Rugi Besar! Manchester United Otw Kena Kasus?

spot_img

Jika kalian mencari “Apa tujuan mendirikan perusahaan?” di Google, maka kalian akan menemukan jawaban bahwa perusahaan memiliki tujuan utama untuk mendapat keuntungan atau laba semaksimal mungkin. Dengan begitu, sebuah perusahaan akan selalu berorientasi pada uang. Tapi kita harus lihat dulu, perusahaan itu bergerak di bidang apa?

Jika perusahaan tersebut bergerak di bidang olahraga khususnya sepakbola, maka penjelasan sebelumnya tidak berlaku mutlak. Karena industri sepakbola adalah bisnis yang siap rugi. Dan baru-baru ini, sepakbola Inggris digemparkan dengan kabar bahwa Manchester United, salah satu klub terpopuler di dunia justru mengalami kerugian besar.

Melihat laporan keuangan Setan Merah, Premier League langsung menangkap sinyal buruk. Mereka mengendus kemungkinan United melanggar Profitability and Sustainability Rules atau PSR. Lantas, bagaimana sikap MU kedepannya? 

Laporan Keuangan MU

Ngomong-ngomong soal kerugian, dalam sepakbola itu suatu hal yang wajar. Sekelas Raffi Ahmad pun pusing tujuh keliling saat mengurus Rans Nusantara, apalagi klub-klub Liga Inggris yang melibatkan dana lebih besar. Bahkan bisa dibilang hampir semua klub Inggris mengalami kerugian.

Hanya saja, angkanya beragam. Kadang besar, kadang ya besar banget. Contohnya saja kerugian di sektor transfer pemain. Saat ini Arsenal mengantongi kerugian di angka 25 juta euro. Sementara tim London lain, yakni Chelsea mengalami kerugian lebih dari 40 juta euro per musim panas tahun 2024 ini. 

Itu baru di sektor transfer saja ya, belum secara keseluruhan. Untuk selengkapnya, bisa kita bahas lain kali. Karena topik utama kita bukan tentang klub asal London itu, melainkan klub yang gagal menciptakan tsunami, Manchester United. Dilansir BBC, United telah melaporkan kerugian bersih sekitar 113,2 juta pound selama musim 2023/24 per 30 Juni kemarin.

Tapi bukan kerugian musim ini saja yang jadi masalah. United telah mengalami kerugian yang signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada musim 2022/23, Setan Merah dilaporkan mengalami kerugian di angka 28,7 juta pound. Sedangkan di musim 2021/22, United merugi 115,5 juta pound, yang mana lebih tinggi dari musim 2023/24. Dengan begitu, United mengantongi kerugian sekitar 370 juta pound dalam tiga tahun terakhir.

Batas Minimum

Di sisi lain, Premier League punya aturan sendiri yang membahas soal batas minimum kerugian. Namanya PSR, atau Profitability and Sustainability Rules. Sejauh ini, fungsi PSR mirip-mirip sama Financial Fair Play yang dimiliki oleh UEFA, yakni untuk mengawasi berapa banyak kerugian yang dicapai klub selama periode waktu tertentu.

Dilansir The Athletic, aturan PSR Premier League menuliskan bahwa setiap klub Inggris diberi batas kerugian di angka 105 juta pound selama tiga musim. Dengan catatan setiap klub boleh tidak mencantumkan biaya-biaya lain seperti pembangunan infrastruktur, biaya operasional sepakbola wanita, dan investasi pada pemain-pemain muda.

Namun, atas dasar apa Premier League menyepakati angka tersebut? Jawaban singkatnya sih, Premier League mengadopsi sistem FFP yang digunakan oleh UEFA. Dengan angka segitu, berarti Premier League hanya memperbolehkan sebuah klub merugi di angka 35 juta pound per musimnya. Bedanya, Premier League lebih lunak pada klub yang tidak berpartisipasi di kompetisi Eropa.

Meski demikian, masih saja ada klub yang melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan. Everton menjadi tim pertama yang terkena sanksi akibat pelanggaran aturan ini. The Toffees dihukum pengurangan poin sebanyak 10 poin, namun sanksi ini berkurang menjadi enam poin saja setelah Everton menyatakan banding.

Nottingham Forest jadi klub kedua yang mengalami pengurangan poin. Namun, sanksi yang diterima Forest tidak sebesar Everton. Mereka hanya mendapatkan pengurangan empat poin saja. Nah yang terbaru, ada Manchester City yang kabarnya juga berurusan dengan pihak Premier League. Tapi bukan soal kerugian, yang di-highlight justru langkah City dalam memalsukan laporan keuangannya. 

MU Pede

Lantas, apakah United akan bernasib sama dengan klub-klub tersebut? Kembali jor-joran di musim 2023/24 seakan berseberangan dengan kampanye yang dikemukakan oleh pemilik baru, yakni Sir Jim Ratcliffe. Saat pengakuisisian saham, pengusaha asal Inggris itu berjanji akan mengubah sudut pandang bisnis United agar lebih bijaksana dalam mengelola keuangan.

Meski begitu, angka kerugian yang keluar bukan sepenuhnya salah Sir Jim. Karena dirinya baru menjabat selama setengah musim. Tentu akan sulit jika langsung mengurangi pengeluaran klub. Di sisi lain, setiap pengeluaran Manchester United yang tercatat selama paruh pertama musim 2023/24, termasuk transfer pemain belum menjadi tanggung jawabnya. 

Omar Berrada selaku CEO Manchester United yang baru justru menyampaikan hal yang positif tentang kerugian yang didapat. Dilansir BBC, Berrada yakin bahwa pengeluaran United masih berada di koridor aman “Klub tetap berkomitmen pada, dan mematuhi, aturan laba dan keberlanjutan Liga Premier dan peraturan keuangan adil UEFA,” tegas mantan karyawan Barcelona itu.

Berrada juga menambahkan bahwa dirinya telah bekerjasama dengan Direktur Manchester United, Sir Dave Brailsford untuk meninjau secara luas tentang operasi keuangan yang telah dilancarkan bersama INEOS. Dan hasilnya, mereka percaya diri bahwa Setan Merah jauh dari kata menyalahi aturan.

Oh ya, penebusan sebagian saham Manchester United oleh INEOS juga termasuk dalam pemasukan yang cukup besar bagi perusahaan Manchester United. Setan Merah mengumumkan bahwa Sir Jim Ratcliffe telah membeli 27,7% saham klub tersebut seharga 1,3 miliar dolar. Selain itu, Sir Jim juga telah menggelontorkan dana sekitar 300 juta dolar untuk pengembangan di berbagai sektor.

Penjualan Pemain 

Di bawah INEOS, penjualan pemain diperkirakan bakal jadi sumber penghasilan Manchester United. Hal tersebut mulai terlihat di musim panas tahun 2024 di mana United sangat rajin melepas pemain yang dinilai tidak berkontribusi banyak untuk klub. Ini di luar kebiasaan klub. Karena di musim-musim sebelumnya, United selalu kesulitan menjual pemain.

Nah, di musim ini United sudah menjual banyak pemain. Dari penjualan pemain-pemain macam Scott McTominay, Aaron Wan Bissaka, hingga Mason Greenwood, United total meraup pemasukan sekitar 103 juta euro. Keuntungan terbesar tentu saja didapat dari penjualan pemain-pemain akademi seperti Greenwood yang dijual ke Marseille dengan bandrol 26 juta euro dan McTominay dengan bandrol 30 juta euro ke Napoli.

Misi perampingan skuad belum berhenti di situ. Manchester United kabarnya masih ingin menjual beberapa pemainnya lagi pada Januari mendatang atau musim panas tahun depan. Pemain-pemain yang diperkirakan bakal jadi tumbal adalah Casemiro, Victor Lindelof, Antony, dan Harry Maguire.

Target Pendapatan

Selain itu, dalam satu tahun ke depan Manchester United telah mengatur siasat agar tak melebihi batas kerugian yang telah ditentukan. Salah satunya memangkas karyawan yang bekerja di balik layar. Pada bulan Juli kemarin, pihak klub telah mengumumkan bahwa akan ada pengurangan tenaga kerja sebanyak 250 orang. 

Itu angka yang sangat besar. Tapi dinilai efektif untuk mengurangi biaya gaji, akomodasi, dan lain-lain. Dilansir The Guardian, dengan memberhentikan karyawan sebanyak itu, perwakilan Manchester United berharap dapat menghemat antara 35 juta pound selama dua tahun ke depan. 

Omar Berrada dan Sir Dave Brailsford juga telah menyusun strategi untuk mendongkrak pendapatan klub. Selain pengiritan dan penjualan pemain, United berniat untuk mengumpulkan pundi-pundi dari penjualan tiket, pertandingan di Liga Eropa, hak siar, dan tentunya penjualan merchandise. 

Klub berharap bisa menghasilkan pendapatan hingga 670 juta pound pada akhir musim depan. Itu akan sedikit lebih tinggi dari 661,8 juta pound yang dicatatkan pada musim lalu. Dengan angka segitu, manajemen yakin bisa menyeimbangkan neraca keuangan klub. 

Enak ya jadi MU. Dengan fans yang setara seperempat penduduk bumi, mereka nggak bingung buat cari duit. Nggak kayak yang onoh saking mumetnya sampai memalsukan laporan keuangan.

Sumber: BBC, The Guardian, The Athletic, Football London

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru