Nenek moyang kita pasti tidak asal-asalan dalam membuat peribahasa. Pemikiran matang nan dewasa, serta pengalaman hidup jadi dasar landasannya untuk meramu sebuah peribahasa yang sarat akan makna.
Seperti peribahasa “panas setahun, dihapuskan hujan sehari”, yang artinya segala kebaikan terhapus hanya karena sedikit kesalahan.
Peribahasa yang mengandung makna nasihat sekaligus sindirin tersebut kini terdengar pas untuk menggambarkan reaksi sebagian suporter bola Indonesia terhadap hasil yang diperoleh timnas Indonesia di Piala Asia U-23.
Seperti yang kita tahu, pil pahit harus ditelan Justin Hubner dan kawan-kawan. Usai kandas di tangan Uzbekistan di babak semifinal, Garuda Muda gagal mengalahkan Irak di perebutan tempat ketiga. Hasil itupun membuat peluang timnas lolos ke Olimpiade Paris 2024 semakin menipis.
Timnas Kalah, Justin Hubner dan Marselino Di-Bully
Kekalahan 1-2 atas Irak ternyata bertuntut panjang. Reaksi negatif hadir dari sebagian kalangan pencinta sepak bola Indonesia yang kecawa. Bukannya menghibur atau memberi apresiasi, sebagian fans yang bersumbu pendek tersebut justru malah mem-bully penggawa timnas U-23.
Justin Hubner dan Marselino Ferdinan jadi dua pemain yang paling banyak menerima serangan bully di media sosial. Hubner jadi korban hujatan netizen usai dianggap bersalah dan melakukan blunder fatal yang mengakibatkan terciptanya gol Ali Jassim di babak extra time.
Sementara itu, bully yang diterima Marselino Ferdinan di akun instagram-nya jauh lebih parah. Ketikan jahat netizen banyak ditemukan setelah pemain kelahiran 2004 itu dianggap bermain terlalu egois dalam laga melawan Irak.
Marselino: “Sengaja tak buka komenku biar ngga nyebar kemana-mana, ternyata sama saja”
Ngga hanya di ig Marselino Ferdinan, netizen juga menyerang ig KMSK Deinze.
Ingat ya tujuan kritik itu agar si pemain kedepannya bisa lebih baik lagi. Kalo dilihat dari komen-komennya kok… pic.twitter.com/HsyY8GXhgz
— Berita Sepakbola Dunia (@gilabola_ina) May 5, 2024
Marselino sendiri sempat merespon hujatan tersebut. Namun, bukannya mereda atau membuat para penghujat tersebut sadar diri, hate speech dan bully yang dilontarkan kepada Marselino justru makin deras.
Ironisnya, hujatan tersebut kini telah merambah ke pihak yang seharusnya tidak dilibatkan dalam masalah konyol ini. Netizen nirakhlak yang tak tahu terima kasih itu kini juga menyerbu akun instagram klub Marselino di Belgia, KMSK Deinze. Sungguh memalukan, bukan?
Menanggapi hal tersebut, Marselino mengaku tidak nyaman dan ingin menangis. Ia berkata bahwa keputusannya untuk tetap membuka kolom komentar instagram-nya adalah agar serangan netizen Indonesia bisa terfokus ke dirinya saja dan tidak menyebar ke mana-mana. Akan tetapi, ternyata langkah tersebut tidak mempan dan komentar jahat tetap deras mengalir ke pihak yang tidak seharusnya terlibat.
Wajar jika kini seorang Marselino Ferdinan ingin menangis. Bayangkan beban seperti apa yang kini ia rasakan. Apa yang diterima Justin Hubner dan Marselino Ferdinan sendiri sudah bukan sebuah kritik, melainkan hate speech dan pem-bully-an.
Sebagian suporter kita lupa kalau para penggawa timnas yang berlaga di Piala Asia U-23 masih berusia sangat muda. Masa depan mereka masihlah panjang. Dan, sangat wajar apabila dalam perjalanannya pasti banyak menerima rintangan dan membuat kesalahan. Justru, hal itulah yang bakal membuat mereka makin matang dan memiliki masa depan cerah.
