Ada keraguan yang menghinggapi pendukung Tottenham Hotspur di awal musim 2023/2024 ketika klub menunjuk Ange Postecoglou sebagai pengganti Antonio Conte. Wajar saja, sebab sebelum menunjuk Postecoglou, Spurs lebih dulu dikaitkan dengan beberapa pelatih kenamaan. Seperti Xabi Alonso, Arne Slot, Ruben Amorim, Julian Nagelsmann, hingga Mauricio Pochettino.
Singkatnya, Ange Postecoglou bukanlah pilihan pertama. Selain itu, background Postecoglou juga membuatnya mendapat pandangan sinis.
Inggris punya stigma negatif terhadap orang yang berasal dari negara yang menyebut sepak bola sebagai “soccer”. Meski berdarah Yunani, Ange Postecoglou tercatat sebagai Warga Negara Australia, salah satu negara yang menyebut sepak bola sebagai “soccer”.
Sejatinya, Postecoglou bukanlah pelatih kacangan. Ia adalah salah satu pelatih paling terpandang di Benua Asia dan sebelum ditunjuk sebagai pelatih anyar Spurs, ia sudah mencatat prestasi domestik bersama Celtic di Liga Skotlandia.
Akan tetapi, catatan tersebut belum membuat pendukung Spurs tenang. Mereka butuh bukti di atas lapangan hijau dan dalam waktu yang singkat, Ange Postecoglou berhasil membalikkan situasi.
Postecoglou Datang, Spurs Kembali Bergairah
Seperti yang kita tahu, musim lalu berjalan bak bencana bagi klub asal London Utara tersebut. Conte dipecat setelah mengungkap borok Spurs di depan media dan setelahnya klub yang diketuai oleh Daniel Levy itu finish di peringkat 8 dan gagal lolos ke kompetisi UEFA musim ini.
Situasi makin berat setelah icon sekaligus pencetak gol terbanyak mereka, Harry Kane, jadi pindah ke Bayern Munchen. Dengan beban seberat itu, wajar bila pendukung Spurs ragu dengan kapabilitas Ange Postecoglou. Namun, setelah musim 2023/2024 berjalan, kiprah Tottenham Hotspur di Premier League justru kembali bergairah.
Di pekan pertama, The Lilywhites menahan Brentford 2-2 di kandangnya. Mereka kemudian mencatat kemenangan penting dengan memberi Manchester United dan Erik Ten Hag kekalahan 2-0 di pekan kedua. Skor kemenangan identik kemudian kembali diraih tatkala Spurs bertandang ke markas Bournemouth di pekan ketiga.
Tujuh poin dari tiga pertandingan pertama jadi awal yang bagus bagi Spurs dan sebuah impresi positif dari Ange Postecoglou. Taktiknya yang kemudian dinamai “Angeball” juga langsung mendapat tempat di hati para simpatisan The Lilywhites.
Formasi dasar yang disukai Ange Postecoglou adalah 4-3-3 atau 4-2-3-1. Saat dalam fase menyerang, tim bisa terlihat bermain dengan formasi 3-3-4 dengan gelandang serang yang sejajar dengan striker. Sementara satu full-back akan maju ke poros kedua, mengisi posisi tengah dan bertindak sebagai pemain nomor 8.
“Angeball” yang pada dasarnya adalah taktik menyerang ini bisa dibilang telah merevolusi kembali gaya bermain Tottenham. Dengan pressing tinggi dan serangan balik cepat sebagai salah satu senjata andalannya, Tottenham di bawah asuhan Ange Postecoglou setidaknya kembali menghadirkan permainan yang menghibur.
Ange Postecoglou: Seorang Orator yang Ulung
Akan tetapi, senjata utama Ange Postecoglou di Tottenham tak hanya sebatas racikan taktiknya saja. Lebih daripada itu, senjata utama Postecoglou di Spurs adalah bahasa. Pelatih asal Australia itu dikenal sebagai orator yang ulung.
Kemampuan tersebut jadi salah satu penilian Spurs berani mempekerjakan Ange Postecoglou. Seperti kata Daniel Levy, “Ange membawa mentalitas positif dan gaya permainan yang cepat dan menyerang. Dia memiliki rekam jejak yang kuat dalam mengembangkan pemain dan pemahaman tentang pentingnya hubungan dari akademi – segala sesuatu yang penting bagi Tottenham.”
Racikan taktik yang pas dipadukan dengan kemampuan verbal yang bagus membuat Ange Postecoglou memiliki rekam jejak posisif dalam mengembangkan bakat pemain atau mengembalikan performa seorang pemain.
Dalam skuad Tottenham musim ini, sudah ada beberapa pemain yang menonjol dan menunjukkan perkembangan positif di bawah asuhan Ange Postecoglou. Seperti Guglielmo Vicario, Pape Matar Sarr, Yves Bissouma, Destiny Udogie, dan tentu saja James Maddison.
Vicario telah menyelamatkan 93,3% dari semua tembakan yang ia hadapi di Premier Leaguedengan dan sudah 2 kali mencatat clean sheets. Udogie yang bermain sebagai bek kiri sudah mencatat 1 asis. Pape Sarr yang musim lalu hanya mencatat 1 asis dalam 11 pertandingan kini tercatat sudah mencetak 1 gol dan 1 asis hanya dalam 3 laga. Sementara itu, James Maddison langsung nyetel dan sudah menyumbang 1 gol dan 2 asis.
Hasil positif yang didapat dalam tiga pertandingan awal Premier League musim ini telah menghadirkan harapan bagi fans Tottenham Hotspur. Beberapa fans sudah yakin kalau Postecoglou adalah sosok yang tepat untuk membimbing klub mengakhiri paceklik gelar.
Bak seorang penyihir, dalam waktu singkat, magis Ange Postecoglou telah sukses membuat fans Tottenham Hotspur kembali bergairah. Namanya langsung jadi primadona di media sosial. Attitude pelatih Australia itu juga mendapat pujian. Ia bahkan sudah punya chant sendiri yang sudah dinyanyikan para fans usai kemenangan kontra Bournemouth.
Nama Ange Postecoglou juga makin harum setelah Robbie Williams membuat laga untuknya. Bintang Pop asal Inggris itu menyanyikan lagu hitsnya yang berjudul “Angels” tetapi dengan lirik Ange Postecoglou sebagai penghormatan kepada pelatih baru Spurs. Gara-gara Postecoglou, Robbie Williams menjadi fans baru Tottenham. Apa yang Robbie Williams lakukan hanyalah sedikit dari ungkapan kebahagiaan fans Tottenham Hotspur yang menyambut hangat Ange Postecoglou.
Tottenham Hotspur Tetaplah Tottenham Hotspur
Akan tetapi, Tottenham Hotspur akan selalu menjadi Tottenham Hotspur. Baru saja dipuji dan dilambungkan, The Lilywhites sudah kembali ke setelan pabrik.
Bulan madu Ange Postecoglou dan Tottenham rusak setelah mereka tersingkir dari Piala Liga. Bertandang ke markas Fulham di ronde kedua Carabao Cup, Tottenham Hotspur kalah adu penalti setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.
Di pertandingan tersebut, Postecoglou mengganti 9 dari 11 pemain utama. Sebuah keputusan yang memupus harapan Tottenham. Carabao Cup bisa dibilang sebagai gelar paling realisitis bagi Tottenham musim ini. Postecoglou bahkan bilang kalau Carabao Cup adalah prioritasnya.
Namun, jangan salahkan Ange Postecoglou. Pelatih Australia itu punya pembelaan, sebab dengan tidak lolosnya Spurs ke Eropa, para pemain cadangan perlu mendapat kesempatan bermain dan Carabao Cup adalah kompetisi paling pas untuk melakukan rotasi.
Sebuah alasan yang cukup masuk akal. Kedalaman skuad Tottenham memang masih butuh perbaikan, tetapi lebih daripada itu kekalahan mereka di Carabao Cup kembali membuktikan sesuatu.
Kami paham kalau liga baru saja dimulai, terlalu dini untuk menilai. Namun, Tottenham Hotspur akan selalu jadi Tottenham Hotspur. Mereka memang klub kaya dan digandrungi banyak selebritas dunia. Tapi, sebagai sebenar-benarnya klub sepak bola, Tottenham adalah klub yang tak punya DNA juara. Sejarah adalah buktinya dan kini kembali terulang di Carabao Cup musim ini.
Maka dari itu, naskah ini ditulis bukan untuk memprediksi ataupun menaikkan predikat Tottenham Hotspur sebagai calon pesaing juara Premier League musim ini. Melainkan mengajak Football Lovers untuk sejenak menikmati sajian dari Ange Postecoglou.
Harus diakui memang kalau kehadiran Ange Postecoglou telah berhasil menyihir Premier League dan telah membuat pendukung Tottenham Hotspur kembali bergairah. Namun, kita semua setuju bukan, kalau pekerjaannya di Tottenham adalah salah satu pekerjaan paling sulit di dunia.
Referensi: Coaches Voice, Sportbible, Si, Goal, The Athletic.


