Sandy Walsh Pemain Paling Penting Bagi Timnas Indonesia, Titik!

spot_img

Ada momen lucu yang terjadi di laga melawan Australia kemarin. Saat mendapat tekel keras yang menghantam lututnya, Sandy Walsh seketika mengerang kesakitan. Dirinya mengangkat tangan tanda bahwa lututnya tidak baik-baik saja. Situasi ini sempat membuat para penonton khawatir dengan kondisinya. Kalau sampai cedera ACL, duh, bahaya.

Tapi setelah melakukan sedikit perawatan, Sandy justru kembali berdiri di pinggir lapangan. Dirinya bahkan sampai jingkrak-jingkrak nggak jelas karena meminta wasit untuk segera memasukkannya ke lapangan. Sontak, kekhawatiran pun berubah menjadi gelak tawa setelah melihat tingkah lucu Sandy Walsh.

Bek KV Mechelen itu memang dikenal memiliki pribadi yang gemar melakukan aksi-aksi konyol. Meski terkesan nyeleneh dan kurang serius, Sandy tetap jadi pemain paling penting di skuad racikan Shin Tae-yong. Mengapa bisa begitu? Sebelum mimin jawab, kalian bisa subscribe dan nyalakan lonceng terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story

Tampil Apik di Dua Kesempatan

Tidak seperti biasanya, di dua laga melawan Arab Saudi dan Australia Sandy Walsh menjadi pilihan utama di skuad asuhan Shin Tae-yong. Padahal kita semua tahu kalau biasanya yang menempati posisi bek kanan adalah Asnawi Mangkualam. Apalagi mantan pemain PSM Makassar itu sedang moncer-moncernya bersama Port FC.

Mendapat kepercayaan lebih dari Shin Tae-yong tidak disia-siakan oleh pemain kelahiran Brussel, Belgia itu. Dirinya membangun koneksi yang sangat baik dengan pemain-pemain lain. Sandy bahkan nyaris mencatatkan namanya di papan skor jika bola yang dibelokkan ke gawang Green Falcon tidak dianulir FIFA.

Tapi penampilan paling heroik tercipta di pertandingan melawan Australia. Dirinya bahu membahu bersama Maarten Paes, Jay Idzes, Justin Hubner, dan Calvin Verdonk untuk menjaga gawang Indonesia dari serbuan pemain The Socceroos. Sandy naik turun dan lari ke sana kemari untuk mengcover area pertahanan Indonesia.

Selama pertandingan, dirinya juga mencatatkan statistik yang apik. Tampil selama 86 menit, Sandy mengantongi 75% umpan sukses, memenangkan 80% duel, dan melakukan beberapa sapuan menggunakan kaki dan kepalanya. Performa apik yang telah ditunjukan membuat media-media langsung memuji kinerja Sandy.

Perjuangan Sandy Untuk Jadi WNI

Performa apik di dua laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 laiknya buah yang sudah dinantikan kematangannya. Analogi itu muncul karena Sandy Walsh harus melewati penantian panjang untuk mencapai titik ini. Sandy sudah lebih dulu diuji kesabarannya saat memperjuangkan status kewarganegaraannya.

Pemain keturunan Surabaya itu harus menanti setidaknya selama empat tahun untuk mewujudkan impiannya bermain di Timnas Indonesia. Ketertarikan Sandy untuk membela Skuad Garuda muncul pada akhir tahun 2018. Ya, jauh sebelum kedatangan Shin Tae-yong ke Indonesia dan jauh sebelum sepakbola Indonesia berada di puncak ketenaran seperti sekarang.

Kala itu, Simon McMenemy jadi orang pertama yang menghubungi Sandy. Langkah itu diambil setelah dirinya ditunjuk menjadi pelatih Timnas Indonesia menggantikan Bima Sakti. Simon yang kurang paham bagaimana alurnya hanya mengirim pesan melalui DM Instagram. Isi pesannya cukup singkat. Simon langsung menawarkan kesempatan untuk bermain di Timnas Indonesia. 

Sandy pun tertarik dengan tawaran Simon. Pada awal tahun 2019 pun dirinya langsung menjadwalkan penerbangan menuju Jakarta. Proses awalnya berjalan baik. Dirinya bisa membuktikan garis keturunan dan diizinkan untuk mengumpulkan berkas penunjang proses naturalisasi. Namun, dari sini kesabaran Sandy diuji.

Sedang asik-asiknya mengumpulkan berkas, Simon McMenemy justru dipecat. Sandy pun kehilangan koneksi. Situasi diperparah dengan meledaknya Covid-19 dan pergantian kepengurusan PSSI pada tahun 2020. PSSI langsung menghentikan proses naturalisasi Sandy. Merasa dicampakkan, Sandy pun sempat putus asa.

Komunikasi Sandy dengn PSSI mulai membaik kala Shin Tae-yong menduduki kursi kepelatihan Timnas Indonesia. Alhasil, proses naturalisasi Sandy pun dilanjutkan. Setidaknya memakan waktu satu tahun, hingga akhirnya Sandy bisa mengucap sumpah WNI pada November 2022.

Genap empat tahun sudah Sandy menanti kesempatan untuk membela Timnas Indonesia. Dari sini, kita sudah bisa melihat bagaimana dedikasi dan kecintaan Sandy yang teramat besar untuk tanah kelahiran nenek moyangnya. Memiliki cinta yang tulus membuat Sandy semangat untuk mempelajari budaya dan bahasa Indonesia.

