Memasuki abad ke-21, kita kerap disuguhkan dengan kisah pesepakbola yang berusaha mengakhiri hidupnya karena tak sanggup memikul tekanan dan beban hidup. Jika kalian masih ingat, pada tahun 2011 silam sepakbola Inggris sempat dihebohkan dengan aksi bunuh diri legenda sepakbola Wales, Gary Speed karena masalah serupa.
Namun, tak semua pemain-pemain yang terkena gangguan mental berakhir dengan hilangnya nyawa. Beberapa dari mereka bisa survive dan melewati cobaan tersebut. Lee Hendrie contohnya. Mantan punggawa Aston Villa itu beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya namun gagal. Berkat orang-orang terkasih, ia mampu bangkit dari keterpurukan itu.
Daftar Isi
Dari Midlands Untuk Aston Villa
Generasi 90-an pasti tak asing dengan nama Lee Hendrie. Karena lahir di Midlands, membela Aston Villa seakan jadi keharusan baginya. Hendrie sendiri sudah bergabung dengan akademi Villa sejak 1993. Dengan bakatnya yang luar biasa, ia tak butuh waktu lama untuk menembus skuad utama The Villa.
Pada tahun 1994, ia sudah menembus skuad senior yang kala itu masih ditukangi Brian Little. Di usia 18 tahun, bakatnya sudah mengejutkan publik Inggris kala itu. Namun, Hendrie memulai debutnya bersama Villa dengan sangat buruk. Ia mendapat kartu merah di laga debutnya kontra Queen Park Rangers tahun 1995.
Meski begitu, perlahan namun pasti Hendrie mulai membangun reputasi sebagai gelandang tengah jempolan di Aston Villa. Pada saat itu, berkat kerja keras dan gaya bermainnya yang mirip dengan Gareth Barry, publik sepakbola Inggris menganggap Hendrie adalah masa depan lini tengah Timnas Inggris.
Dan benar saja, karena menampilkan performa impresif bersama klub yang sudah ia bela sejak usia belasan itu, Hendrie berkesempatan membela The Three Lions pada 1998. Ia mendapat bermain saat Inggris menghadapi Republik Ceko. Tapi laga uji coba itu jadi satu-satunya laga yang pernah dimainkan Hendrie. Sejak saat itu, ia tak pernah dipanggil lagi untuk memperkuat tim nasional.
Mulai Tersisih
Hendrie pun tetap berseragam Aston Villa hingga tahun 2007. Sayangnya, selama kurun waktu tersebut Hendrie tak pernah menyumbangkan trofi untuk Villa. Meski begitu, ia tetap dianggap sebagai legenda oleh beberapa fans berkat kesetiaannya pada Aston Villa.
Kehadiran James Milner dan perombakan yang dilakukan oleh pelatih Villa saat itu, Martin O’Neill pada tahun 2006 membuat Hendrie mulai tersisih dari skuad utama. Di usianya yang sudah menginjak 29 tahun, Hendrie pun dipinjamkan ke klub Inggris lainnya, Stoke City.
Setelah kembali, Hendrie tetap kesulitan untuk menembus skuad utama. Cedera mulai mengganggu performanya di lapangan. Pada musim 2005/06, ia sempat mengalami cedera lutut dan betis yang cukup parah. Meski sudah melakukan operasi, cedera lututnya sering kambuh dan itu membuat kebugarannya jauh menurun. Akhirnya Hendrie pun dilepas ke Sheffield United secara cuma-cuma pada tahun 2007.
Mendarat di Bandung
Pasca hengkang dari klub yang membesarkan namanya itu, Lee Hendrie mulai berkelana dari satu klub Inggris ke klub Inggris lainnya. Ia tak pernah bertahan lama hanya untuk satu klub saja. Selama berseragam Sheffield saja, Hendrie tak menjadi pilihan utama. Ia tak memiliki hubungan baik dengan sang pelatih, Kevin Blackwell dan lebih sering dipinjamkan ke klub lain.
Setelah dilepas Sheffield pada tahun 2009, Lee Hendrie sempat bermain untuk Derby County dan Brighton sebelum akhirnya nganggur pada tahun 2010. Lama tak terdengar, pada tahun 2011 Hendrie mengejutkan media-media Asia ketika memutuskan bergabung dengan salah satu klub Indonesia, Bandung FC.
Waktu itu, sedang terjadi dualisme di persepakbolaan Indonesia. Dan Bandung FC berlaga di Liga Premier Indonesia, kompetisi tandingan ISL yang digagas oleh Arifin Panigoro. Fyi saja, status LPI saat itu tak diakui oleh FIFA. Jadi Hendrie bisa dibilang bermain di kompetisi ilegal.
Sama halnya dengan klub-klub sebelumnya, Hendrie tak lama di Bandung. Ia sebetulnya dikontrak selama dua tahun, tapi ketika baru menjalani tahun pertama, ia sudah tak betah di Indonesia. Tahun berikutnya, ia memilih untuk memutus kontraknya dan kembali ke Inggris. Selama berseragam Bandung FC, Hendrie mengemas tiga gol dari 16 pertandingan saja.
Ketika pulang kampung, Hendrie belum berniat untuk pensiun. Namun, karena usianya sudah tak muda lagi, ia memutuskan untuk bermain di klub-klub kasta bawah. Ia bahkan sempat membela tim-tim yang tak tergabung dalam piramida sepakbola Inggris. Setelah dari Bandung, tercatat ia pernah membela Daventry Town, Chasetown FC, hingga memutuskan untuk pensiun di Tamworth pada tahun 2013.
Percobaan Bunuh Diri
Hanya bermain di klub-klub kasta bawah membuat pendapatan Lee Hendrie jauh menurun. Situasi itu ternyata sangat berdampak pada kehidupan sehari-hari sang pemain. Imbas dari pendapatannya yang menurun, namun masih menjalani gaya hidup mewah membuat Lee Hendrie dinyatakan bangkrut oleh pemerintah Inggris.
Usut punya usut, kebangkrutan Hendrie bukan semata-mata karena tak mampu meninggalkan kebiasaan hidup glamor. Selain menjalani pekerjaan sebagai pesepakbola, Hendrie diketahui juga sesekali berbisnis di bidang properti. Dilansir The Guardian, perusahaan propertinya merugi hingga 10 juta pounds (Rp184 miliar). Karena tak sanggup membayar hutang, beberapa aset pribadinya pun disita.
Penurunan karir yang drastis dan kehilangan sebagian besar hartanya membuat Hendrie depresi. Ia mulai tak memperhatikan kesehatannya dan kembali menenggak minuman keras setiap hari. Saking stresnya, Hendrie bahkan sempat ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menelan obat dengan jumlah banyak agar overdosis.
Namun, ia masih mendapat kesempatan kedua dari Tuhan. Ia masih selamat dan hanya menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa bulan kemudian, istrinya berniat untuk meninggalkannya. Kehilangan orang yang ia sayangi membuat tingkat depresi Lee Hendrie semakin menjadi-jadi.
Lee Hendrie Bangkit dari Keterpurukan
Kehidupan Hendrie pun makin parah. Ia kerap mengalami kecelakaan karena mengendarai mobil sambil mabuk dan melanggar peraturan lalu lintas. Ia juga pernah terlibat perkelahian di club malam. Untungnya, ia masih memiliki anak-anak yang peduli padanya. Merekalah yang jadi penyemangat Hendrie untuk kembali memulai hidup yang lebih baik.
Hendrie mulai mengurangi mengkonsumsi minum-minuman keras dan mencari pekerjaan. Pada suatu ketika, ceritanya terdengar sampai ke telinga media-media Inggris. Sky Sports jadi salah satu yang membagikan kisah hidup Hendrie. Mereka bahkan menampilkan sang pemain untuk bercerita bagaimana perjuangannya dalam melewati itu semua.
Seketika kisah itu viral dan akhirnya beberapa stasiun TV mulai menawari Hendrie untuk menjadi pundit untuk mengomentari pertandingan sepakbola. Singkat cerita, kehidupan Hendrie mulai stabil. Ia kini aktif kembali di dunia yang membesarkan namanya itu.
Tak hanya fokus di dunia pertelevisian saja, Hendrie tak lupa darimana ia berasal. Ia mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun akademi sepak bolanya sendiri. Akademi tersebut bernama Lee Hendrie Academy. Mantan rekan Eric Djemba Djemba itu mendirikan sekolah sepakbola itu di tanah kelahirannya, West Midlands, Inggris.
Sumber: Daily Mail, Sky Sport, The Guardian, Mirror, The Sporting


