Liga Portugal mungkin bukanlah liga paling membosankan di Eropa atau bahkan dunia. Di sana tidak ada duopoli layaknya Celtic dan Rangers di Liga Skotlandia. Akan tetapi, sejak bergulir pada 1934 dan telah diikuti oleh 72 klub berbeda, Liga Portugal sangat didominasi oleh “Os Três Grandes”.
“Os Três Grandes” alias The Big Three adalah sebutan untuk 3 klub terbesar dan tersukses di Portugal, yakni Benfica, FC Porto, dan Sporting Lisbon. Dominasi ketiga klub ini di Liga Portugal sungguh tak terbantahkan. Benfica punya 38 trofi, diikuti Porto dengan 30 trofi, dan Sporting Lisbon dengan 19 trofi.
Di luar “Os Três Grandes”, baru ada dua tim lain yang pernah mencicipi gelar juara Liga Portugal. Masing-masing dari mereka juga hanya pernah sekali menjadi juara. Kedua tim tersebut adalah Belenenses dan Boavista.
Nama terakhir itulah yang akan kita bahas dalam kesempatan kali ini. Sebab, Boavista adalah juara Liga Portugal yang bisa dibilang paling tidak diharapkan.
Daftar Isi
Profil Boavista FC
Boavista adalah rival sekota dari FC Porto. Pertemuan kedua tim disebut “Porto Derby” atau terkadang dijuluki “O Dérbi da Invicta”. Keduanya memang berbasis di Kota Porto. FC Porto di paroki Campanhã di bagian timur kota, sementara Boavista FC di paroki Ramalde di bagian barat kota.
Namun, tak seperti FC Porto yang telah berdiri sejak 28 September 1893, Boavista yang baru terbentuk pada 1 Agustus 1903 menjalani jalan yang terjal hanya untuk bisa berdiri tegak. Orang-orang Portugis yang beragama Katolik dan orang-orang Inggris yang beragama Kristen Anglikan di dalam klub ini pernah berkonflik hingga mengakibatkan Boavista berganti nama dari “The Boavista Footballers” menjadi “Boavista Futebol Clube” di tahun 1910.
Di awal kiprahnya, Boavista juga hanyalah klub yoyo yang bolak-balik antardivisi. Mereka menjuarai divisi 2 di musim 1937 dan 1950. Namun, di musim 1966 hingga 1968, mereka terjerembab ke divisi 3.
Prestasi tersebut jelas kontras dengan FC Porto yang tidak pernah terdegradasi dan sudah mendominasi sepak bola Portugal sejak awal terbentuknya Liga di tahun 1934. Satu-satunya hal yang paling ikonik dari Boavista adalah seragam bercorak papan catur dengan celana hitam dan kaus kaki putih. Corak jersey ini terus mereka pakai sejak musim 1933.
Karena alasan inilah Boavista mendapat julukan “Os Axadrezados” yang berarti “Kotak-Kotak”. Selain itu, Boavista juga dijuluki “As Panteras” karena simbol mereka yang berupa macan kumbang.
Boavista baru berhasil meraih prestasi lagi di era 70an ketika dipimpim presiden Valentim Loureiro. Kala itu, mereka 3 kali menjuarai Taça de Portugal dan sekali menjuarai Supertaça de Portugal. Di tahun 1992 dan 1997, Boavista kembali meraih trofi Piala Portugal dan Piala Super Portugal. Setelah Valentim Loureiro turun jabatan, sang anak Joao Loureiro berhasil meneruskan prestasi sang ayah.
Seperti yang sudah kami singguh di awal. Boavista menjadi klub kedua setelah Belenenses yang berhasil meruntuhkan dominasi “Os Três Grandes” di Liga Portugal. Namun, ada dua alasan mengapa juaranya Boavista lebih berkesan ketimbang Belenenses.
Pertama, Belenenses berhasil menjadi juara Liga di musim 1945/1946. Kala itu, Liga Portugal masih bernama “Campeonato Nacional da Primeira Divisão” dan hanya diikuti oleh 12 tim saja. Saat itu, Belenenses juga sudah menjadi klub besar dan disebut sebagai “Big Four”. Konon, ada pula campur tangan politik penguasa yang menguntungkan Belenenses saat itu.
Kedua, Boavista berhasil meruntuhkan dominasi “Os Três Grandes” saat Liga sudah bertajuk “Primeira Liga” dan telah diikuti oleh 18 tim profesional. Tidak seperti Belenenses, keluarnya Boavista sebagai kampiun Liga Portugal di musim 2000/2001 terbilang sangat mengejutkan, bahkan tidak diharapkan. Bisa dikatakan kalau kemenangan Boavista saat itu adalah wujud perlawanan terhadap penguasa.
Meruntuhkan Dominasi “Os Três Grandes” dan Juara Liga Portugal 2001
Semua berawal dari penunjukan Jaime Pacheco sebagai juru taktik anyar di tahun 1997. Pacheco berhasil membawa Boavista finis di posisi kedua pada musim 1999 dan posisi keempat pada musim 2000.
Saat Pacheco datang, Boavista sendiri sudah memiliki beberapa pemain bertalenta dalam timnya. Di posisi penjaga gawang, ada Ricardo yang kelak akan kita kenal sebagai penjaga gawang Portugal di Euro 2004, Piala Dunia 2006, dan Euro 2008. Ada pula Pedro Emanuel, lulusan akademi Boavista yang kelak akan lebih dikenal sebagai penggawa FC Porto yang menjuarai Liga Champions 2004.
Ada pula Litos. Kapten tim Boavista ini juga merupakan jebolan akademi dan bagian dari skuad yang menjuarai Piala Portugal 1997.
Skuad Jaime Pacheco di musim tersebut makin perkasa dengan kembalinya Erwin Sanchez. Sanchez adalah gelandang serang andalan Bolivia yang dijuluki “Platini dari Amerika Selatan”. Ia juga bagian dari skuad Boavista yang menjuarai Piala Portugal 1997.
Selain Erwin Sanchez, Boavista juga mendatangkan dua striker asal Brasil, Elpídio Silva dan Duda. Serta memulangkan si anak hilang, Petit yang kelak akan kita kenal sebagai salah satu gelandang Portugal terbaik di eranya.
Akan tetapi, meski memiliki skuad yang lumayan dan berhasil back-to-back finish di 4 besar dalam 2 musim terakhir, Boavista tetap tidak diunggulkan ketika musim 2000/2001 dimulai. Mereka masih berada dalam bayang-bayang “Os Três Grandes” dan hanya dianggap sebagai “outsider”.
Maklum saja, secara finansial Boavista terlihat seperti kurcaci di hadapan “Os Três Grandes”. Secara skuad, juara bertahan Sporting Lisbon dan runner-up musim sebelumnya, FC Porto juga punya skuad yang lebih mentereng.
Saat itu, Porto masih dihuni Vitor Baia, Dmitriy Alenichev, Deco, dan dilatih oleh Fernando Santos. Sementara Sporting Lisbon masih dilatih Augusto Inacio dan punya Peter Schmeichel, Paulo Bento, hingga Pedro Barbosa.
Jadi, rasanya cukup sulit untuk membayangkan Boavista bisa meruntuhkan dominasi “Os Três Grandes” apalagi menjadi juara Liga Portugal. Tidak ada yang mengharapkan Boavista bisa mencapai prestasi tersebut. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya.
Boavista secara tidak terduga berhasil keluar sebagai kampiun Primeira Liga musim 2000/2001. “Os Axadrezados” berhasil mengumpulkan 77 poin dari 34 pertandingan, unggul 1 poin dari rival sekota mereka, FC Porto, dan unggul 15 poin dari juara bertahan, Sporting Lisbon. Lebih mengejutkan lagi, Boavista berhasil memastikan diri keluar sebagai pemenang ketika liga masih menyisakan 1 pertandingan.
Bagaimana Boavista Bisa Keluar Sebagai Juara Liga Portugal?
Setelah mengawali musim dengan kemenangan telak 4-2 atas Beira-Mar dan 4-0 atas Uniao de Leiria, Boavista gagal menang dari tim juru kunci Estrela da Amadora dan takluk di kandang dari SC Braga. Namun, setelah itu mereka langsung bangkit dan lewat perlawanan sengit berhasil mengalahkan Benfica asuhan Jose Mourinho dengan skor tipis 1-0 di pekan kelima.
Setelah kemenangan luar biasa tersebut, Boavista kembali tampil inkonsisten dengan memetik 4 hasil imbang dan 3 kali menang dalam 7 pertandingan. Hingga pekan 12, Boavista masih duduk di peringkat 4, tertinggal 8 poin dari FC Porto yang memuncaki klasemen.
Titik baliknya terjadi di awal tahun 2001. Di pekan ke-17, Boavista berhasil memenangani derby dan mengalahkan Porto lewat gol tunggal Martelinho. Sebuah kemenangan berharga yang membuat pasukan Jaime Pacheco naik ke peringkat 1.
Sejak kemenangan tersebut, laju Boavista sudah tak terbendung. Meski sempat kalah lagi dari Braga di pekan ke-21, tetapi 12 laga beruntun tanpa kalah dari pekan ke-22 hingga 33 membuat Boavista terus kokoh di puncak klasemen.
Kemenangan 3-0 atas Aves pada 18 Mei 2001 mengunci gelar Liga Portugal bagi Boavista. Kekalahan 4-0 atas Porto di pekan terakhir sudah tak berpengaruh. Boavista pun berpesta dan menggelar perayaan meriah untuk merayakan gelar juara liga pertama mereka dalam sejarah.
Jika biasanya Kota Porto selalu dihiasi warna biru, hari itu giliran warna putih dan hitam yang berkuasa. Keluarnya Boavista sebagai kampiun di musim tersebut adalah sebuah hasil yang sangat mengejutkan, tak hanya di Portugal saja, tetapi juga mengejutkan seantero Eropa.
Kejutan yang tak diharapkan itu pun dibalas dengan pernyataan tegas dari Jaime Pacheco. “Kami adalah juara, karena kami adalah yang terbaik.”
Pelatih legendaris Fabio Capello berkata bahwa, “tidak ada klub lain di Eropa yang berlari sebanyak mereka.” Ya, saat itu memang tidak ada klub yang lebih kolektif dan punya daya juang setinggi Boavista.
63 gol berhasil Boavista ciptakan di musim tersebut. Walaupun masih kalah dari FC Porto yang berhasil mencetak 73 gol, tetapi fakta kalau ada 16 pencetak gol berbeda di musim tersebut menggambarkan betapa kolektifnya Boavista asuhan Jaime Pacheco.
Top skor Boavista saat itu adalah Elpídio Silva dengan 11 gol. Erwin Sanchez yang jadi motor serangan “As Panteras” mengikuti dengan torehan 8 gol. Sementara Martelinho dan Duda yang memberi banyak masalah dari sisi sayap berhasil menyumbang masing-masing 4 gol dan 10 gol. Sementara itu, Petit yang berposisi sebagai gelandang bertahan menjadi jantung dan jiwa bagi timnya.
Selain kolektivitas, pertahanan Boavista juga sangat kokoh dan sulit ditembus. Penampilan apik Ricardo di bawah mistar gawang, serta solidnya quartet Nuno Frechaut, Pedro Emanuel, Litos, dan Erivan telah membuat gawang Boavista hanya jebol 22 kali. Mereka pun keluar sebagai tim dengan pertahanan terbaik.
Ketangguhan Boavista juga terlihat dari rekor mereka di laga kandang, di mana mereka hanya kalah sekali ketika bermain di Estádio do Bessa. Selain itu, “Os Axadrezados” juga berhasil mendominasi “Os Três Grandes”. Di 6 pertandingan menghadapi Benfica, Porto, dan Sporting, Boavista berhasil menang 3 kali dan hanya kalah sekali.
Nasib Boavista Pasca Juara Liga Portugal
Setelah musim yang bersejarah tersebut, Boavista menjadi pusat perhatian di panggung terbesar Eropa. Di dua musim beruntun, mereka melaju hingga fase grup kedua Liga Champions dan mencapai semifinal UEFA Cup.
Sayangnya, di kancah domestik, performa Boavista perlahan layu. Di musim 2001/2002, Boavista gagal mempertahankan gelar dan keluar sebagai runner-up. Hasil di musim berikutnya lebih parah di mana Boavista merosot ke peringkat 10.
Seperti yang sudah kami singgung di awal, finansial Boavista bagaikan kurcaci di hadapan “Os Três Grandes”. Menjadi juara Liga, lalu mewakili Portugal di UCL dan UEFA Cup secara beruntun ternyata membebani keuangan klub. Sebab, Boavista sendiri mau tidak mau juga harus memberi pemainnya kontrak yang lebih mahal.
Situasi diperparah dengan renovasi Estádio do Bessa yang harus selesai tepat waktu sebelum Euro 2004. Pemerintah Portugal saat itu gagal memenuhi dukungan finansial yang dijanjikan untuk stadion tersebut, dan Boavista pun terjerumus ke dalam hutang.
Alhasil, Boavista kembali ke setelan pabrik. Pemain bintang mereka dengan mudahnya dicomot klub rival. Pedro Emanuel dibajak FC Porto di musim panas 2002. Begitu pula dengan Petit yang dibajak Benfica. Menyusul kemudian Ricardo yang hengkang ke Sporting Lisbon di musim panas 2003.
Lulusan akademi menjanjikan seperti Jose Bosingwa dan Raul Meireles juga dibajak FC Porto. Hasilnya, Boavista kembali jadi klub papan tengah.
Bencana pun terjadi di akhir musim 2007/2008. Boavista sejatinya mengakhiri musim di peringkat 9, namun mereka terbukti terlibat dalam skandal “Apito Dourado”. “Apito Dourado” alias “Peluit Emas” adalah skandal korupsi penyuapan wasit yang pertama kali muncul di sepak bola Portugal pada musim 2004.
Melalui penyelidikan yang panjang, terungkap bahwa FC Porto dan Boavista terbukti menyuap wasit pada musim 2003/2004. Sebagai hukumannya, Porto mendapat pengurangan 6 poin dan didenda €150 ribu. Presiden mereka, Jorge Nuno Pinto da Costa juga mendapat hukuman skorsing 2 tahun.
Sementara itu, Boavista didenda €180 ribu dan dihukum turun kasta ke divisi 2. Mantan presiden, João Loureiro, juga diskors selama 4 tahun. Hukuman Boavista lebih berat karena terbukti melakukan pemaksaan terhadap wasit dalam 3 pertandingan liga melawan Belenenses, Benfica dan Académica pada musim 2003/2004.
Nasib Boavista makin menggenaskan tatkala mereka terdegradasi dari divisi 2 di akhir musim 2009. Boavista kemudian mendekam di divisi 3 selama empat musim.
Setelah beberapa kali melakukan peninjauan yudisial, Liga Sepak Bola Profesional Portugal membuat keputusan untuk mempromosikan Boavista kembali ke Primeira Liga pada musim 2014. Pada saat yang sama, João Loureiro bergabung kembali dan membantu mengurangi setengah dari utang yang ditimbulkan oleh skandal “Apito Dourado”.
Akan tetapi, Boavista tetap tidak mampu kembali ke masa kejayaan mereka. Masalah keuangan dan skandal “Apito Dourado” telah meruntuhkan nama besar mereka. Meski tak lagi terdegradasi sejak musim 2014, tetapi Boavista hanya mentok di papan tengah.
Fakta tersebut ditambah dominasi Benfica, Porto, dan Sporting Lisbon yang terus terjadi dan sulit dihentikan membuat kejayaan Boavista di musim 2000/2001 seolah terlupakan.
Akan tetapi, memori kejayaan tersebut terus terjaga di dalam ingatan seluruh pendukung Boavista hingga hari ini. Pelatih legendaris Jaime Pacheco meyakini apabila stabilitas finansial bisa kembali dicapai, Boavista mampu kembali ke level terbaiknya.
Mengharap dongeng yang sama bisa segera terulang di Liga Portugal agaknya nyaris mustahil. Namun, dari cerita kali ini, kita seharusnya bisa lebih menaruh hormat kepada prestasi Boavista di masa lalu, masa kini, dan masa mendatang.
Referensi: Mais Futebol, Portugoal, These Football Times, Breaking The Lines, UEFA.