Cepat Beradaptasi 

Untuk mempercepat masa adaptasinya, Sandy Walsh bahkan tak sungkan untuk meminta bantuan dari pemain-pemain Indonesia yang lain. Salah satu yang membantunya adalah Marc Klok yang memang berdarah Belanda tapi sudah lama tinggal di Indonesia.

Dirinya berterima kasih kepada bintang Persib Bandung tersebut yang telah membantunya untuk beradaptasi. Klok membantu Sandy untuk melafalkan beberapa kalimat penting dalam bahasa Indonesia. Sang gelandang juga membantu Sandy ketika sedang berkomunikasi dengan pemain-pemain lain di Timnas Indonesia.

Setelah dibukakan jalan oleh Marc Klok, Sandy pun melanjutkan proses pembelajarannya sendiri. Entah dari membaca buku atau mulai berani bersosialisasi dengan pemain-pemain lokal lainnya.

Sandy bahkan berinisiatif untuk memahami kultur-kultur slang orang Indonesia. Selain mengenal kosakata “Menyala Abangku” dan “Kasih Keras!” Sandy juga mulai mengerti bahwa orang Indonesia itu doyan joget. Alhasil, Sandy pun sampai meluangkan waktu untuk mempelajari beberapa tarian dari Yakob dan Yance Sayuri. Sejauh ini, “Daboy Dance” jadi jogetan favorit Sandy.

Membangun Kedekatan

Ketika sudah hafal gerakannya, kita jadi makin sering disuguhkan dengan video-video singkat yang menampilkan Sandy yang sedang asik melakukan Daboy Dance di mana pun berada. Mau itu abis latihan kek, di kamar hotel kek, pokoknya joget terus. Tapi proses pembelajaran Sandy tak hanya berhenti disitu.

Selain dengan Sayuri bersaudara, Sandy juga berusaha membangun kedekatan dengan pemain-pemain lainnya, seperti Egy Maulana Vikri, Asnawi Mangkualam, dan tentunya Marselino Ferdinan. Dari Marselino lah Sandy akhirnya mengenal kosakata “Jancok”, kata yang begitu identik dengan tanah kelahirannya, Jawa Timur. 

Semua itu dilakukan dengan tujuan agar Sandy bisa memangkas jarak dengan masyarakat Indonesia. Dirinya ingin menghilangkan stigma orang-orang yang masih membeda-bedakan mana pemain naturalisasi dan mana pemain lokal. Dengan mempelajari budaya Indonesia, Sandy ingin menunjukan bahwa dirinya, pemain keturunan lain, dan Indonesia adalah satu kesatuan

Jadi Jembatan

Usai mengantongi banyak ilmu dan informasi tentang Indonesia, budaya, dan kebiasaan orang-orang Indonesia, Sandy mulai menyalurkan ilmunya kepada pemain-pemain keturunan yang baru bergabung. Ya, macam abang-abangan gitu lah. Bantu pemain keturunan lain agar bisa beradaptasi dengan skuad dan budaya Timnas Indonesia.

Apalagi setelah hilangnya Marc Klok dari skuad Timnas Indonesia, Sandy praktis jadi satu-satunya pemain yang bisa jadi jembatan antara pemain keturunan dan pemain Indonesia. Maka dari itu pemain keturunan yang baru datang, seperti Maarten Paes langsung ditempatkan satu kamar dengan Sandy.

Paes pun merasa sangat terbantu dengan kehadiran Sandy sebagai teman satu kamarnya. Kiper FC Dallas itu merasa bahwa Sandy merupakan sosok yang hangat, lucu, dan menyenangkan. Sandy bisa mencairkan suasana yang canggung. Itu membuat Paes jadi bisa langsung menyesuaikan diri tanpa harus jaim.

Dilansir Jawa Pos, Paes juga menyebut Sandy sebagai perangkul para pemain-pemain keturunan. Sandy banyak membantu Paes untuk mengerti banyak kosa kata Indonesia, termasuk lagu kebangsaan Indonesia. Tak heran Paes langsung hafal lagu Indonesia Raya di laga debutnya kemarin melawan Arab Saudi. 

Thomas Muller-nya Timnas Indonesia

Sandy juga merekomendasikan beberapa buku yang pernah dibacanya untuk mempermudah Paes dalam belajar bahasa Indonesia. Di luar itu, Sandy dengan senang hati jadi penghubung saat Paes ingin berinteraksi dengan pemain-pemain lain. “Saya belajar bahasa dari Sandy dan beberapa pemain lain. Mungkin bulan depan saya bisa diwawancarai dengan bahasa Indonesia,” ujarnya saat kepada wartawan Antara News.

Begitulah Sandy Walsh. Tingkah dan kekonyolannya mengingatkan kita pada Thomas Muller di Timnas Jerman. Meski bukan seorang kapten, keberadaannya dan aura positifnya sangat penting untuk keseimbangan ruang ganti. Coba saja Sandy Walsh dulu nggak mau sabar menunggu pinangan PSSI, mungkin Timnas Indonesia tak akan serahat ini.

Sumber: Jawa Pos, Bolasport, Suara, Bola.com

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru