Bagaimana Remaja Gila Pesta Jadi Juara Treble Winner

spot_img

Maret 2019 di pertandingan Second City Derby yang mempertemukan Aston Villa dan Birmingham City. Seorang penyusup lapangan memukul wajah Jack Grealish yang masih bermain untuk Aston Villa. Grealish pun tersungkur di tanah dengan kebingungan.

Itu jadi pengalaman yang hina untuk Jack Grealish. Dipukuli seorang penonton saat dirinya bahkan tidak bermain di Premier League. Ya, Aston Villa saat itu bermain di kasta rendahan, divisi kedua Liga Inggris. Tapi kita semua tahu itu bukan akhir dari kisah Jack Grealish.

Ia mampu menemukan momentumnya sendiri untuk mekar. Tak lebih dari empat tahun setelah kejadian memalukan itu, Grealish jadi pemain Inggris termahal dan bermain untuk klub tersukses di Premier League. Dan di tahun 2023, Ia bisa berpesta gila-gilaan setelah dapat treble bersama Manchester City.

The Villans Sejati

Padahal jadi pemain Manchester City atau tim Premier League lain mungkin tidak terbayangkan oleh Grealish sebelumnya. Sebab Grealish lahir dari keluarga pendukung setia Aston Villa. Ayahnya adalah fans berat the Villans sejak lama. Grealish bahkan sudah bergabung dengan tim akademi Aston Villa sejak usianya masih 6 tahun.

Bakat Grealish memang sudah terlihat sejak usia muda. Skillnya membuat Grealish selalu menonjol di setiap tim kelompok usia. Ia bukan pemain dengan fisik di atas rata-rata. Tapi tubuhnya yang kecil membantunya untuk berlari dan selalu lolos dari cengkraman lawan.

Alasan lain yang membuatnya menonjol mungkin cara ia memakai kaos kaki. Sejak jadi pemain muda Aston Villa, Grealish memiliki ciri khas menggunakan kaos kaki pendek. Itu bukan sekedar untuk gaya-gayaan. Ada makna dibalik kaos kaki pendek Grealish.

“Di suatu musim, kaos kaki yang saya miliki menyusut karena dicuci. Saya dulu bukan pemain tim utama, jadi saya sungkan untuk meminta kaos kaki baru. Jadi saya tetap memakai kaos kaki yang kecil itu. Ternyata di musim itu saya mulai bermain dengan bagus. Jadi saya anggap ini sebagai jimat” Ungkap Grealish dikutip dari fourfourtwo.

Ketika usia Grealish menginjak 16 tahun, ia mulai benar-benar memikat perhatian manajer tim utama Aston Villa, Alex McLeish. Bagi McLeish, Grealish adalah pemain muda yang menjanjikan. Ia sudah tahu bahwa Grealish akan jadi aset yang sangat berharga untuk klub.

Tapi bukan McLeish saja yang berpikiran seperti itu. Klub-klub lain juga sudah mulai mengendus bakat Grealish. Salah satu yang paling serius adalah Manchester United. McLeish dan staf tim akademi harus berusaha kuat untuk mencegah Grealish ke MU.

Untungnya McLeish tahu kalau Grealish adalah penggemar berat Aston Villa, sama seperti ayahnya. Jadi dari situ McLeish mengundang Grealish dan ayahnya datang ke kantornya di Villa Park. McLeish bahkan memberikan kesempatan Grealish yang belum berusia 17 tahun itu duduk dibangku cadangan di laga lawan Chelsea pada Premier League musim 2011/12.

Pembuktian di Akademi

Usaha McLeish itu berhasil. Grealish mau menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama Aston Villa. Tapi itu jadi musim terakhir McLeish di Villa Park. Setelah membawa the villans duduk di peringkat ke-16 di musim 2011/12, Alex McLeish dipecat. Posisinya digantikan Paul Lambert.

Pergantian pelatih ini membuat Grealish harus menunggu lebih lama lagi untuk debut di tim utama. Ia hanya dipromosikan naik ke tim U-19 Aston Villa oleh Lambert. Tapi disitulah Grealish punya kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Di musim 2012/13 Jack Grealish membawa Aston Villa jadi juara di ajang UEFA Youth League, yang saat itu masih bernama NextGen Series. Ini semacam kompetisi UEFA Champions League versi U-19.

Meskipun membanggakan, Paul Lambert masih tak sudi memanggil Grealish ke tim utama. Padahal usianya sudah 18 tahun saat itu. Biasanya di usia segini para pemain hebat sudah melakukan debut di Premier League bersama tim utama. Tapi tidak dengan Grealish. Ia justru dipinjamkan ke tim divisi ketiga Liga Inggris, Notts County.

Sebenarnya kesepakatan peminjaman Grealish itu hanya sampai pertengahan musim 2013/14. Tapi Grealish memilih untuk memperpanjang masa peminjamannya di League One. Padahal saat itu Aston Villa menginginkannya kembali. Ia juga punya kesempatan untuk bermain di klub yang kastanya lebih tinggi.

Alasan utamanya adalah Notts County berada di dasar klasemen sampai pertengahan musim 2013/14. Grealish ingin membantu Notts County terbebas dari jurang degradasi. Misinya tuntas di akhir musim 2013/14. Notts County berhasil terhindar dari degradasi. Dengan begitu, Grealish akhirnya bisa pulang ke Aston Villa dengan perasaan bangga.

Masuk Tim Utama

Meskipun begitu, Paul Lambert tetap jarang memainkan Grealish di awal musim 2014/15. Lambert berdalih kalau ini untuk kebaikan Grealish sendiri. Ia tak mau terlalu mengeksploitasi Grealish yang masih muda dan rawan cedera.

Terlepas dari kepedulian Lambert, ia dipecat pada pertengahan musim 2014/15. Tepatnya bulan Februari 2015 atau pekan ke-25 setelah bawa Aston Villa ke jurang degradasi. Posisinya digantikan oleh Tim Sherwood.

Berbeda dengan Lambert, mantan pelatih Spurs ini tak ingin menjadikan Grealish sebagai pemanis bangku cadangan saja. Di bawah asuhan Sherwood, Grealish mulai sering jadi starter di laga penting. Salah satu momen paling diingat adalah penampilannya di laga lawan Liverpool pada babak semifinal FA Cup 2014/15.

Grealish tampil sebagai starter dan sukses bikin report bek the reds. Ia bahkan terlibat langsung dalam dua gol Aston Villa di laga itu. Termasuk satu assistnya kepada Fabian Delph di gol kedua Aston Villa. The Villans akhirnya menang dengan skor 2-1 dan melaju sampai final. Sayangnya Aston Villa kalah telak lawan Arsenal di final dengan skor 4-0.

Meskipun begitu, Jack sudah bisa membuktikan dirinya pantas berada di tim utama the villans. Bahkan Aston Villa menawarinya kontrak sepanjang 4 tahun. Sekaligus untuk menangkal Chelsea dan klub elit lain yang saat itu berminat memboyongnya.

Masa Kegelapan

Musim 2015/16 jadi awal mula titik terendah Jack Grealish. Ia tak bermain di dua laga pembuka liga karena cedera. Kemudian saat dirinya sudah pulih, giliran Aston Villa yang sakit. Meskipun Grealish hampir selalu tampil sebagai starter, the villans malah kalah di tujuh pertandingan berturut-turut.

Tim Sherwood pun dipecat dan digantikan oleh Remi Garde. Tapi pergantian pelatih tak membuat Aston Villa membaik. Di pekan ke-13 mereka dibantai Everton 4-0. Itu adalah kekalahan ke-10 dan membuat mereka terbenam di dasar klasemen.

Jack yang saat itu masih berusia 20 tahun melampiaskan kesedihannya pada hal yang salah. Ia ketahuan berpesta di klub malam di London. Garde yang tahu langsung menghukumnya dengan membuat Grealish bermain di tim U-21.

Sebenarnya itu bukan pertama kali manajer harus ikut mengintervensi hobi berpesta Grealish. Tim Sherwood sebelumnya juga pernah dibikin pusing setelah foto Grealish terkapar di jalanan karena mabuk tersebar di Internet di tahun 2015.

Aston Villa juga sama bobroknya dengan Grealish musim itu. Sampai musim 2015/16 berakhir, mereka hanya mampu mengoleksi 17 poin setelah hanya 3 kali menang dan 8 kali imbang. Aston Villa tenggelam di dasar klasemen. Dan untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, Aston Villa turun kasta ke divisi dua.

Ada ketakutan dari fans Aston Villa saat itu. Mereka takut Jack Grealish memilih hengkang daripada main di kasta kedua. Tapi Jack membuktikan kalau ia memiliki darah Midland sejati. Grealish memilih untuk tinggal di klub dan bertekad untuk membantu Aston Villa kembali promosi.

Tapi tekad kuat saja tidak cukup. Musim pertama the villans bermain di Championship, yaitu musim 2016/17 mereka finis di urutan ke-13. Di musim setelahnya, 2017/18 mereka juga gagal promosi setelah kalah di babak play off. Meskipun begitu, kebiasaan berpesta Grealish tidak berkurang. Ia masih suka kena marah para pelatih dan staf karena ketahuan mengunjungi klub malam.

Captain Jack

Musim 2018/19 juga tidak mudah dilalui oleh Aston Villa. Mereka duduk di peringkat ke-15 di pekan ke-12 Championship. Pelatih mereka, Steve Bruce pun dipecat. Posisinya digantikan oleh Dean Smith.

Setelah mengganti pelatih, performa Aston Villa jadi sedikit membaik. Tapi tidak dengan Grealish. Ia bahkan menderita cedera parah. Itu membuatnya harus absen selama tiga bulan.

Tapi Dean Smith punya ide brilian untuk bisa mendapatkan potensi penuh Grealish. Yaitu dengan menjadikannya sebagai kapten setelah ia pulih nanti. Dean Smith tahu kalau pada dasarnya Grealish adalah seorang fans Aston Villa sejati. Mengenakan ban kapten klub kesayangannya adalah suatu kehormatan. Itu tidak akan jadi beban untuknya. Malah membuat Grealish jadi lebih termotivasi.

“Itu keputusan yang mudah bagi saya. Saya tahu ban kapten tidak akan jadi beban untuk Jack. Ia adalah fans Aston Villa, dia akan menikmatinya. Lagipula kehebatannya di lapangan sudah jadi contoh untuk pemain lainnya. Menjadikan Jack kapten bisa meningkatkan kualitas itu”

Dean Smith benar. Begitu Jack kembali bermain di pekan ke-35 sebagai kapten, Aston Villa selalu menang di 10 pertandingan selanjutnya. The Villans pun berhasil merangkak naik ke posisi ke-5. Aston Villa akhirnya dapat promosi setelah mengalahkan Derby County di final babak play off.

Pemain Inggris Termahal

Musim 2019/20, Jack berhasil membawa the villans melaju sampai final Carabao Cup. Sayangnya mereka kalah melawan Manchester City di final. Di liga nasib Aston Villa juga tidak terlalu baik. Mereka finis di peringkat ke-17, hanya berjarak satu poin dari zona degradasi.

Meskipun begitu, Grealish bermain di hampir semua laga Aston Villa sebagai kapten. Ia mencatatkan 41 penampilan di semua kompetisi sekaligus mencetak 10 gol dan 8 assist. membuatnya jadi pencetak gol terbanyak di klub musim itu.

Menjelang musim 2020/21 Grealish semakin diminati klub Inggris lainnya. Aston Villa pun harus membuat klausul kontrak yang mematok harga 100 juta pounds untuk Grealish.

Aston Villa mengawali musim 2020/21 dengan meyakinkan. Mereka menang empat kali dalam lima pertandingan pembuka. Termasuk membantai Liverpool 7-2, dimana Grealish mencetak dua gol dan tiga assist.

Musim itu Grealish juga tampil di ajang Euro 2020. Dimana debut Euro pertamanya bersama timnas senior. Penampilan di Euro itulah yang membuat Pep Guardiola yakin untuk memboyongnya ke Manchester City. Di bulan Agustus, Pep pun resmi menjadikan Jack Grealish sebagai pemain Inggris pertama yang dibeli seharga 100 juta pounds.

Perdebatan soal loyalitas vs trofi memang topik yang ruwet di dunia sepak bola. Banyak fans Aston Villa yang mencaci Grealish setelah pergi ke Manchester City. Tapi yang perlu diketahui, meninggalkan Aston Villa juga jadi keputusan yang berat untuk Grealish.

Ia adalah orang Aston Villa sepanjang hidupnya. Dan itu tidak akan berubah meski ia bermain untuk Manchester City atau klub manapun. Hal lain yang tak berubah dari Grealish adalah hobinya dalam berpesta. Bedanya jika di tahun 2015 ia kedapatan terkapar mabuk di jalanan, di tahun 2023 ia berpesta untuk merayakan keberhasilannya mendapatkan treble.

Sumber referensi: Reuters, 442, Daily, Vavel, Mirror, Aston Villa

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru