Manchester City Rekrut Kovacic Buat Gantikan Gundogan?

spot_img

Teka-teki siapa rekrutan pertama Manchester City musim panas ini terkuak sudah setelah “The Next Modric”, Mateo Kovacic datang ke Etihad. Pemain Kroasia ber-DNA Eropa itu makin memantapkan mental tim yang baru saja meraih beberapa gelar.

Kehadiran Kovacic tentu atas kemauan sang arsitek tim Pep Guardiola. Maklum, dia baru saja ditinggal pergi Gundogan dan gagal mendapatkan Declan Rice. Melihat peran Kovacic di skema Pep, apakah ia adalah pengganti yang tepat bagi Gundogan? Atau jangan-jangan Pep sudah menyiapkan posisi tertentu untuknya?

Gagal Di Inter

Kovacic meniti karir dari Dinamo Zagreb sejak muda. Perjalanannya ke klub papan atas Eropa baru diawali di tahun 2013 ketika Inter Milan merekrutnya. Berseragam Nerazzurri di pertengahan musim 2012/13, Kovacic digadang-gadang bisa tampil apik.

Tapi sayang, Kovacic tak maksimal dimanfaatkan Inter Milan. Baik itu di bawah pelatih Stramaccioni, Mazzarri, maupun Roberto Mancini. Tiga musim bersama La Beneamata, torehannya tak cukup mentereng bagi pemain yang digadang-gadang sebagai penerus Luka Modric itu. Menurut Transfermarkt, catatannya hanya 97 laga dengan torehan 8 gol dan 11 assist.

Tiga Gelar Liga Champions Di Real Madrid

Setelah tidak di Inter, Kovacic bergabung ke Real Madrid. Ia meninggalkan Inter pada 2015. Ada dua alasan yang melandasi pilihan Kovacic. Alasan pertama adalah faktor Luka Modric. Diketahui Kovacic mengidolakan Modric dan menganggapnya sebagai sahabat. Di lain sisi, Modric lah yang mendorong Presiden Florentino Perez untuk memboyong Kovacic ke Santiago Bernabeu.

Alasan kedua adalah ketika itu Inter Milan sedang terkena Financial Fair Play sehingga harus menjual beberapa pemainnya untuk mengurangi beban gaji. Situasi itulah yang akhirnya dimanfaatkan El Real untuk bisa mempersatukan dua sahabat tersebut.

Dicap sebagai penerus Modric, ia rela lama mengantre di skuad Real Madrid sebagai pemain inti. Sebab Los Blancos di bawah pelatih Zidane sudah menemukan formula trio gelandang maut dalam diri Casemiro, Kroos, dan Modric.

Kovacic nyatanya hanya sebagai pelapis belaka selama tiga musim di Bernabeu. Menurut Transfermarkt, torehannya hanya 3 gol dan 8 assist dalam 109 laga yang dilakoninya.

Tapi di sisi lain, setidaknya ia banyak belajar dari para seniornya. Kovacic juga beruntung dapat merasakan mental seorang juara, ketika dirinya menjadi bagian dari hattrick juara Liga Champions Real Madrid.

Liga Europa dan Liga Champions Bersama Chelsea

Meski banyak raih trofi, namun ia belum puas karena hanya jadi ban serep. Melihat situasi tersebut, Chelsea bersedia menampungnya dengan status pinjaman selama semusim. Di bawah skuad arahan Maurizio Sarri, Kovacic mendapatkan tempatnya sebagai starter. Ia membentuk trio tangguh lini tengah bersama Kante dan Jorginho.

Tak butuh waktu lama bagi pemain yang berstatus pinjaman itu untuk menularkan DNA Eropa-nya. The Blues langsung dibawanya menjadi juara Liga Europa 2018/19 dengan mengalahkan Arsenal. Musim berikutnya Kovacic dipermanenkan oleh Chelsea. Selama dilatih Frank Lampard, ia tidak memperoleh satu pun trofi.

Akan tetapi, ketika Thomas Tuchel datang di pertengahan musim 2020/21, Kovacic kembali menularkan DNA Eropa-nya ke Chelsea. The Blues dibawanya meraih gelar Liga Champions usai di partai final mengalahkan Manchester City.

Naik Kelas Bersama Manchester City?

Sempat oleng musim ini dengan berbagai masalah internal Chelsea, Kovacic akhirnya memilih hijrah dari Stamford Bridge. Bak dapat durian runtuh, di saat Chelsea butuh beberapa pilarnya untuk cabut, ia malah ditawar klub yang musim ini merajai berbagai kompetisi, Manchester City.

Dengan nominal 30 juta pounds saja, Kovacic akhirnya hijrah ke Etihad musim depan. Antara Kovacic dan The Citizens sebenarnya sama-sama saling menguntungkan. City akan tambah kuat secara mental dan DNA Eropa-nya dari Kovacic. Sebaliknya, bagi Kovacic karirnya jadi lebih meyakinkan gabung tim seperti City, daripada ikut-ikutan pemain lainnya ke Liga Arab.

Berbeda Dengan Gundogan

Di Manchester City, Kovacic digadang-gadang menjadi penerus Gundogan. Tapi kalau dibandingkan, ternyata berbeda dari segi gaya main. Kita lihat saja gaya main Kovacic baik di Madrid maupun Chelsea. Ia lebih difungsikan sebagai pemain double pivot dan mengambil peran gelandang box-to-box untuk menjaga kedalaman di format 4-2-3-1, 4-3-3, atau 3-4-3.

Sedangkan Gundogan, bermain sebagai pemain “nomor delapan” yang lebih menyerang. Di format 3-2-4-1, Gundogan ditemani De Byuyne untuk lebih fokus menerabas kotak penalti lawan dan menciptakan peluang.

Saat membangun serangan, Kovacic ini lebih sering menjemput bola ke bawah, karena ia berposisi tepat di depan empat bek. Sedangkan Gundogan hanya fokus mengolah bola menjadi peluang atau gol. Karena sudah ada pemain yang mem-backup Gundogan di belakang seperti Rodri dan Stones.

Kelebihan Kovacic

Kalau ingin membandingkan secara fungsi, sebenarnya peran yang diemban Kovacic mirip dengan Rodri. Ia lebih cocok sebagai ball winner sekaligus pengatur tempo permainan lewat kualitas umpannya. Contohnya ketika Kovacic mengirimkan umpan lambung yang menjadi gol bagi Noni Madueke ketika melawan Arsenal.

Di sisi lain, Kovacic ini ternyata lebih unggul dalam hal statistik Most Ball Carries atau pemain yang banyak menggiring bola di Liga Inggris musim 2022/23. Menurut Opta nilainya hanya kalah dari Rodri yang berada di posisi pertama. Kovacic di angka 20,4 dan Rodri di angka 21,6.

Kelemahan Kovacic

Menjadi pemain yang jago menggiring bola bukan berarti dia tak punya kelemahan. Justru di situlah yang jadi bumerang bagi Kovacic. Sebab ia kerap kehilangan bola berkat terlalu lama menguasai dan mendribel bola. Berbeda dengan Rodri, meskipun banyak mendrible bola, ia lebih baik dari segi melindunginya.

Kovacic dianggap lemah melindungi bola. Ia juga dianggap kurang sat-set dalam mengirimkan umpan ke depan. Sebagai seorang yang berposisi sebagai pivot, ia cenderung lambat dalam mengantisipasi lawan.

Dimana Posisi Kovacic Di City

Lalu apa dong rencana Pep yang pas untuk Kovacic? Jadi pivot atau jadi Gundogan baru? Bukan Pep namanya kalau tak bisa mengoptimalkan peran para pemainnya di berbagai posisi. Lihat saja John Stones di posisi barunya sebagai gelandang.

Nah, hal itu juga akan berlaku bagi Kovacic musim depan. Setidaknya kala kehilangan kesempatan merekrut Declan Rice, peran Kovacic untuk menemani Rodri atau bahkan sebagai rotasi Rodri di posisi pivot jadi semakin besar.

Sebagai pengganti Gundogan pun sebenarnya ia punya modal statistik yang mumpuni. Dari segi shoot creating action atau keterlibatan si pemain dalam aksi yang menghasilkan tembakan, nilainya menurut Fbref termasuk tinggi.

Angkanya sekitar 3,21 per 90 menit, hanya terpaut sedikit dengan Gundogan yang mencapai angka 3,36. Di sisi lain, secara umpan progresifnya pun lebih baik dari Gundogan. Kovacic di angka 7,93, sedangkan Gundogan hanya di angka 6,61.

Meski dari jumlah gol maupun assist tak seproduktif Gundogan, Kovacic setidaknya bisa jadi alternatif pengganti Gundogan dengan gaya main berbeda. Apa pun nanti soal posisi Kovacic, yang jelas ia lebih fleksibel dan multiguna bagi skuad City. Serahkan dulu saja semuanya pada Pep. Niscaya semuanya akan beres.

Sumber Referensi : theathletic, trasnfermarkt, theathletic, fbref, theanalyst

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru