Dari Ricardo Kaka, Francesco Totti, Zlatan Ibrahimovic, Leonardo Bonucci, Paul Pogba, hingga Nicolo Barella, semuanya adalah contoh pesepakbola hebat yang mencapai kesuksesan di sepakbola Italia. Tapi tak jarang juga negeri yang dikenal dengan pastanya itu menjadi kuburan bagi talenta yang layu sebelum mekar sempurna.
Barangkali salah satu yang paling diingat adalah kisah wonderkid asal Brazil, Alexandre Pato. Kala itu, AC Milan menjadi klub yang sangat beruntung karena berhasil mendapatkan pemain berjuluk Si Bebek itu. Namun, lompatan karir di Serie A justru jadi awal runtuhnya harapan yang sudah dibangun oleh Pato.
Mimpinya untuk menjadi pemain terbaik di dunia layaknya Ronaldo Nazario dan Ronaldinho, seketika sirna. Lantas, apa yang membuat Pato harus mengubur dalam-dalam mimpinya itu? Selengkapnya di misteri di balik runtuhnya karir Alexandre Pato.
Daftar Isi
Latar Belakang yang Menyedihkan
Alexandre Rodrigues da Silva, begitulah kedua orang tuanya menamai Pato. Meski kini dikenal sebagai salah satu pesepakbola profesional paling terkenal, Pato memiliki hidup yang kelam. Dirinya tak seberuntung anak-anak lain yang lahir dari keluarga yang berkecukupan. Pato lahir dari keluarga yang miskin.
Bahkan untuk sekadar bermain sepakbola, olahraga yang begitu digemarinya pun, Pato tidak memiliki akses. Maka dari itu, futsal jadi jalan keluar dari segala keterbatasan yang dimiliki Pato. Setidaknya, hingga usia 10 tahun Pato berkarir sebagai pemain futsal. Hamparan rumput hijau adalah sebuah kemewahan baginya.
Tapi tak apa, futsal dianggap lebih menguntungkan bagi Pato. Karena dirinya bisa mendapat beasiswa sekolah dari situ. Suatu ketika saat Pato sedang bertanding di salah satu turnamen antar sekolah, ada salah satu pemandu bakat yang menemu ayah Pato. Dirinya menganggap Pato memiliki potensi untuk bermain sepakbola betulan.
Sayangnya, setelah ayah Pato mulai kepikiran untuk memaksimalkan potensi anaknya, masalah justru muncul. Pato muda justru mengalami kecelakaan konyol saat bermain dengan teman-temannya. Ia mengalami patah tulang di tangannya. Anehnya, dari insiden itu, ditemukan bahwa ada tumor di lengannya.
Dalam pemeriksaan, tumor yang hinggap di lengan Pato cukup besar. Bahkan berpotensi amputasi karena tangannya juga sedang dalam keadaan patah. Beruntungnya ada seorang dokter rela memberikan pengobatan gratis. Hal itu benar-benar berarti bagi seorang Pato. Jika bukan karena dokter tersebut, mungkin Pato hanya bisa hidup dengan satu tangan saja.
Mengawali Karir Bersama Internacional
Setelah operasi yang sukses, Pato melanjutkan mimpinya sebagai pesepakbola amatir. Ayahnya memasukan Pato ke salah satu sekolah sepakbola dekat rumahnya. Hingga pada suatu hari, ada perwakilan klub kasta tertinggi Liga Brazil yang mendatangi Pato. Saat itu, pemuda kelahiran 2 September 1989 itu masih berusia 16 tahun.
Ternyata, orang itu adalah tim scouting dari Internacional. Tanpa basa-basi, para petinggi klub meminta Pato untuk segera bergabung dengan tim utama. Meski usianya tergolong masih sangat muda, Pato yang memang punya kemampuan diatas rata-rata anak seusianya langsung dimasukkan ke skuad Internacional yang berlaga di ajang Piala Dunia Antar Klub.
Berstatus sebagai pemain muda, Pato punya cara yang menarik untuk memperkenalkan diri kepada khalayak. Di kompetisi itu, Pato memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang mencetak gol dalam ajang tersebut. Yang makin bikin kagum adalah Pato juga memecahkan rekor Pele sebagai pemain termuda yang tampil di kompetisi yang diselenggarakan FIFA.
