Arsenal berhasil mengalahkan Barcelona dengan skor meyakinkan 5-3. Pertandingan ini adalah bagian dari rangkaian tur pramusim mereka di Amerika Serikat. Barcelona sebenarnya bisa unggul lebih dulu lewat gol Lewandowski di menit ke-7. Kemudian Arsenal mampu menyamakan kedudukan lewat gol Bukayo Saka di menit ke-13.
Raphinha mampu mengembalikan keunggulan Barca di menit ke-34. Namun Kai Havertz mampu menyamakannya lagi di menit ke-43. Babak pertama pun berakhir dengan skor 2 sama.
Masuk ke babak kedua, Arsenal menunjukkan intensitas yang berbeda. Leandro Trossard mencetak dua gol tambahan di menit ke-55 dan 78. Barca sempat membalas dengan satu gol dari Ferran Torres di menit ke-88. Tapi the gunners memastikan mereka jauh lebih unggul dengan gol dari Fabio Vieira di menit ke-89.
Setelah pertandingan, Xavi mengaku kewalahan dengan gaya permainan Arsenal. Menurutnya itu terlalu kompetitif untuk sebuah pertandingan persahabatan.
“Mereka adalah pemain elit dan semua ingin menang. Tapi pada akhirnya ini sangat kompetitif untuk pertandingan persahabatan. Permainan yang kami tampilkan untuk menghibur penonton. Tapi mereka bermain dengan sangat intens” Ucap Xavi dikutip dari sky sports.
Meskipun Xavi mengeluhkan kekalahan memalukan Arsenal, sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau the gunners bermain sangat menghibur. Justru intensitas dan kegigihan para pemain Arsenal itu yang membuat permainan jadi menarik.
Daftar Isi
Kecerdikan Arteta Lakukan Rotasi
Di atas kertas, Arsenal menggunakan formasi standar 4-3-3 yang sederhana. Dengan trio Gabriel Jesus, Bukayo Saka, dan Leandro Trossard berada di depan. Di belakang mereka ada trio gelandang Thomas Partey, Martin Odegaard, dan Kai Havertz.
Tapi jika melihat langsung, formasi dan taktik yang digunakan Arteta tidak sesederhana itu. Tiap pemain lini depan Arsenal secara konstan melakukan rotasi. Striker tiba-tiba di sayap, pemain sayap tiba-tiba di tengah, dan gelandang yang tiba-tiba jadi ujung tombak.
Gabriel Jesus mungkin tercatat sebagai penyerang tengah di pertandingan itu. Tapi ia sering ditemukan berada di tepi kiri lapangan. Posisi sayap kiri sebenarnya ditempati oleh Trossard. Tapi ia lebih sering berada di lini tengah. Dan Kai Havertz, yang merupakan pemain berposisi nomor 8, malah bertindak jadi fokus serangan Arsenal.
Pertukaran posisi ini adalah hasil dari penambahan pemain baru yang cerdas oleh Arteta di beberapa jendela transfer terakhir. Ini jelas membuat Arsenal jadi lawan yang lebih rumit bagi siapapun. Jika eksperimen Arteta ini berhasil dan bisa diteruskan, maka the gunners akan jadi tim yang tidak bisa diprediksi. Mereka bisa melakukan berbagai macam pola serangan.
Memang butuh waktu untuk menyempurnakan sistem baru ini. Misalnya Gabriel Martinelli yang masih belum nyaman berpindah tempat jadi striker tengah. Namun tim Ateta ini terlihat memiliki DNA rotasi yang tertanam kuat. Ini jadi senjata tambahannya untuk mengembangkan permainan Arsenal musim ini.
Havertz Adalah Pembelian Cerdas
Saat Pochettino dibuat pusing Chelsea dan harus menjual banyak pemainnya, Arteta tak ingin menunggu lama. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mendatangkan pemain serba guna Kai Havertz.
Awalnya ini jadi langkang yang sedikit kontroversial. Sebab harganya mencapai 65 juta pounds dan Havertz tidak terlalu tampil baik di musim lalu. Tapi itu karena Chelsea adalah tim ampas musim kemarin. Dengan racikan yang tepat dari pelatih hebat, Havertz bisa berkembang. Dan itu yang ia tunjukan di Arsena sejauh ini.
Akan sulit untuk menentukan peran Havertz di Arsenal nantinya. Tentu, diatas kertas ia akan tercatat sebagai gelandang. Tapi bukan itu yang terjadi di atas lapangan. Di laga lawan Barcelona ini ada momen-momen dimana Havertz jadi seorang penyerang. Terutama saat Bukayo Saka menguasai bola di sisi kanan. Pergerakan itu membuahkan golnya di menit ke-43.
Arsenal tidak akan bisa melakukan permainan seperti itu jika tidak mendatangkan Havertz. Granit Xhaka yang posisinya digantikan Havertz memang tidak terbiasa melakukan rotasi. Havertz memungkinkan Arsenal bermain lebih cair. Ia jelas memberikan perbedaan dalam skuad Arteta. Tapi ia perlu menunjukkan pembuktian lebih di pertandingan kompetitif lain kedepannya. Semoga saja harga 65 juta pounds tidak jadi harga yang kemahalan untuknya.
Leandro Trossard Masih Jadi Pembelian Yang Sukses
Sepanjang bulan Januari kemarin Arsenal disibukkan dengan usaha mendatangkan Mykhailo Mudryk. Para pendukung kecewa setelah Arsenal membiarkan Mudryk dibajak oleh Chelsea. Dan tambah kecewa saat tahu Arsenal justru mendatangkan Leandro Trossard dari Brighton sebagai penggantinya.
Tapi tidak butuh waktu lama bagi Arteta untuk membuktikan kalau ia tidak salah pilih. Trossard musim kemarin memang pemain cadangan. Tapi kualitas teknis Trossand terbukti menambah kualitas serangan Arsenal. Dan mungkin ia bisa jadi pilihan utama Arteta musim ini.
Dua golnya di laga ini menunjukkan kualitas terbaiknya. Pertama tendangan kaki kiri yang keras dan akurat menunjukkan insting dan ketenangannya yang mematikan. Yang kedua tendangan voli di dalam kotak penalti. Menunjukan kalau ia punya naluri mencetak gol dari posisi tengah.
Trossard bisa bermain di empat posisi berbeda. Baik itu di lini tengah maupun lini serang. Membuat harga 21 juta pounds yang ditebus Arsenal terasa seperti harga diskon. Yang terpenting, Arteta mengaku puas dengan performa Trossard sejauh ini.
“Dia memberikan sesuatu yang berbeda dengan pemain sayap lain yang kami miliki. Dia juga jarang mengalami masalah kebugaran dan ketidakpastian. Sangat luar biasa mengingat dia bisa bermain di berbagai posisi berbeda.” Ucap Arteta dikutip dari the telegraph.
Pembuktian Declan Rice Untuk Menggantikan Thomas Partey
Berbicara soal pembelian baru, tentu saja Declan Rice tidak bisa lolos dari perbincangan. Ia mengalami cedera ringan di sesi latihan. Arteta tidak mau ambil resiko pada pembelian termahalnya mereka itu. Rice pun tidak masuk skuad di laga lawan Barca.
Meskipun begitu, absennya Rice ternyata tidak terlalu berpengaruh buruk pada Arsenal di laga itu. Sebab Arteta masih punya Thomas Partey. Ia jadi pemain yang penting di laga tersebut. Partey masih bermain sangat bagus di lini tengah. Ia mampu membaca permainan dan menghentikan serangan Barca. Ia juga membantu serangan dengan umpan-umpannya.
Mengingat besarnya transfer Rice, bukan pertanyaan lagi kalau ia akan jadi starter musim ini. Tapi melihat Partey yang tampil bagus di pertandingan ini membuat situasi jadi tidak sederhana. Akan ada persaingan antara Rice dan Partey untuk merebut tempat utama.
Bagaimanapun, ini justru jadi rejeki nomplok bagi Arteta. Ini membuat skuad Arsenal semakin dalam. Arteta punya dua gelandang bertahan yang tak kalah bagusnya satu sama lain. Dan ini juga jelas mengatasi masalah Arsenal musim kemarin.
Di musim kemarin, Arsenal mengalami penurunan performa di akhir-akhir musim. Jika dilihat itu seiringan dengan anjloknya performa Thomas Partey. Musim lalu Partey adalah pemain yang sangat penting untuk Arsenal. Tapi ketidakpastian Partey membuat konsistensi jadi momok utama Arsenal.
Declan Rice adalah masa depan klub. Ia menawarkan konsistensi yang berharga untuk Arsenal. Dan ia akan jadi pemain fundamental untuk the gunners.
Mencetak Gol Adalah Kunci Kalahkan Man City
Pertanyaan penting lainnya adalah, mampukah Arsenal bisa kalahkan Man City di Liga musim ini? Menjawab pertanyaan itu, Arteta masih belum yakin. Tapi ia tahu untuk mengalahkan Manchester City maka timnya butuh mencetak gol yang banyak.
“Saya tidak tahu. Kami perlu mencetak gol sebanyak mungkin jika ingin mengalahkan Man City. Jika kami memiliki seorang pemain yang bisa mencetak sampai 40 gol itu akan mudah” Ucapnya.
Manchester City punya Erling Haaland. Monster yang mencetak 36 gol dalam 35 pertandingan liga. Jelas sulit bagi siapapun untuk menandingi catatan Haaland itu. Tekanan pun semakin besar melihat Haaland yang performanya belum turun juga.
Arsenal memiliki Gabriel Jesus sebagai ujung tombak. Memang, ia tidak mencetak gol di laga lawan Barca. Tapi pergerakannya sangat membahayakan. Ia bisa memancing bek untuk keluar dari posnya, berlari ke ruang kosong, dan menciptakan peluang.
Jesus memang bukan tipe ujung tombak yang secara reguler mencetak gol. Tapi Arteta telah mengatasinya dengan memasang para pemain kreatif yang bermain di belakangnya. Ada Havertz, Saka, Martinelli, Odegaard, dan Trossard.
Kelima pemain itu secara konstan melakukan rotasi untuk mencetak gol. Jadi, daripada hanya mengandalkan Jesus sebagai ujung tombak, Arteta memiliki 5-6 pemain yang secara konstan bisa mencetak gol dari mana saja.
Sumber referensi: Daily, FootballLondon, Telegraph, Sky, Goal, Athletic


