Siapa yang tidak bangga menjadi seorang muslim yang mampu menjadi Hafidz dengan menghafal 30 Juz Al-Qur’an? Barangkali gelar tersebut merupakan impian dari seluruh umat muslim di dunia. Tak terkecuali oleh para pesepakbola muslim di luar sana. Contohnya saja Abou Diaby yang tetap berusaha menghafal Al-Qur’an di tengah padatnya jadwal pertandingan Arsenal.
Jauh sebelum Mesut Ozil yang juga dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an bergabung Arsenal, klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu pernah punya hafidz Qur’an lainnya, Abou Diaby.
Sebagai muslim yang taat, Diaby tak pernah meninggalkan ajaran islam dan selalu mengamalkannya dalam setiap jengkal kehidupannya. Mungkin yang paling diingat adalah ketika Diaby mengamalkan ajaran Islam tentang maaf dan sabar ketika ia mengalami cedera di Arsenal.
Daftar Isi
The Next Patrick Vieira?
Abou Diaby pernah dianggap sebagai salah satu pemain berbakat di Liga Inggris. Bermain untuk Arsenal, dia dipoles oleh tangan dingin Arsene Wenger. Oleh pelatih asal Prancis itu, Diaby bak sebuah proyek jangka panjang. Meski gaya bermainnya tak sama, ia dibentuk untuk menjadi penerus Patrick Vieira di lini tengah Meriam London.
Pada tahun 2006, Diaby baru berusia 19 tahun saat didatangkan Wenger dari Auxerre. Dengan postur tubuh tinggi dan permainan kaki yang terampil, sang Profesor yakin kalau dirinya telah menemukan mesin penggerak baru di lini tengah. Meski sempat membuktikannya di awal, karir Diaby di Arsenal tak berjalan seperti yang diharapkan.
Meski digadang-gadang sebagai penerus Vieira di Arsenal, nyatanya gaya main Diaby tak begitu mirip dengan mantan kapten Arsenal tersebut. Vieira dikenal sebagai gelandang bertahan yang agresif. Sedangkan Diaby memiliki gaya bermain seperti gelandang box-to-box karena punya kemampuan bertahan maupun menyerang sama baiknya.
Dalam beberapa laga, Diaby sering terlihat aktif merebut bola dari kaki lawan. Namun, di laga lain gelandang yang mengenakan nomor punggung dua itu bisa maju hingga kotak penalti, bahkan mencetak gol layaknya penyerang. Sayangnya, karir Diaby bak kembang yang keburu layu sebelum mekar. Ia jadi salah satu pemain yang bermasalah dengan cedera.
Hadiah dari Dan Smith
Diharapkan menjadi masa depan lini tengah Arsenal, karir Diaby justru berjalan mundur. Diaby jadi pemain Arsenal yang paling akrab dengan staf medis klub. Bukan sebagai sanak famili, melainkan karena Diaby jadi pemain Arsenal yang paling sering cedera.
Saking seringnya cedera, nama Diaby selalu dikaitkan dengan kata cedera. Bahkan di tanah kelahirannya di Prancis, Diaby mendapat julukan sebagai “L’Homme de Verre” atau yang berarti si manusia kaca.
Diaby pernah mengalami cedera parah kala Arsenal bersua Sunderland di Liga Inggris musim 2005/06. Kala itu, Arsenal sudah unggul 3-0 saat Diaby mendapat tekel keras dari bek Sunderland, Dan Smith di menit-menit akhir saat sedang menguasai bola. Diaby jatuh dan mengerang kesakitan. Tapi pengadil tak mengganjar kartu kuning pada Smith.
Arsene Wenger bahkan sampai marah besar kepada Smith. Menurutnya, tekel Smith bukan berniat untuk merebut bola, melainkan untuk melukai Diaby. Wenger bahkan sempat mengatakan jika perkara itu bisa dibawa ke pengadilan, ia akan melakukannya demi keadilan untuk Diaby.
Sisi “Positif” dari Cedera
Diaby pun sama, ia sempat marah kepada Daniel Smith. Namun, ia sadar bahwa itu tak akan mengubah apa pun. Ia memilih bersabar dan memaafkan bek Sunderland tersebut. Toh ia masih berusia muda. Diaby berpikir dengan beberapa perawatan ia akan kembali ke lapangan.
Sebagai seorang Muslim yang taat, keyakinan Diaby mendorongnya untuk menjadi pribadi yang selalu kuat. Tidak hanya dalam kehidupan pribadinya, tapi juga ia terapkan dalam sepakbola. Islam mengajarkan Diaby bersabar dan berusaha menjadi lebih baik setiap harinya.
Cederanya itu membuat Diaby harus absen selama sepuluh bulan lamanya. Dan dalam masa pemulihannya, ia dikabarkan selalu berdoa dan mengisi kekosongan dengan kegiatan positif. Sesekali ia mengunjungi komunitas-komunitas muslim yang ada di London dan sekitarnya. Di sanalah ia menyempatkan membaca Al-Qur’an dan menghafal beberapa juz.
Kebiasaan itu berlanjut meski ia sudah pulih dari cedera. Itu diungkapkan oleh salah satu pengajar Ebrahim College di London, Mufti Muhammad. Ia berkata kalau Diaby merupakan muslim yang aktif menghafal Al-Qur’an. Bahkan suara bacaannya sangat merdu. Kala itu, Mufti menyebut Diaby sudah hafal 19 juz Al-Qur’an. Dan mungkin di usianya sekarang hafalannya sudah jauh bertambah.
Cedera Merusak Karirnya
Diaby sempat memulai kembali karirnya. Namun, ia tak pernah mencapai potensi terbaiknya. Cederanya di laga Sunderland ternyata berdampak besar bagi karir sepakbolanya. Cedera lain selalu menghantui Diaby. Setiap tahun Diaby setidaknya mengalami satu kali cedera.
Menurut Daily Mail, cedera yang paling sering menyerang Diaby adalah engkel dan cedera otot. Bahkan gelandang berpaspor Prancis itu sudah mengalami 42 cedera selama sembilan tahun berseragam The Gunners. Akhirnya Diaby mengakhiri masa baktinya dengan Arsenal pada tahun 2015.
Dari 180 pertandingan bersama Arsenal, sebagian besar ia mulai dari bangku cadangan. Bukan karena kualitasnya yang jelek, melainkan kondisi tubuhnya yang tak pernah fit 100%. Itulah yang membuat dirinya melepas nomor punggung dua dan tak menjadi andalan Wenger dalam tiga musim terakhirnya.
Ini jadi hal yang sangat mengecewakan bahkan untuk Arsene Wenger itu sendiri. Ia merasa gagal membuat sang pemain mencapai potensi maksimalnya. Meski demikian, Diaby tetap sabar dan menerima segala kondisi yang ada.
Setidaknya, selama pemulihan ia bisa memperdalam ilmu agama dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk sekitar. Kabarnya, dengan banyaknya waktu luang ia menjadi pribadi yang doyan sedekah. Diaby tercatat sebagai salah satu donatur tempat sekolah Islam yang terkenal di London.
Pensiun
Setelah dari Arsenal ia bergabung dengan Marseille. Dengan harapan bisa membangun kembali reputasinya sebagai gelandang papan atas. Namun semuanya sia-sia. Kebugaran masih jadi masalah utama. Berbagai cedera selalu menghalangi Diaby untuk berkembang. Ia bahkan hanya memainkan lima pertandingan selama dua musim.
Dilansir Goal, setelah mengalami cedera di laga melawan Sunderland, sepakbola tak pernah terasa sama lagi baginya. Ia mengalami masa-masa buruk selama kurang lebih sepuluh tahun berkarir di Arsenal dan Marseille. Meski demikian, Diaby tetap menganggap itu sebagai salah satu proses dalam karirnya. Dengan ending yang tak diharapkan oleh siapa pun, akhirnya Diaby pensiun di usia 32 tahun.
Untuk menunjukan sisi kemanusiaannya, setelah pensiun Diaby mendirikan Abou Diaby Foundation untuk mengatasi kemiskinan di Afrika dan Asia. Sebagai umat muslim yang baik, ia menyadari kalau ada hak orang lain di setiap rezeki yang didapat. Ia pun ingin terus berbagi ke sesama di sisa hidupnya melalui yayasan yang didirikannya itu.
Sumber: Daily Mail, Goal, BRfootball, Football London, Mirror


