Hubungan Serie A dan striker Argentina telah lama bersemi. Layaknya kisah romansa, fenomena hubungan mesra keduanya masih terwariskan hingga era sekarang. Munculnya striker ngeri dari negeri Tango di sepakbola Italia bak sebuah hal yang sudah lazim. Nah, berikut ini adalah bomber-bomber mengerikan Argentina yang pernah bersemi di Serie A.
Daftar Isi
Diego Maradona
Arsip hubungan Serie A dengan penyerang Argentina bisa dilacak dengan mudah. Hadirnya dua penyerang Argentina yakni Antonio Valentin Angelillo ke Inter Milan pada 1957 dan Pedro Manfredini dua tahun setelahnya menjadi awal yang indah dari hubungan ini. Bukan sekadar pemain dari Argentina, namun keduanya sama-sama jadi bintang dan sempat merasakan status sebagai Capocannoniere atau top skor Serie A.
#FCIM #ASRoma and #ACMilan legend Antonio Valentin Angelillo has died at the age of 80 https://t.co/8Op4TyrO3L #Italy #Argentina #SerieA pic.twitter.com/F7WX1ikt83
— Football Italia (@footballitalia) January 6, 2018
Ya, sejak saat itu publik Italia mulai jatuh cinta pada striker Argentina. Bukan hanya soal jumlah golnya saja, namun hubungan yang baik dengan fans, kesetiaan, serta daya juangnya menjadi faktor lain.
Berlanjut di era 80-an. Aroma striker negeri Tango di Serie A kembali semakin harum dengan kemunculan Diego Armando Maradona di Napoli pada 1984. Ya, transfer Maradona dari Barcelona ini terbilang mengejutkan. Mengingat Napoli saat itu adalah klub kere.
Namun kedatangan Maradona mampu membawa banyak perubahan bagi Partenopei. Klub Kota Naples itu tak lagi diremehkan. Napoli berkembang menjadi tim yang selalu memburu gelar tiap musimnya.
Maradona sempat meraih gelar Capocannoniere pada musim 1988/89. Ia juga menginspirasi dunia dengan membawa Napoli meraih scudetto. Kecintaan publik Naples pun makin menggila. Sebuah surat kabar lokal di Napoli pernah dengan bangga mengatakan, “Kita mungkin tidak memiliki rumah, sekolah, maupun pekerjaan. Tetapi semua itu tidak penting karena kita memiliki Maradona.”
Second episode in our "#SerieA Epic Seasons" journey
— The Cult of Calcio (@cultofcalcio) March 1, 2024
Today, @NargizAyaz takes us back to the glorious days of #Maradona and the first #SSCNapoli Scudetto in 1986/87! 🔵⚪️https://t.co/lKuBUkNsZZ
Kecintaan terhadap striker Argentina kemudian menular di klub Serie A lainya. Sejak era 90-an awal, klub-klub seperti Fiorentina, Parma, Roma, dan Udinese rela blusukan ke Buenos Aires, Rosario, maupun La Plata demi mendapatkan permata striker Argentina seperti Maradona.
Gabriel Batistuta
Mengikuti jejak kesuksesan Maradona, muncul pemain seperti Gabriel Batistuta yang membela Fiorentina. Batistuta awalnya tiba di Italia sebagai pemain muda yang kesulitan mencetak gol di klub asalnya, Boca Junior.
Uniknya pemandu bakat Fiorentina kesengsem talenta Batistuta bukan dari penampilannya di klub, melainkan performanya yang gemilang bersama timnas La Albiceleste di Copa America tahun 1991.
Selain dikenal sebagai striker yang menakutkan di Fiorentina, Batistuta juga dikenal sebagai pemain yang setia. Bayangkan, ketika La Viola degradasi di tahun 1993, striker Argentina itu tetap bertahan.
Gabriel Batistuta celebrates scoring for Fiorentina. pic.twitter.com/UW7sivHqpB
— 90s Football (@90sfootball) February 26, 2024
Selama sembilan musim Batistuta menjadi dewa bagi Fiorentina dengan sumbangan golnya. Sampai-sampai ia dijuluki sebagai “Batigol”. Batigol juga sudah mampu mempersembahkan gelar bagi La Viola yakni Coppa Italia dan Supercoppa tahun 1996.
Pemujaan kepada Batistuta bagi fans Fiorentina bak menyembah berhala. Tahun 2014, peresmian patung Batigol di luar stadion Artemio Franchi menjadi bukti nyata kegilaan fans Fiorentina. Oh iya, yang juga tak boleh dilupakan dari Batigol adalah ketika ia pindah ke AS Roma. Roma akhirnya bisa meraih gelar scudetto di tahun 2001.
💛❤️ As Roma Scudetto Strikeforce. Batistuta, Montella, Totti in 2001 🇮🇹#footballmemories #roma #asroma #asroma1927 #asr #giallorossi #cafu #totti #batistuta #aldair #nakata #montella #capello #seriea #serieatim #serieaoperazionenostalgia #machenesanno #forzaroma #dajeroma pic.twitter.com/ta8LwmCkTN
— Football Memories (@FM_Twittah) February 7, 2019
Hernan Crespo
Saat Batistuta membuat geger Serie A bersama Fiorentina, klub seperti Parma mencuri perhatian dengan mengimpor calon Batistuta baru yakni Hernan Crespo. Mirip dengan Batigol, Crespo hijrah ke Eropa meski hanya mencetak sedikit gol di Liga Argentina bersama River Plate. Parma justru mantap mendatangkan Crespo berkat penampilan luar biasanya di Olimpiade 1996 bersama Timnas Argentina.
Awal kecintaan publik Serie A pada Crespo adalah penampilannya yang cemerlang ketika diduetkan dengan Enrico Chiesa oleh Carlo Ancelotti di tahun 1996. Ancelotti percaya Crespo bakal jadi superstar masa depan bagi Parma.
Namun puncak kegacoran Crespo di Parma justru terjadi setelah Ancelotti pergi. Crespo berhasil mengantarkan Parma meraih gelar ganda di tahun 1999 yakni Coppa Italia dan Piala UEFA.
Happy birthday, Parma hero & 1999 UEFA Cup winner Hernán Crespo! 🎉🎁🎂🏆 pic.twitter.com/mvAl8XZCtm
— UEFA Europa League (@EuropaLeague) July 5, 2017
Crespo adalah striker yang laku keras di Serie A. Maka dari itu, ia pernah membela banyak klub selama di Italia yakni Parma, Lazio, Inter, maupun Milan. Bahkan ketika pindah ke Lazio tahun 2000, ia menciptakan rekor sebagai pemain termahal dunia saat itu dengan nilai transfer 35 juta euro.
Diego Milito
Ketika Jose Mourinho menangani Inter Milan, ia kepincut striker Argentina bernama Diego Milito. Namun, ia tak mau membelinya langsung karena masih ingin melihat perkembanganya di Genoa.
Maklum, Milito baru datang ke Genoa dari klub Real Zaragoza yang terdegradasi dari La Liga. Nah, setelah pemain yang mirip Rambo itu terbukti gacor di Genoa, Mourinho langsung gerak cepat mengamankan tanda tanganya di Inter.
Keputusan Mou merekrut Milito ternyata tepat. Meskipun tak sempat menjadi Capocannoniere, namun sumbangsih dua golnya yang melegenda ketika melawan Munchen di Final Liga Champions 2010, membuatnya sah menjadi salah satu legenda hidup La Beneamata. Namanya hingga kini masih terpatri di lubuk hati paling dalam para fans Internazionale. Gelar treble winner di musim debut Milito masih menjadi kesan manis yang sulit dilupakan.
🎊⚽️🇦🇷 Hoy llega a sus 41 años el ex-delantero argentino DIEGO MILITO actual Director Deportivo de @RacingClub
— Pizarrón Deportivo (@PDCanalDoce) June 12, 2020
👕 Racing Club, Genoa, Zaragoza, Inter de Milán
📅 12 de Junio de 1979
🏆x2 Liga Argentina
🏆x1 Champions League
🏆x1 Serie A
🏆x1 Mundial de Clubes
🎊⚽️🇦🇷 pic.twitter.com/EL91upDGMl
Tevez dan Higuain
Pasca kegacoran Milito, tahun 2013 muncul lagi dua striker jagoan dari Argentina di Serie A seperti Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain. Tevez pindah dari City ke Juventus, sedangkan Higuain pindah dari Real Madrid ke Napoli.
Pencapaian sensasional Tevez di Juventus terlihat di zaman pelatih Max Allegri. Pemain berjuluk El Apache itu mampu membawa Bianconeri masuk lagi ke final Liga Champions pada tahun 2015. Maklum, terakhir kali Juve ke Final Liga Champions itu tahun 2003. Meskipun kalah dari Barcelona, performa Tevez bagi Si Nyonya Tua patut untuk diapresiasi publik Turin.
Tevez allows Juventus to dream of a Champions League finalhttp://t.co/LHHwVGE6lw pic.twitter.com/RAFyO8l4bL
— BOXSCORE (@BoxscoreWorldSp) May 6, 2015
Yang fantastis berikutnya adalah catatan gol dari Higuain di Napoli. Ya, Higuain sepertinya ingin menyamai pencapaian Maradona. Meskipun belum bisa meraih scudetto seperti Maradona, namun setidaknya pemain berjuluk El Pipita ini pada musim 2015/16 mampu menciptakan rekor dengan 36 gol. Sebuah rekor gol dalam satu musim yang belum pernah terjadi di Napoli bahkan Serie A ketika itu. Maradona pun tak bisa melakukannya.
Gonzalo Higuain's league record for Napoli in 2015-16 🔥
— The Athletic | Football (@TheAthleticFC) October 3, 2022
His goal tally equaled Gino Rossetti's record set in 1928–29. pic.twitter.com/NANEF1JUXU
Icardi dan Dybala
Kekaguman pada striker Argentina makin bersemi di Serie A. Termasuk munculnya talenta muda seperti Mauro Icardi maupun Paulo Dybala.
Icardi lebih dulu mencuri perhatian publik Serie A ketika menjadi milik Inter Milan di tahun 2013. Mantan alumni La Masia ini datang ketika Inter dimiliki Erick Thohir. Publik La Beneamata ingin Icardi menjadi mesin gol baru sepeninggal Diego Milito. Terbukti, di musim 2014/15 Icardi langsung menjadi Capocannoniere dengan 22 gol.
Tak cukup sekali ia jadi top skor Serie A. Di musim 2017/18, Icardi melakukannya lagi. Ya, Icardi bisa dikatakan adalah permata yang bersinar di tengah periode Nerazzurri yang tak lagi gemilang secara gelar.
🇮🇹 The last three Inter Milan players to score 25 goals in a single Serie A season…
— The Sportsman (@TheSportsman) April 17, 2018
– Ronaldo: 97/98
– Ibrahimovic: 08/09
– Icardi: 17/18
Mauro Icardi's best scoring season! 💪#ForzaInter pic.twitter.com/X0HFtsyE52
Sedangkan Dybala muncul sebagai idola baru Serie A di tahun 2015 ketika pindah dari Palermo ke Juventus. Penampilannya yang unik sebagai striker pendek yang skillfull telah terlihat sejak ia tumbuh di klub berjersey pink itu.
Selama di Turin, pemain berjuluk La Joya itu terbukti menjadi bagian penting Si Nyonya Tua meraih berapa gelar scudetto hingga tahun 2020. Kecintaan terhadap Dybala pun masih berlanjut di Serie A ketika ia bergabung dengan AS Roma.
Dybala’s career at Juventus should end with him lifting the Scudetto trophy. pic.twitter.com/SYpmS3ntdc
— Jjuli (@jjuli_007) March 21, 2022
Lautaro Martinez
Muncul lagi striker Argentina yang baru dibeli Inter Milan dari klub Argentina Racing Club, Lautaro Martinez. Pemain berjuluk El Toro ini sempat lho menjadi duet ujung tombak Nerazzurri bersama Icardi.
Meskipun hanya semusim bersama Icardi, ia telah banyak belajar banyak dari seniornya itu, termasuk adaptasinya di Serie A. Setelah Icardi pergi, barulah Lautaro jadi idola baru Inter Milan. Bersama Conte, El Toro dengan kecepatannya disulap menjadi striker mematikan bersama striker besar Romelu Lukaku. Gelar scudetto Inter yang hilang sejak 2010, akhirnya kembali bisa diraih di zamannya.
Pun sejak di bawah gemblengan Simone Inzaghi, El Toro masih saja gacor. Ingat, musim lalu Lautaro menjadi bagian penting ketika Inter masuk Final Liga Champions lagi. Selain kegacorannya di lapangan, kesetiaan El Toro kepada La Beneamata makin membuat fans menggandrunginya. Tawaran uang segepok dari beberapa klub nyatanya tak membuat El Toro goyah. Buktinya ia tetap bertahan dan sangat cinta pada Inter hingga saat ini.
🇦🇷 Lautaro Martinez: The road to Ballon d'or.. 🏆
— Nerazzurri Society (@nerazzurriSoci_) March 5, 2024
• 26 Goals ⚽
• 3 Assists 🎯
• 10 MOTM 🌟
• 1 POTM 🌟
Supercoppa Italiana ✅
Serie A ⏳
Champions League ⏳ pic.twitter.com/fcT1RxNEXB
Sumber Referensi : thesefootballtimes, colossusbet, transfermarkt, thesefootballtimes, footballitalia, transfermark


