Nasser Al-Khelaifi mungkin seorang muslim. Tapi boleh jadi ia tidak mengamalkan pesan di Surah Al-Furqan ayat 67. Nasser terus menghamburkan-hamburkan uang di PSG. Padahal sifat boros, sebagaimana dalam ayat tersebut, adalah salah satu penyebab harta cepat habis.
Nasser tidak mondok di Tremas, wajar kalau tak paham pesan-pesan yang terkandung dalam Surah Al-Furqan. Masalahnya, orang Qatar itu bukan hanya boros, tapi juga sepertinya tak peduli bahwa di agamanya, suap-menyuap dilarang. Nasser Al-Khelaifi, lagi dan lagi, terjerat dalam kasus suap yang besar.
Parahnya, kasus suap yang menyeretnya kali ini juga berdampak buruk pada PSG. Sebab gara-gara kasus ini, PSG terancam kehilangan sumber uang. Ya, Qatar, negara yang selama ini menyuplai uang ke Les Parisiens, akan mencabut investasinya dari sana. Bagaimana itu terjadi? Mungkinkah tanpa Qatar, PSG akan menjadi klub melarat?
Daftar Isi
PSG Sejak Qatar Masuk
Paris Saint-Germain telah menikmati uang Qatar sejak 2011. Adalah Qatar Sports Investments (QSI), perusahaan yang ada di bawah naungan Qatar Investment Authority (QIA), yang mengakuisisi klub asal Kota Paris tersebut. Nasser Al-Khelaifi bukanlah keluarga emir Qatar. Ia sama sekali tidak ada hubungan darah dengan Syeikh Tamim bin Hamad Al-Thani.
Namun, Nasser adalah sahabat dari Syekh Tamim. Ia dipercaya memegang QSI pada 2011, di tahun yang sama ketika mengakuisisi PSG. Akhirnya, Nasser Al-Khelaifi juga menjadi pemimpin PSG, dari awal akuisisi hingga sekarang. Secara pengelolaan, PSG di bawah QSI. Tapi dari segi dana, mereka mendapatkannya dari Qatar Investment Authority.
Lionel Messi and Sergio Ramos with their kids for their PSG farewells 🥰 pic.twitter.com/imvzs5Fwi3
— B/R Football (@brfootball) June 3, 2023
Perusahaan milik Qatar itu memiliki kekayaan aset mencapai 500 miliar euro (Rp8,5 kuadriliun). Sejak saat itu, PSG yang sahamnya diakuisisi Qatar sebanyak 87,5% disulap menjadi klub makmur lagi berkecukupan. Mereka terkenal jor-joran dalam membeli pemain bintang.
Nama-nama beken seperti David Beckham, Thiago Silva, Angel Di Maria, Zlatan Ibrahimovic, Edinson Cavani, Sergio Ramos, hingga Lionel Messi pernah berseragam biru kelasi. Di antara para pemain yang didatangkan, mungkin yang paling sensasional adalah Neymar.
Tahun 2017 lalu, pemain berkebangsaan Brasil itu klausul pelepasannya di Barcelona seharga 222 juta euro (Rp3,7 triliun) berani ditebus Les Parisiens. Lewat investasi besar-besaran, PSG yang tak pernah menjuarai Liga Prancis sejak 1994, akhirnya juara pada 2013. Dengan kekayaan, PSG juga mampu mendominasi Prancis. Hanya gelar Eropa yang masih luput dari genggaman.
7 years ago today, PSG signed Neymar Jr from Barcelona for €222m. pic.twitter.com/0BegeSXMkG
— Barça Universal (@BarcaUniversal) August 3, 2024
Gelagat Buruk Nasser Al-Khelaifi
Walaupun belum pernah menjuarai kompetisi Eropa, PSG menjelma salah satu klub yang diperhitungkan di Benua Biru. Setidaknya kalau bukan soal prestasi, ya karena uang. Nasser Al-Khelaifi memanfaatkan PSG untuk membangun reputasi di dunia politik, baik di urusan sepak bola maupun tidak.
Karena menjadi pemimpin PSG, Nasser lalu dekat dengan pimpinan-pimpinan klub di seantero Eropa. Lantaran jadi bos PSG pula, ia bisa bertemu Aleksander Ceferin. Al-Khelaifi pun dekat dengan mantan pengacara itu. Kedekatannya dengan presiden UEFA, juga membawa Nasser ke kursi presiden asosiasi klub Eropa atau ECA.
We are pleased that @UEFA President Aleksander Čeferin has joined us in Munich today for the first in-person #ECA Executive Board meeting since February 2020 and the first ever to be chaired by new ECA Chairman Nasser Al-Khelaifi. Read their comments from today below 👇 pic.twitter.com/rUe1wLq7qT
— ECA (@ECAEurope) June 15, 2021
Seperti kata Imam Al-Mawardi, “Kekuasaan itu candu”. Nasser pun terjebak dalam idiom itu. Setelah mendapat posisi presiden ECA, libidonya akan kekuasaan kian tak terbendung. Nasser ogah turun dari sana. Segala muslihat pun dipakai demi mempertahankan posisi itu. Nasser Al-Khelaifi juga tak peduli kalau untuk sampai ke sana, ia mesti berlaku korup.
Nasser Al-Khelaifi beberapa kali terlibat kasus suap, ancaman, hingga penculikan seorang pengusaha bernama Tayeb Benabderrahmane dari Qatar. Ia juga pernah ingin menghabisi nyawa pemain Real Madrid. Tapi Nasser Al-Khelaifi selalu lolos dari hukuman.
Kasus Baru yang Menimpa Nasser Al-Khelaifi
Di dunia ini tidak ada ceritanya seorang penjahat yang lolos dari hukum akan taubat. Jangankan lolos, dihukum pun tak menjamin seorang mantan napi menjadi saleh dan tak jadi residivis.
Begitu pula Nasser Al-Khelaifi. Lolos dari hukuman, ia makin licin seperti belut. Nasser tak bertaubat. Tak terkecuali ketika sebuah masalah besar yang tidak hanya membahayakan dirinya tapi juga PSG, datang.
Kemarin, pada awal Februari 2025, Nasser Al-Khelaifi tersandung kasus suap untuk kesekian kalinya. Menurut berbagai laporan, kali ini Nasser dilaporkan telah menggunakan kekuasaannya untuk pemungutan suara penting oleh QIA, pemegang saham perusahaannya.
🚨🚨 𝗕𝗥𝗘𝗔𝗞𝗜𝗡𝗚 ! NASSER AL-KHELAÏFI 𝗘𝗦𝗧 𝗠𝗜𝗦 𝗘𝗡 𝗘𝗫𝗔𝗠𝗘𝗡 𝗗𝗔𝗡𝗦 𝗟’𝗔𝗙𝗙𝗔𝗜𝗥𝗘 𝗟𝗔𝗚𝗔𝗥𝗗𝗘̀𝗥𝗘 👨⚖️⚖️
Selon une source proche du dossier à l’@afpfr, le président du PSG est soupçonné de « complicité d’abus de pouvoir ».
(via @RMCsport) pic.twitter.com/fJNrx2ICAk
— BeFootball (@_BeFootball) February 13, 2025
Pengadilan saat ini tengah menyelidiki keterlibatan Nasser Al-Khelaifi dalam sengketa dalam perusahaan Lagardere Group. Kasus ini sebenarnya terjadi pada 2018 lalu, ketika QIA juga menjadi pemegang saham Lagardere Group, sebuah perusahaan yang ada di Prancis. Emang seperti apa kasusnya? Sedikit rumit, tapi mimin coba jelasin versi gampangnya.
Jadi ini tuh menyangkut dua kasus. Kasus pertama menyeret nama pebisnis asal Prancis, Arnaud Lagardere yang diduga menggelapkan dana sebesar 125 juta euro (Rp2,1 triliun) dari Lagardere SAS dan Lagardere Capital and Management untuk urusan pribadi. Nah, kasus yang menyeret Nasser adalah kasus kedua.
Pada tahun 2018, Nasser Al-Khelaifi cawe-cawe dalam perebutan kekuasaan di tubuh Lagardere Group, yang menyangkut nama Vincent Bollore yang bersekutu dengan Amber Capital dan Bernard Arnault, CEO LVMH dan baru-baru ini juga menjadi pemilik klub Ligue 2, Paris FC yang bersekutu dengan Arnaud Lagardere.
🚨 𝗕𝗥𝗘𝗔𝗞𝗜𝗡𝗚 ! 𝗡𝗔𝗦𝗦𝗘𝗥 𝗔𝗟 𝗞𝗛𝗘𝗟𝗔𝗜𝗙𝗜 𝗔𝗨𝗥𝗔𝗜𝗧 𝗘́𝗧𝗘́ 𝗠𝗜𝗦 𝗘𝗡 𝗘𝗫𝗔𝗠𝗘𝗡 𝗣𝗢𝗨𝗥 𝗖𝗢𝗠𝗣𝗟𝗜𝗖𝗜𝗧𝗘́ 𝗗’𝗔𝗕𝗨𝗦 𝗗𝗘 𝗣𝗢𝗨𝗩𝗢𝗜𝗥 ! 🥶⚖️
Cette décision aurait été prise le 5 février dernier pour “complicité d’abus de pouvoir, d’achat de vote… pic.twitter.com/FGxta7X6Wm
— Instant Foot ⚽️ (@lnstantFoot) February 13, 2025
Qatar Ancam Tarik Investasi
Siapa yang dibantu Nasser? Laporan The Guardian menyebutkan, ia adalah Bernard Arnault. Nasser diduga membeli suara dalam pemungutan di perusahaan itu agar memenangkan Bernard, tiada lain sosok yang sangat dekat dengannya. Sang pemilik PSG punya peran di Qatar Investment Authority.
Lewat anak perusahaan lain, yakni Qatar Holding LLC, QIA memegang saham di Lagardere Group pada 2018. Tapi seperti biasa, Nasser membantah tuduhan itu. Di sisi lain, pihak Qatar justru memandang masalah ini serius. Mengutip laporan RMC Sport, atas kasus yang menimpa Nasser, Qatar mengancam akan menghentikan investasinya di Prancis.
Berarti pemerintah Qatar tidak akan mendanai PSG dan beIN Sports, media yang juga dikelola Nasser Al-Khelaifi. PSG mau tak mau akan kena imbas atas kasus yang sebenarnya tak berkaitan sama sekali dengan aktivitas Nasser di klub Prancis itu. Belakangan ini Qatar sudah muak dengan Nasser Al-Khelaifi. QIA, menurut laporan ESPN, bahkan sudah memperlambat aliran dana ke PSG.
🚨 𝗟𝗘 “𝗥𝗘𝗧𝗥𝗔𝗜𝗧” 𝗗𝗨 𝗤𝗔𝗧𝗔𝗥 🇶🇦 𝗖𝗢𝗡𝗖𝗘𝗥𝗡𝗔𝗡𝗧 𝗟𝗘 𝗣𝗦𝗚 𝗔 𝗘́𝗧𝗘́ 𝗗𝗘́𝗠𝗘𝗡𝗧𝗜 ! ❤️💙❌
QSI va RESTER avec le PSG. ✅
🗞️ @JacobsBen pic.twitter.com/3uQPuABWd1
— Football Actu (@FootActu_2) February 13, 2025
Tak Lagi Fokus ke Prancis
Maka dari itu, kita tidak melihat PSG menghambur-hamburkan banyak uang di bursa transfer. Bahkan di skuad Les Parisiens sekarang, setelah ditinggal Kylian Mbappe, tidak ada pemain berlabel bintang. Khvicha Kvaratskhelia? Dia bukan pemain bintang, hanya setengah bintang.
Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata pada Desember 2023 lalu, saham QSI di PSG telah berkurang. Sebanyak 12,5% saham mereka dijual ke Arctos Sports Partners, grup investasi dari Amerika Serikat. Bagi PSG ini adalah upaya agar klub bersaing di level Eropa. Namun, penjualan saham ke investor Amerika Serikat menunjukkan bahwa Qatar pelan-pelan akan membuang PSG.
Interesting news. Athletic reports Qatar Sports Investment have sold a 12.5% minority stake in PSG to U.S investment firm Arctos Partners
Interestingly Arctos Partners is also a key FSG investor & partner like RedBird Capital partners. Arctos Interesting link between QSI/FSG now pic.twitter.com/rY5laXNbmg
— Moby (@Mobyhaque1) December 7, 2023
Qatar akan fokus ke proyek di luar Prancis. Proyek yang tidak melibatkan Nasser Al-Khelaifi. Bagaimanapun minat dari negara Timur Tengah untuk mengembangkan PSG telah memudar. Hal itu ditengarai bukan hanya karena kasus yang menimpa Nasser, tapi juga pemborosan yang dilakukan PSG. Selama ini QSI harus berkali-kali menanggung kerugian PSG.
Les Parisiens pun tak lagi menjadi prioritas Qatar, sekalipun mereka juga gagal membeli Manchester United. Menurut laporan jurnalis Edu Aguirre dikutip Telegrafi, alih-alih mengembangkan klub Eropa, QIA akan memprioritaskan sepak bola lokal, setelah melihat kesuksesan menggelar Piala Dunia 2022.
Qatar sendiri pernah diisukan menjual PSG. Meski isu tersebut dibantah oleh mereka sendiri, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, Qatar akan menarik dana dari PSG. Kita, pada waktunya nanti, mungkin akan melihat klub kaya raya itu jatuh ke lubang bernama kemiskinan.
Sumber: DailyMail, ESPN, Telegrafi, FootballTransfers, Chronicle, GetFootballNewsFrance, Detik


