Sesuai dugaan Chelsea yang kini kondisinya sedang carut-marut tak berkutik menghadapi sang juara bertahan Liga Champions, Real Madrid. Padahal beberapa musim terakhir, Chelsea dikenal memiliki rekor apik ketika menghadapi tim asal Spanyol tersebut. Contohnya saja ketika mereka meraih trofi Liga Champions tahun 2020/21 kemarin.
Tim yang kala itu masih ditangani oleh Thomas Tuchel berhasil mengalahkan Real Madrid dengan agregat 3-1 di babak semifinal Liga Champions. Namun, mengapa kini Chelsea begitu kesulitan untuk mengatasi perlawanan Madrid? Padahal pemain-pemain Los Galacticos yang mereka hadapi kurang lebih sama. Berikut ulasan yang membuktikan mengapa Chelsea layak kalah dari Real Madrid.
Daftar Isi
Pergantian Pelatih
Alasan yang paling umum adalah kondisi Chelsea itu sendiri. Selepas kepergian bos besar Roman Abramovich awal tahun lalu, Chelsea jadi tim yang hilang arah. Kondisi tim sedang dalam masa move on dari pemilik lama yang sudah belasan tahun merangkai kisah bersama.
Selain sedang menjalani masa transisi dari Roman menuju Todd Boehly, beberapa hari sebelum menghadapi Real Madrid, Chelsea juga baru melakukan pergantian pelatih dari Graham Potter ke muka lama, Frank Lampard. Keputusan ini terbilang cukup berani karena Lampard sudah pernah dicap gagal saat menangani The Blues periode 2019 hingga 2021.
Namun, Boehly yakin Lampard merupakan orang yang tepat untuk menangani Chelsea hingga akhir musim. Ia menganggap Lampard memiliki semua karakteristik dan kualitas yang dibutuhkan untuk membawa tim menuju kesuksesan. Ditambah, saat menangani Chelsea Lampard pernah membawa klub ke final Piala FA.
Namun kini situasinya sedikit lebih rumit. Di Liga Champions, lawan yang mereka hadapi bukan tim sembarangan. Rasanya sangat tidak mungkin bahwa Lampard akan jadi orang yang mengalahkan Real Madrid asuhan Carlo Ancelotti.
Sistem Lampard Jadi Bumerang
Hal itu pun terbukti di leg pertama perempat final Liga Champions. Bermain di Santiago Bernabeu, Lampard memilih formasi yang sama persis saat Chelsea mengalahkan Real Madrid dua musim lalu, yakni 3-5-2. Namun, pemilihan skema tersebut justru jadi awal musibah bagi The Blues.
Namun, dibutuhkan lebih dari sekadar asal jiplak formasi untuk mengalahkan Real Madrid. Nyatanya Lampard tak menyadari itu. Ia melalaikan beberapa poin penting dalam susunan permainannya sendiri.
Kurangnya perhatian pada susunan pertahanan Chelsea membuat tim yang bermarkas di Stamford Bridge itu menghadapi delapan tembakan on target di babak pertama. Menurut Opta, jumlah tersebut jadi yang terbanyak yang pernah dihadapi Chelsea selama bermain 45 menit di pertandingan Liga Champions sejak musim 2003/04.
Lucunya lagi, tembakan yang dilayangkan El Real kerap berasal dari umpan-umpan pendek sederhana. Itu menandakan kalau lini pertahanan Chelsea minim koordinasi dan kohesi. Madrid hanya membutuhkan 21 menit untuk mencetak gol pertama. Bahkan kita bisa lihat minimnya komunikasi saat terjadinya gol kedua. Pertahanan Chelsea yang terlalu dalam membuat Asensio berdiri bebas.
Memasang tiga bek justru membuat tiga penyerang Madrid, yakni Vini, Benzy, dan Rodrygo langsung berhadapan dengan tiga bek Chelsea. Karena Reece James dan Ben Chilwell kerap maju untuk membantu serangan, Vini dan Rodrygo yang melihat celah tersebut pun mengeksploitasi area yang ditinggalkan dua bek Chelsea.
Kartu Merah Chilwell
Bermain dengan 11 pemain saja sudah membuat Chelsea susah payah meladeni serangan-serangan Real Madrid. Bak jatuh tertimpa tangga, The Blues justru harus bermain dengan 10 orang pada menit 59. Ben Chilwell diganjar kartu merah langsung lantaran menjatuhkan Rodrygo di dekat kotak penalti Chelsea.
Jika ditelaah lebih dalam, kartu merah yang didapat Chilwell juga buah dari pengambilan keputusan yang salah dari Frank Lampard. Setelah jeda babak pertama, Lampard justru memilih Marc Cucurella yang tidak memiliki kecepatan untuk menggantikan Kalidou Koulibaly yang cedera.
Lagi-lagi Lampard tidak memperhatikan poin kecil ini. Rodrygo yang menyadari kelemahan Cucurella berhasil memanfaatkan situasi tersebut untuk berbalik badan dan melakukan akselerasi cepat. Praktis pergerakan Rodrygo membuat Chilwell panik dan terpaksa menjatuhkan pemain asal Brazil itu sesaat sebelum memasuki kotak penalti.
Vini dan Benzema Tak Terbendung
Terlalu jahat apabila hanya menyalahkan pertahanan Chelsea. Tak bisa dipungkiri, penyerang Real Madrid memang berada di level yang berbeda dengan pemain-pemain Chelsea saat ini. Duet Benzema dan Vinicius masih jadi mimpi buruk bagi siapa pun lawan mereka.
Di pertandingan-pertandingan penting, Benzema selalu bisa diandalkan untuk membongkar segala macam bentuk pertahanan. Di laga kemarin tiga pemain bertahan Chelsea sangat kerepotan untuk menjaga Benzema. Karim Benzema mode Ramadan kembali terbukti sangat berbahaya.
Berkat kecerdasan dan pengalamannya, Karim Benzema berhasil menarik keluar pemain bertahan Chelsea untuk meninggalkan posisi seharusnya. Ketika bentuk pertahanan Chelsea sudah buyar, maka Vinicius akan merangsak ke kotak penalti.
Vinicius bahkan jadi pemain terbaik dalam pertandingan tersebut karena terlibat dalam seluruh gol Los Merengues. Tak cuma itu, UEFA mengungkapkan kalau kemampuan individunya jadi ancaman serius bagi barisan pertahanan Chelsea. Kita bisa lihat bagaimana Wesley Fofana jatuh bangun menghentikan bintang Brazil tersebut.
Buruknya Lini Depan Chelsea
Lantas bagaimana dengan lini serang Chelsea? Masalah lini depan mereka masih sama, yakni penyelesaian akhir. Chelsea bukan tanpa peluang kala menghadapi Real Madrid. Tercatat The Blues berhasil melancarkan tujuh tembakan, namun hanya tiga yang mengarah ke gawang Thibaut Courtois.
Kembali gagal mencetak gol di laga melawan Madrid kemarin membuat Chelsea memperpanjang tren buruk soal mencetak gol. Dilansir Opta, Chelsea gagal mencetak gol dalam empat laga beruntun di semua kompetisi untuk pertama kalinya sejak Desember 1993.
Penyerang Chelsea yang perlu disoroti dalam pertandingan ini adalah Joao Felix. Bermain selama 65 menit, Felix kerap mendapat peluang-peluang kunci di lini bertahan Real Madrid. Namun fans dibuat kecewa dengan penyelesaian dan pengambilan keputusannya yang buruk. Dalam banyak kesempatan, ia hanya mampu mencatatkan dua tembakan tepat sasaran.
Karena jarang menjemput bola, sentuhannya juga sangat minim. Sofascore mencatat Felix hanya menyentuh bola sebanyak 27 kali, tak sampai separuh dari yang dilakukan Benzema, yaitu 58 sentuhan. Kontribusi Joao Felix sangat jauh dari ekspektasi, mungkin harus belajar dulu sama Darwin Nunez buat bobol gawang Courtois.
Chelsea Bukan Level Real Madrid
Secara statistik dan permainan di lapangan, Real Madrid sangat mendominasi di Bernabeu. Dua tahun lalu Chelsea boleh lebih unggul. Namun, dengan kondisi tim yang kini tengah dalam masa perbaikan, Chelsea berada jauh dari level tim-tim lain yang bermain di perempat final Liga Champions.
Gap yang terbentang antara kedua tim membuat skuad asuhan Carlo Ancelotti tak menemui halangan berarti saat menghadapi Chelsea. Terlebih setelah Chilwell di kartu merah, Madrid tahu apa yang harus mereka lakukan. Pengalaman trio lini tengah Real Madrid memanfaatkan setiap celah yang tercipta di pertahanan Chelsea. Sekarang Chelsea bukan lagi tandingan Real Madrid. Itu fakta yang tak terbantahkan lagi.
Sumber: The Athletic, Sky Sport, Sporting News, Sofascore


