Standar Tinggi Shin Tae-yong dan Pengaruhnya Buat Sepak Bola Indonesia

spot_img

Kehadiran Rinus Michels membawa angin segar buat persepakbolaan Belanda. Selain mengantarkan trofi untuk De Oranje, yakni Piala Eropa 1988, Rinus membawa energi baru sekaligus filosofi baru yang di kemudian hari menjadi ciri khas permainan Belanda. Orang mengenalnya dengan “Total Football”.

Jika Belanda punya Rinus Michels, Indonesia punya Shin Tae-yong. Memang, Shin Tae-yong bukan orang Indonesia. Namun, ia bisa menjadi Rinus Michels-nya Indonesia. Taktik, filosofi, semangat, hingga standar tinggi yang ia terapkan bukan hanya berpengaruh ke timnas, tapi juga sepak bola Indonesia secara umum.

Bagaimana standar yang diterapkan pelatih asal Korea Selatan itu berpengaruh pada sepak bola Indonesia? Berikut ulasannya.

Standar Tinggi Shin Tae-yong

Levelnya Piala Dunia menjadi citra Shin Tae-yong ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke Indonesia. Ditunjuk sebagai pelatih harapan masyarakat Indonesia langsung tertuju padanya.

Meski dipecat oleh KFA, tapi reputasi Shin Tae-yong di kancah internasional masih ranum. Terutama karena ia adalah pelatih yang menaklukkan Jerman di Piala Dunia 2018. Jerman yang kala itu juara bertahan tak mampu menciptakan satu pun gol ke gawang Korea Selatan.

Harapan masyarakat Indonesia dijawab standar tinggi oleh Shin Tae-yong. Standar itu ia terapkan di Timnas Indonesia. Karena para pemain banyak yang tak memenuhi standarnya, Tae-yong menyunat satu generasi untuk membentuk generasi tim nasional yang baru.

Shin Tae-yong ingin pemain yang masuk tim nasional adalah yang berpengalaman dan memiliki jam terbang di level klub. Ia pun kesulitan mencari penyerang yang tajam. Menurutnya, Indonesia kehabisan penyerang tajam karena klub-klub di Indonesia lebih mengandalkan striker asing.

Fisik juga menjadi perhatian Shin Tae-yong. Soal ini, pelatih fisik timnas, Sofie Imam Faizal bercerita bahwa pemain yang ingin masuk timnas mesti bisa beraktivitas fisik selama 2 x 45 menit. Tidak hanya itu, seorang pemain juga harus dapat berlari sampai 13 kilometer.

Demi memenuhi standar itu, seorang pemain wajib memiliki angka VO2Max minimal 60. VO2Max adalah acuan jumlah maksimum oksigen yang dapat manusia gunakan selama berolahraga.

Kesulitan Mencari Pemain

Standar tinggi yang diterapkan tak selamanya mempermudah Shin Tae-yong. Alih-alih demikian justru mempersulit. Tak banyak pemain lokal yang dapat memenuhi standar Shin Tae-yong. Pemain lokal yang dimaksud adalah yang bermain di Liga 1.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk blusukan. Jika Indra Sjafri blusukan ke desa-desa terpencil di Indonesia, Shin Tae-yong blusukan ke luar negeri. Dibantu PSSI, sang pelatih mencari pemain diaspora yang dapat memenuhi standarnya.

Kita pun akhirnya melihat pemain seperti Ivar Jenner, Justin Hubner, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Rafael Struick, Sandy Walsh, Nathan Noel Romejo, Shayne Pattynama, hingga Calvin Verdonk membela Timnas Indonesia.

Kalau dilihat dari sudut pandang Tommy Welly, ini seperti Shin Tae-yong malas mencari pemain di klub-klub Liga 1. Namun, sulit mencari pemain di klub lokal yang sesuai standarnya, bukan berarti tidak ada.

Buktinya, pelatih asal Korea Selatan itu juga menemukan pemain dari klub lokal yang memenuhi standarnya. Asnawi Mangkualam, misalnya. Walaupun kini berkarier di luar negeri,  tapi awalnya Asnawi bermain untuk PSM Makassar. Putra Bahar Muharram itu bahkan tidak hanya memenuhi standar tinggi STY, tapi melebihinya. Asnawi memiliki VO2Max tertinggi di Timnas Indonesia.

Pemain Diaspora Menaikkan Kualitas Pemain Lokal

Entah ini strateginya Shin Tae-yong atau bukan, tapi keberadaan pemain diaspora mampu memicu para pemain lokal untuk meningkatkan kualitasnya, sehingga mencapai standar Shin Tae-yong. Kehadiran pemain seperti Thom Haye dan Jay Idzes berfungsi sebagai katalis.

Mereka menginspirasi pemain lokal untuk menetapkan standar yang lebih tinggi. Mau tidak mau, suka maupun tidak suka, mereka mesti bersaing dengan pemain diaspora. Situasi kompetitif di tubuh timnas pada gilirannya melahirkan pemain seperti Pratama Arhan, Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, hingga Asnawi Mangkualam dan Witan Sulaeman.

