Kita semua tahu, sepakbola adalah soal kerja sama tim di lapangan. Hal itu membuat setiap pemain harus membangun kemistri dan kedekatan satu dengan yang lainnya. Namun, dalam beberapa kasus, pesepakbola tak hanya memiliki hubungan baik di lapangan saja. Kebanyakan dari mereka juga menjalin persahabatan ketika berada di luar lapangan.
Soal kisah persahabatan, kita mengenal beberapa sahabat yang ikonik macam Lionel Messi dan Luis Suarez, Sergio Ramos dan Mesut Ozil, atau Cristiano Ronaldo dan Marcelo. Tapi, selain Marcelo, Ronaldo juga membangun koneksi yang hangat dengan pemain lain, yakni rekan senegaranya, Luis Nani.
Sayangnya, kedekatan itu tak selamanya berjalan baik, terutama bagi Nani. Kedekatan itu justru membuat Nani selalu dibanding-bandingkan dengan dengan Ronaldo. Bahkan, banyak yang berkata bahwa Nani selalu hidup di balik bayang-bayang Ronaldo. Benarkah demikian?
Daftar Isi
Sama-sama dari Portugal
Luis Nani dan Cristiano Ronaldo punya banyak kesamaan dalam karirnya. Selain sama-sama berasal dari Portugal, keduanya juga memiliki latar belakang hidup yang berat. Jika Ronaldo hidup dalam bully-an dan hinaan lantaran kondisi keluarga dan aksen Madeira-nya yang aneh, Nani juga tak kalah berat.
Pemain dengan nama lengkap Luís Carlos Almeida da Cunha itu memiliki masa kecil yang berlangsung tragis. Nani diasuh oleh bibinya di sebuah distrik miskin di Kota Lisbon. Dalam usia yang masih muda, Nani sudah ditinggalkan ayahnya yang menghilang entah ke mana dan ibunya yang berimigrasi lagi ke Belanda.
Dalam perjalanan karir, Ronaldo dan Nani punya kesamaan. Keduanya merupakan jebolan akademi Sporting Lisbon. Mereka juga memiliki posisi dan gaya bermain yang sama, yakni sebagai seorang winger. Baik Ronaldo dan Nani juga memiliki kecepatan dan skill olah bola yang mumpuni. Bahkan secara usia, Nani hanya dua tahun lebih muda dari Ronaldo.
Ronaldo Lebih Dulu ke MU
Membangun karir di Sporting Lisbon, nama Cristiano Ronaldo lebih dulu mencuat ke permukaan. Bergabung sejak tahun 1997, Ronaldo sudah menembus skuad utama pada tahun 2002. Kala itu, Ronaldo diturunkan di leg pertama kualifikasi ketiga Liga Champions melawan Inter Milan. CR7 masuk sebagai pemain pengganti dan bermain selama 32 menit.
Sejak saat itu, Ronaldo mulai konsisten bermain di skuad utama Sporting Lisbon. Meski tidak selalu sebagai starter, kesempatan yang diberikan oleh laszlo Boloni sangat berharga baginya. Di musim 2002/03, Ronaldo muda sudah mengemas 25 pertandingan di liga utama Portugal. Ia berkontribusi dalam delapan gol Sporting kala itu.
Musim 2002/03 telah usai, Sporting Lisbon mengadakan serangkaian uji coba untuk mempersiapkan tim jelang musim baru. Dan di sinilah momentum itu datang. Saat Sporting menghadapi Manchester United, Ronaldo tampil sangat baik. Pada laga tersebut, Ronaldo menjadi pemain yang sering merepotkan barisan pertahanan MU. Inilah yang membuat Ferguson semakin yakin untuk memboyongnya ke Old Trafford.
Di awal Agustus 2003, akhirnya Manchester United melakukan pembicaraan dengan pihak Sporting Lisbon. Di situ bukan cuma United yang mengantre untuk mendapatkan tanda tangan Cristiano Ronaldo. Beberapa tim lain seperti Arsenal juga berminat pada talenta berusia 18 tahun saat itu.
Namun, dengan negosiasi yang baik dan campur tangan dari Sir Alex Ferguson, United bisa meyakinkan Ronaldo untuk pindah ke Manchester. Pada 12 Agustus 2003, Ronaldo akhirnya meneken kontrak dengan Setan Merah. Bocah Madeira itu dibanderol 19 juta euro. Di era itu, itu bukan angka yang sedikit untuk pemain muda.
Ronaldo Membangun Reputasi
Setelah meninggalkan kampung halaman untuk pertama kali, Ronaldo berusaha membangun reputasinya di Inggris. Ia sadar, bahwa kesuksesan tak akan datang dengan sendirinya. Maka dari itu, saat pertama kali menginjakan kaki di Manchester, Ronaldo langsung membulatkan tekad untuk bekerja keras dan mencapai kesuksesan.
Sebelum Ronaldo melakoni debutnya bersama Manchester United, Sir Alex Ferguson bertanya padanya nomor punggung berapa yang diharapkannya. Ronaldo pun dengan lugu menjawab 28, karena itu adalah nomor favoritnya. Namun, Sir Alex Ferguson malah berkata tidak, mulai sekarang nomor punggungnya adalah 7.
Di Manchester United, pengguna nomor punggung 7 secara turun temurun adalah pemain legendaris yang membawa Manchester United ke puncak kejayaannya. Dan Sir Alex memberikan nomor punggung keramat itu sebagai wujud penghargaannya kepada Cristiano Ronaldo.
Mendapat kepercayaan penuh, Ronaldo pun berusaha tidak mengecewakannya. Di usianya yang masih muda, etos kerja Cristiano Ronaldo tidak tertandingi. Sebelum musim 2003/04 dimulai, ia selalu menambah porsi latihannya. Setidaknya setengah jam setiap hari. Ronaldo berusaha memperbaiki hal-hal yang menjadi kelemahannya.
Dirinya tidak hanya melakukan trik-trik di area sekitar kotak penalti, tapi juga mempertajam penyelesaiannya di depan gawang. Alhasil, Ronaldo telah berperan penting dalam kesuksesan Manchester United dalam meraih beberapa gelar. Termasuk gelar Liga Inggris musim 2006/07. Musim itu, dirinya mencetak 23 gol di semua kompetisi. 17 diantaranya dicetak di Liga Inggris. Itu hanya selisih tiga gol dari top skor kala itu, Didier Drogba.
Nani Menyusul 2007
Di musim panas 2007, barulah Luis Nani menyusul Cristiano Ronaldo ke Manchester United. Sir Alex Ferguson memboyongnya dari Sporting Lisbon dengan bandrol yang lebih mahal dari Ronaldo. Kala itu, United merogoh kocek sekitar 25 juta euro demi mendapatkan tanda tangan Nani. Manchester United rela menggelontorkan dana segitu karena Nani memang punya potensi yang menarik.
Bersama Sporting Lisbon, Nani menampilkan performa yang menawan. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Nani ini jiplakannya Ronaldo. Skill olah bola yang indah kerap memukau penonton yang hadir di stadion. Dirinya bahkan sempat menghadirkan gelar Piala Portugal di musim 2006/07.
Melihat potensinya yang besar, Nani yang masih berusia 20 tahun kala itu diproyeksikan bakal menjadi The Next Cristiano Ronaldo di Manchester United. Langkah ini diambil lantaran Ronaldo sudah menarik banyak minat dari klub-klub raksasa Eropa, tak terkecuali Real Madrid. Dengan adanya Nani, United berharap tetap memiliki pemain sayap yang kualitasnya sama dengan Ronaldo, meski nantinya sudah melepas sang nomor tujuh.
Luis Nani Ketinggalan Jauh
Dengan adanya Luis Nani, Sir Alex Ferguson pun menggeser posisi Cristiano Ronaldo ke sayap kanan. Hal itu demi memberikan ruang kepada Nani yang memang memiliki posisi asli sebagai sayap kanan. Nani langsung mencetak gol di penampilan kelimanya bersama Setan Merah. Dalam kemenangan 1-0 melawan Tottenham, ia mencetak satu-satunya gol tersebut.
Nani pun memperkenalkan dirinya kepada publik Inggris dengan menunjukan selebrasi kombinasi salto untuk seolah-olah menegaskan bahwa dirinya adalah pemain yang hebat. Sayangnya, setelah gol tersebut, musim perdana Nani dinilai kurang memuaskan. Alih-alih menggantikan peran Ryan Giggs, Nani justru jarang bermain selama 90 menit.
Di musim 2007/08, Nani mengantongi 26 penampilan di Liga Inggris. Tapi hampir separuhnya dimulai dari bangku cadangan. Dari kesempatan bermainnya yang minim itu, ia hanya mencatatkan tiga gol dan sembilan assist. Sebetulnya, itu bukan statistik yang buruk-buruk banget untuk anak muda yang masih 20 tahun.
Tapi, di sisi lain Cristiano Ronaldo justru membuat harga diri Nani turun. Meski tidak bermain di posisi aslinya, bintang Al-Nassr itu malah semakin melesat bak roket. Membangun trio dengan Wayne Rooney dan Carlos Tevez, Ronaldo mencetak 31 gol dari 34 pertandingan Liga Inggris musim 2007/08.
Itu performa yang fantastis. Selain menyabet gelar pencetak gol terbanyak Liga Inggris, Ronaldo lagi-lagi jadi bagian penting saat United mengawinkan gelar Liga Inggris dan Liga Champions musim 2007/08. Yang makin bikin kagum, Ronaldo mendapatkan penghargaan Ballon d’Or pertamanya tahun 2008. Itu jadi puncak dari pencapaian individu bagi seorang pesepakbola.
Dengan serangkaian gelar itu, Ronaldo menunjukan bahwa level kehebatannya telah jauh meningkat dari musim-musim sebelumnya. Jauh meninggalkan siapa pun, termasuk pemain yang dicap sebagai penerusnya, yakni Luis Nani.
Dibalik Bayang-bayang Ronaldo
Musim kedua Luis Nani masih sama menyedihkannya dengan yang pertama. Bisa dibilang lebih mengkhawatirkan malah. Karena Nani hanya bermain dalam 13 pertandingan saja. Itu pun hampir semuanya dimulai dari bangku cadangan. Jarang bermain membuat penonton mulai jarang menikmati aksi Nani di lapangan. Torehan golnya pun semakin menyusut musim 2008/09.
Sebetulnya, hal yang sama juga dialami oleh Cristiano Ronaldo. Dirinya tidak lagi mencetak lebih dari 30 gol dalam satu musim. Tapi setidaknya Ronaldo tetap menjadi ujung tombak Manchester United di lini depan. Dengan 18 golnya, pria asal Madeira itu lagi-lagi menghadirkan gelar Liga Inggris di akhir musim 2008/09. Itu jadi gelar liga ketiga secara beruntun yang disembahkan oleh Ronaldo.
Nani juga berhak mengklaim gelar itu. Tapi, perannya tak seberapa. Layaknya sebuah aktor, Luis Nani tak ubahnya seorang cameo di kisah kesuksesan Manchester United bersama Cristiano Ronaldo. Meski begitu, Nani tak baper. Dirinya tetap menjaga hubungan baik dengan Ronaldo. Tapi, media tidak memandang hubungan keduanya seharmonis itu.
Beberapa media Inggris yang dikenal julid dan tegas dalam mengkritik menganggap Nani tak lebih dari sekadar alas kaki Ronaldo. Boleh dibilang, pemain berzodiak scorpio itu hidup di balik bayang-bayang nama besar Cristiano Ronaldo. Semuanya bahkan kian memburuk saat Real Madrid datang untuk merekrut Ronaldo tahun 2009.
Peran Nani yang Minim
Pasca Real Madrid resmi memperkenalkan Cristiano Ronaldo, secara otomatis Luis Nani langsung mewarisi peran yang ditinggalkan. Nani diharap bisa berbuat banyak layaknya Ronaldo selama enam musimnya membela Setan Merah. Ya, setidaknya mencetak dua digit gol setiap musimnya. Tapi apa yang dipikirkan tak pernah menjadi kenyataan. Sosok kelahiran Amadora, 17 November 1986 itu gagal menjawab ekspektasi.
