Silvio Berlusconi adalah salah satu pemilik sekaligus presiden tersukses dalam sejarah sepak bola. Selama periode 1986 hingga 2017 sebagai pemilik dan presiden AC Milan, Berlusconi berhasil memenangkan 29 trofi. Sementara bersama AC Monza, ia berhasil mengantar klub tersebut memenangi Serie C dan meraih promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah klub.
Di luar sepak bola, Berlusconi merupakan seorang pebisnis sukses. Ia adalah pemilik perusahaan media raksasa, Mediaset. Seperti yang banyak orang ketahui, Silvio Berlusconi juga seorang politikus dan merupakan mantan perdana menteri Italia.
Sepertinya, karena latar belakangnya yang kompleks itulah Silvio Berlusconi jadi memiliki visi atau pandangan terhadap masa depan yang jitu. Tahukah kamu, pada 2007 silam, Berlusconi sudah pernah meramalkan masa depan sepak bola Italia.
Berlusconi bahkan sudah memprediksi kalau Arab Saudi bakal ikut berinvestasi dalam sepak bola. Kini, setelah dirinya tiada, siapa yang menyangka kalau ramalan yang dianggap gila oleh orang-orang Italia itu kini terbukti benar.
“Saya melihat Serie A semakin lama semakin buruk. Kami adalah pemimpin saat ini, namun dalam 15 tahun ke depan, kami akan menjadi sebuah supermarket. EPL akan menjadi liga nomor satu dengan semua orang di belakang mereka. Kami tidak memiliki dana. Kemudian orang-orang Arab akan masuk ke sepak bola dan kami tidak memiliki daya tarik lagi,” kata Silvio Berlusconi dikutip dari IFTV.
“Apa yang kami tawarkan? Apa daya tarik kami? Jika pemerintah tidak campur tangan, kami akan menjadi roda ketiga. Ketika saya berbicara tentang hal-hal ini, orang-orang berpikir saya gila. Saya melihat masa depan calcio Italia sangat suram.”
Serie A adalah Supermarket Bagi Klub-Klub Premier League
Jika mundur ke 16 tahun silam, pernyataan tersebut memang terdengar gila. Namun, seperti kata Silvio Berlusconi, Premier League kini jadi liga nomor 1 di dunia dan Serie A menjadi supermarket bagi Premier League.
Pernyataan tersebut baru-baru ini juga dilontarkan oleh seorang jurnalis dari Eurosport Italia, Simone Eterno. Menurutnya, “Serie A adalah supermarket bagi klub-klub Premier League.”
Lebih lanjut lagi, Eterno juga mengatakan kalau Serie A sudah bukan tujuan akhir lagi. “Bahkan jika Anda bermain untuk AC Milan, Inter Milan atau Juventus, Seria A bukanlah ‘tujuan’ lagi karena Liga Super sudah ada, dan itu disebut Premier League.”
Pernyataan tersebut dilontarkan Eurosport untuk menanggapi kepindahan dua pemain Serie A ke Premier League yang baru-baru ini resmi diumumkan. Dua pemain yang dimaksud tersebut adalah Sandro Tonali dan Guglielmo Vicario.
Sandro Tonali diboyong Newcastle United dari AC Milan dengan kesepatan lebih dari €70 juta. Sementara Guglielmo Vicario baru saja resmi diperkenalkan sebagai kiper baru Tottenham Hotspur usai dibeli dari Empoli dengan harga €19 juta.
Kepindahan Tonali dan Vicario menambah panjang daftar pemain Serie A yang pindah ke Premier League. Di bursa transfer 2023 ini, Dejan Kulusevski dan Hamed Traore yang musim lalu berstatus pinjaman di Tottenham dan Bournemouth, kini telah resmi dipermanenkan dari Juventus dan Sassuolo. Bournemouth juga baru saja membeli Justin Kluivert dari AS Roma.
Sebelumnya, di bursa transfer musim panas 2022, ada Ivan Perisic, Destiny Udogie, dan Cristian Romero yang pindah ke Tottenham Hotspur. Dari Chelsea, ada Kalidou Koulibaly yang dibeli dari Napoli, Denis Zakaria yang dipinjam dari Juventus, dan pemain muda Cesare Casadei yang dibeli dari Inter Milan. Ada pula Aaron Hickey dan Mikkel Damsgaard yang dibeli Brentford dari Bologna dan Sampdoria, serta Remo Freuler yang diboyong Nottingham Forest dari Atalanta.
Mundur ke beberapa musim sebelumnya, Paul Pogba pernah dibeli Manchester United dari Juventus dengan harga €105 juta dan Romelu Lukaku pernah dibeli Chelsea dari Inter Milan dengan banderol €113 juta. Alisson, Mo Salah, dan Jorginho yang kini jadi bintang di Premier League juga dulunya dibeli dari AS Roma dan Napoli.
Memang tak hanya klub Premier League saja yang berbelanja di Serie A. Namun, tak bisa dipungkiri kalau dalam beberapa musim terakhir, para pemain bintang Serie A dengan begitu mudahnya dibajak klub-klub Premier League. Tak hanya oleh klub papan atas saja, bahkan klub papan bawah sekalipun sanggup membeli mahal bintang-bintang Serie A.
Sebagai contohnya, ada Hamed Traore. Musim lalu, bintang Sassuolo itu jadi bidikan AC Milan. Namun, tawaran Milan yang baru saja memenangi scudetto mentah di tangan klub semacam Bournemouth yang berkutat di zona degradasi.
Kondisi ini tentu sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi kedua liga di 2 dekade silam. Kala itu, Serie A adalah pembeli. Maklum, mereka masih jadi liga terbaik dunia dan destinasi akhir bagi para pemain bintang.
Sementara itu, Premier League juga sebenarnya pembeli. Namun, dengan pamor mereka yang kala itu tak seberapa, klub-klub Premier League hanya membeli pemain yang gagal bersinar di Serie A.
Seperti beberapa legenda Premier League berikut ini. Sebelum melegenda di Arsenal, Thierry Henry dulunya seorang bomber yang gagal di Juventus. Pun begitu dengan Patrick Vieira yang dibeli Arsenal setelah gagal bersinar di AC Milan.
Kisah serupa juga dialami Dennis Bergkamp. Setelah dua musim yang kurang berkesan dan banyak masalah di Inter Milan, ia dilego ke Arsenal di musim panas 1995 dan kemudian melegenda bersama The Gunners. Sementara itu, Gianfranco Zola, Gianluca Vialli, dan Ruud Gullit dulu hijrah ke Chelsea ketika usianya sudah berkepala tiga.
Serie A Jadi Tempat Menampung Pemain yang Gagal di Premier League
Kini, kondisi telah berubah. Serie A Italia sudah bukan lagi menjadi destinasi akhir bagi para pemain terbaik dunia. Dalam beberapa musim terakhir, kita telah mendengar Liga Italia sebagai “liga aki-aki” karena menjadi tempat bagi pemain yang ingin menghabiskan sisa kariernya di Eropa sebelum pensiun.
Selain “liga aki-aki”, Serie A kini juga telah bertranformasi menjadi tempat penampungan bagi para pemain yang gagal bersinar di Premier League. Ya, kondisi memang sudah berbalik. Jika dulu Premier League yang mengincar pemain gagal di Serie A, kini Serie A-lah yang membidik pemain-pemain yang gagal di Premier League, tentunya dengan harga murah atau diskon.
Fikayo Tomori dan Tammy Abraham adalah dua contoh terbaiknya. Gagal di Chelsea, dua pemain Inggris tersebut malah jadi bintang di AS Roma dan AC Milan. Sementara Chris Smalling yang sudah dianggap habis di MU malah jadi jenderal lini belakang Giallorossi. Alexis Sanchez dan Ashley Young juga dulu sempat jadi bintang di Inter Milan saat usianya sudah tak lagi muda.
Dalam beberapa musim terakhir, klub-klub Serie A juga jadi tempat menampung pemain-pemain Premier League yang kurang mendapat menit bermain di klubnya. Tiémoué Bakayoko, Tanguay Ndombele, dan Ethan Ampadu adalah beberapa contohnya. Terbaru, ada Ruben Loftus-Cheek yang baru saja pindah dari Chelsea ke AC Milan.
Kondisi tersebut tentu memprihatinkan. Tak bisa dipungkiri kalau kondisi tersebut terjadi akibat lemahnya keuangan klub-klub Serie A. Dijualnya Sandro Tonali ke Newcastle United adalah bukti sahih betapa tidak berdayanya kondisi finansial klub-klub Serie A.
Pelatih timnas Italia, Roberto Mancini bahkan menyayangkan kepindahan Sandro Tonali dari AC Milan. Menurutnya, sepak bola Italia dalam masalah jika semudah itu menjual bintang mudanya ke luar Italia.
“Di satu sisi ada beberapa penyesalan, jika seorang pemain sebagus dan semuda Tonali meninggalkan Italia, itu berarti ada beberapa masalah,” kata Roberto Mancini dikutip dari Football Italia.
Pernyataan lebih keras dilontarkan harian Forbes. Menurut mereka, “Kepergian Sandro Tonali Telah Merusak Liga.” Komentator kawakan Serie A, Fabio Caressa bahkan berujar kalau kini Serie A sebanding dengan Ligue 1, yakni “liga petani” yang menjadi tempat bagi klub Premier League menemukan dan menghasilkan pemain bintang.
Ramalan Silvio Berlusconi Terbukti Benar
Sekali lagi, situasi tersebut tercipta akibat dari betapa tidak berdayanya kondisi finansial klub-klub Serie A. Selama beberapa musim, klub Italia selalu bergantung dari pendapat hak siar TV yang untungnya tak seberapa. Italia masih gagal menjual mahal hak siar TV mereka.
Di sisi lain, Liga Italia dan klub-klub di dalamnya gagal melakukan modernisasi, baik dari segi produk, mentalitas, dan organisasi liga secara keseluruhan. Masih banyak orang-orang kolot di Serie A yang terjebak romantisasi masa lalu. Tidak adanya pembangunan stadion baru dan sulitnya klub Serie A membangun stadion sendiri juga menjadi bukti kalau sepak bola Italia memang jalan di tempat.
Siapa yang bakal menyangka kalau ramalan Silvio Berlusconi pada 2007 silam kini makin terbukti. Dengan sepak bola Italia yang hanya diam dan jalan di tempat, Serie A Italia kini telah menjadi supermarket bagi Premier League, liga yang dulunya merupakan konsumen Serie A. Seperti kata Silvio Berlusconi, masa depan Calcio Italia memang terlihat suram.
Referensi: IFTV, The Football Faithful, Football-Italia, Forbes, Eurosport.