Mereka bukan diaspora. Para pemain tadi ditempa dan dididik oleh klub lokal. Namun, karena persaingan ketat di timnas serta standar tinggi yang diterapkan Shin Tae-yong, membuat sebagian dari mereka memilih pindah ke luar negeri demi mempertahankan atau justru meningkatkan standar yang sudah tinggi.

Level Timnas Indonesia Naik

Shin Tae-yong pun menemukan skuad yang utuh. Skuad yang dipenuhi pemain yang sesuai standar dan keinginannya. Tak peduli apakah ia pemain diaspora atau bukan. Hal itu lalu berefek pada kualitas Timnas Indonesia. Memang, Indonesia belum berbicara banyak di kancah Asia Tenggara.

Namun, di level yang lebih tinggi, yakni Asia, Indonesia adalah tim yang sanggup membuat lawannya kencing berdiri. Kalau tidak percaya, silakan tanyakan ke mantan asisten Luis Enrique, Jesus Casas. Jika tim-tim Eropa berharap tidak bertemu Real Madrid di final Liga Champions, pelatih Irak itu berharap tidak bertemu lagi dengan Indonesia.

Belum lama ini, pelatih Thailand, Masatada Ishii juga turut mengomentari kemajuan Timnas Indonesia di tangan Shin Tae-yong. Menurut eks pelatih Buriram United itu, Indonesia tak lagi bisa dipandang sebelah mata, kecuali oleh bajak laut dan Jaja Miharja. “Level Indonesia sudah naik,” tegas Masatada Ishii.

Mendorong Pembenahan Liga

Standar tinggi Shin Tae-yong juga mendorong PSSI untuk benar-benar berbenah. Pelatih asal Korea Selatan itu bukan sekali-dua mengkritik Liga Indonesia. Nah, dari sana transformasi yang terus-menerus digaungkan Erick Thohir sepertinya mulai dijalankan, terutama di tahun 2024 ini.

Setelah musim kompetisi berakhir, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) berencana menambah kuota pemain asing menjadi delapan pemain di Liga 1 musim depan. Ini baru rencana, belum diketok palu. Namun, hal itu menimbulkan reaksi yang agak berlebihan dari para pemain lokal.

Ramai-ramai para pemain lokal memposting kampanye “IniSepakBolaIndonesia?” di media sosial. Para pemain resah karena posisinya bisa terancam oleh pemain asing. Padahal di liga yang timnasnya saja tidak lolos ke putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, hal itu biasa.

Rasiman, pengamat cum pelatih, mengatakan bahwa kehadiran pemain asing belum tentu meningkatkan kualitas liga. Ada benarnya. Tapi jika coba memposisikan diri sebagai jubir PSSI, keberadaan pemain asing semestinya dapat meningkatkan standar pemain Liga 1.

Sehingga yang bukan kategori pemain asing dapat terus meningkatkan kualitasnya. Ujungnya, ini akan memudahkan Shin Tae-yong mencari pemain timnas. Kehadiran pemain asing di Liga 1 juga mestinya menampar klub-klub lokal yang masih abai pada pembinaan usia dini.

Pembenahan Lain

Shin Tae-yong menetapkan standar di level senior. Dan itu berpengaruh pada timnas kelompok umur. Artinya, pembinaan akar rumput harus mulai jalan. Tidak hanya di level klub tapi juga di level tim nasional. Nah, ihwal ini, PSSI diuntungkan dengan adanya dana dari program FIFA Forward.

Dana dari sana bisa digunakan untuk pembinaan. Selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk membangun infrastruktur. Indonesia beruntung karena FIFA mau turun gunung untuk memantau stadion-stadion di Indonesia agar memenuhi standar.

Akhirul kalam, apa yang dilakukan Shin Tae-yong berpengaruh pada sepak bola Indonesia. Orang jadi memperhatikan sepak bola Indonesia. Minimal jika belum menumbuhkan kepedulian pada sepak bola Indonesia secara keseluruhan, setidaknya gairah menonton timnas meletus lagi.

Buktinya, dilansir Suara.com, jumlah suporter yang hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat Indonesia menjamu Filipina tempo hari, menyentuh 64.942 pasang mata. Jumlah itu unggul dari laga kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Korea Selatan vs Thailand yang mencapai 64.921 penonton.

Alhamdulillah, penyakit memecat pelatih sudah sembuh dari PSSI. Memperpanjang kontrak Shin Tae-yong bukan hanya bijak tapi juga tepat. Sangat mungkin ahjussi yang satu ini akan banyak memberi manfaat buat sepak bola Indonesia. Saranghaeyo, Coach!

Sumber: Suara, Bolasport, Bolasport, InsideFIFA, LinkedIn, TheStadiumBussiness, Detik, Bolacom

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru