Di dunia ini hanya ada dua anak manusia yang bisa menyabet gelar Premier League tiga musim secara beruntun. Mereka adalah Sir Alex Ferguson dan Josep Guardiola. Guardiola baru-baru ini mengantarkan timnya, Manchester City menjadi juara Premier League untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Persetan soal Manchester City yang kaya raya atau dipenuhi pemain-pemain top. Bagaimanapun harus diakui bahwa hanya di tangan Guardiola, Manchester City bisa meraih trofi Premier League dalam tiga musim beruntun. Rekor itu hampir sama dengan Sir Alex Ferguson selama menukangi Manchester United. Benarkah demikian?
Daftar Isi
Bagaimana Fergie Melakukannya?
Well, perlu seorang pelatih yang levelnya mursyid untuk menaklukkan Premier League tiga kali secara beruntun. Dan Fergie adalah salah satunya. Alex Ferguson awalnya diminta untuk melatih Manchester United pada tahun 1986. Melanjutkan Ron Atkinson, pendahulunya. Dengan harapan bisa menyamai kegemilangan Manchester United di era Sir Matt Busby.
Fergie mulai bekerja keras sejak saat itu. Ia mengumpulkan bibit-bibit pemain dan menjahitnya menjadi satu tim yang utuh. Namun, era keemasan Fergie di Manchester United baru dimulai tahun 1990-an. Waktu itu, Fergie menemukan pemain seperti Eric Cantona.
Bintang Prancis itu membawa pengaruh besar di skuad Fergie. Sayang, pada 1997, Cantona mendadak memutuskan gantung sepatu. Manchester United pun sempat goyah setelah ditinggal Eric Cantona. Tim ini gagal memanfaatkan 12 poin keunggulan dari Arsenal. Merelakan gelar Premier League musim 1997/98 jatuh ke tangan The Gunners.
Musim itu, MU juga menderita di Liga Champions dan Piala FA. Kegagalan telak membuat Fergie belajar. Ia coba membenahi United di musim berikutnya. Roy Keane, kapten yang menggantikan Cantona musim itu dipakai lagi, meski sering cedera. Lalu hadir pula Teddy Sheringham, Gary Neville, Paul Scholes, Nicky Butt, Ryan Giggs, dan David Beckham.
Pemain-pemain itulah yang bikin United tampil luar biasa di musim 1998/99. Penambahan Jaap Stam dan Dwight Yorke juga terbukti meningkatkan pertahanan dan serangan. Yorke yang berduet dengan Andy Cole menjadi duo berbahaya di Eropa. Fergie juga menemukan Ole Gunnar Solskjaer, alternatif yang kelak menjadi supersub terbaik MU.
On this day in 1999, Manchester United completed a historic treble after winning the Champions League 🤩🏆 pic.twitter.com/ZZl7Vbibez
— UtdCrib 👹 (@utdcrib) May 26, 2023
Gelar Premier League musim itu pun diraih. Tak cukup satu gelar. MU menaklukkan Bayern Munchen di final Liga Champions. Lalu mengandaskan perlawanan Newcastle di final Piala FA. Dengan tambahan Fabien Barthez di musim berikutnya menggantikan Peter Schmeichel, Fergie kembali menyabet dua gelar Premier League pada tahun 2000 dan 2001.
Mengulangi 2007-2009
Fergie kemudian mengulangi hattrick Premier League pada musim 2006/07 hingga 2008/09. Dengan kerangka tim yang jauh berbeda. MU dihuni pemain-pemain yang kelak menjadi bintang seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, Rio Ferdinand, Edwin van der Sar, Nemanja Vidic, Luis Nani, dan masih banyak lagi.
Dalam tiga musim itu, Manchester United juga tidak pernah mengunci gelar Premier League dengan kurang dari 87 poin. Musim 2006/07, Fergie dan MU-nya finis dengan 89 poin mengungguli Chelsea di posisi kedua dengan 83 poin. Lalu, di musim berikutnya, MU finis dengan 87 poin, mengangkangi Chelsea yang hanya mampu mengumpulkan 85 poin.
Kemudian pada musim 2008/09, Manchester United menjuarai Premier League dengan mengumpulkan 90 poin. Kali ini unggul dari Liverpool yang menghuni peringkat kedua dengan 86 poin. Pencapaian ini disempurnakan dengan gelar Liga Champions yang diraih MU pada tahun 2008.
Pelo Manchester United, Cristiano Ronaldo conquistou três títulos da Premier League seguidos (2006/07, 2007/09 e 2008/09), uma Uefa Champions League, na temporada 2007/08, e o Mundial de Clubes da Fifa no mesmo ano. pic.twitter.com/kUlS64PJFZ
— Império do Futebol (@imperiodofut) August 27, 2021
Percobaan Hattrick EPL Pep Guardiola
Omong-omong, sebelum mendapat tiga gelar Premier League beruntun pertamanya, Fergie sebenarnya sudah memiliki kesempatan pada musim 1994/95. Dua musim sebelumnya Premier League sudah diraih MU. Musim itu adalah kesempatan untuk hattrick, tapi United terjegal oleh Blackburn Rovers yang diperkuat Alan Shearer.
Kisah itu juga ternyata hampir mirip dengan yang dialami Josep Guardiola. Guardiola datang di Manchester City tahun 2016. Kegagalan ditemuinya di musim pertama. Namun, dengan perombakan di sana-sini, Guardiola membawa pulang gelar Premier League musim 2017/18 dan 2018/19.
100 points just isn’t for some. 👀 💯
— Anthony Dominic Duff (@anthonydduff) July 15, 2020
Still the best ever Champions to grace the Premier League – Manchester City 2017/18 pic.twitter.com/ttNDf2sajX
Musim 2017/18, Manchester City bahkan mengumpulkan 100 poin. Musim itu City masih diperkuat Sergio Aguero yang mencetak 21 gol. Selain itu, Guardiola juga didukung oleh Kevin de Bruyne dan Raheem Sterling yang sedang dalam mode super saiyan.
Lalu di musim berikutnya, City mengungguli Liverpool dengan selisih satu poin saja. Nah, pada musim 2019/20, Liverpool menghentikan upaya hattrick Premier League Guardiola. Pada musim itu, City memang sedang dalam kondisi kurang baik.
📆 2018/19 – 97 points & Champions League
— GiveMeSport (@GiveMeSport) May 15, 2023
📆 2019/20 – 99 points & Premier League
📆 2021/22 – 92 points & FA Cup & League Cup
Never forget how good Liverpool were 🔥 pic.twitter.com/jqwgEaqeR7
Kegagalan Hattrick
Guardiola gagal menyabet gelar Premier League ketiganya. Musim itu, City babak belur diterpa kasus dugaan Financial Fair Play. Tidak hanya itu, mereka juga tertinggal dari Liverpool asuhan Jurgen Klopp. Penampilan City kacau karena saat tertinggal poinnya dengan Liverpool, Guardiola tak bisa memperbaiki keadaan.
Aymeric Laporte yang cedera ligamen memaksa Fernandinho keluar dari perannya sebagai gelandang bertahan. Rodri pada waktu itu juga masih belum bisa beradaptasi. Permainan The Citizen menjadi kurang efektif kala itu. Mereka tak produktif dalam menyerang dan acap kali rentan dalam bertahan.
Guardiola pun terpaksa merelakan gelar Premier League jatuh ke tangan Jurgen Klopp. Untung saja, musim itu City masih mendapatkan dua trofi, yaitu Piala Liga dan Community Shield.
Akhirnya Pep Guardiola Berhasil
Musim 2020/21, Guardiola memulihkan Manchester City. Tekadnya jelas, tak mau lagi kehilangan trofi Premier League. Musim itu pula, manajer asal Spanyol menambahkan amunisi baru. Walaupun nama-nama yang datang waktu itu kurang begitu mentereng. Ruben Dias datang dari Benfica, Nathan Ake direkrut dari Bournemouth, sampai Ferran Torres diangkut dari Valencia.
Guardiola pun berhasil menutup musim itu dengan trofi Premier League. Unggul 12 poin dari Manchester United di peringkat kedua. Sang gelandang, Ilkay Gundogan menjadi kunci keberhasilan Pep meraih trofi itu. Kendati bukan striker, Gundogan mencetak 13 gol musim itu.
Manchester City are 2020/21 Premier League Champions 🏆 pic.twitter.com/Sw0dqwGQkY
— FootballJOE (@FootballJOE) May 11, 2021
Musim berikutnya, Guardiola lagi-lagi harus berkejaran dengan Jurgen Klopp di tangga klasemen hingga pertandingan akhir. Manchester City nyaris saja ditahan imbang Aston Villa di laga terakhir dan membiarkan Liverpool mengejek mereka lagi. Namun, Gundogan menjadi penyelamat dan menggenapi dua gelar Premier League Manchester City.
Musim 2022/23, Guardiola berencana hattrick Premier League. Dengan amunisi-amunisi baru seperti Erling Haaland dan Julian Alvarez. Tapi tak disangka ia justru mendapat perlawanan dari Mikel Arteta, muridnya sendiri. Arsenal hampir menggagalkan treble Premier League City. Namun, Arsenal malah menggagalkan rencananya sendiri.
Kini Pep Guardiola disebut telah menyamai rekor Sir Alex Ferguson dengan meraih tiga gelar Premier League secara beruntun. Akan tetapi, Guardiola masih belum kafah dalam menyamai rekor Fergie. Kalau benar-benar mau sepadan, Guardiola harus menyabet tiga gelar Premier League sekali lagi.
Sumber: TheAthletic, Mirror, InternationalChampionsCup, Talksport, Independent, BR, Goal


