13 Tahun Menanti, St Pauli Akhirnya Kembali ke Bundesliga

spot_img

Fyp kalian pasti sudah dipenuhi oleh video-video estetik tentang sepakbola Jerman. Mulai dari Bayer Leverkusen yang juara Bundesliga, hingga Borussia Dortmund yang akan tampil di final Liga Champions. Tapi kali ini Starting Eleven tak akan membahas itu. Kita justru akan membahas tentang St. Pauli yang promosi ke Bundesliga.

Mungkin beberapa dari kalian masih asing dengan klub yang satu ini. Wong dari nama saja lebih cocok untuk nama gereja ketimbang sebuah klub sepakbola. Di sisi lain, mereka juga sudah lama tak berlaga di Bundesliga. Jadi wajar jika kalian tak mengenalnya. Namun, bagi pecinta sisi lain sepakbola, St. Pauli jadi klub unik yang sering dibicarakan.

Lantas, seunik apa sih rival Hamburg FC ini? 

Setelah 13 Tahun

St. Pauli promosi setelah mengalahkan Osnabrück dengan skor 3-1 pada laga lanjutan 2.Bundesliga. Setidaknya, butuh 13 tahun lamanya bagi klub yang sudah berdiri sejak 1910 itu untuk kembali eksis di kasta tertinggi sepakbola Jerman. Bahkan terakhir kali St. Pauli berlaga di Bundesliga, Borussia Dortmund masih jadi yang terkuat di Jerman. 

Kemenangan melawan Osnabruck membuat klub berjuluk Freibeuter der Liga itu dipastikan akan berada di posisi dua besar klasemen akhir 2.Bundesliga musim 2023/24. Dengan mengumpulkan 66 poin, Pauli unggul enam poin dari peringkat ketiga, Fortuna Dusseldorf. Jumlah tersebut tak akan terkejar karena kasta kedua hanya menyisakan satu pertandingan lagi.

Pencapaian ini disambut dengan suka cita oleh para fans. Bermain melawan Osnabruck di kandang sendiri, puluhan ribu pendukung pun memadati Millerntor Stadium. Ketika peluit panjang dibunyikan, mereka tumpah ruah ke lapangan. Kebahagiaan dan tangis haru bercampur aduk diatas rumput yang hijau.

Sikap dan Ideologi St Pauli

St. Pauli dan fans memang jadi dua hal yang tak bisa dipisahkan. Pauli punya paham bahwa mereka bukan siapa-siapa tanpa segerombol orang yang berdiri dan mendukung mereka selama 90 menit penuh itu. Hubungan mereka pun tak sebatas fans dan klub, melainkan lebih dari itu. Fans adalah penyumbang terbesar identitas St Pauli.

St. Pauli salah satu klub yang menegakan peraturan 50+1. Selain untuk mencegah klub kebanggaannya dimiliki oleh satu individu, regulasi ini membuat fans dapat terlibat lebih dalam kelangsungan hidup klub. Pauli bahkan menempatkan fans di atas segalanya. Mereka selalu berkomunikasi dengan para penggemarnya jika akan mengambil suatu keputusan.

Basis terbesar dari fans St. Pauli terdiri dari masyarakat kalangan bawah. Berbeda dengan Hooligan, mereka justru dikenal sebagai pelopor kampanye anti rasisme, anti kekerasan, anti-homofobia, dan isu-isu progresif lainnya. Gerakan ini tentu mendapat dukungan penuh dari klub.

Selain itu, para fans juga sering memakai simbol tengkorak layaknya bendera bajak laut di anime One Piece. Namun, itu bukan karena mereka wibu. Melainkan untuk melambangkan perjuangan masyarakat kelas bawah yang hidup dekat laut dalam melawan kaum-kaum borjuis.

Pauli adalah sebuah ideologi dan gaya hidup. Prestasi dan keuntungan finansial tidaklah penting. Tujuan mereka sepakbola dan solidaritas. Itu dibuktikan dengan aksi klub yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia (FIFI Wild Cup) untuk negara-negara tak diakui FIFA pada tahun 2006.

Ajang tersebut memberi kesempatan kepada orang-orang Tibet untuk mengibarkan bendera kemerdekaan mereka melalui sepakbola. Bahkan, pada satu kesempatan St Pauli pernah mengatur laga persahabatan melawan Kuba untuk menunjukkan solidaritas kepada Fidel Castro.

Keunikan Di Luar Sepakbola

Mereka juga punya keunikan lain seperti menggabungkan musik dengan sepakbola. Bagaimana caranya? St Pauli mempunyai lagu “kebangsaan” sendiri untuk menghargai perjuangan para pemain di lapangan hijau. Jika Liverpool punya “You Never Walk Alone”, maka St Pauli pakai lagunya AC/DC yang berjudul “Hells Bells”.

Selain itu, setiap ada pemain St Pauli yang mencetak gol, pengeras suara akan memutarkan lagu “Song 2” dari Blur. Beberapa penggemar juga mengenakan atribut ala-ala punk rock saat mendukung tim bertanding. Tak heran apabila kalian melawat ke Millerntor Stadium, terasa seperti menghadiri konser musik.

Menariknya, meski identik dengan ideologi “kiri” dan kultur punk, St Pauli juga punya sisi manis. Mereka menjadi bahan pembicaraan setelah memasang dua sarang lebah di stadion Millerntor dan menghasilkan madunya sendiri. Tindakan itu diharap dapat meningkatkan kepedulian terhadap menurunnya populasi lebah.

Diperkuat Bapak Skena Persepakbolaan

Ngomongin soal kultur punk yang mempengaruhi gaya berbusana fans St Pauli, tampaknya kultur tersebut tak mempengaruhi pemilihan outfit dari pemainnya. Dari sekian pemain, Jackson Irvine jadi yang paling menarik perhatian. Gaya berpakaiannya bahkan disorot oleh berbagai media internasional, tak terkecuali Indonesia.

Di luar lapangan, pemain yang pernah menekel Ivar Jenner itu memiliki daya tariknya tersendiri. Atau istilah jaman sekarang, ‘kalcer’. Dengan pemilihan fashion yang unik tapi keren, ia tidak seperti pesepakbola pada umumnya. Jackson Irvine bahkan lebih terlihat seperti musisi indie, atau mungkin model katalog Erigo.

Dari berbagai outfit pilihannya, ada salah satu genre berpakaian yang melekat padanya. bloke core namanya. Suatu fashion yang menggunakan jersey bola sebagai atasan. Nah, koleksi jersey dari Irvine lah yang bikin para kolektor ngiler. Seperti jersey Australia tahun 70-an, Irlandia tahun 1994, dan St Pauli waktu disponsori oleh Jack Daniels.

Tak heran jika gaya berpakaian Jackson banyak ditiru. Tapi tunggu dulu, sebelum Jackson Irvine terkenal dengan jersey vintage-nya, Indonesia sebetulnya sudah lebih dulu mengenal Fanny Fadillah atau yang dikenal sebagai Ucup dalam sitkom Bajaj Bajuri. Soal koleksi jersey, Ucup tak kalah dengan Irvine.

Dilatih Pelatih Muda

Menariknya lagi, pelatih mereka, Fabian Hurzeler masih berusia 31 tahun saat membawa klub promosi ke Bundesliga. Usia yang sangat muda untuk ukuran seorang pelatih. Dengan begitu, Hurzeler berarti masih lebih muda dari beberapa pemainnya. Ia bahkan seumuran dengan Jackson Irvine.

Memulai kiprah sebagai pelatih di usia muda membuat Fabian dijuluki sebagai Julian Nagelsmann dari Amerika. Meski berkebangsaan Jerman, Fabian lahir di Houston, Texas, Amerika Serikat. Ia sudah melatih sejak masih bermain pada tahun 2016 kemarin. Fabian menjadi pemain sekaligus pelatih di klub Jerman, FC Pipinsried.

Sebelum bekerja di St Pauli, ia berstatus asisten pelatih di Timnas Jerman U-18 dan U-20. Meski sudah bergabung dengan tim kepelatihan St Pauli sejak tahun 2020, ia baru jadi pelatih utama pada Desember 2022. Meski minim pengalaman dan masih sangat muda, para pemain tetap hormat dan patuh pada instruksinya.  

Peran Andreas Bornemann 

Dalam meningkatkan performa St. Pauli, Fabian Hurzeler dibantu Andreas Bornemann sebagai direktur olahraga. Di tengah keterbatasan dana dan sumber daya, Andreas begitu sabar dan jeli dalam membangun tim. Bagi klub yang tak kuat secara finansial, transfer pemain tak ubahnya perjudian. Jika sukses ya syukur, kalau gagal ya ambyar. 

Oleh Andreas, kegagalan itu bisa diminimalisir. Dalam dua musim terakhir, St. Pauli berhasil mendatangkan pemain-pemain yang tepat. Dengan dana yang cekak, Andreas menuntut timnya untuk lebih kreatif dalam mencari pemain baru. Tak heran jika akhirnya muncul pemain-pemain antah berantah macam Scott Banks dari Crystal Palace U-21 atau Elias Saad dari tim divisi keempat Jerman, Eintracht Norderstedt.

Berkat kerjasama yang apik dan dukungan yang militan dari fans, kini St Pauli melenggang ke kasta tertinggi. Namun, mereka masih punya satu laga melawan Wehen Wiesbaden. Jika menang, maka St. Pauli akan menggondol gelar juara 2.Bundesliga untuk kedua kalinya.

Sumber: Sportstar, Sportsmax, Sky Sport, Goal, Fandom, The Flanker

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru