Kita semua pasti pernah mendengar tentang rivalitas abadi antara Boca Juniors dan River Plate yang terbalut dalam laga Derby Superclasico. Semua orang pun paham apa yang dipertaruhkan saat kedua klub itu bertanding di atas lapangan. Namun, pernahkah kalian mendengar Derby Avellaneda?
Salah satu rivalitas paling panas di Argentina itu melibatkan dua klub lokal, Independiente dan Racing Club. Walau bukan yang terbesar di Argentina, duel tersebut jadi salah satu yang terbaik. Panasnya derby ini tak lepas dari fakta bahwa Independiente dan Racing masuk dalam empat klub terpopuler di Argentina dengan banyaknya pendukung.
Yang unik dari derby kali ini adalah soal jarak markas kedua tim yang sangat dekat. Dengan kedua stadion hanya berjarak sekitar 200 meter, Derby Avellaneda jadi pertandingan yang mencerminkan sebuah derby lokal sesungguhnya. Lantas, bagaimana kisah keseruan dua klub yang berdekatan namun saling sikut ini?
Daftar Isi
Derby Terbesar Kedua di Argentina
Sejak puluhan tahun lalu, pertandingan antara Boca dan River Plate boleh jadi laga paling panas yang pernah ada di Liga Argentina. Namun, jangan remehkan pertandingan derby lain. Karena Argentina bukan hanya soal kedua klub itu saja. Di sepakbola Argentina, setidaknya kita mengenal tujuh pertandingan yang bertajuk derby dan salah satunya adalah Derby Avellaneda.
Laga derby yang mempertemukan Independiente dan Racing Club ini tak kalah panas dari persaingan antara Boca Juniors dan River Plate. Derby yang mempertemukan dua klub asal Kota Avellaneda ini diberi label sebagai derby terbesar kedua setelah Derby Superclasico.
Sama halnya dengan Superclásico, Derby Avellaneda juga menawarkan persaingan sengit antar dua kelompok suporter yang kerap berujung pada kerusuhan berdarah. Bahkan tak jarang kerusuhan di derby kali ini melibatkan para pemain dari kedua klub tersebut.
Kedua klub didirikan pada tahun-tahun awal abad ke-20, dengan Racing lahir lebih dulu pada Maret 1903 sedangkan Independiente menyusul dua tahun kemudian pada Januari 1905. Bedanya, Independente didirikan di Buenos Aires dan baru pindah ke Avellaneda pada tahun 1907. Saat Independiente pindah, rivalitas pun seketika tercipta karena duel pertama mereka dimenangkan oleh Independiente yang dianggap sebagai klub pendatang.
Sejarah Rivalitas Kedua Klub
Rivalitas kedua klub ini sebetulnya agak lain apabila dibandingkan dengan rivalitas lain yang biasanya dipicu dari perbedaan pandangan politik, perbedaan kasta sosial, atau perbedaan kekayaan finansial klub. Derby Avellaneda adalah kisah tentang dua tetangga yang membenci satu sama lain. Mereka akan melakukan apa pun untuk membuktikan siapa yang terbaik.
Mengingat Independiente merupakan klub baru di Avellaneda. Derby tersebut bisa dibilang sebagai persaingan antara penghuni lama melawan kesebelasan pendatang. Muncul sebagai pendatang, Los Diablos Rojos justru dengan lancang mendirikan stadion persis di sebelah Estadio Juan Domingo Peron, markas Racing.
Independiente membangun Stadium Libertadores de América yang hanya berjarak dua blok atau sekitar 200 meter saja dari Estadio Juan Domingo Peron. Saking dekatnya, jika tim sedang berhadapan, fans tak perlu repot-repot menggunakan kendaraan umum untuk mencapai stadion rival.
Panasnya rivalitas antara Independiente dan Racing juga didasari oleh kedua belah pendukung yang tak mau akur. Saling lempar ejekan dan cacian ketika berhadapan sudah jadi makanan sehari-hari mereka. Bahkan ketika kedua tim sedang tidak bertemu, nyanyian sindiran pun tetap berkumandang di stadion masing-masing.
Tensi panas pertandingan bahkan sudah terasa sejak seminggu jelang derby. Ketika mendekati waktu kick off suasana mencekam selalu terasa di sepanjang jalan Kota Avellaneda. Hawa-hawa persaingan pun tak terelakan lagi. Meskipun memiliki hubungan darah, jika tak mendukung klub yang sama maka keadaan akan jadi canggung.
