Roger Schmidt, Insinyur Mesin di Balik Ganasnya Benfica

spot_img

Sport Lisboa e Benfica adalah klub tersukses di Portugal. Klub berjuluk “As Águias” itu sudah mengoleksi 83 trofi, termasuk di antaranya 37 trofi Liga Portugal, 26 trofi Taça de Portugal, dan 2 trofi UEFA Champions League.

Sayangnya, sudah hampir 4 tahun Benfica puasa gelar. Musim 2018/2019 jadi kali terakhir mereka mengangkat trofi. Setelah menjuarai Liga di musim tersebut, Benfica belum lagi juara.

Roger Schmidt Datang, Benfica Kembali Bertaji

Setelah berganti manager sebanyak 3 kali, kesempatan untuk kembali merasakan juara akhirnya datang di musim ini. Adalah Roger Schmidt, manager asal Jerman kedua dalam sejarah klub yang sebentar lagi akan mewujudkannya. Hebatnya, kans besar itu ia lakukan setelah merombak tim besar-besaran.

Sebanyak 37 pemain dilego dengan berbagai skema di dua bursa transfer. Darwin Núñez, Roman Yaremchuk, Haris Seferovic, Jan Vertonghen, dan Enzo Fernandez adalah beberapa di antaranya. Schmidt yang sudah biasa menangani transfer pemain kemudian mendatangkan 12 pemain anyar, semisal Alexander Bah, David Neres, Fredrik Aursnes, dan Julian Draxler.

Selain itu, Schmidt juga mempromosikan 4 produk akademi Benfica, salah satunya Antonio Silva. Mantan pelatih Bayer Leverkusen itu juga mengintegrasikan kembali Florentino Luís yang selama dua musim terakhir menjalani masa peminjaman.

Perombakan tersebut terbukti sukses besar. Dengan skuad yang lebih segar, Benfica sudah mengkudeta puncak klasemen sejak pekan ke-4 Liga Portugal. Hingga pekan ke-24, “As Águias” tengah memimpin dengan raihan 65 poin.

Laju mengesankan Benfica juga terjadi di ajang Liga Champions. Setelah melibas Midtjylland dan Dynamo Kyiv di babak kualifikasi, “As Águias” di luar dugaan berhasil melangkahi PSG, Juventus, dan Maccabi Haifa untuk lolos ke babak 16 besar dengan status juara Grup H.

Di babak 16 besar, Benfica yang dipertemukan dengan Club Brugge tampil tanpa ampun. Setelah membawa pulang kemenangan 2-0 di leg pertama, mereka melibas Club Brugge dengan skor telak 5-1 di Estadio da Luz.

Berkat hasil tersebut, Benfica lolos ke perempat final Liga Champions Eropa untuk kedua kalinya secara beruntun. 23 gol yang sejauh ini mereka cetak juga untuk sementara membuat “As Águias” jadi tim tersubur di UCL.

Benfica memang tak sempurna. Meski melaju ke perempat final UCL tanpa tersentuh kekalahan dan punya kans besar untuk kembali menjuarai Liga Portugal, mereka telah terhenti di ajang Taça de Portugal dan Taça da Liga.

Meski begitu, di musim ini, pasukan Roger Schmidt sempat mencatat 29 laga tak terkalahkan. Sejauh ini, Benfica juga baru kalah 2 kali dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Dan semua capaian tersebut berkat polesan taktik Roger Schmidt.

Transformasi Roger Schmidt: Rela Resign Demi Sepak Bola

Namun, siapa yang menyangka kalau dulunya Roger Schmidt adalah seorang insinyur mesin di perusahaan otomotif ternama di Jerman? Pelatih yang genap berusia 56 tahun pada 13 Maret itu bahkan bukanlah mantan pemain profesional.

Akan tetapi, hidup Roger Schmidt yang lahir di kota kecil bernama Kierspe di distrik Märkischer Kreis, di negara bagian Nordrhein-Westfalen itu memang tak jauh dari sepak bola. Namun, jalan yang ia tempuh untuk menjadi pelatih seperti sekarang ini sangatlah panjang.

Sejak 1986 atau saat berusia 19 tahun, Schmidt mulai terjun ke level semi-profesional. Berposisi sebagai gelandang, ia menyebrang dari satu klub regional ke klub regional lain yang berlaga di level 5 dan 6 piramida sepak bola Liga Jerman.

Namun, Schmidt tak sepenuhnya fokus pada sepak bola. Upah yang ia terima dari sepak bola, ia gunakan untuk membiayai kuliahnya di jurusan Teknik Mesin, dengan spesialisasi teknologi plastik, di Paderborn University.

Setelah lulus, Schmidt yang masih nyambi bermain bola di waktu senggangnya, mulai bekerja sebagai insinyur mesin di perusahaan otomotif Benteler, yang memproduksi suku cadang mobil dan memiliki pabrik di kota Paderborn. Profesi tersebut ia tekuni selama 8 tahun. Selama itu pula, kariernya sebagai pemain masih berlanjut.

Setelah hampir 19 tahun berkecimpung di level semi-profesional, nasib Roger Schmidt mulai berubah di tahun 2004. Muncul kesempatan untuk menjadi pemain-pelatih di Delbrücker SC di divisi enam Liga Jerman. Kala itu, Schmidt mesti membagi dirinya sebagai seorang pemain, pelatih, insinyur, dan seorang ayah dan suami bagi keluarganya.

Setelah satu musim mengemban tugas berat itu, Schmidt memutuskan gantung sepatu di usia 37 tahun dan hanya fokus sebagai pelatih. Di musim penuh pertamanya sebagai pelatih, ia berhasil membawa Delbrücker promosi ke divisi 5. Schmidt kemudian bertahan di klub tersebut hingga musim panas 2007.

Di tahun tersebut, ia juga memutuskan untuk resign dari Benteler. Penyebabnya adalah tawaran dari klub divisi 5 Liga Jerman, SC Preußen Münster, klub legendaris yang merupakan salah satu pendiri Bundesliga. Sikap keras kepala Schmidt untuk mencoba tantangan tersebut jadi dalihnya.

Akan tetapi, Schmidt tak menerima begitu saja tawaran tersebut. Di dalam kontraknya, terdapat perjanjian yang menyatakan bahwa klub akan mencarikannya pekerjaan sebagai insinyur di sebuah perusahaan di kota Münster jika dirinya dipecat. Namun, saat dirinya dipecat pada 19 Maret 2010, Schmidt yang sudah menganggap sepak bola sebagai jalan takdirnya, memutuskan tidak ingin lagi menjadi insinyur.

Roger Schmidt yang menganggur kemudian menggunakan waktu senggangnya untuk mengikuti kursus kepelatihan tingkat empat di Hennes-Weisweiler-Akademie, sekolah pelatih terbaik di Jerman. Ia lulus di tahun 2011 dengan nilai terbaik kedua di angkatannya.

Begitu lulus, Roger Schmidt langsung dikontrak SC Paderborn yang bermain di Bundesliga 2. Tawaran itulah yang kemudian mengubah seluruh hidupnya.

Saat Ralf Rangnick ditunjuk sebagai direktur olahraga RB Salzburg pada 2012 silam, Roger Schmidt yang baru saja mengantar Paderborn finish di urutan kelima Bundesliga 2 adalah pelatih pertama yang ia pekerjakan di Austria. Bisa dibilang kalau dialah yang meletakkan fondasi yang menjadikan RB Salzburg seperti sekarang.

Di musim pertamanya, Schmidt gagal mempertahankan gelar juara liga. Namun, pendukung Salzburg dibuat jatuh cinta dengan gaya mainnya yang sangat ofensif. Di musim berikutnya, Salzburg berhasil mengawinkan gelar Bundesliga Austria dengan Piala Austria.

Di musim panas 2014, Roger Schmidt kembali ke Jerman setelah menerima pinangan Bayer Leverkusen. Ia bertahan di klub tersebut hingga dipecat pada Maret 2017. Sempat merantau 2 tahun di Liga Cina dan mempersembahkan Piala FA Cina untuk Beijing Guoan di tahun 2018, Schmidt kemudian ditunjuk sebagai suksesor Ernest Faber di PSV Eindhoven pada April 2020.

Bersama PSV, Roger Schmidt sukses memenangkan KNVB Cup dan Johan Cruyfft Shield. Prestasi itulah yang kemudian membuat Benfica menunjuk Roger Schmidt setelah kontraknya di Eindhoven berakhir di musim panas 2022.

Roger Schmidt: Temperamental, tetapi Jago Mengorbitkan Pemain

Roger Schmidt sebenarnya dikenal sebagai pelatih temperamental. Ia pernah diskors 3 pertandingan akibat menolak keluar lapangan setelah menerima kartu merah dari wasit. Schmidt juga beberapa kali terlibat pertengkaran dengan pelatih lain, salah satunya dengan Julian Nagelsmann.

Schmidt juga kerap bereaksi keras terhadap pertanyaan jurnalis. Sikapnya ketika ngotot mempertahankan Enzo Fernandez adalah salah satu contohnya.

Sebagai pelatih, Schmidt juga dikenal keras. Dalam sesi latihan, sebuah sirine atau peluit akan berbunyi jika anak asuhnya tidak segera merebut kembali penguasaan bola dalam lima detik. Sudah beberapa kali dirinya mengaku mendapat kritik atas metode latihannya yang menguras fisik. Namun, pendiriannya yang kuat atas konsep sepak bola yang ia usung itulah yang menjadikan Schmidt sesukses sekarang.

“Saya menyukai sepak bola yang intens selama sembilan puluh menit. Kami ingin mengendalikan nasib kami sendiri. Jadi, kami ingin menguasai bola dan membawanya ke area lawan secepat mungkin. Saya ingin memaksakan permainan kami kepada lawan,” kata Roger Schmidt, dikutip dari Maisfutebol.

Bermain sangat ofensif dan cepat, serta menerapkan garis pertahanan tinggi disertai tekanan konstan saat kehilangan bola jadi ciri khas taktik Roger Schmidt. Meski formasinya bergonti-ganti dari 4-2-3-1, 4-4-1-1, atau 4-4-2, pakem tersebut tetap diterapkan tak peduli siapa lawannya.

Itu pula yang ia terapkan bersama Benfica musim ini. Hasilnya, Benfica keluar sebagai tim tersubur di Liga Portugal dengan torehan 61 gol. Mereka juga keluar sebagai tim dengan jumlah kebobolan paling sedikit dan paling banyak mencatat clean sheets.

Roger Schmidt tak hanya piawai meramu taktik berbasis data. Ia juga terkenal sebagai pelatih yang menciptakan hubungan harmonis dengan anak asuhnya. Kedekatan itulah yang membuatnya sukses mengorbitkan banyak pemain bintang masa depan.

Sadio Mane di RB Salzburg, Son Heung-min, Julian Brandt, dan Kai Havertz di Bayer Leverkusen, serta Cody Gakpo, Noni Madueke, dan Ibrahim Sangaré di PSV adalah beberapa pemain yang pernah ia poles.

Kini, bersama Benfica, ada Gonçalo Ramos dan António Silva. Di bawah asuhan Roger Schmidt, keduanya menemukan performa terbaiknya hingga sanggup menembus skuad Portugal di Piala Dunia 2022.

“Para pemain dapat berbicara dengan saya tentang apa saja. Namun saya menginginkan sesuatu sebagai imbalannya, yakni 100% keinginan untuk berkembang dan 100% kemauan untuk melakukan segalanya demi kesuksesan tim. Dalam hal ini, saya tidak membuat konsesi apa pun,” kata Roger Schmidt dikutip dari Maisfutebol.

Tak hanya dengan pemain, Roger Schmidt juga menciptakan hubungan harmonis tersebut dengan para pendukung klub yang ia tangani. Meski ia gagal membawa RB Salzburg juara di musim pertamanya, para fans Salzburg memberinya dukungan dengan membentangkan spanduk bertuliskan “Stay Schmidt”.

Pemandangan lebih emosional terjadi tatkala ia meninggalkan Beijing Guoan. Kala itu, para pendukung Beijing Guoan mengantar kepergian Roger Schmidt menuju bandara dengan isak tangis.

Kini, bersama Benfica, Roger Schmidt tengah membuat para pendukungnya tersenyum bahagia. Schmidt benar-benar paham membuat sebuah tim yang tak hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga nyaman untuk didukung.


https://youtu.be/5UxM6ZVe9O0

Referensi: Transfermarkt, UEFA, Westphalian News, Maisfutebol, UEFA, France24.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru