Alessandro Gabrielloni: Definisi Menemani Como 1907 Dari Nol

spot_img

Sepakbola Italia kerap mengajarkan kita tentang makna kesetiaan. Negeri Pizza itu banyak melahirkan pemain-pemain yang menunjukan kesetiaannya pada klub yang dibela. Kita semua tahu di sana pernah ada cerita Alessandro Del Piero dan Gianluigi Buffon yang tetap setia pada Juventus meski harus terdegradasi ke Serie B.

Lalu, ada juga Alessandro Lucarelli yang memenuhi janjinya untuk tetap setia dan membawa Parma kembali ke kasta tertinggi, setelah klubnya itu jatuh miskin dan diasingkan ke Serie D. Namun, kesetiaan tak hanya soal tetap bertahan di masa sulit. Menemani dari nol hingga meraih kesuksesan juga termasuk kesetiaan yang tak ternilai oleh uang.

Itulah yang dilakukan oleh Alessandro Gabrielloni kepada Como 1907. Gabrielloni rela terabaikan demi menjadi saksi perjalanan Como dari Serie D menuju Serie A. Lantas bagaimana ia melewati masa-masa sulit itu? 

Siapa Gabrielloni?

Sebenarnya siapa sih Alessandro Gabrielloni? Meski nama Alessandro sendiri sering seliweran di sepakbola Italia, bahkan Eropa, Gabrielloni sendiri ternyata tak setenar pemain yang memiliki nama Alessandro lainnya. Pemain yang kini berusia 29 tahun itu cuma pemain medioker.

Menurut data dan statistiknya, Alessandro Gabrielloni bahkan sama sekali belum pernah mencatatkan penampilan di Serie A. Main di Serie A aja belum pernah apalagi dipanggil tim nasional. Lahir dan besar di Jesi, Italia, karir Gabrielloni berkutat di kasta ketiga dan kasta keempat sepakbola Italia.

Klub yang dibela Gabrielloni pun cukup asing di telinga orang awam. Memulai karir dari Jesina, ia pindah ke Maceratese tahun 2013. Kemudian dirinya juga sempat membela Martina Franca, Campobasso, Cavese, hingga Bisceglie. Asing bukan? Maceratese bahkan sudah bubar sejak tahun 2014 yang lalu.

Gabrielloni sendiri berposisi asli sebagai penyerang tengah. Namun, sesekali dirinya bisa dimainkan sebagai sayap. Lantas, apakah Gabrielloni merupakan predator ganas di kotak penalti? Lumayan. Ketika bermain di Cavase, ia pernah mencatatkan 16 gol dalam 32 laga di Serie D. Meski nggak jago-jago amat, setidaknya Gabrielloni punya daya tarik lain. Ia memiliki atribut yang cukup langka di sepakbola modern, yakni kesetiaan.

Datang ke Como Tahun 2018

Kecintaan Alessandro Gabrielloni terhadap suatu klub tertentu mulai muncul pada tahun 2018. Tepatnya saat Gabrielloni mengalami penurunan performa bersama Bisceglie. Pihak klub kurang puas dengan penampilannya yang tak mencetak satu gol pun dalam 12 pertandingan Serie C. Maka dari itu, ia dilepas secara gratis pada musim dingin 2018.

Di tengah kehampaan dan putus asa karena dibuang. Perwakilan Como 1907 yang kala itu masih berlaga di Serie D pun datang dengan proposal di tangan. Bermain di kasta keempat memang sebuah kemunduran bagi Gabrielloni. Tapi, tak ada jalan lain. Pilihannya cuma dua, Como atau nganggur.

Alhasil, Gabrielloni pun menerima tawaran Como. Ia bergabung dengan klub yang berbasis di Lombardia itu tanpa sepeserpun biaya transfer. Yang membuat Gabrielloni setuju bergabung adalah proyek klub. Meski sempat beberapa kali bangkrut, Como punya visi-misi yang jelas. 

Menjadi pemain yang bergabung di pertengahan musim membuat Gabrielloni dituntut untuk beradaptasi dengan cepat. Sang pelatih, Antonio Andreucci kerap menggunakan skema dua striker. Ini skema yang cukup asing bagi Gabrielloni. Karena sebelumnya ia lebih sering menjadi striker tunggal dalam skema tiga striker.

Namun, pola serangan tersebut justru cocok dengannya. Ia seperti terlahir kembali di Como. Pada paruh kedua musim 2017/18, Gabrielloni yang tadinya seret gol langsung mencetak 10 gol dari 14 pertandingan. 

Sementara di musim 2018/19, Gabrielloni semakin pede. Ia terus menambah pundi-pundi golnya bersama Como. Setelah gagal promosi di musim perdananya, torehan 12 gol Gabrielloni akhirnya membantu Como menyegel satu tiket promosi ke Serie C di akhir musim 2018/19.

Jadi Saksi Rebranding Klub

Momen ini membuat rasa cinta Gabrielloni terhadap Como mulai tumbuh. Ia mendapat cinta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dari publik Lombardia. Namun, di sisi lain saat menuju Serie C, Como sempat melakukan rebranding. Itu dilakukan oleh sang pemilik baru, yakni PT Djarum.

Grup Djarum mengakuisisi Como melalui anak perusahaannya, SENT Entertainment. Djarum mengambil alih Como dengan banderol sekitar 850 ribu euro. Cukup murah memang, karena Como cuma klub Serie D kala itu.

Djarum sangat ketat dalam pengelolaan klub sepakbola Como. Saking ketatnya, urusan sepakbola dan urusan bisnis pun dipisah. Hampir seluruh orang di belakang layar diganti oleh duo Hartono. Itu demi menciptakan perencanaan anggaran dan pengembangan sepakbola yang lebih baik.

Kedatangan pemilik baru sempat membuat Gabrielloni resah. Apakah perubahan besar-besaran yang diusung Grup Djarum akan berdampak pada karirnya di masa depan? Ternyata tidak. Meski banyak pemain yang dilepas, para petinggi Como masih mempercayai Gabrielloni sebagai ujung tombak di lini depan.

Gabrielloni masih jadi pilihan utama saat Como 1907 mengarungi Serie C musim 2019/20 dan 2020/21. Selama dua musim tersebut, Gabrielloni mencatatkan 22 gol. Musim keduanya jadi yang istimewa karena sang pemain berhasil mengantarkan Como promosi ke Serie B sebagai juara Serie C. Dua gol Gabrielloni ke gawang Alessandrini lah yang mengunci titel juara itu.

Tetap Stay Meski Terpinggirkan

Berlaga di Serie B, Djarum merekrut beberapa orang hebat untuk mengurusi urusan sepakbola. Salah satunya Dennis Wise yang ditunjuk sebagai CEO pada tahun 2021. Di bawah kendali mantan pemain Chelsea tersebut, Como berencana mengembangkan banyak pemain hebat dan berkualitas. Ia juga menciptakan sistem transfer yang lebih bijaksana.

Salah satu kebijakan transfer yang berdampak pada Gabrielloni adalah ketika Como mendatangkan Leonardo Mancuso dari AC Monza dan Patrick Cutrone dari Wolves pada tahun 2022. Keduanya didatangkan untuk menambah daya gedor Como di Serie B. Dengan begitu harus ada penyerang yang dikorbankan. Dan itu Gabrielloni.

Menit bermainnya menurun drastis. Ia memang mencatatkan 32 penampilan pada musim 2021/22, tapi sebagian besar dimulai dari bench. Biasanya Gabrielloni mampu mengantongi lebih dari 2000 menit bermain dalam satu musim. Tapi, di musim 2021/22 ia hanya bermain sebanyak 865 menit saja. Begitu pun di musim 2022/23.

Kemerosotan yang begitu tajam sempat membuatnya was-was. Setelah berdiskusi dengan keluarga, Gabrielloni memutuskan untuk merampungkan tesis di bidang ekonomi. Dia memilih untuk kuliah lagi sambil bermain sepakbola karena mulai merasa ragu dengan masa depannya di Como. 

Kendati demikian, Gabrielloni yang sudah kebacut tresno dengan Como pun menyimpan gelar S2-nya dan memilih lanjut berkarier di dunia bal-balan. Ia ingin mengabdi saja pada Como. Jadi pemain cadangan pun tak masalah asal tetap berseragam Como, klub yang menampungnya disaat tak ada lagi yang menginginkannya.

Como Promosi ke Serie A

Gabrielloni bermimpi untuk membawa klub ke kasta tertinggi suatu saat nanti. Setelah tiga kali mencoba dan tiga kali gagal pula, mimpinya untuk membawa Como tampil di Serie A akhirnya tercapai pada tahun 2024. Ini jadi kado terindah Gabrielloni pada Como. Setelah 21 tahun lamanya, Como pun kembali ke Serie A.

Tangisan Gabrielloni pun terekam oleh kamera. Videonya langsung viral di media sosial. Dalam wawancaranya, ia mengungkapkan alasannya menangis. Saat detik-detik penentuan, semua memori di masa lalu saat masih berjuang di Serie D seakan kembali menyambangi kepalanya. 

Gabrielloni masih tak menyangka, bahwa dirinya akan menjadi bagian dari sejarah ini. Untuk menghargai kesetiaan sang pemain, Como telah menghadiahi Gabrielloni sebuah kontrak panjang hingga 2027. Dengan begitu, perjalanan Alessandro Gabrielloni bersama Como akan berlanjut di Serie A musim depan.

https://youtu.be/lcR96nsnQzQ

Sumber: Get Football News Italy, Como Football, NY Times, Sport.detik

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru