Jika kemarin Starting Eleven Story membahas bagaimana kejeniusan orang-orang Indonesia di sepakbola Italia, kini kita akan membahas kontribusi Indonesia di persepakbolaan negara lain. Selain Italia, pemain dan pengusaha Indonesia juga berkecimpung di sepakbola Inggris. Namun, kita tak akan membahas negara asal The Beatles tersebut.
Yang bakal kita bahas adalah kejeniusan orang Indonesia di sepakbola Belgia. Kalian semua pasti tahu bahwa ada punggawa Timnas Indonesia yakni Marselino Ferdinan, Shayne Pattynama, dan Sandy Walsh yang berkarir di sana. Tapi, apakah kalian tahu kalau ada klub Belgia yang dimiliki oleh pengusaha asal Indonesia?
Daftar Isi
FC Dender
Klub tersebut adalah FCV Dender. Sebelum kita bahas apa kontribusi Indonesia pada Dender, kita akan sedikit berkenalan dengan klub yang memiliki nama lengkap cukup panjang itu. Ya, FC Dender memang memiliki nama lengkap yaitu Football Club Verbroedering Dender Eendracht Hekelgem.
Untuk memudahkan, kita akan menyebutnya FCV Dender saja. Klub bernuansa biru merah ini merupakan klub yang berbasis di Denderleeuw, Flanders Timur, Belgia. Dalam sejarahnya, mereka lebih banyak berkutat di divisi bawah sepakbola Belgia. Jadi wajar apabila FC Dender jarang terdengar.
Adapun cikal bakal dari terbentuknya klub ini adalah ketika klub bernama Verbroedering Denderhoutem berdiri pada 1935. Klub ini bermain di divisi keempat dan kasta lebih bawah lagi hingga tahun 1999. Setelah itu, mereka mulai konsisten bermain di divisi ketiga Belgia. Karena pencapaian itu, Verbroedering Denderhoutem akhirnya merger dengan KFC Denderleeuw Eendracht Hekelgem pada 2005 dan dinamai FCV Dender EH.
Penggabungan dua klub ini menjadi angin segar bagi persepakbolaan Denderleeuw. Dender akhirnya didaftarkan ke asosiasi sepakbola Belgia sehingga statusnya menjadi klub profesional. Tak lama sejak itu, mereka langsung memberikan gebrakan dengan back to back promosi dari Liga 3 Belgia menuju Jupiler Pro League tahun 2006.
Sayang, Dender kalah saing dengan klub-klub lain. Setelah dua musim bertahan di kasta tertinggi, performa mereka menurun dan kembali ke habitat asalnya, yakni kasta bawah Liga Belgia. Dender bahkan terlunta-lunta di kasta ketiga hingga akhirnya bangkit di musim 2021/22.
2018 Jadi Titik Balik
Tahun 2022 jadi tahun terakhir FCV Dender berkiprah di kasta ketiga. Dender berhak promosi ke kasta kedua Belgia sebagai juara kasta ketiga musim 2021/22. Ternyata itu adalah buah dari perombakan besar-besaran yang dilakukan FCV Dender pada tahun 2018. Ya, di tahun itu terjadi pergantian kepemilikan. Menariknya, sosok yang membeli saham Dender adalah orang Indonesia.
Pada musim 2017/18, datang seorang pengusaha sawit asal Medan bernama Sihar Sitorus. Pria yang kini berusia 55 tahun itu membeli saham FCV Dender dengan nilai kontrak yang tidak disebutkan. Namun, kabarnya pria yang juga aktif sebagai politikus itu membelinya dengan harga yang cukup murah untuk sebuah klub sepakbola. Itu wajar, mengingat saat itu FCV Dender masih berkutat di Liga 3 Belgia.
Tapi, seberapa kaya sih Sihar Sitorus ini? Sebagai anggota DPR RI periode 2019-2024 dan pernah menjadi juru kampanye nasional Joko Widodo pada Pilpres 2014 silam, kabarnya kekayaan Sihar Sitorus mencapai lebih dari Rp350 miliar. Jumlah kekayaan Sihar juga berasal dari perkebunan sawit yang sangat luas dan yayasan pendidikan.
Kader PDIP tersebut tidak main-main dalam bisnis sepakbola. Sihar Sitorus membeli FCV Dender bukan karena hobi saja. Melainkan benar-benar ingin mencetak sejarah di persepakbolaan Belgia. Maka dari itu, Sihar mulai memperbaiki masalah yang ada. Dari infrastruktur, keuangan, hingga manajemen semuanya begitu diperhatikan olehnya.
Tak lama setelah mengakuisisi FCV Dender, Sihar Sitorus menunjuk mantan marketing manager PT Liga Prima Indonesia dan operator liga dari Liga Primer Indonesia, Belinda Siahaan, untuk menjadi CEO klub. Di tangan Belinda, perlahan namun pasti, Dender mulai stabil. Entah itu secara finansial, maupun performa tim.
Setelah Sihar Sitorus
Meningkatkan kualitas dan mutu tim tentu tak dicapai selama sehari atau dua hari saja. Setidaknya butuh dua tahun untuk membuktikannya. Nah, di situlah kejeniusan dan dedikasi Sihar Sitorus dicurahkan. Ia tak digelapkan oleh keuntungan hasil penjualan merchandise atau tiket penonton. Ia juga nggak gembar-gembor di Indonesia kalau punya klub bola di Belgia.
Sihar Sitorus justru berfokus pada pembinaan usia muda. Bukan cuma untuk meminimalisir dana belanja pemain, pembinaan usia muda yang baik juga diharapkan bisa menjadi wadah bagi pemain-pemain muda dari Indonesia untuk mengasah skill di Belgia. Melalui program From North Sumatra to Belgium, Sihar Sitorus akhirnya memberangkatkan Arvin Anand Sorma, Dede Achriansyah, dan Hagi Abdillah yang kala itu masih berusia 17 tahun ke Belgia.
Sayangnya, ketiga pemain itu entah ke mana sekarang. Setelah proyek itu dirasa gagal, Sihar Sitorus mulai jarang memberikan kesempatan pada pemain lokal lagi. Ia lebih fokus kepada membangun reputasi FCV Dender baik di Belgia maupun Eropa.
Setelah promosi ke kasta kedua pada tahun 2022, pengembangan tim terus berjalan secara terstruktur. Materi pemain dan kursi kepelatihan juga tak luput dari perhatian manajemen klub. Hasilnya? Sangat memuaskan. Setelah dua musim berada di Divisi Kedua Liga Belgia, musim 2023/24 FCV Dender kembali menembus kasta tertinggi setelah finis di urutan kedua di bawah Beerschot.
Pencapaian ini adalah perkembangan progresif dari musim lalu saat FCV Dender harus puas berada di posisi 10 dan harus melalui fase play-off relegasi. Pelatih anyar, Timmy Simons dipercaya jadi kunci dari kenaikan performa mereka. Bersama Simons yang baru bergabung pada Februari 2023, Dender disulap jadi tim yang bermental menyerang.
Itu dibuktikan dengan statusnya sebagai tim paling produktif di kasta kedua Liga Belgia dengan catatan 55 gol. Bruny Nsimba jadi pemain tergacor dengan 14 golnya. Bahkan, menurut data yang disampaikan Total Football Analysis, Dender adalah tim ketiga dengan jumlah tembakan ke gawang terbanyak serta tim kelima dengan jumlah crossing tertinggi.
Di tangan Sihar Sitorus, FCV Dender seketika menjelma jadi tim yang memiliki tujuan hidup. Mereka adalah sebuah fenomena yang tak diduga di Challenger Pro League musim ini. Tim biasa-biasa saja yang lebih sering berkutat di divisi bawah ini justru yang mencuri tiket ke Liga Pro Belgia musim depan.
Kentalnya Aroma Indonesia di Liga Belgia
Lucunya, dalam perebutan peringkat dua Challenger Pro League, tim Sihar Sitorus mengalahkan KMSK Deinze, klub yang juga beraroma Indonesia lantaran diperkuat Marselino Ferdinan. Nah, ngomong-ngomong soal Marceng, FCV Dender kini mulai dikaitkan dengan pemain tim nasional Indonesia tersebut.
Setelah mengamankan satu tiket ke kasta tertinggi Belgia, Dender berambisi untuk memboyong Marselino sekalian. Di Jupiler League, Sihar Sitorus dikabarkan ingin memberikan kesempatan yang lebih besar kepada talenta besar seperti Marselino. Toh, kontraknya bersama Deinze akan berakhir Juli mendatang.
Seperti yang diwartakan oleh Suara.com, dengan tidak jelasnya status perpanjangan kontrak dari KMSK Deinze untuk Marselino Ferdinan, membuat sang pemain sudah berstatus bebas transfer pasca Piala Asia U-23. Namun, belum ada pemberitaan lebih lanjut terkait transfer ini. Namun, jika berdasarkan situs Transfermarkt, probabilitas transfernya masih berada di angka 40%.
Meski belum pasti, jika pada akhirnya Dender benar-benar mendatangkan Marselino, maka aroma Indonesia begitu kental di Liga Belgia musim depan. Selain ada FCV Dender dan Marselino, di kasta tertinggi sudah ada Sandy Walsh yang memperkuat KV Mechelen. Mereka akan jadi wakil Indonesia yang disejajarkan dengan nama-nama besar lain di sepakbola Belgia. Duh, gimana nggak bangga sama Tanah Air tercintaku ini.
https://youtu.be/TCObK645XFM
Sumber: Total Football Analyst, Suara, Bola Nusantara, Bola


