Selalu jadi second choice atau pilihan kedua pasti menyakitkan. Karena dengan begitu, kalian cuma jadi cadangan apabila sang pilihan pertama tak berjalan dengan baik. Terlebih jika pilihan utama cukup memuaskan, maka kalian sama sekali tak akan diberi kesempatan. Begitulah yang dialami oleh legenda sepakbola Meksiko, Javier Hernandez Balcazar atau yang sering kita sebut Chicharito.
Sebagian besar karir persepakbolaannya dihabiskan sebagai pemain cadangan di belakang striker-striker top yang menempati skuad utama. Padahal sejauh ini apabila Hernandez diberi kesempatan tampil, ia tak pernah mengecewakan sang pelatih. Meski begitu, nasibnya ya begitu-begitu saja.
Publik pun menjulukinya sebagai supersub. Atau secara harfiah bisa diartikan sebagai pemain cadangan super. Meski tak selalu menjadi pilihan utama, Chicharito selalu tabah menerima keadaan. Lantas, bagaimana kisah Javier Hernandez melewati peliknya menjadi supersub?
Daftar Isi
Ditemukan OIeh Manchester United
Tak mudah bagi Javier Hernandez yang lahir di keluarga yang sepakbola banget. Darah sepakbola dari ayah dan kakeknya yang mengalir di dalam dirinya membuat beberapa pihak keluarga tak memberikan opsi lain dalam cita-citanya. Keluarganya hanya menginginkan Hernandez jadi pesepakbola. Itu saja.
Oleh karena itu, Chicharito dimasukan ke akademi tim lokal bernama Chivas Guadalajara. Klub yang dulu juga dibela oleh sang kakek. Di sanalah skill olah bola Chicharito dipoles sedemikian rupa. Meski tubuhnya kecil, ia cukup berani dengan memilih posisi yang krusial dalam sepakbola. Chicharito memutuskan untuk jadi seorang penyerang tengah.
Setelah lima tahun di Chivas, bakat Chicharito mulai tercium oleh beberapa klub Amerika Latin dan Eropa, tak terkecuali Manchester United. Alhasil, pada tahun 2010 ia mencatatkan sejarah. Javier Hernandez jadi pemain Meksiko pertama yang menandatangani kontrak profesional dengan Setan Merah.
Pilihan Kedua
Javier Hernandez pun menginjakan kaki di Kota Manchester dengan status bukan siapa-siapa. Ia hanya pemuda desa yang datang dari klub lokal Meksiko. Manchester United bahkan merupakan klub Eropa pertama baginya. Bahasa yang digunakan pun sudah jauh berbeda dengan Meksiko. Itu awalnya menyulitkan, tapi Chicharito cepat belajar.
Saat ia datang, kondisi skuad Manchester United sudah lengkap. Tanpa tambahan pemain di lini depan pun, Setan Merah sudah cukup bringas di Liga Inggris. Bagaimana tidak? Lini depan United berisikan pemain-pemain macam Dimitar Berbatov, Wayne Rooney, Luis Nani, hingga legenda Real Madrid, Michael Owen yang kala itu dianugerahi nomor punggung 7.
Sebagai pemuda 22 tahun yang baru datang ke kota orang, Chicharito sadar untuk menembus skuad utama pasti tak akan mudah. Tanpa perlu dikasih tahu, ia sudah mengerti kalau dirinya pasti akan menjadi pilihan kedua atau bahkan pilihan ketiga. Tapi tak apa. Ini demi peningkatan karir pikirnya.
Sir Alex Ferguson pun terus meyakinkan Chicharito bahwa dirinya punya potensi. Hal itu dibuktikan dengan kesempatan yang diberikan oleh Fergie di laga yang cukup penting seperti laga Community Shield tahun 2010 melawan Chelsea. Melihat Michael Owen tak mampu menjalankan tugas dengan baik, Chicharito masuk menggantikannya di babak kedua.
Baru 20 menit, Chicharito sudah mencetak gol. Itu jadi gol debutnya bersama United. Yang unik adalah caranya mencetak gol. Ia menendang bola tapi malah menghantam wajahnya sendiri sebelum akhirnya masuk ke gawang Hilario. Situs Transfermarkt pun mencatat pemain Meksiko itu mencetak gol dengan sundulan.
Julukan Supersub
Hal serupa juga ia lakukan di Liga Inggris. Menjalani hampir semua pertandingan melalui bangku cadangan, aksi-aksi cerdik selalu disajikan oleh Chicharito. Badannya yang kecil justru menguntungkannya dalam menyelinap di sela-sela pemain bertahan lawan. The Little Pea selalu bisa diandalkan jika Fergie membutuhkan game changer di menit-menit akhir.
Yang paling diingat di musim perdananya saat ia jadi penentu kemenangan Setan Merah atas West Bromwich Albion, awal Januari 2011. Masuk di menit 61, penyerang asal Meksiko itu menjebol gawang lawan pada menit 75 untuk membuat timnya menang 2-1 atas tim tuan rumah.
Selama musim 2010/11, Chicharito mencetak setidaknya delapan gol ketika bermain dari bangku cadangan. Berkat catatannya itu, Chicharito langsung disejajarkan dengan legenda United, Ole Gunnar Solskjaer yang juga dikenal kerap mencetak gol dari bangku cadangan. Sejak musim itu, Chicharito pun dijuluki sebagai supersub baru Manchester United.
Tak Dihargai
Selama membela Manchester United, akhirnya Javier Hernandez dikenang sebagai sosok pembeda saat Manchester United mengalami kebuntuan. Meski kebanyakan bermain tak lebih dari 45 menit, tapi penyerang murah senyum itu mampu mengubah hasil akhir pertandingan.
Di era Fergie, tak ada pemain cadangan yang lebih penting darinya. Chicharito bak senjata rahasia Manchester United kala itu. Ketika pertandingan berjalan monoton dan United memerlukan sentuhan yang berbeda, di situlah waktu yang tepat bagi Chicharito untuk bersinar. Lawan patut cemas ketika melihat Chicharito bersiap di pinggir lapangan.
Meski demikian, tidak sedikit orang yang menganggap kalau pengaruh Chicharito di atas lapangan tidak begitu besar. Ia cuma berkeliaran di kotak penalti dan mencari ruang untuk mencetak gol. Melihat caranya mencetak gol cenderung tap-in atau hanya memanfaatkan kesalahan lawan, gol-gol yang dicetaknya pun dianggap sebagai kebetulan belaka.
Anggapan itu kian terasa kala Sir Alex Ferguson pergi pada tahun 2013. Kepergiannya membuat “jasa” Chicharito kian tak dihargai. Pelatih-pelatih setelah Fergie lebih gemar menggunakan Robin van Persie dan Wayne Rooney di lini depan.
Chicharito hanya dijadikan pelengkap tim untuk jaga-jaga apabila kedua striker tersebut cedera. Karena hanya Fergie lah yang tahu kapan waktu yang tepat untuk memainkan Chicharito. Artinya, tak ada Fergie Time, tak ada lagi Chicharito.
Berimbas ke Timnas
Maka dari itu, pemain asal Meksiko tersebut mengambil opsi pinjaman ke Real Madrid pada tahun 2015 dengan harapan menit bermain yang lebih baik. Tapi nyatanya image supersub sudah terlalu melekat pada diri Chicharito. Sama halnya di United, ia hanya jadi pemain cadangan di Madrid.
Meski beberapa kali mencetak gol hebat, Florentino Perez sama sekali tak tergoda untuk mempermanenkannya. Kepindahannya ke Madrid ibarat keluar dari mulut harimau tapi masuk ke mulut buaya. Selalu menjadi pemain cadangan ternyata berpengaruh pada posisinya di Timnas Meksiko.
Sejak Tata Martino menukangi El Tri tahun 2019, Chicharito sudah tak dipanggil lagi. Pelatih kawakan itu lebih gemar memanggil striker-striker pelari macam Raul Jimenez dan Hirving Lozano. Padahal Chicharito bermain apik di pertandingan terakhirnya saat laga uji coba melawan Amerika Serikat pada September 2019.
Kenyamanan di Leverkusen
Situasi yang dialami di Real Madrid juga menyadarkan Chicharito. Ia terbelenggu oleh statusnya sebagai pemain cadangan super. Dalam salah satu wawancara dengan media Spanyol, ia menegaskan kalau dirinya berlatih sangat keras untuk menjadi pilihan utama, bukan hanya sekadar pemain cadangan.
Chicharito lelah terus-terusan menjadi pilihan kedua. Ia ingin menghidupkan mimpinya menjadi ujung tombak utama yang selalu diturunkan sejak menit pertama. Akhirnya kesempatan yang ditunggu-tunggu pun tiba saat Bayer Leverkusen datang untuk memboyong sang pemain.
Pemain yang kini berusia 35 tahun itu menemukan kenyamanan di Liga Jerman. Ia akhirnya bisa merasakan jadi pemain yang rutin menjadi starter di setiap pertandingan sekaligus merasakan atmosfer berjalan dari tunnel stadion. Chicharito bermain selama dua musim di Leverkusen dan mencatatkan 39 gol. Kini, Javier Hernandez hidup nyaman di Amerika Serikat. Ia menjadi ujung tombak utama sekaligus kapten LA Galaxy.
Sumber: Bundesliga, BR, The Guardian, Planetfootball, Panditfootball


