal Brunei tidak. Tim yang didirikan oleh militer Brunei itu memiliki komposisi tim yang mayoritas isinya prajurit aktif.
Mulai dari pemain, pelatih, pemilik, sampai ke posisi kitman sekalipun. Sekalinya ada non prajurit, ya pemain lokal. Menariknya, di tempat asalnya Royal Brunei lebih dikenal sebagai MS ABDB FT. Sebab, nama aslinya sangat panjang. Mau dengar? Nama asli dari klub bernuansa kuning ini adalah Pasukan Bolasepak Majlis Sukan Angkatan Bersenjata Diraja Brunei. Gimana, Panjang bukan?
Secara prestasi, ABDB cukup oke. Mereka sudah mengantongi empat gelar kasta tertinggi Brunei dan delapan kali juara Piala Brunei.
Persikabo – Indonesia
Kalau di Indonesia sih kalian sudah mengerti lah ya. Kita punya klub yang namanya Persikabo 1973. Klub ini merupakan klub yang berasosiasi dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Klub yang bermarkas di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, ini adalah hasil merger PS TNI dan Persikabo Kabupaten Bogor pada tahun 2020.
Awal mula terbentuknya PS TNI adalah karena ada ide untuk menggabungkan PSMS Medan dan TNI demi meramaikan Piala Jenderal Sudirman tahun 2015. Itu tak lepas dari peran Pangkostrad Edy Rahmayadi sebagai ketua umum PS TNI sekaligus pembina PSMS Medan. Tercatat ada 15 tentara, termasuk Abduh Lestaluhu dan Manahati Lestusen, yang bermain untuk PS TNI tahun 2015.
PS TNI kemudian memisahkan diri dari PSMS setahun setelahnya. Mereka membeli lisensi klub asal Papua, Persiram Raja Ampat agar bisa ikut kompetisi profesional. ISC 2016 jadi kompetisi profesional pertama bagi PS TNI. Nah, itu adalah tujuh klub yang berafiliasi dengan tentara. Kira-kira, ada lagi nggak? Kalau ada, komen di bawah ya!
Sumber: Korea JoongAng Daily, These Football Times, Suara, VIVA Goal


