Merayakan pesta ulang tahun bagi setiap orang sah-sah saja. Tidak ada yang melarang. Siapa pun orangnya, apa pun agamanya, boleh menggelar pesta ulang tahun. Tak peduli ia penyembah batu maupun penyembah Yahweh. Asalkan hal itu tidak merugikan diri sendiri dan orang di sekitarnya. Tak terkecuali bagi pesepakbola.
Namun, pernahkah kamu merayakan ulang tahun dan pestanya itu berbuah kontroversi? Jika yang merayakan itu adalah orang biasa, sekadar konglomerat tapi bukan publik figur, perayaan ulang tahun menjadi biasa-biasa saja. Tapi jika publik figur bisa saja menjadi kontroversi. Seperti apa yang dilakukan Cristiano Ronaldo.
Saat masih berseragam Real Madrid, perayaan ulang tahun Ronaldo justru berbuah cibiran. Ia dikritik. Perayaan ulang tahunnya itu pun berujung kontroversi. Bahkan menimbulkan perpecahan di Real Madrid, sampai-sampai membuat tim itu hancur dalam semusim. Penasaran dengan kisahnya?
Daftar Isi
Pertengahan Musim 2014/15
Kejadian itu terjadi pada musim 2014/15. Real Madrid sangat percaya diri bisa menggondol trofi La Liga pada musim itu. Wajar, karena dari awal sepak mula musim itu sampai Desember 2014, Real Madrid hanya menelan dua kali kekalahan dan sisanya disapu dengan kemenangan.
Cristiano Ronaldo, Pepe and Fabio Coentrao of Real Madrid celebrate with the trophy after the FIFA Club World Cup Final between Real Madrid and San Lorenzo at Marrakech Stadium on December 20, 2014 in Marrakech, Morocco. pic.twitter.com/8WJnjD6b7n
— GC (@GettyCristiano) January 17, 2023
Di lain sisi, sang rival, Barcelona juga kalah dua kali. Tapi Blaugrana tidak menyapu laga sisanya dengan kemenangan. Dua kali Barcelona harus meraih hasil imbang sebelum penutupan tahun 2014. Itu terjadi saat menghadapi Malaga. Tim asuhan Luis Enrique ditahan imbang tanpa gol. Lalu, di laga kontra Getafe, juga ditahan imbang tanpa gol.
Hingga pekan ke-16, Real Madrid memimpin klasemen La Liga dengan mengumpulkan 42 poin. Sementara Barcelona hanya bisa mengintip di posisi kedua dengan torehan 38 poin. Memasuki tahun baru 2015, Los Galacticos benar-benar digdaya. Bukan hanya karena rentetan kemenangan, namun juga pencapaian yang sudah ditorehkan.
Jelang pergantian tahun Real Madrid sudah memastikan gelar Piala Dunia Antarklub tahun 2014. Pada saat itu, pasukan Carlo Ancelotti melaju ke final. Dua gol dari Sergio Ramos dan Gareth Bale mengantarkan Real Madrid menang atas wakil CONMEBOL, San Lorenzo. Awal musim Real Madrid juga sudah meraih Piala Super Eropa.
Kekalahan Atas Atletico Madrid
Memasuki Bulan Januari 2015, Los Galacticos konsisten memenangkan pertandingan di La Liga. Setelah kalah dari Valencia pada awal Januari, Real Madrid membayarnya dengan lima kali kemenangan beruntun. Espanyol, Getafe, Cordoba, Sevilla, sampai Real Sociedad, semua dilibas.
Petaka mulai muncul di jornada berikutnya. Los Merengues mesti melawat ke rumah rival sekotanya di Vicente Calderon. Waktu itu markasnya Atletico Madrid belum pindah ke Wanda Metropolitano. Dengan modal kemenangan beruntun, Los Galacticos semestinya punya bekal kepercayaan diri.
Namun, tidak ada jaminan dalam sepak bola. Alih-alih kemenangan yang didapat, Real Madrid justru hancur berkeping-keping di Vicente Calderon. Empat gol bersarang ke gawang Iker Casillas. Pasukan Carletto pun tertunduk lesu usai laga tersebut. Meskipun kekalahan itu tidak membikin Real Madrid tergusur dari puncak klasemen La Liga.
Pesta Ulang Tahun Cristiano Ronaldo
Beberapa jam setelah kekalahan itu, bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo menggelar pesta ulang tahunnya yang ke-30. Sejatinya, Ronaldo sudah berumur 30 tahun pada 5 Februari 2015. Tapi ia baru mengadakan pestanya setelah Real Madrid kalah dari Atletico Madrid. Momentum inilah yang pada akhirnya membuat Ronaldo menjadi sorotan.
Mirisnya, Ronaldo tidak sendirian mengadakan pesta tersebut. Beberapa punggawa Los Galacticos hadir memeriahkan suasana. Yang hadir tidak hanya teman-teman setimnya yang sehat, para pemain yang waktu itu masih cedera seperti James Rodriguez, Sami Khedira, dan Luka Modric juga hadir.
Video pesta ulang tahun Ronaldo itu pun sempat viral. Ronaldo memang merencanakan pesta itu. Seluruh pemain Real Madrid diundang. Tak pelak hal ini membuat dua kapten Real Madrid marah.
