Simone Inzaghi yang Hidup dalam Penghinaan

spot_img

Pernahkah anda merasakan rasanya diremehkan seseorang? Bagi yang baperan, pasti akan merasa sakit hati bahkan marah. Namun, hal itu tak berlaku bagi Simone Inzaghi.

Pelatih Inter Milan ini sepanjang kariernya kerap diremehkan. Ia tak sekarismatik Jose Mourinho yang pernah sukses melatih Inter. Simone dulu sebagai pemain juga bukannya yang jago-jago amat. Namun, orang yang dulu diremehkan itu, kini mulai bangkit dan menyumpal mulut siapa pun yang pernah meremehkannya.

Bayang-Bayang Kakaknya

Simone adalah pemain yang pernah membela Lazio di era 2000-an awal. Ia menjadi bagian dari skuad Biancoceleste meraih Scudetto di tahun 2000. Meskipun terbukti gacor di bawah Sven-Goran Eriksson, ia tetap jauh dari spotlight media.

Saat itu media lebih mengekspos kegacoran kakaknya, Filippo Inzaghi di Juventus. Maklum, nama “Pippo” Inzaghi lebih dulu harum di sepakbola Italia ketimbang adiknya. Berusia selisih tiga tahun dengan Simone, Pippo sudah gacor terlebih dahulu di La Vecchia Signora ketika Simone masih menjadi pemain Piacenza.

Suatu saat Simone bahkan pernah diremehkan oleh kakaknya sendiri. Hal itu terjadi ketika laga Juventus melawan Piacenza di Serie A tahun 1998. Itulah perjumpaan pertama kali mereka di Serie A.

Jelang laga, sang kakak mengatakan bahwa sebagai pemain yang baru merasakan atmosfer Serie A, sebaiknya harus banyak belajar dulu dan jangan terlalu ambisius. Memang terbukti hasilnya. Simone masih butuh banyak belajar. Ketika itu ia diajari kakaknya cara mencetak gol. Gol Filippo Inzaghi di laga tersebut membuat Simone makin tahu diri.

Bagi Simone, tak mudah berada di bawah bayang-bayang kakaknya. Apalagi kalau ia terus dibanding-bandingkan dengan performa kakaknya. Kebayang nggak sih, perasaan Simone pada masa-masa itu? Jangan-jangan ketika acara kumpul keluarga, Simone terus disinggung,“Tuh, kakakmu sekarang sudah sukses, kamu kok masih gini-gini saja?”

Ya, memang kenyataanya dari segi karier dan prestasi Simone harus mengakui kalah segalanya dari sang kakak. Misalnya saja, Simone belum merasakan indahnya meraih gelar Liga Champions maupun Piala Dunia seperti kakaknya.

Berproses

Namun apalah artinya bergelimang gelar namun tidak bisa belajar dan menyerap ilmu dari sepakbola itu sendiri. Meski tak banyak gelar seperti kakaknya, Simone sejak jadi pemain termasuk kategori pemain yang cerdas dan kritis. Ia banyak belajar ilmu sepakbola dari mentornya Sven-Goran Eriksson.

Hal itu diakui oleh temannya dulu di Lazio, Giuseppe Pancaro. Simone adalah pemain yang suka mempelajari taktik. Terkadang Simone juga sering konsultasi taktik terkait posisinya di lapangan secara khusus kepada Sven-Goran. Hal itulah yang membuatnya dipercaya akan menjadi calon pelatih hebat di masa depan.

Benar saja, Simone setelah pensiun sebagai pemain langsung memilih jalan untuk berproses menjadi pelatih. Ia memulai kariernya jadi pelatih akademi Lazio di tahun 2010. Dari level U-17 hingga U-19 Lazio, sudah ia tangani. Sampai akhirnya ia ditunjuk menjadi pelatih tim senior di tahun 2016 setelah Stefano Pioli dipecat.

Enam tahun Simone berproses. Namun, ia masih saja diremehkan. Simone banyak dianggap akan gagal seperti halnya sang kakak. Simone dianggap akan mengikuti jejak Filippo Inzaghi yang sudah terlebih dahulu gagal total menjadi pelatih AC Milan di tahun 2014.

Apalagi kondisi Lazio ketika ditangani Simone hanyalah tim medioker biasa. Ketika Simone jadi pelatih, Lazio juga masih dalam keadaan kesulitan keuangan.

Masih Saja Diremehkan

Tapi itu semua tak jadi halangan bagi Simone. Ia sudah tahan mental. Lima tahun membawa Lazio mengejutkan secara prestasi di tengah krisis keuangan, harusnya bisa membuktikan bahwa ia tak layak diremehkan.

Kalau soal karier menjadi pelatih, jangan bandingkan lagi Simone dengan kakaknya. Roda kehidupan itu kini telah berputar. Karier Simone sebagai pelatih ternyata lebih baik daripada Filippo.

Filippo justru hanya jadi pelatih klub-klub semenjana Italia. Sedangkan adiknya yang dulu selalu diremehkan itu, justru naik level ketika ditunjuk sebagai pelatih Inter Milan menggantikan Conte. Namun, melatih Inter bukan perkara mudah. Simone setidaknya wajib menyamai pencapaian Conte untuk meraih gelar Serie A.

Dan gelar itulah yang gagal ia dapatkan. Di musim pertamanya, Simone dikangkangi AC Milan. Scudetto raib. Meski meraih gelar Coppa Italia dan Supercoppa Italia di musim pertamanya, fans La Beneamata tetap mencibir Simone Inzaghi.

Bahkan #SimoneInzaghiOut pun sempat menggema di awal kepemimpinannya di Inter. Tekanan demi tekanan pun menghinggapinya. Namun, dasar mental baja, Simone Inzaghi tetap jalan terus.

Liga Champions

Inter memang belum dibawanya juara Serie A. Akan tetapi ia membawa Inter melaju hingga ke final Liga Champions musim lalu. Pencapaian yang bahkan tidak pernah bisa dilakukan La Beneamata dalam lebih dari sedekade. Namun, Simone Inzaghi sepertinya sudah kadung tenggelam dalam lautan kehinaan.

Membawa Inter ke final Liga Champions setelah 13 tahun tak melakukannya pun, ia tetap diejek. Banyak orang bilang bahwa Inter bisa ke final karena beruntung. Pasukan Simone Inzaghi bisa sampai ke final karena musuh yang dihadapi levelnya jauh di bawah mereka. Padahal untuk melangkah ke final pun mereka harus berduel dengan AC Milan, rival bebuyutan mereka sendiri.

Belum berhenti sampai di sana. Ketika tahu musuh yang akan dihadapi adalah Manchester City, cibiran makin mengguyur Simone Inzaghi. Dailymail sempat menulis tak ada celah bagi Simone meraih gelar dari Pep karena ilmunya masih kalah jauh. Michael Owen lebih keras lagi menghina.

Eks pemain Liverpool itu mengatakan bahwa skuad Inter asuhan Inzaghi di bawah standar. Bahkan, kata Owen, tak ada satu pun pemain Inter yang layak masuk starting eleven Pep Guardiola. Namun, Simone Inzaghi tetap berdiri tegak. Terserah mereka mau bilang apa. Hasil di lapangan menunjukkan bahwa kendati kalah, Inter memperlihatkan kualitas finalis Liga Champions yang sesungguhnya.

Scudetto

Musim telah berlalu. Meski gagal di Liga Champions, Simone nyatanya masih diberikan nafas panjang untuk melatih Inter. Padahal banyak kabar berhembus bahwa kontrak Simone tak akan diperpanjang karena ia belum juga bisa mengantarkan Nerazzurri meraih Scudetto.

Kini Simone tetap diikat hingga tahun 2025. Selain dianggap berhasil membawa Nerazzurri ke final Liga Champions, Simone diyakini di sisa kontraknya mampu membawa Inter meraih Scudetto. Ya, Simone juga mempunyai mimpi yang sama. Ia masih berambisi untuk terus memburu Scudetto pertama dalam karier kepelatihannya.

Begitulah Simone Inzaghi. Sejak menjadi pemain hingga pelatih, ia akrab sekali dengan cibiran. Status pelatih kelas medioker bisa jadi masih menempel di tubuhnya. Terbukti, walaupun membawa Inter ke final UCL, Simone Inzaghi kalah laris dari Roberto De Zerbi dan Xabi Alonso di bursa transfer pelatih.

Namun, justru di titik itulah apabila suatu saat Simone Inzaghi meraih trofi seperti Scudetto, ini akan menjadi kejutan yang besar. Teruslah melangkah, Simone Inzaghi!

Sumber Referensi : straitstime, goal, sempreinter, theguardian, transfermarkt, totalitalianfootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru