Kemenangan dua gol tanpa balas atas Fulham, membuat Tottenham Hotspur memperpanjang catatan tak terkalahkan di Liga Inggris musim 2023/24. Dengan tujuh kemenangan dan dua hasil imbang, Spurs kini kian kokoh di puncak klasemen sementara Liga Inggris.
Kesuksesan Spurs musim ini digembar-gemborkan berkat tangan dingin Ange Postecoglou. Tapi dia hanya seorang juru taktik di pinggir lapangan. Pemain lah yang jatuh bangun di lapangan demi mengerek performa tim. Salah satu yang menarik dibahas adalah kehadiran James Maddison di lini tengah. Ia langsung jadi pilar penting di pasukan Ange musim ini.
Diangkut dari tim yang terdegradasi musim lalu, Madders, sapaan akrabnya, bak terlahir kembali bersama Tottenham. Kehadirannya di lini tengah Spurs jadi penawar kesedihan fans selepas kepergian Harry Kane ke Bayern Munchen. Lantas, sepenting apa peran Maddison bagi Tottenham Hotspur?
Daftar Isi
Gelandang Underrated
Nama James Maddison tentu saja bukan nama yang asing bagi persepakbolaan Inggris. Sebelum akhirnya menjadi bagian penting kebangkitan Tottenham di Liga Inggris, namanya sudah lebih dulu melejit bersama Leicester City beberapa musim lalu. Meski begitu, ia kerap dipandang sebelah mata.
Penampilan dan kontribusinya sewaktu di Leicester City selalu dianggap tak cukup untuk mengisi lini tengah Timnas Inggris yang rutin tampil di ajang-ajang internasional. Jadi, cukup mengejutkan melihat gelandang yang memiliki kualitas sepertinya baru mencatatkan lima penampilan tanpa satu keterlibatan gol bersama The Three Lions.
Apalagi musim lalu klub yang ia bela, yakni Leicester City harus menerima kenyataan pahit dengan harus turun kasta ke Championship. Maddison berada di skuad yang gagal itu. Jadi ia juga mendapat getahnya. Madders dianggap sebagai pemain yang tak bisa membawa perubahan untuk menyelamatkan klub yang sudah berjasa membesarkan namanya itu.
Mungkin sebagian besar melihatnya sebagai pemain yang gagal. Tapi angka-angka di lapangan tak berbicara demikian. Maddison jadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam urusan mencetak gol. Dengan catatan sepuluh gol, ia berada di nomor dua di bawah Harvey Barnes yang mampu mencetak 13 gol musim 2022/23.
Maddison bahkan lebih istimewa karena mencatatkan sembilan assist. Secara total, ia berkontribusi dalam 19 gol yang dicetak The Foxes musim lalu. Dengan catatan itu, sebetulnya Madders bukanlah gelandang yang buruk. Tapi karena timnya degradasi, penilaian publik terhadapnya jadi buruk.
Diangkut Spurs
Melihat Leicester City terdegradasi, beberapa tim kasta tertinggi menyadari kalau James Maddison punya sesuatu yang lebih besar dari apa yang sudah selama ini ia tunjukan. Kala itu Tottenham, Liverpool, Newcastle United, hingga Manchester City berminat untuk menyelamatkannya dari Divisi Championship.
Maddison yang masih ingin bermain di level tertinggi tentu terbuka dengan segala kemungkinan. Toh, kontraknya yang hanya menyisakan satu tahun akan memudahkannya untuk hengkang.
Melalui diskusi panjang akhirnya Spurs yang memenangkan tanda tangan James Maddison. Menurut Goal, Spurs menebus sang pemain dari Leicester City dengan mahar 40 juta pound atau sekitar Rp756 miliar. Ia dikontrak selama lima tahun. Lantas, mengapa dari sekian banyak klub top, ia justru memilih Spurs yang notabene tidak bermain di Eropa?
Maddison merasa kalau klub lain tak benar-benar menginginkannya. Itu dibuktikan dengan pergerakan mereka yang lambat. Ketika Maddison membuka pintu, klub lain tak kunjung mengajukan tawaran kepada Leicester. Tercatat hanya Spurs dan Newcastle yang serius menginginkannya. Maddison pun lebih tergoda dengan jaminan inti dan proyek Spurs.
Begitu Spesialnya Maddison Dimata Ange
Keberadaan Ange Postecoglou selaku pelatih baru Spurs jadi faktor penting transfer ini. Di mata Ange, James Maddison bagai bongkahan tanah liat yang belum terbentuk dengan sempurna. Meskipun sering diremehkan dan dicap gagal, Ange tetap melihat Madders sebagai salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Inggris. Cuma ya butuh sedikit polesan saja.
Manajer asal Australia itu begitu menggemari permainan Maddison. Maddison bahkan jadi nama pertama yang ia sebut saat pertama kali ditanya siapa pemain yang diinginkan. Ange bahkan sampai rela menyingkirkan beberapa nama lawas di sektor tengah untuk memberikan ruang kepada Maddison.
Kita bisa lihat, pemain tengah macam Pierre-Emile Hojbjerg dan Giovani Lo Celso jadi jarang dimainkan karena adanya Maddison. Tak sampai di situ, Ange juga rela melepas Harry Winks ke Leicester City demi melancarkan kesepakatan perpindahannya. Jaminan posisi inti inilah yang membuat Maddison terkesan.
Peran Maddison di Bawah Asuhan Ange
Beruntungnya, anggapan Ange Postecoglou terhadap James Maddison tak meleset. Sebagai informasi tambahan saja, kekuatan lini tengah memang jadi salah satu kunci cairnya permainan Tottenham musim ini. Nah, satu sosok yang membuat dimensi permainan lini tengah Spurs meningkat tidak lain dan tidak bukan ya si James Maddison ini.
Hubungannya dengan Ange juga sangat baik. Ia dan pelatih bagaikan dua insan yang saling membutuhkan. Maddison bisa mewujudkan segala keinginan dan ide-ide permainan yang diinginkan Ange. Sementara Ange jadi orang yang mampu mengeluarkan potensi terbaik dari pemain berusia 26 tahun itu.
Dalam skema pelatih asal Australia itu, Maddison diberikan kebebasan namun tetap dalam koridor yang sesuai. Kebebasan itu dimanfaatkan dengan baik untuk memaksimalkan kemampuannya membongkar pertahanan lawan. Dengan umpan-umpannya, Maddison juga membantu Spurs dalam distribusi bola.
Meski Ange sangat bergantung pada pergerakan dan kreativitas Maddison, sang pemain tetap dituntut untuk bekerja lebih keras di lini tengah. Berbeda dengan di Leicester yang hanya menuntutnya untuk menyerang, di Spurs Maddison sesekali melakukan high press dan merebut bola.
Itu jadi suatu hal yang baru baginya dan melengkapi atribut bermain Maddison. Selama ini, Maddison dikenal sebagai playmaker handal. Tapi dengan meningkatkan kualitas bertahan, itu menjadikan Maddison sebagai pemain yang lengkap.
Membangun Koneksi dengan Son
Selain membuat trio dengan Yves Bissouma dan Pepe Matar Sarr di lini tengah, koneksi yang dibangunnya dengan Son Heung-min mungkin jadi yang paling menarik dibahas. Bagaimana tidak? Son seperti menemukan partner baru setelah ditinggal kawan yang sudah lama berjuang bersama, yakni Harry Kane.
Di awal musim fans Spurs sempat dibuat khawatir karena Son kehilangan Kane yang lebih memilih hijrah ke Jerman demi sebuah trofi. Namun, dengan adanya James Maddison kini fans tampaknya bisa sedikit bernafas lega. Duet Maddison dan Son yang terbilang baru justru bisa langsung unjuk kebolehan dan membawa The Lilywhites ke puncak klasemen sementara Liga Inggris.
Ketika main bersama Kane, Son mampu memaksimalkan naluri mencetak golnya di lini depan. Pemain berusia 31 tahun itu bahkan sempat mendulang banyak gol di musim 2021/22 lalu, yakni dengan catatan 23 gol. Nah, hadirnya Maddison menjadi pengganti sempurna bagi Kane. Bedanya, Maddison jauh lebih kreatif karena memang biasa berperan sebagai pemain nomor 10.
Maddison diprediksi akan lebih bisa memanjakan Son dengan umpan-umpan apiknya. Di sisi lain, Son juga bisa menyediakan ruang bagi Maddison untuk sesekali menerobos pertahanan lawan jika dirinya terus mendapat penjagaan ketat. Keduanya saling mengisi, tetapi dalam bentuk yang berbeda.
Sejauh ini, Tottenham sudah mencetak 20 gol di Premier League. Nah, lebih dari tiga per empat gol itu lahir dari kontribusi Son dan Maddison. Untuk sang gelandang sendiri, ia sudah mencatatkan tiga gol dan lima assist. Itu menjadikan Maddison sebagai pencetak assist terbanyak untuk Spurs musim ini.
Sumber: Planet Football, Evening Standard, The Athletic, The Guardian, Sky Sport