Menurut media Spanyol, Marca seperti dikutip pula World Soccer Talk, kapten tim Iker Casillas dan wakilnya Sergio Ramos tidak terkesan kepada keputusan Ronaldo yang memilih melanjutkan pestanya di tengah rasa kecewa yang menyelimuti usai kalah dari Atletico.
Ronaldo sejatinya mengundang seluruh pemain Real Madrid. Namun, dua kapten itu dan para pemain veteran memilih untuk tidak memenuhi undangannya. Tak sedikit dari komponen klub, termasuk staf yang meminta Ronaldo untuk membatalkan pestanya usai kekalahan Real Madrid. Tapi sang mega bintang hanya bergeming. Pesta tetap berjalan.
Kritik dan Pembelaan Ronaldo
Sikap keras kepala Ronaldo itu berdampak buruk bagi klub itu sendiri. Real Madrid menghadapi situasi yang sulit pada saat itu. Selain banyak pemain yang cedera, suasana ruang ganti pun mulai tidak nyaman. Tim pun terbelah karena keputusan Ronaldo tersebut.
Ada yang merasa acara itu tidak pantas. Tapi ada pula yang meyakini bahwa acara tersebut wajar belaka. Agen Ronaldo, Jorge Mendes waktu itu mengatakan bahwa kliennya sebenarnya sudah sejak bulan sebelumnya menggelar pesta. Khusus yang berlangsung usai kekalahan Real Madrid, kata Mendes, tak lebih dari upaya teman-teman Ronaldo untuk menghiburnya.
“Dia (Ronaldo) sangat marah (pada kekalahan atas Atletico Madrid),” kata Mendes kepada stasiun radio Spanyol, Cadena SER seperti dikutip The Guardian.
Namun begitu, kemarahan penggemar tidak bisa dicegah. Setelah pesta tersebut, para penggemar Los Galacticos menyoraki Ronaldo. “Kurangi pesta, perbanyak bola.” Begitu teriakan para Madridista yang tidak senang dengan sikap Ronaldo. Rekan Ronaldo, Toni Kroos juga merasa momentum perayaan ulang tahun CR7 itu tidak tepat.
Sementara sang entrenador hanya mengomentari kejadian ini secara diplomatis. “Saya tidak mengevaluasi kehidupan pribadi para pemain saya,” kata Carletto dikutip Goal. Bagi Don Carlo, tidak ada seorang pun berpikir hal semacam itu bisa mempengaruhi profesionalitas seorang pemain.
Real Madrid yang Menurun Performanya
Akan tetapi yang terjadi sebaliknya. Keretakan yang muncul karena perbedaan kubu yang mendukung Ronaldo dengan yang tidak, mengakibatkan penampilan Real Madrid mulai menurun. Los Galacticos yang sudah tersingkir di Copa del Rey pada Januari harus mengalami kesulitan di La Liga.
Usai pesta itu, perjalanan Los Blancos di La Liga tak lagi mulus seperti sebelumnya. Mereka bukan hanya tidak menyapunya dengan kemenangan, tapi juga meraih dua hasil imbang, yaitu menghadapi Villarreal dan Valencia. Selain itu, Real Madrid juga harus menelan dua kali kekalahan.
Mereka ditaklukkan Athletic Bilbao 1-0 pada 7 Maret 2015. Pasukan Carletto juga harus tunduk atas Barcelona 2-1 di Camp Nou. Kemerosotan Real Madrid ini dimanfaatkan oleh Barcelona. Luis Enrique mulai menemukan racikan yang pas. Setelah kalah dari Malaga pada 21 Februari 2015, Barcelona asuhan Enrique tidak pernah kalah hingga akhir musim di La Liga.
Barcelona terus melaju. Tidak hanya di La Liga, tapi juga di dua kompetisi lainnya: Copa del Rey dan Liga Champions. Akhir musim semua orang mengingat bahwa Barcelona asuhan Luis Enrique musim itu sukses meraih treble winner. Kolaborasi trio Messi-Suarez-Neymar tidak terbendung.
Ancelotti Dipecat
Di lain tempat Real Madrid terlanjur hancur. Selain gagal di La Liga dan Copa del Rey, Los Blancos juga terhenti di Liga Champions. Real Madrid susah payah mengalahkan Atletico Madrid di perempat final hanya untuk kalah dari Juventus di semifinal. Melawan wakil Italia itu, Real Madrid keok dengan agregat 3-2.
Sudah selesai? Belum. Setelah dianggap gagal menyabet gelar mayor, Carlo Ancelotti akhirnya dipecat oleh Real Madrid. Dilansir Sky Sports News HQ sebagaimana dikutip Bleacher Report, pelatih asal Italia itu dicopot dari posisinya sebagai manajer usai kemenangan 7-3 atas Getafe pada 23 Mei 2015.
Carlo Ancelotti has been sacked as manager of Real Madrid. #RMCF pic.twitter.com/GnjtBkKH0C
— Squawka (@Squawka) May 25, 2015
Ini menjadi sangat miris karena pada musim sebelumnya, Ancelotti adalah orang yang mengantarkan La Decima untuk Los Galacticos. Namun, Florentino Perez hanya mengatakan bahwa tuntutan Real Madrid sangat tinggi. Los Galacticos pun menunjuk Rafael Benitez. Meski eks pelatih Liverpool itu juga dicopot di pertengahan musim dan digantikan oleh Zinedine Zidane.
Sumber: Goal, WorldSoccerTalk, BR, TheGuardian, EuroSport, FootballCritic