Nah, berkat golnya ke gawang Al-Ahly dan satu gelar Piala Dunia Antarklub bersama Internasional, jutaan pasang mata mulai memantau Pato, tak terkecuali dari klub-klub besar di Eropa. Mulai dari situ, musim kedua Pato bersama Internacional tak ubahnya ajang pencarian bakat.
Pato berusaha tampil sebaik mungkin demi mendapat pinangan dari klub Eropa. Karena dengan begitu, Pato bisa membangun karir yang jauh lebih besar ketimbang hanya berdiam diri di Brazil. Beruntungnya, Pato tetap mendapat menit bermain di skuad utama. Tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk membuktikan bahwa dirinya layak bermain di Eropa.
Dari 16 pertandingan yang dimainkan Pato tahun 2007, dirinya berhasil mencetak sembilan gol. Itu catatan yang luar biasa mengingat usianya masih muda. Apalagi, sebagian besar pertandingan yang dimainkan dimulai dari bangku cadangan. Itu menandakan bahwa kemampuan adaptasi dan menemukan celah untuk mencetak gol sangat tinggi.
AC Milan
Dengan modal performa ciamik itu, beberapa klub papan atas Eropa berbondong-bondong datang ke Brazil. Dari AC Milan, Arsenal, Chelsea, Barcelona bahkan Real Madrid buru-buru mengajukan tawaran kepadanya. Namun, dari banyaknya klub, Pato merasa bahwa Milan yang paling serius menginginkannya.
Keinginan kuat dari Pato untuk berkarir di Eropa memudahkan transfer ini. Tanpa diskusi yang berlarut-larut, AC Milan bisa memboyong Pato dari Brazil pada musim panas tahun 2007. Menurut Transfermarkt, 24 juta euro jadi angka yang disepakati Milan dan Internacional untuk membawa Pato ke San Siro.
Alexandre Pato berpeluang untuk mencetak sejarah sebagai salah satu pemain yang bisa menjuarai Piala Dunia Antarklub dua kali beruntun. Karena di tahun yang sama dengan kedatangannya, Milan berada di ambang juara kompetisi tersebut. Milan memang juara Piala Dunia Antarklub 2007. Tapi, Pato tidak masuk dalam skuadnya.
Itu karena proses kepindahan yang belum rampung. Ia baru dapat diturunkan di partai resmi pada 3 januari 2008, setelah bursa transfer musim dingin kembali dibuka. Hal itu dilakukan sesuai dengan peraturan sepakbola Italia tentang pemain muda non-Uni Eropa. Membela Milan pun resmi jadi awal karir Pato di Eropa.
Sama halnya di Internacional, Pato selalu punya cara yang berkelas untuk memperkenalkan diri sebagai pemain muda berbakat. Di pertandingan debutnya, ia langsung mencetak gol saat AC Milan mengalahkan Napoli dengan skor 5-2. Selepas pertandingan itu, Pato langsung dipercaya oleh Carlo Ancelotti untuk mengisi lini depan.
Bakat dan kemampuan Alexandre Pato benar-benar semakin mengkilap di bawah tangan dingin Ancelotti. Selain pelatih kawakan itu, senior-seniornya di Milan juga banyak membantu Pato. Terlebih, saat itu masih banyak pemain-pemain Brazil di skuad Carlo Ancelotti. Itu membuat adaptasi Pato berjalan lancar.
Merasa sedang bermain di kampung halaman sendiri, Pato tampil dengan penuh sumringah. Di paruh kedua musim 2007/08, Pato bermain seperti tanpa beban. Dalam 18 pertandingan, Pato mencetak sembilan gol. Salah satu penampilan terbaiknya tercipta di laga melawan Genoa. Saat itu, Pato mencetak dua gol dalam kemenangan 2-0 atas Genoa.
Musim 2008/09
Kaki lincah, naluri mencetak gol yang baik, serta kepercayaan diri yang tinggi membuat Alexandre Pato langsung mendapat tempat di tim utama Rossoneri di musim berikutnya. Musim 2008/09 adalah musim penuh pertamanya di AC Milan. Carlo Ancelotti pun langsung menurunkan Pato sejak pertandingan pertama musim itu.
Milan mengawali Serie A musim 2008/09 dengan cukup buruk. Dua kekalahan beruntun dari Bologna dan Genoa harus ditelan mentah-mentah oleh anak asuh Carlo Ancelotti. Di pertandingan ketiga, Milan mulai kembali ke jalan yang benar. Tak lupa, Pato pun ikut bangkit dan mulai menjalankan tugasnya sebagai pencetak gol.
Selalu jadi pilihan utama Ancelotti, gol demi gol mulai lahir dari kaki dan kepala Pato. Di antara bintang-bintang Milan bernama Clarence Seedorf, Andrea Pirlo, Ronaldinho, Ricardo Kaka, hingga Ronaldo, Pato justru yang bersinar paling terang. 18 golnya di semua kompetisi membuat striker asal Brazil itu menjadi pencetak gol terbanyak klub di usia 19 tahun.
Rutin Mencetak Gol, Tapi…
Setelah menjalani musim terbaiknya bersama AC Milan, Alexandre Pato langsung jadi sorotan media. Baik media Italia maupun internasional menganggap Pato sebagai talenta yang akan melanjutkan kiprah Ricardo Kaka atau Ronaldinho di persepakbolaan Eropa. Pato bahkan diprediksi bakal memenangkan Ballon d’Or layaknya seniornya itu.
Di musim 2009/10, Pato masih bisa membayar kepercayaan yang diberikan Milan. Ia selalu tampil maksimal jika diberikan kesempatan untuk memimpin lini depan Il Diavolo Rosso. Gol-gol yang dibutuhkan tetap disediakan oleh Pato. Tapi, dirinya sesekali hilang dari peredaran. Tiba-tiba, dirinya hilang dari skuad Milan dengan alasan tak jelas.
Contohnya saat dirinya tak masuk skuad Milan dalam tujuh pertandingan beruntun di paruh kedua musim 2009/10. Banyak yang bertanya ke mana perginya Pato. Tapi, ketika dirinya kembali ke lapangan seperti tidak ada yang terjadi. Ia tetap bermain seperti biasa dan malah mencetak gol.
Meski pada akhirnya Pato dianugerahi sebagai pemain muda terbaik di Serie A musim itu. Situasi aneh ini menciptakan banyak spekulasi liar di luar lapangan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Pato. Kenapa Milan tidak memberikan pernyataan secara gamblang akan kondisi calon bintangnya itu?
Awal Mula Cedera
Tanpa perlu berbicara banyak, fans AC Milan bisa melihatnya sendiri di musim 2010/11. Dimana saat itu, mulai diganggu oleh berbagai macam cedera. Alexandre Pato bahkan tercatat absen selama 13 pertandingan di Serie A musim tersebut. Kadang cedera otot, kadang cedera engkel. Tapi, yang paling sering adalah otot.
Menariknya, meski menit bermainnya semakin rendah, Pato tetap menunaikan tugasnya dengan baik. Ia tetap memaksakan diri untuk tetap tampil efisien saat di turunkan. Dirinya bahkan sering berbohong kepada pelatihnya kala itu, Massimiliano Allegri soal cedera yang dialami. Pato sebetulnya tak pernah mencapai level kebugaran yang baik musim 2010/11. Tapi dirinya ngotot minta dimainkan.
Hasilnya? Cukup memuaskan. Karena jumlah golnya meningkat ketimbang musim sebelumnya. Setidaknya ada 14 gol yang tercatat atas namanya di Serie A. Lantas, bagaimana dengan nasib cederanya? Tetap disembunyikan dari Milan. Sesekali, dirinya melakukan perawatan alternatif yang disarankan oleh keluarganya.
Seperti tidak terjadi apa-apa, Pato justru dengan sukacita merayakan kesuksesan Milan di musim itu. Ya, Pato yang mulai dibekap cedera masih bisa mengantarkan Milan menjuarai Serie A musim 2010/11. Itu jadi gelar scudetto pertama sekaligus terakhir bagi Pato. Karena karirnya di musim 2011/12 tak seperti yang diharapkan.
Putus Asa
Pasca mengangkat trofi Serie A yang diidam-idamkan, Alexandre Pato kembali menemui akar dari segala kegagalannya. Pato lagi-lagi bermasalah dengan cedera. Kali ini, ia seperti tak punya tenaga untuk kembali bangkit. Ia sering berada di ruang perawatan hingga membuat pantatnya mulai akrab dengan bangku cadangan.
Musim 2011/12 jadi musim yang berat bagi Pato. Selain sering dicadangkan, dirinya juga mulai mengalami masalah mental. Itu didapat setelah dirinya tidak mendapat jawaban pasti dari apa yang dialami oleh kaki-kakinya. Hampir belasan dokter sudah disambangi Pato. Tapi, tak ada satu pun yang membuahkan hasil.
Dokter yang berada di Atlanta, berkata bahwa refleknya tidak sinkron dengan ototnya. Lalu, dokter di Jerman justru berkata hal yang berbeda. Menurutnya, ada yang salah di tulang punggungnya. Semacam cairan khusus disuntikan ke punggungnya. Itu sangat menyiksa. Menurut Pato, cairan itu justru membuatnya tak bisa berjalan tegak keesokan harinya.
Semakin jarang terlihat di lapangan, Pato mulai diserang oleh media-media Italia. Banyak yang mulai membanding-bandingkan dirinya dengan pemain-pemain Brazil lainnya. Kita semua tahu, pemain dari Negeri Samba begitu suka dengan pesta dan kehidupan malam. Dan para media menilai Pato mulai sama dengan pendahulunya.
“Apakah saya sering berpesta? Tidak sebanyak yang mereka katakan. Apakah saya kurang bersemangat? Mereka berkata demikian karena cara saya berlari. Tapi, ayolah. Siapa yang benar-benar tahu? Tuhan menciptakan saya seperti ini. Saya tidak dapat mengubahnya.” Ungkap Pato kepada The Players Tribune.
Karir yang Tak Menentu
Jika kondisinya membaik, dirinya bisa melakukan comeback dan tampil di beberapa laga untuk AC Milan. Tapi, Alexandre Pato pada akhirnya menyerah pada keadaan. Daripada terus menjadi bulan-bulanan media, Pato memilih meninggalkan AC Milan untuk pulang kampung ke Brazil dan membela Corinthians tahun 2013.
Pulang ke Brazil membuat namanya mulai hilang dari peredaran. Talentanya mulai dikesampingkan. Meski mencetak gol, performa Si Bebek asal negeri Samba bukan lagi suatu hal yang menarik bagi publik sepakbola. Pato tak pernah menyentuh level terbaiknya pasca dihajar cedera secara gila-gilaan.
Daripada dijuluki Si Bebek, Alexandre Pato lebih pantas dijuluki Si Kutu. Tapi kutu loncat. Karena sejak kembali ke Brazil, Pato doyan gonta-ganti klub. Loncat ke klub sana, ke klub sini. Dirinya pun sempat sesekali kembali ke Eropa bersama Chelsea dan Villarreal. Tapi hasilnya sama saja.
Pato bahkan sempat termakan janji palsu Chelsea saat bergabung sebagai pemain pinjaman pada tahun 2016. kala itu, Pato yang merasa ada secercah harapan untuk kembali membangun karir di Eropa dijanjikan kontrak tiga tahun setelah masa peminjamannya rampung. Sayang, kontrak tersebut tak pernah muncul di depan mata Pato.
Setelah enam bulan masa peminjaman, Pato dibuang begitu saja. Ia hanya bisa menjalani sisa karirnya yang tak menentu. Sempat ke Asia, Amerika Serikat, dan kembali lagi ke Brazil, kini Pato meratapi ujung karirnya yang jauh dari apa yang dirinya impikan waktu masih muda.
Sumber: The Players Tribune, Goal, GMS, BTL, Daily Mail, The Sport Legend