Di musim pertamanya tanpa Ronaldo, Nani seperti kehilangan arah. Dunia pun seketika sadar bahwa ada perbedaan yang sangat mencolok di antara Nani dan Ronaldo. Nani bukanlah pemain dengan mental pemenang seperti rekannya tersebut. Pemain berpostur 175 cm itu gagal mencapai potensi maksimalnya.
Hal ini pun disayangkan oleh banyak orang, termasuk rekan satu tim, Rio Ferdinand. “Saya pikir hal yang paling membuat frustrasi adalah ketika Anda tahu Anda memiliki pemain di tim dengan kemampuan yang tidak diragukan, memiliki segalanya untuk menjadi pemain hebat, tetapi tidak secara konsisten mengeluarkannya di lapangan,” kata Ferdinand.
Menurut Ferdinand, Nani memang tak pernah bisa mengendalikan bakat yang terpendam dalam dirinya. Selama latihan, Nani selalu menunjukan skill, tendangan akurat, dan keterampilan yang memukau. Tapi ketika turun dalam pertandingan, Nani tak bisa secara konsisten menunjukkannya. Hanya sekali atau dua kali saja.
Setelah kepergian Cristiano Ronaldo, Manchester United memang masih meraih beberapa gelar lagi. Bahkan Nani masih merasakan atmosfer juara Liga Inggris sebanyak dua kali. Tepatnya pada musim 2010/11 dan musim 2012/13. Nani boleh tampil heroik di musim 2010/11 dengan mencatatkan 19 assist dan sembilan gol saat itu.
Tapi itu terjadi sekali seumur hidup. Di saat United meraih gelar ke-20, Nani seperti ayahnya yang hilang entah ke mana. Ketimbang Luis Nani, Wayne Rooney dan Robin Van Persie lebih dikenang sebagai tokoh protagonis dalam sejarah yang diciptakan oleh Manchester United itu.
Setelah Manchester United
Meski perannya sudah minim dan seakan hanya jadi pelengkap saja di lini depan Manchester United, Luis Nani tetap setia pada klub. Pada tahun 2013, Nani bahkan meneken kontrak jangka panjang hingga tahun 2018. Tapi, pergantian pelatih dari Sir Alex ke David Moyes dan Louis Van Gaal cukup mempengaruhi posisi Nani di skuad Manchester United.
Nani sempat dipinjamkan ke mantan timnya, Sporting Lisbon pada tahun 2014. Nani yang sebelumnya sudah meneken kontrak jangka panjang mulai menyesali keputusannya itu. Setelah meneken kontrak, ia mengira bahwa orang-orang di Manchester United akan mendukungnya. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Kemudian rasa frustrasi pun datang.
Apalagi dirinya mulai sering diganggu cedera. Sontak kepercayaan diri Nani kian menurun dari situ. Tak lagi mendapat tempat di skuad Manchester United, Louis van Gaal akhirnya melepas Nani ke Fenerbahce. Setelah itu Nani tidak bisa menemukan tempat terbaiknya. Ia selalu berpindah-pindah dari klub medioker satu ke klub medioker yang lain.
Begitu pun di Portugal
Mirisnya lagi, hal seperti ini juga terjadi di tim nasional Portugal. Beberapa kali Luis Nani tergabung dalam skuad Selecao das Quinas, tapi tetap Ronaldo yang disorot. Bahkan saat Portugal menjuarai Euro 2016 sekalipun. Padahal Luis Nani cukup berperan vital di turnamen tersebut, terutama di laga final.
Ronaldo hanya bermain selama 25 menit lantaran mengalami cedera lutut pasca berbenturan dengan Dimitri Payet. Dari situ Nani lah yang mengambil alih komando di lapangan. Namun, kamera dan sorak sorai penonton tetap tertuju pada Ronaldo yang sibuk memberikan instruksi dari pinggir lapangan.
Pada akhirnya Luis Nani hanya bisa legowo sambil menyadari bahwa dirinya tak akan pernah bisa menyamai level sahabatnya itu. Lambat laun, penggemar sepakbola mulai melupakan Nani. Orang mungkin tahu bahwa Nani masih eksis, tapi tak lagi dianggap spesial.
Sumber: Goal, The Guardian, Football Tribe, SI, Viva Goal