Momen Rusuh Derby Avellaneda
Namanya juga derby, pasti memiliki momen-momen tertentu yang akan selalu diingat hingga sekarang. Salah satunya terjadi pada 1915, di mana Independiente kembali meraih kemenangan 2-1. Namun, kemenangan tersebut dibatalkan oleh pengadilan setelah klub pendatang itu dituduh menurunkan pemain yang tidak memenuhi syarat.
Sebagai gantinya, kemenangan akhirnya diberikan ke Racing. Dengan tambahan tiga poin, itu sudah cukup bagi La Academia untuk meraih gelar Liga Argentina musim tersebut. Momen inilah yang disinyalir membuat rivalitas mereka kian mendarah daging. Kerusuhan semakin sering terjadi baik di dalam maupun di luar lapangan.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada November 1961. Pertandingan Derby Avellaneda sempat dihentikan karena terjadi kerusuhan di dalam lapangan. Bukan melibatkan suporter, kerusuhan kali ini justru melibatkan pemain dari kedua kubu. Akibatnya, masing-masing dari pemain Racing dan Independiente diusir oleh wasit. Laga tetap berlanjut dan berakhir dengan skor 1-1.
Salah satu yang paling mengerikan terjadi pada tahun 2006. Saat kedua tim bertemu di ajang Copa Libertadores, Racing tertinggal 2-0 atas Independiente. Hal itu memicu para fans Racing untuk berbuat rusuh di stadion. Mereka menyerang pihak pengamanan dan orang-orang yang ada di depan mereka. Hal tersebut memicu keributan yang jadi salah satu kerusuhan terbesar dalam sejarah sepakbola Argentina.
Tragedi 7 Kucing Hitam
Di tahun 1960-an, Racing memang jadi tim yang jauh lebih sukses dari Independiente. Kesuksesan Racing pun menumbuhkan rasa iri dengki di hati fans Independiente. Suatu saat, ketika Racing menjuarai Liga Argentina, beberapa penggemar Independiente yang kesal berjalan menuju stadion sang rival dan mengubur tujuh kucing hitam di bawah salah satu pintu masuk stadion Racing.
Percaya atau tidak, setelah fans Independiente menguburkan kucing di stadion Racing, klub tersebut bak diselimuti sebuah kutukan. Racing jadi seret gelar, bahkan terdegradasi pada tahun 1980. Di masa itulah Independiente mulai mendominasi sepakbola Argentina. Racing baru terlepas dari kutukan dan kembali meraih gelar pada tahun 2001.
Fans Racing Memiliki Nama Baik di Avellaneda
Meski sama-sama doyan rusuh dan bikin Kota Avellaneda berantakan, fans Racing tetap akan selalu memiliki nama baik di mata masyarakat ketimbang fans Independiente. Pendukung Racing bahkan dijuluki sebagai “Guardian” atau pelindung oleh masyarakat Avellaneda.
Julukan tersebut muncul karena masyarakat lebih menghargai klub yang sudah berdiri lebih dulu tersebut. Masyarakat awam juga melihat kesetiaan fans terhadap La Academia sangat tinggi. Meski dalam keadaan terpuruk, para suporter tetap datang ke stadion untuk mendukung tim kebanggaannya itu.
Sementara itu, image buruk justru sudah melekat pada pendukung Independiente. Mereka dianggap sebagai suporter garis keras yang taunya hanya bernyanyi dan menari di tribun saja, tanpa ingin tahu lebih dalam soal keadaan klub atau masyarakat sekitar.
Persaingan Prestasi di Argentina
Jika membicarakan soal derby, tentu kurang sah apabila tak membahas soal persaingan secara prestasi. Soal raihan trofi di liga domestik, Racing sudah pasti lebih unggul. Mereka tercatat sudah mengantongi 18 trofi Liga Argentina. Itu jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Independiente yang baru mengoleksi 14 trofi.
Meski selalu menyuguhkan rivalitas panas dan arogansi antarsuporter, Derby Avellaneda tetap indah untuk dinikmati. Meski kalah pamor dari Derby Superclasico, pertandingan antara Racing Club dan Independiente tetap jadi salah satu pertandingan yang menghidupkan gairah sepakbola di Argentina.
Sumber: FFT, These Football Times, Goal, Panditfootball


