Kesabaran sepertinya tidak lagi menjadi nama tengah punggawa Tottenham Hotspur, Harry Kane. Striker Timnas Inggris yang terkenal memiliki kesabaran yang mungkin Nabi Ayub saja mindir itu sudah muak dengan klubnya sendiri yang tak kunjung dapat trofi.
Musim ini The Lilywhites hampir memastikan tidak mengangkat satu pun trofi. Spurs belum lama ini tersingkir dari Liga Champions, satu-satunya kompetisi tersisa yang bisa diraih. Kekalahan tipis dengan agregat 1-0 dari AC Milan mengubur mimpi Lili Putih untuk menyabet trofi Liga Champions.
Daftar Isi
Musim Ini Tottenham Gagal di Kompetisi Domestik
Perjuangan Tottenham Hotspur musim ini sangatlah sulit. Meski sebetulnya nggak sulit-sulit amat. Paling tidak, musim ini Tottenham masih bisa untuk meraih satu trofi. Tapi genetika Spursy melekat kuat pada tim London yang satu ini.
Sebelum diusir AC Milan dari Liga Champions, Tottenham Hotspur sudah pontang-panting di kompetisi domestik. The Lilywhites dihentikan Nottingham Forest di Piala Liga atau Carabao Cup di putaran ketiga. Tidak tanggung-tanggung, Spurs kalah 2-0.
FT: Nottingham Forest 2-0 Tottenham Hotspur
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) November 9, 2022
⚽️ Renan Lodi 50′
⚽️ Jesse Lingard 57′
🔴 Orel Mangala 75′
Spurs tersingkir dari Carabao Cup usai dikalahkan oleh klub peringkat terakhir EPL yang sempat bermain dengan 10 pemain. Jesse Lingard 1 gol & 1 assist! pic.twitter.com/VbZPQKMPdK
Usai kalah gagal total di Carabao Cup, harapan Spurs ada di Piala FA. Namun, bukannya melenggang mulus hingga minimal ke semifinal, The Lilywhites malah dihentikan oleh tim yang bahkan tidak sedang berlaga di Premier League. Spurs takluk 1-0 atas Sheffield United di putaran kelima.
Satu-satunya yang tersisa adalah Liga Inggris. Tottenham masih punya peluang untuk mengangkat trofi itu musim ini. Namun, hal itu semi mustahil. Spurs masih bertengger di peringkat keempat.
Kalau ingin mengangkat trofi Liga Inggris musim ini, Spurs mesti mengejar ketertinggalan 18 poin dari Arsenal di pucuk. Apakah Tottenham Hotspur mampu melakukannya? Tentu saja. Jika itu dilakukan di alam lain. Atau terjadi di multiverse yang lain.
Padahal Sudah Dilatih Antonio Conte
Ironisnya, Tottenham Hotspur sudah dilatih Antonio Conte sejak awal musim. Conte salah satu pelatih terpandang. Ia kondang dengan sebutan pelatih atau manajer serial winner. Pada dasarnya Conte termasuk manajer yang bisa menjamin trofi ketika diberi kepercayaan satu musim penuh.
Conte sudah melakukan hal itu ketika melatih Chelsea, Juventus, Inter, dan bahkan AS Bari. The Lilywhites tepat sekali menunjuknya sebagai pelatih. Namun, yang terjadi ia masih gagal untuk menjadikan Spurs tak lagi Spursy.
🇮🇹 Took over Juventus in 7th place and went on to win the Serie A three seasons in a row.
— GrosvenorSport (@GrosvenorSport) June 2, 2021
🏴 Took Chelsea from 10th place to Premier League Champions in his first season in England.
🇮🇹 Won Inter Milan their first Serie A in eleven years.
🏆 Antonio Conte is a serial winner. pic.twitter.com/a6oub2l38m
Terlepas dari itu, kepemimpinan Conte di Tottenham juga problematik. Singkatnya, itu berbeda ketika ia melatih Chelsea, Juventus, dan Inter. Di Tottenham Hotspur, Conte dituntut untuk membangun fondasi skuad dan mereparasinya. Hal yang jarang ia lakukan.
Permasalahan berikutnya sistem Conte tidak relevan dengan sepak bola hari ini. Meski tidak selalu tidak relevan. Tapi Tottenham musim ini gagal menciptakan peluang dari area luas. Spurs hanya mengandalkan kecemerlangan individu para pemainnya, seperti Harry Kane, atau hanya berpangku pada bola mati.
Tottenham Hotspur are set to replace Antonio Conte at the end of the season.
— Nana Kwesi Eshun (@_NanaCwesi_) March 11, 2023
Chelsea should get him a contract ASAP. pic.twitter.com/UWWIt3WWOq
Conte juga terkesan enggan memainkan sejumlah pemainnya. Ia jarang melakukan rotasi. Maka ia harus menerima akibatnya saat pemain reguler yang dibutuhkan tidak tersedia. Selain itu memang ada faktor eksternal seperti Conte yang harus dirawat untuk pemulihan operasinya.
Mentalitas Masih Jadi Masalah
Oke, balik lagi ke Tottenham Hotspur yang sampai dilatih Conte pun masih sulit memperoleh trofi. Nah, problem yang paling nyata di Spurs adalah mentalitas. Tim yang satu ini seakan-akan tak lagi memiliki mentalitas untuk juara sejak terakhir meraih trofi, yaitu Piala Liga 2008.
Akan tetapi, Cristian Stellini, asisten yang menggantikan Conte mengatakan bahwa sesungguhnya kurang tepat menyebut Tottenham tidak punya mentalitas juara.
Kata Stellini, Tottenham masuk kok ke daftar tim yang bermental juara. Namun, di titik yang sama, Tottenham juga meragukan. Apalagi jika menghadapi situasi dan tekanan yang tinggi.
“Setiap musim kadang lebih baik, kadang lebih rendah. Tapi setiap musim serupa masalahnya. Kami harus mengubah ini. Kami ingin mengubah ini,” kata Stellini dikutip 90Min.
Sampai saat ini, bagi Stellini yang dibutuhkan Tottenham Hotspur adalah rasa lapar untuk memenangkan trofi. Sebab selama ini, sejauh ini, sampai detik ini, rasa lapar akan trofi masih belum hinggap ke Tottenham Hotspur.
Spurs Tidak Memprioritaskan Trofi
Argumentasi Stellini tersebut sebenarnya segendang sepenarian dengan keadaan klub. Tidak selamanya benar Tottenham tak punya mentalitas juara. Toh, pada era Mauricio Pochettino, Spurs produktif memenangkan pertandingan. Dengan kata lain, mentalitas pemenang itu ada, tapi tidak bersemi.
Pochettino membawa mentalitas pemenang. Jose Mourinho yang pernah melatih juga sama. Dan hari ini, kurang bermental pemenang apalagi si Antonio Conte itu? Nah, yang jadi masalah di Tottenham adalah bukan hanya mentalitas.
#OnThisDay in 2008, Ledley King and Robbie Keane lifted the League Cup trophy as Tottenham Hotspur beat Chelsea 2-1 at Wembley Stadium. #COYS pic.twitter.com/5WMke5mZnV
— Talking THFC (@TalkingTHFC) February 24, 2018
Setelah juara Piala Liga 2008, Tottenham tak lagi memprioritaskan trofi, tapi tempat di Liga Champions. Itulah mengapa Tottenham pernah sangat berupaya lolos ke sana pada tahun 2010 ketika mengalahkan Manchester City.
Mantan manajer yang bawa Tottenham ke final Liga Champions 2019, Mauricio Pochettino mengatakan, trofi kecil seperti Piala Liga dan FA sangat tidak penting. Klub, menurutnya, tidak perlu menjadikan dua trofi domestik itu tujuan karena tidak sepenting Premier League dan tempat di Liga Champions.
#TottenhamHotspur #Pochettino pic.twitter.com/uatMF4pdDi
— 🇦🇷 (@Oshawot8) March 8, 2023
Pernyataan Pochettino itulah yang justru disayangkan oleh para fans. Penggemar frustrasi karena Poch semestinya bisa memberikan trofi Piala FA atau minimal Piala Liga bagi Tottenham Hotspur. Dilansir The Athletic, pemilik juga ternyata tak menganggap Piala Liga dan Piala FA penting.
Wajar saja kalau pada akhirnya Jose Mourinho dipecat walau berhasil mengantarkan Tottenham Hotspur ke final Piala Liga 2021. Di mana Mourinho punya catatan apik ketika sudah berada di final, apa pun kompetisinya.
Mourinho sendiri merasa aneh tak diberikan kesempatan memimpin laga di Wembley tersebut. Sang pemilik, Daniel Levy saat itu memilih Ryan Mason karena menurutnya Mason akan memberi Spurs peluang lebih baik untuk finis di posisi empat.
1 – Tottenham Hotspur have come from behind at half-time to win as many Premier League games under Ryan Mason as they did in 14 instances under José Mourinho (W1 D2 L11). Inspired. pic.twitter.com/Jd5w8E40su
— OptaJoe (@OptaJoe) April 21, 2021
Pengaruh Daniel Levy
Spurs yang sulit meraih trofi tak lepas dari pengaruh Daniel Levy. Pria berkepala licin itu menjadikan Tottenham Hotspur mesin uang saja. Mungkin karena inilah tiket ke Liga Champions lebih diutamakan daripada piala domestik. Levy juga terkenal sangat pelit.
Tagihan gaji para pemain Tottenham Hotspur secara signifikan lebih rendah daripada para pesaingnya. Padahal untuk bersaing di puncak tanpa gaji yang memadai sangatlah sulit. Levy kerap melepas pemain pilarnya, tapi hal itu tidak diimbangi dengan cara Spurs mencari, mengembangkan, dan merekrut pemain.
Daniel Levy in attendance today. pic.twitter.com/U0DxWmMtdi
— hotspurreport (@hotspurreports) March 11, 2023
Levy semestinya menyadari banyak klub sekarang mulai cerdik. Tapi ia masih saja menggunakan cara-cara lama. Tak ayal jika desakan mundur sering terdengar. Namun, dari segi bisnis, Levy terbilang bagus. Levy menjalankan Tottenham Hotspur sebagai perusahaan yang menguntungkan tanpa kejahatan keuangan apa pun.
Tapi kalau tak berorientasi ke trofi, akan ada korban bermunculan. Salah satunya Harry Kane. Karena kesetiaannya tak kunjung terbayarkan dengan trofi, Harry Kane bisa saja hengkang dari Tottenham Hotspur, cepat atau lambat.
Sumber: TalkSport, Yahoo, Quora, 90Min, TheAthletic, CartilageFreeCaptain, ArabNews


