Lautaro Martinez Disingkirkan Pemain Persis Solo Jadi Mesin Gol Inter

spot_img

Di Giuseppe Meazza, Lautaro Martinez menggila bersama Inter Milan. Striker berkebangsaan Argentina itu musim ini sangat produktif mencetak gol di segala kompetisi. Ia juga punya peluang untuk menjadi top skor di Serie A musim 2023/24, setelah musim lalu, pemain berjuluk El Toro ini kalah dari bomber Napoli, Victor Osimhen.

Menjadi top skor Serie A bukan hil yang mustahal bagi Lautaro. Sejauh ini saja, dalam 13 pertandingan yang sudah dilakoninya, 13 gol sudah dibukukan. Jumlah itu nyaris dua kali lebih banyak dari Domenico Berardi dan Olivier Giroud yang berada di belakangnya.

Tak dipungkiri Lautaro telah bertransformasi menjadi bomber paling berbahaya di Serie A. Ia menjadi sekrup penting pasukan La Beneamata. Kesetiaannya pada Inter juga menjadikan uang sekarung yang disodorkan padanya tidak berarti.

Namun, tahu nggak sih, kalau Lautaro Martinez ini dulu adalah seorang pemain yang terbuang dari Boca Junior? Ia bahkan disingkirkan oleh pemain yang sampai naskah video ini dibuat berseragam Persis Solo.

Bermain untuk Liniers

Tahun 1997, saat di Indonesia kurs rupiah sedang bergejolak, pesepakbola bernama Lautaro Javier Martinez lahir. Ia lahir di Bahia Blanca, sebuah kota di tepian Samudera Atlantik yang letaknya di barat daya Buenos Aires, Argentina. Tepatnya ia lahir pada tanggal 22 Agustus 1997.

Walaupun tumbuh di lingkungan yang sebagian besarnya dihuni orang-orang kaya, tapi Lautaro mendapat pendidikan yang buruk. Kehidupannya juga pas-pasan. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari Lautaro dan keluarganya, kecuali kenangan kesuksesan sang ayah.

Sang ayah, Mario Martinez adalah mantan pesepakbola profesional. Meskipun namanya tidak familiar. Setelah pensiun, sulit untuk menjalani kehidupan, kecuali ia membimbing sang anak, Lautaro Martinez untuk mewujudkan mimpinya. Ia melihat Lautaro punya ambisi untuk menjadi pesepakbola.

Setelah mendapat pendidikan sepak bola dari sang ayah, Lautaro mengikuti tes di klub lokal, CA Liniers. Berkat bimbingan sang ayah, Lautaro pun masuk akademi klub yang kini berkompetisi di kasta ketiga Argentina tersebut. Ia pun meniti kariernya di dunia sepak bola dengan bergabung ke tim muda Liniers.

Dipanggil untuk Tes di Boca Junior

Namun, sebelum bergabung ke tim muda Liniers, saat usianya masih 11 tahun, Lautaro sebetulnya sudah dicium bakatnya oleh Boca Junior. Salah satu tim besar di Amerika Latin itu tertarik memanggil Lautaro untuk melakoni tes.

Akan tetapi, hari itu Lautaro mengatakan ibunya tidak mengizinkannya pergi karena masih sangat kecil. Barangkali ibu Lautaro, Karina Vanesa Gutierrez khawatir anaknya yang masih harus tidur teratur itu pergi sendirian ke ibu kota. Tapi tawaran Boca Junior tidak berhenti di sana.

Saat Lautaro sudah bermain untuk tim muda Liniers dan sudah mencetak setidaknya 40 gol dalam setahun, tawaran dari Boca Juniors datang kembali. Kali ini tawaran itu datang ketika Lautaro berusia 15 tahun. Usia yang cukup untuk bepergian ke Buenos Aires.

Lautaro pun terbang ke Buenos Aires bersama Ignacio Dobri, teman ayahnya. Tapi sesampainya di sana dan sudah menjalani tes, Lautaro ditolak. Klub berjuluk Xeneizes itu merasa Lautaro tidak cocok. Ia dianggap tidak memiliki kecepatan dan tenaga yang sesuai dengan Boca Juniors.

Sempat Dibantu Pelatihnya

Pelatih Lautaro di Liniers, Alberto Desideri sempat membujuk tim pencari bakat Boca Juniors agar mau menerima anak asuhnya itu. Ia menceritakan apa saja yang bisa membuat Boca Juniors mau menerima Lautaro Martinez, termasuk soal bagaimana ia mencetak 40 gol dalam setahun.

Mengutip Infobae, sebuah media dari Amerika Latin, Desideri menceritakan betapa sulitnya hari-hari Lautaro di Boca Juniors. Ia mencoba meyakinkan pemandu bakat Xeneizes bahwa Lautaro adalah penyerang terbaik di usianya.

Desideri menjelaskan bahwa Liga del Sur atau Liga Selatan, tempat Lautaro bermain bukan sekadar kompetisi. Sayangnya, segala bentuk silat lidah Desideri tidak digubris oleh pemandu bakat Boca Juniors. Lautaro tidak bisa diterima.

Alasannya selain keterbatasan fisik dan dianggap tidak memiliki kekuatan, juga karena Boca Juniors sudah memiliki tiga penyerang lain kelahiran 1997 yang siap diorbitkan. Jadi tidak ada kesempatan bagi Lautaro Martinez. Mengatakan di Sempre Inter, Lautaro pun memilih pulang ke Bahia Blanca saat itu dengan perasaan marah dan kecewa.

Kalah dari Alexis Messidoro

Padahal saat dites di Boca Juniors, Lautaro bermain sangat bagus. Tapi memang butuh jam terbang untuk melihat potensi Lautaro yang lebih baik. Namun tim rekrutmen Boca Junior yang waktu itu dipimpin oleh Alberto Coqui Rodolfo menilai Lautaro lambat sebagai seorang pemain nomor “9”.

Sementara Boca butuh striker yang cepat. Boca lebih senang dengan penyerang yang menjamin gol daripada melatihnya lagi. Dan tiga penyerang kelahiran 1997 yang disebutkan tadi sudah memenuhi standar menurut Boca Juniors.

Mengutip Infobae, ternyata tiga penyerang itu bermain buruk. Hanya satu yang sanggup menembus divisi utama. Orang itu adalah Alexis Messidoro, pemain yang hari ini membela Persis Solo. Pada waktu itu, Messidoro adalah bakat sensasional di Argentina.

Meski awalnya seorang penyerang, tapi Messidoro memulai debutnya di tim utama Boca sebagai gelandang pada tahun 2016. Ia gelandang ofensif yang luar biasa. Kecemerlangannya di lini tengah membuatnya digadang-gadang sebagai bintang masa depan Timnas Argentina.

Tapi Messidoro justru melempem. Alih-alih terus dimainkan Boca Juniors, ia malah sering dipinjamkan. Dan tahulah sekarang, pemain kelahiran Buenos Aires ini malah berseragam Laskar Sambernyawa. Padahal usianya baru 26 tahun.

Kiprah Bersama Racing

Sementara itu, Lautaro Martinez yang juga ditolak oleh klub besar lainnya, San Lorenzo, padahal baru dites sehari saja, akhirnya mendapat kesempatan dari tim divisi utama Liga Argentina, Racing Club de Avellaneda. Adalah Fabio Radelli, koordinator tim muda yang melihat ada sesuatu yang spesial dari Lautaro.

Radelli yang juga menemukan bakat-bakat dari Bahia Blanca seperti Pablo Paz, Agustin Bouzat, Francisco Pizzini menyaksikan sebuah pertandingan tim di Bahia Blanca yang di sana ada Lautaro Martinez. Radelli terkesan dengan efektivitas permainan Lautaro. Menurutnya seperti itulah seorang penyerang.

Tahun 2012 Lautaro ditolak Boca, setahun setelahnya ia bergabung ke akademi Racing. Lautaro berkembang sangat pesat. Bersamaan dengan Messidoro debut di Boca, Lautaro debut di tim utama Racing. Bedanya, jika Messidoro anjlok performanya dan cuma dipinjam-pinjamkan, Lautaro meroket.

Lautaro meningkat sangat pesat bersama klub asal Avellaneda tersebut. Kehebatannya makin kelihatan. Instingnya dalam mencetak gol makin terasah. Total 10 gol dikemasnya dalam 30 pertandingan bersama Racing musim 2016/17. Jumlah gol itu meningkat dua kali lipat pada musim berikutnya.

Makin Hebat Bersama Inter

Kehebatannya itu membuat media-media Argentina tak segan untuk menyebutnya gabungan antara Sergio Aguero dan Gonzalo Higuain. Pada saat itulah tim-tim Eropa mulai meliriknya. Inter, Valencia, Atletico Madrid, bahkan Real Madrid yang pernah mencoba mendatangkannya tahun 2015 ingin memboyong Lautaro.

Ya, pada tahun 2015, Lautaro hampir bergabung ke Real Madrid. Namun, klausul rilis tinggi yang ditetapkan Racing membuat Los Blancos undur diri. Tapi setelah terbukti, Los Merengues akhirnya menunjukkan minatnya lagi. Namun Lautaro hanya ingin bermain di Italia.

Dengan biaya 25 juta euro (Rp423 miliar), Inter mendatangkan Lautaro. Sejak datang ke Inter, ia tetap rendah hati, profesional, dan terus berkembang. Awal karier bersama Inter, Lautaro sering menjadi pemain pengganti, bergonta-ganti partner, dan menjadi target man. Lautaro makin menunjukkan kelasnya saat Antonio Conte tiba di Giuseppe Meazza.

Di bawah asuhan pelatih berpaspor Italia itu, El Toro bisa memanfaatkan kecepatannya dan serangannya. Tak dipungkiri kariernya makin bagus kala berduet dengan Romelu Lukaku. Dengan kecepatan Lautaro dan kekuatan monster Lukaku, Inter asuhan Conte meraih gelar Serie A musim 2020/21.

Hari ini Lautaro Martinez masih menjadi mesin gol La Beneamata. Simone Inzaghi tidak pernah tidak menurunkannya dalam 20 laga di seluruh kompetisi musim ini. Sementara di tempat lain, Alexis Messidoro harus berjibaku di sebuah liga yang problematik.

Sumber: LifeBogger, Football-Italia, SempreInter, Goal, Ole, InfoBae, ElGrafico, Fotmob

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru