Sejarah Membuktikan Timnas Indonesia Levelnya Selalu Berada di Atas Malaysia

spot_img

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Begitulah Timnas Indonesia. Kondisi ini tidak hanya melahirkan pujian yang merdu di telinga, tapi juga kritik sampai penghinaan. Datangnya tak cuma dari orang Indonesia, melainkan juga diri luar.

Salah satunya Malaysia. Negara serumpun ini menjelma tetangga yang berisik. Di tengah pencapaian Indonesia yang terus menanjak, publik sepak bola Negeri Jiran masih saja menyindir pencapaian Timnas Indonesia yang, menurut mereka, masih tertinggal dari Malaysia.

Padahal kalau melihat faktanya, Timnas Indonesia selalu punya level di atas Malaysia. Nggak percaya? Mari mendedahkannya satu per satu.

Malaysia Juara AFF, Indonesia Mampu?

Pada April 2024 lalu ranking Indonesia naik drastis. Indonesia yang sebelumnya berada di peringkat 142, naik ke peringkat 134. Kenaikan ini bahkan membuat Indonesia menyalip Malaysia.

Alih-alih naik atau minimal bertahan, Harimau Malaya melorot ke posisi 138. Nah, saat Indonesia meng-overtake Malaysia, publik Malaysia melalui akun TikTok @amelnew02 memamerkan momen ketika Harimau Malaya menjuarai Piala AFF 2010 silam.

Postingan itu dibumbui kalimat, “Fakta yang tidak dapat difahami oleh negara jiran. Ia mudah tetapi Indonesia tidak boleh melakukannya” dan sebuah caption, “Mengapa kelas yang berbeza dibincangkan?”

Kurang lebih postingan itu menyindir bahwa Indonesia memang bisa menyalip Malaysia di peringkat FIFA. Tapi memenangkan kompetisi semudah Piala AFF, Indonesia tak mampu.

Kalau boleh jujur, apa yang disindir itu benar belaka. Indonesia memang payah di Piala AFF. Sejak dimulainya kompetisi ini tahun 1996, dan menjadi salah satu inisiatornya, Indonesia belum pernah juara. Paling mentok menjadi runner-up.

Namun, sindiran itu juga seharusnya membuat si penyindir malu, kecuali urat malunya putus. Betul Indonesia belum pernah juara Piala AFF. Tapi apakah hanya dengan juara AFF, itu pun hanya sekali, membuat diorang boleh menyindir tim lain dengan nada seolah-olah meremehkan?

Naik Ranking, Indonesia Dianggap Sombong

Kenaikan Indonesia di ranking FIFA juga disindir akun yang sering mengabarkan sepak bola Malaysia, @OnefootballM. Lewat twitnya, akun itu memancing warganet Indonesia dengan membandingkan pencapaian Timnas Indonesia dengan Thailand dan Filipina.

Begini isi twitnya:

Twit itu seakan menyebut Indonesia sombong hanya karena baru naik rankingnya. Sementara Vietnam dan Thailand yang berpotensi lolos ke putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia dan terbiasa bermain di kompetisi Asia, tenang-tenang saja.

Namun, di kemudian hari, twit itu jadi senjata makan tuan. Bukan Vietnam, Thailand, apalagi Malaysia, justru Indonesia yang memastikan diri melangkah ke putaran ketiga.

Head to Head Saja Indonesia Unggul

Walaupun belum pernah menjuarai Piala AFF, level Timnas Indonesia sejatinya selalu berada di atas Malaysia. Dari segi head to head saja, Indonesia unggul. 

Malaysia dan Indonesia sudah 97 kali berjumpa di semua pertandingan. Dari sana Harimau Malaya cuma menang 36 kali. Sementara, Indonesia sudah 40 kali mengalahkan timnas yang bahkan diremehkan oleh Uncle Muthu itu.

Di ajang Piala AFF, kedua tim juga sebetulnya imbang. Dari delapan laga, separuh laga dimenangkan Indonesia dan setengah sisanya dimenangkan Malaysia. Tapi kemenangan terbesar berada di tangan Indonesia. Tim Garuda pernah mengalahkan Harimau Malaya dengan skor mending WO, 5-1 di Piala AFF 2010.

Indonesia Lebih Baik di Piala Asia

Bicara head to head dan Piala AFF sudah. Sekarang di level Asia, tepatnya di Piala Asia. Indonesia lebih sering tampil di Piala Asia ketimbang Malaysia. Jika dihitung dengan Piala Asia 2027, di mana Indonesia tak perlu melewati kualifikasi, maka Indonesia bermain di enam Piala Asia.

Itu terhitung tahun 1996, 2000, 2004, 2007, 2023, dan 2027. Sedangkan Malaysia baru empat kali, yaitu di tahun 1976, 1980, 2007, dan 2023. Soal pencapaian, selama berkompetisi di Piala Asia, Malaysia belum pernah lolos dari fase grup.

Kalau Indonesia sendiri baru kemarin mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya lolos ke 16 besar Piala Asia. Yah, meskipun dengan sedikit keberuntungan.

Piala Asia U-23?

Indonesia mungkin boleh berbangga di level senior. Tapi harus diakui, di level U-23, Merah Putih baru sekali berkibar di Piala Asia. Malaysia bisa membanggakan ini, karena Timnas U-23 mereka sudah tiga kali bermain di Piala Asia U-23.

Namun, entah itu di edisi 2018, 2022, maupun 2024, pencapaian terbaik Malaysia hanya sampai perempat final ketika Piala Asia U-23 diselenggarakan di Tiongkok tahun 2018. Indonesia? Memang baru sekali berlaga di Piala Asia U-23, yakni tahun 2024.

Namun, langsung menyabet peringkat keempat, sekaligus melampaui pencapaian Malaysia dengan lolos ke semifinal. Kalau ada yang bilang lawannya gampang-gampang, korang berarti meremehkan Korea Selatan.

Piala Dunia

Setelah di Piala AFF, Piala Asia, kita ke Piala Dunia. Betul, Malaysia ataupun Indonesia belum pernah lolos ke Piala Dunia. Jadi, yang bisa dilihat baru rekam jejak di babak kualifikasi. Soal keterlibatan di babak kualifikasi Piala Dunia, Malaysia lebih rajin.

Sejak Piala Dunia 1974 sampai 2026, Malaysia selalu berpartisipasi. Kalau Indonesia pernah mundur dan memilih tidak ikut. Misalnya, di kualifikasi Piala Dunia 1950 dan 1962, Indonesia memilih mundur. Di edisi 1958, Presiden Soekarno menolak bermain melawan Israel, Indonesia pun mundur di tengah babak kualifikasi.

Indonesia juga tak ambil bagian di kualifikasi Piala Dunia 1954, 1966, dan 1970. Sementara karena disanksi FIFA, Indonesia tak ikut kualifikasi Piala Dunia 2018. Walau begitu, Indonesia lebih baik ketimbang Malaysia di kualifikasi Piala Dunia. Malaysia mentok di putaran kedua, sedangkan Indonesia telah memastikan diri ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Di Ajang Multi Event

Setelah dari kompetisi sepak bola, mari beralih ke ajang multi olahraga, seperti Olimpiade, Asian Games, dan SEA Games. Di Olimpiade, benar kata Tok Dalang. Malaysia pernah lolos ke Olimpiade, yakni di tahun 1972. Tapi langkah mereka cuma sampai di putaran pertama.

Nah, kalau Indonesia terakhir kali main di Olimpiade tahun 1956. Tapi Ramang dan kawan-kawan bisa mencapai perempat final. Di Asian Games, kedua negara juga saling unjuk gigi. Malaysia 12 kali bermain di Asian Games cabang sepak bola putra.

Indonesia tertinggal dengan 11 kali. Namun, pencapaian terbaik Malaysia hanyalah medali perunggu tahun 1974 dan menjadi semifinalis di tahun 1978 saat digelar di Thailand. Selain pernah meraih medali perunggu di Asian Games 1958, Indonesia juga pernah dua kali mencapai semifinal di tahun 1954 dan 1986.

Jika cuma menghitung saat Asian Games memakai tim U-23 sejak 2002, Indonesia masih di atas Malaysia. Garuda Muda tiga kali lolos ke 16 besar, sedangkan Malaysia hanya dua kali. Di level yang lebih rendah, yakni SEA Games, percaya deh, Malaysia memang jago.

Lima kali Harimau Malaya menyabet emas SEA Games cabang sepak bola. Indonesia baru tiga kali, yaitu di tahun 1987, 1991, dan 2023. Tapi kalau melihat 10 tahun terakhir, sejak 2013 Malaysia belum pernah lagi meraih medali emas SEA Games cabang sepak bola, berbeda dengan Indonesia.

Indonesia Terdepan Soal Pelatih

Tatkala Malaysia belum sekali pun kepikiran untuk menunjuk pelatih asal Korea Selatan, Indonesia lebih dulu melakukannya. Kebetulan penunjukkan Shin Tae-yong terjadi di era Iwan Bule. Namun, sosok Ratu Tisha yang berandil besar dalam mendatangkan pelatih pecatan dari Korea Selatan itu.

Tisha bergerak cepat membujuk Shin Tae-yong. Menariknya, operasi senyap mendatangkan STY berlangsung di Malaysia. Waktu itu, Tae-yong datang ke Malaysia untuk deal dengan PSSI. Menurutnya, itu dilakukan demi menghindari sorot kamera media-media di Indonesia.

Nah, ketika Shin Tae-yong datang kemudian sukses meramu Timnas Indonesia, Malaysia ikutan memboyong pelatih asal Korea Selatan. Tak sepele, yang didatangkan FAM mantan atasannya Shin Tae-yong di KFA, Kim Pan-gon.

Namun, walaupun Pan-gon dulu punya jabatan lebih tinggi dari STY, kenyataannya soal taktik, filosofi, dan perkembangan, Timnas Indonesia di tangan STY lebih maju ketimbang Malaysia di tangan Kim Pan-gon.

Saking bagusnya, Pan-gon ingin menjiplak cara kerja STY di Timnas Indonesia. Khususnya soal pemain keturunan. Sejauh ini, Malaysia juga meniru Indonesia dengan memburu pemain keturunan untuk dinaturalisasi. Namun, proyek mereka gagal, tidak seperti Indonesia.

Nah, FAM menyambut rencana Pan-gon yang hendak blusukan ke Eropa seperti apa yang dilakukan Shin Tae-yong. Hm…. Mengikuti cara Indonesia lagi, nih? Nggak kreatif banget. Nggak kaget sih, kalau Uncle Ah Tong membanggakan Afrika Selatan ketimbang menyebut negaranya sendiri.

Sumber: VNExpress, Score, Okezone, Bolacom, Okezone, Suara, CNNIndonesia, 11v11

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru