Setelah melumat Dinamo Zagreb 9-2 dan berpesta 5 gol tanpa balas di kandang Werder Bremen, performa Bayern Munchen langsung menarik perhatian publik. Vincent Kompany sebagai pelatih mereka jelas menjadi sosok yang bertanggung jawab dari hasil-hasil impresif tersebut.
Kompany sendiri sebenarnya cukup diragukan bisa membawa Die Roten tampil mengagumkan. Sebab, orang ini pula yang bertanggung jawab atas terperosoknya Burnley ke jurang degradasi musim lalu. Lantas, apa sebenarnya yang sudah Kompany lakukan di Bayern Munchen?
Keberuntungan Masih Bersama Kompany
Umumnya ketika kita meriah sebuah kegagalan, kita harus merangkak lagi, setapak demi setapak untuk meraih apa yang kita inginkan. Namun, hal ini sepertinya tak berlaku untuk Vincent Kompany. Pria berdarah Republik Demokratik Kongo ini malah melesat tajam setelah baru saja menelan kegagalan.
Bayangkan saja, setelah porak-poranda bersama Burnley di Premier League, kok bisa-bisanya Kompany ditarik Bayern Munchen? Padahal tim ini bukan tim sembarangan. Mereka adalah langganan juara Bundesliga, bahkan tergolong juga sebagai tim elit Eropa. Di luar nalar bukan?
Tapi namanya juga hidup, tak bisa ditebak alurnya. Kompany dipinang Bayern Munchen. Meskipun jelas ia sejatinya bukan pilihan utama. Hansi Flick sudah pergi ke Barcelona, ya sudah Kompany pun tak apa. Alasannya? Ya tinggal bilang saja, “Yo gak tau kok tanya saya,” eh salah. Ya tinggal bilang saja Bayern sedang mencari pelatih yang jago menguasai bola. Sebuah atribut yang Kompany punya.
Tak hanya itu, Kompany juga beruntung bergabung bersama tim yang memiliki sosok pemimpin yang sangat dihormati. Mengendalikan Manuel Neuer, Thomas Muller, dan Harry Kane rasanya cukup bagi Kompany. Dengan mengendalikan ketiganya, Kompany tak perlu susah payah melakukan ini-itu agar para pemain bisa yakin kepadanya. Namun, kenyataan bahwa dirinya baru saja membawa Burnley degradasi jelas memberi sebuah keraguan di hati.
Ditambah lagi, rumor bahwa beberapa pemain sempat dikabarkan protes dengan cara bermain yang akan Kompany terapkan. Aleksandar Pavlovic, Mathys Tel, dan Michael Olise disebut sebagai pemain yang kurang sreg dengan strategi Kompany. Pun cara Kompany mengumumkan siapa-siapa yang akan bertanding juga cukup mengejutkan para pemain. Sebab, Kompany disebut mengumumkan sebelas pertamanya lewat Whatsapp.
Namun, terlepas dari apapun isu yang beredar, anak asuh Vincent Kompany malah tampil membara. Die Roten menjadi mesin gol yang sangat subur di tangan Kompany. Bahkan kemenangan FC Hollywood di kandang Werder Bremen membuat Kompany sejajar dengan Pep Guardiola. Sebab, Kompany merupakan pelatih pertama sejak Guardiola yang bisa membuat Die Bayern menang di tiga laga awalnya. Sungguh beruntung betul mantan kapten Timnas Belgia ini.
Vincent Kompany:
• First Bayern coach since Pep Guardiola in 2015/16 to win the first three away games in the Bundesliga
• First Bayern coach since Carlo Ancelotti in 2016/17 to win his first four Bundesliga games pic.twitter.com/QW9ixKm4lN
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) September 21, 2024
Ini Bayern, Bukan Burnley
Keberuntungan saja jelas tak cukup untuk Kompany bisa bertahan di Allianz Arena. Seperti prinsip Coach Justin, mengharap gol jatuh dari langit haram hukumnya. Maka, sebuah tim harus punya strategi dan cara yang jelas untuk menciptakannya. Oleh karena itu, sebuah taktik dibutuhkan. Untungnya lagi, Vincent Kompany punya.
Mantan pemain Manchester City ini sejatinya bukan pelatih kemarin sore. Ia sudah pernah melatih, meski hanya sekelas Anderlecht dan Burnley. Namun jangan salah, justru dengan klub sekelas mereka Kompany akhirnya bisa bereksperimen. Ia bisa mencoba segala imajinasi taktiknya tanpa resiko tekanan yang kuat. Hasilnya? Kompany akhirnya bisa mematenkan taktik penguasaan bolanya. Namun bukan sekadar menguasai, tapi juga dengan mendobrak lawan dengan agresivitas tinggi.
Taktik inilah yang Kompany pakai di Bayern Munchen alias taktik yang sejatinya sama dengan yang ia pakai musim lalu. Tapi tunggu dulu, ini Bayern bukan Burnley! Kualitas pemainnya jelas berbeda. Bayern yang merupakan klub langganan juara tak bisa serta merta disamakan dengan Burnley yang baru promosi dari kasta kedua.
Menurut Coaches’ Voice, di bawah tangan Kompany, Bayern Munchen bisa bermain dengan struktur 2-3-5 saat memegang bola. Sangat agresif bukan? Tak hanya itu, sang kiper, Manuel Neuer pun terkadang diinstruksikan maju sejajar dengan 2 bek yang tersisa di belakang. Sementara pemain lain, semuanya maju ke depan.
Mereka akan mengisi setiap ruang di lini belakang lawan. Tujuannya agar pertahanan lawan ikut melebar sehingga tercipta ruang kosong. Nah, hal-hal seperti ini yang jadi senjata Vincent Kompany. Para pemainnya yang lincah akan masuk ke ruang-ruang kosong dan menikam sang lawan.
Apalagi Kompany ditopang dengan para pemain di lini depan yang mengerikan. Misalnya tentu saja Harry Kane. Di usianya yang menginjak kepala tiga, performanya eks bomber Tottenham Hotspur itu masih sanggup bikin penonton geleng-geleng kepala.
Setidaknya hingga pesta 5 gol di kandang Werder Bremen, kapten Timnas Inggris ini sudah mencipta 10 gol hanya dalam 6 laga. Setengah dari gol tadi, ia ciptakan di ajang Bundesliga yang baru berjalan 4 laga. Tak hanya itu, dalam 4 laga Bundesliga ini, 5 assist juga sudah tercipta atas nama dirinya. Komplit sudah!
Not a bad night in the champions league! One to remember and another ball to take home! Let’s keep it going boys!! 🙌⚽️🎩 pic.twitter.com/l1fbZncy96
— Harry Kane (@HKane) September 17, 2024
Tunggu Sampai Badai Cedera Melanda
Namun, Vincent Kompany jangan buru-buru besar kepala. Kemahirannya mengelola sumber daya pemain belum teruji. Semua pemain terbaiknya masih berada di kondisi yang fit. Maka wajar, taktiknya berjalan mulus dan sesuai rencana. Tapi jika badai cedera mulai melanda, di momen ini Kompany akan diuji kemahirannya.
Cedera adalah salah satu faktor yang paling krusial dalam kegagalan Bayern Munchen musim lalu. Thomas Tuchel sampai kelimpungan menghadapi cobaan ini. Terlebih di klub sebesar Bayern, tekanan untuk terus tampil bagus adalah sebuah keniscayaan. Sementara, tampil bagus di kala badai cedera melanda merupakan kemustahilan yang perlu dipatahkan.
“Kami mengadakan pertemuan dengan tim medis sebelum pertandingan. Mereka seakan memberi isyarat: 60 menit untuk pemain ini, 30 menit untuk yang itu, 60 menit untuk pemain itu juga, dan yang ini tidak bisa bermain sama sekali,” keluh Tuchel saat menghadapi badai cedera musim lalu, dikutip dari Bavarian Football Works.
Mengingat skuad yang ditanganinya saat ini tak berbeda jauh dengan yang Tuchel pakai musim lalu, Kompany harus waspada. Ia harus pintar membagi jatah bermain para pemainnya. Rotasi adalah hal yang wajib untuk dipikirkan. Kompany tak bisa melulu bermain dengan para pemain kuncinya.
Terlebih, apabila performa FC Hollywood bagus di segala ajang, niscaya Kompany akan memiliki sederet jumlah laga yang harus dimainkan. Sebab, kompetisi seperti Champions League, kini punya jumlah laga yang lebih banyak. Apabila Die Roten tampil hingga laga final, setidaknya ada 15 laga yang harus dijalani. Belum lagi laga lain di DFB Pokal dan Bundesliga.
Kini, tinggal kita lihat saja seperti apa konsistensi dari anak asuh Vincent Kompany. Apakah mereka mampu menjaga kondisi dan berhasil berprestasi? Atau malah terdampar sehingga gagal juara lagi?
Thomas Tuchel: “All 4 attacking players who started against Real Madrid cannot play tomorrow. Harry still has a back problem. Serge is injured and it’ll be very tight for the Euros. As for Leroy, I don’t think we’ll see him on the pitch in the next two games, he’s being treated.… pic.twitter.com/VzdEzZFon7
— Bayern & Germany (@iMiaSanMia) May 11, 2024
https://youtu.be/oXIV_5awLHQ
Sumber: Bavarian Football Works, Coaches’ Voice, Detik, ESPN, Transfermarkt, dan Goal