Mereka mungkin juga tak tahu kalau ini adalah keikutsertaan perdana timnas kita di Piala Asia U-23. Dan, sebagai tim debutan, Timnas Indonesia langsung berhasil finish di empat besar.
Para pem-bully tersebut juga harusnya malu dan gigit jari, sebab pemain yang mereka bully justru mendapat pujian dari pelatih kelas dunia. Dalam unggahan IG Hamdan Hamedan, Tenaga Ahli Bidang Diaspora dan Kepemudaan Kemenpora RI pada 5 Mei kemarin, terungkap ada 4 pemain timnas yang mencuri perhatian Roberto Mancini dan asistennya, Fausto Salsano. Kebetulan mereka berjumpa ketika timnas bertanding melawan Irak.
Dalam sebuah catatan tangan, 4 pemain Indonesia yang dianggap menonjol di laga tersebut adalah Marselino Ferdinan, Ivar Jenner, Justin Hubner, dan Nathan Tjoe-A-On. Adapun perbedaan font pada tulisan tangan tersebut juga sudah diklarifikasi oleh Hamdan Hamedan bahwa nama Marselino ditulis langsung oleh Salsano, sedangkan ketiga lainnya ditulis oleh Hamedan atas permintaan Salsano.
🇮🇩✨ Head Coach & Technical Coach Arab Saudi, Roberto Mancini & Fausto Salsano hadir di pertandingan Indonesia U-23 vs Irak U-23.
Pemain Indonesia U-23 paling menonjol menurut mereka:
• Marselino Ferdinan
• Justin Hubner
• Ivar Jenner
• Nathan Tjoe-A-On📝IG Hamdan.Hamedan pic.twitter.com/o6p5DyF78T
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) May 5, 2024
Sehari sebelum Hamedan mengunggah catatan tangan tersebut, tactical assistant Roberto Mancini di timnas Arab Saudi, Antonio Gagliardi melalui akun X-nya ternyata sudah lebih dulu menyebut nama Marselino Ferdinan sebagai salah satu MVP personalnya di ajang Piala Asia U-23.
Nice and interesting experience in Doha to follow the Asian Cup u23.
My personal MVP of the event, in addition to the Saudi players I already knew:M.Ferdinan 2004 from Indonesia
J.C.Fujita 2002 from Japan
A.Jassim 2004 from Iraq pic.twitter.com/QdlpU58BBZ— Antonio Gagliardi (@toni_Gagliardi) May 4, 2024
Selain itu, netizen nirakhlak yang melakukan pem-bully-an itu juga mungkin lupa atau bahkan buta dan tuli. Sebelum memulangkang Korea Selatan di babak perempat final, siapa yang berani bermimpi untuk lolos ke Olimpiade Paris 2024?
Terlepas dari foto viral Ernando Ari yang sudah lama bercita-cita ke Olimpiade 2024, hanya Shin Tae-yong seorang yang di Piala Asia U-23 kemarin punya target lolos hingga fase semifinal. Target yang dipatok PSSI sendiri hanyalah lolos hingga fase perempat final.
Lalu, ketika mimpi yang pada awalnya tidak ada tersebut nyaris sirna, mengapa kini justru berbalik mem-bully para pemain yang sudah melampaui targetnya?
Maka, benar sudah peribahasa “panas setahun, dihapuskan hujan sehari”. Hanya gara-gara kalah dari Irak, perjuangan heroik para pemain timnas justru berbuah cacian. Ketimbang cacian, perjuangan timnas di Piala Asia U-23 justru jauh lebih layak untuk dipuji. Ketimbang pecundang, mereka lebih pantas disebut pahlawan.
Kritik sah-sah saja dilontarkan. Namun, tidak dibenarkan ketika sudah terselip bully di dalamnya. Memang, permainan dan performa anak asuh Shin Tae-yong perlu dievaluasi. Namun, selain para pemain, kita para suporter juga wajib mengevaluasi diri kita sendiri.
Sudahkah kita menjadi suporter yang baik? Sudahkah kita mendukung dan mendoakan timnas kita dengan tulus dan ikhlas? Bukankah bully yang timbul adalah buah dari kesalahan kita yang terlalu bereuforia dan besar kepala?
Seperti kata Justin Hubner, “Kamu bukan suporter sejati jika kamu membenci pemain tim nasional kamu sendiri”.
🇮🇩🗣️Instagram Story Exclusive Justin Hubner:
“Kamu bukan pendukung sejati jika kamu membenci pemain tim nasionalmu sendiri.🤬🇮🇩”
Well Said by the Captain!✨🤝 pic.twitter.com/MN2gPDqcPt
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) May 3, 2024
Move On! Perjuangan Timnas Belum Usai
Kini, kita semua mesti move on dari kekalahan menyakitkan atas Irak. Pasalnya, meski hanya finish di peringkat empat Piala Asia U-23, tetapi perjuangan Timnas Indonesia menuju Olimpiade 2024 belumlah usai.
Ya, meski menipis, peluang timnas lolos ke Paris 2024 belum sirna sepenuhnya. Garuda Muda masih punya 1 peluang tersisa di laga playoff melawan wakil Afrika, Guinea.
Sayangnya, kami melihat dukungan terhadap timnas justru makin menipis usai takluk dari Uzbekistan dan Irak. Padahal, timnas kita justru butuh lebih banyak dukungan, doa, dan motivasi ketimbang saat melawan Uzbekistan ataupun Irak. Sebab, laga melawan Guinea yang bakal digelar di Clairefontaine pada Kamis besok tersebut, adalah laga hidup dan mati bagi kedua negara untuk memperebutkan satu tiket tersisa menuju Olimpiade Paris 2024.
Sebagai lawan, Guinea juga siap menghadirkan tantangan berat. Negara berperingkat 76 dunia tersebut punya postur tubuh, kekuatan fisik, dan gaya bermain yang sangat berbeda dibanding lawan-lawan Indonesia di zona Asia. Selain itu, Kaba Diawara, pelatih Guinea juga sudah terang-terangan berkata kalau ia dan timnya menatap laga ini dengan sangat serius.
Guinea sendiri punya kemiripan dengan Indonesia. Mereka juga merupakan debutan di Piala Afrika U-23 dan langsung berhasil keluar sebagai peringkat 4. Selain itu, Guinea juga dihuni oleh banyak pemain yang bermain di Eropa. Sama seperti Indonesia yang juga mengusahakan agar para pemain yang berkarier di luar negeri bisa ikut bermain, Guinea juga melakukan langkah serupa.
Hasilnya, dari 19 pemain yang sudah mulai berlatih di Prancis, Guinea sudah dipastikan bakal diperkuat oleh 13 pemain yang berkarier di Eropa. Dan, diantara 13 pemain tersebut, 4 di antaranya sudah rutin mentas bersama timnas Senior. Mereka adalah Ibrahim Diakite, Facinet Conte, Saidou Sow, dan lulusan La Masia yang kini bermain untuk Getafe, Ilaix Moriba.
🇬🇳 Guinea U23 memanggil 4 pemain untuk menambah kekuatan di pertandingan Play-off Olimpiade Paris 2024 melawan 🇮🇩 Indonesia U23.
• Ilaix Moriba (21/MF) – Getafe
• Saidou Sow (21/DF) – Strasbourg
• Facinet Conte (19/CF) – SC Bastia
• Ibrahim Diakite (20/DF) – Stade-Lausanne… pic.twitter.com/y4PiQfVCIf— Berita Sepakbola Dunia (@gilabola_ina) May 6, 2024
Melihat betapa seriusnya Guinea, Timnas Indonesia jelas akan mendapat rintangan terjal untuk mewujudkan mimpinya lolos ke Olimpiade 2024. Jadi, jangan ada lagi bully. Sungguh sangat disayangkan dan sangat memalukan jika masih ada pihak yang menghujat para pemain timnas. Sebaliknya, timnas kita kini tengah butuh dukungan, doa, dan motivasi yang amat banyak menjelang laga kontra Guinea.
Dan, perlu kita sadari bersama, bahwa di bawah polesan Shin Tae-yong, timnas kita sedang berproses. Ingat, tidak ada yang instan dalam sebuah perjuangan. Jadi jangan bebani mereka dengan ekspektasi yang terlampaui berat. Apapun hasilnya nanti, perjuangan Garuda Muda wajib kita apresiasi!


