Sejak Degradasi 2012, Mengapa Blackburn Rovers Sulit Kembali ke Premier League?

spot_img

Lebih dari satu dasawarsa kabar klub penuh sejarah, Blackburn Rovers tidak berdesir di telinga kita. Terakhir, berita yang muncul adalah ketika klub Inggris Tengah itu mempersilakan umat muslim untuk Sholat Ied di markasnya. Tapi soal prestasi cenderung sepi.

Sejak degradasi pada 2012 silam, perkembangan klub yang pernah juara Liga Inggris tersebut nyaris tak pernah diulik. Padahal kini Blackburn sedang berusaha untuk kembali ke Premier League. 

Blackburn Rovers musim ini juga memastikan lolos ke perempat final Piala FA saat tim yang menghabisi Manchester United 7-0 saja tidak sampai ke sana. Well, sebenarnya apa yang terjadi dengan Blackburn Rovers? Mengapa Blackburn sulit kembali ke Premier League?

Terdegradasi Tahun 2012

Nona dan tuan penggemar berat Liga Inggris sejak zaman baheula mengenal Blackburn Rovers adalah klub yang biasa saja, namun berhasil memberikan kejutan ketika meraih trofi Liga Inggris pada tahun 1995.

Musim itu, Blackburn berlari di depan Manchester United. Blackburn memang luar biasa kala itu. Keberadaan Alan Shearer dan berkat juru taktik yang kini namanya diabadikan di Anfield, Sir Kenny Dalglish, Blackburn menjadi sangat kuat.

Bertahun-tahun Blackburn bisa bertahan di ketatnya persaingan Premier League. Namun, pada tahun 2012, tim berjuluk The Riversiders dipaksa menyerah dengan keadaan. Blackburn terdegradasi setelah hanya memenangkan 8 dari 38 pertandingan.

Pergantian Pemilik

Gejalanya sudah muncul dari tahun 2010. The Riversiders merengkuh kesuksesan berkat pemilik lawasnya, Jack Walker. Ia seorang fans yang mendanai klubnya sendiri.

Kemenangan di Liga Inggris musim 1994/95 menjadi bayaran yang setimpal untuk dedikasi Walker. Namun, kekayaan tak selamanya abadi. Pada suatu keadaan, Walker terpaksa menjual Blackburn ke orang lain. Pada tahun 2010, The Riversiders sudah berpindah kepemilikan.

Venkateshwara Hatcheries Group, perusahaan milik keluarga almarhum Banda Vasudev Rao yang bergerak di industri peternakan melalui anak perusahaannya, Venkys London Ltd membeli Blackburn Rovers. Pemimpin Venkys London adalah dua bersaudara: Balaji Rao dan Venkatesh Rao.

Namun, perahu Blackburn malah goyang setelah pergantian pemilik. Di tangan Venkys, alih-alih tetap menjadi tim yang disegani, Blackburn justru berubah drastis menjadi tim yang layak diolok-olok. Sang pemilik baru dituding tidak punya kemampuan untuk mengelola tim sepak bola.

Apalagi Venkys juga pernah berurusan dengan aparat kepolisian. Para pendukung pun berkali-kali memprotes kebijakan Venkys. Protes yang sampai pada tahap anarkisme. Apa yang bikin para pendukung sangat memprotes kepemilikan baru?

Rencana yang Gagal Mulu

Saat membeli Blackburn Rovers, Venkys punya sederet rencana adiluhung untuk merevitalisasi klub. Ia ingin merekrut para pemain bintang berkelas. Apa yang bisa kamu pikirkan? Venkys berencana mengangkut David Beckham, Raul, dan Ronaldinho ke Ewood Park.

Ia juga ingin merekrut mendiang Diego Maradona untuk menjadi manajer. Suatu mimpi dan rencana yang sebetulnya boleh-boleh saja. Tidak ada yang melarang Venkys untuk merekrut pemain tadi dan Maradona. Tapi apa yang coba direncanakan sang pemilik terasa keluar dari realitas. Kalau bahasa orang sini halu.

Maka gagal menjadi nama tengahnya. Venkys juga ternyata punya maksud lain ketika membeli Blackburn Rovers. Venkys ingin menjadikan Blackburn merek dagang global dan memanfaatkannya.

Hobi Pecat Pelatih

Secara aktif pemilik baru mendukung penuh Blackburn supaya bertahan di Premier League. Tapi, sekali lagi, Venkys tak punya strategi yoi untuk mewujudkan cita-citanya. Alih-alih menyusun strategi yang matang, baru sebulan menjadi pemilik Blackburn, pelatih sekaliber Sam Allardyce dipecat.

Sayangnya, Big Sam digantikan oleh pelatih medioker seperti Steve Kean yang minim sekali pengalaman. Mulai dari sinilah arus protes dari pendukung jadi lebih deras dari Bengawan Solo. Kehebohan dimulai. Para penggemar mulai antipati pada sang pemilik.

Steve Kean tak bisa berbuat banyak. Gagal mendatangkan para bintang, sang pemilik justru membuat pemain anyep seperti Ruben Rochina, Myles Anderson, sampai Mauro Formica menandatangani kontrak. Untung, musim pertama melatih, Blackburn selamat dari jerat degradasi.

Namun, pada musim 2011/12, bukannya mengganti pelatih yang lebih tokcer, Steve Kean dipertahankan. Penampilan Blackburn musim itu justru memburuk. The Riversiders terpontal-pontal. Ujungnya, Blackburn Rovers terdegradasi. Steve Kean dipecat.

Finansial Kacau

Setelah degradasi dari Premier League, Venkys benar-benar tak memiliki strategi yang lebih jitu dari menyembunyikan kekayaan pejabat. Tapi itu bisa dimaklumi. Degradasi membuat finansial goyah.

Dilansir laporan BBC, Rovers harus merugi sebesar 36,5 juta poundsterling (Rp673 miliar) sebelum pajak akibat tersingkir dari Premier League. Padahal pada tahun sebelumnya bisa untung 4,3 juta poundsterling (Rp80 miliar).

Selain itu, omset klub merosot tajam hingga 27,3 juta poundsterling (Rp503 miliar) pada perhitungan yang berakhir Juni 2013. Hutang bersih The Riversiders juga meningkat.

Dari yang semula 24,5 juta pounds (Rp452 miliar) menjadi 54,5 juta poundsterling (Rp1 triliun). Kerugian yang khusus operasional mencapai 24,3 juta poundsterling (Rp448 miliar) sejak dibeli Venkys tahun 2010 sampai terdegradasi.

Blackburn juga kehilangan pendapatan tiket sebesar 1,1 juta poundsterling (Rp20 miliar). Finansial yang sempoyongan mendorong sang pemilik belingsatan mencari jalan. Untungnya, musim itu aturan Championship mengizinkan tim merugi 8 juta poundsterling (Rp147 miliar) musim itu.

Setelah Steve Kean, Blackburn dilatih lima pelatih berbeda sebelum kedatangan Tony Mowbray sebagai manajer dan Steve Waggott sebagai CEO yang membawa angin segar. Keduanya mengembalikan pijakan Blackburn dengan menjual beberapa pemain demi keselamatan finansial.

Mantan Juara yang Degradasi ke Kasta Ketiga

Ironisnya, degradasi ke kasta kedua bukan satu-satunya kesengsaraan mantan juara Liga Inggris ini. Sebab pada tahun 2017 Blackburn mencatatkan rekor sebagai mantan juara Premier League pertama yang turun ke kasta ketiga.

Kemenangan 3-1 atas Brentford di laga terakhir EFL Championship musim 2016/17 tak mampu menyelamatkan Blackburn dari degradasi. Padahal pada musim itu, The Riversiders dilatih tiga pelatih yang berbeda. Paul Lambert, Owen Coyle, dan Tony Mowbray.

Para penggemar pun makin tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Venkys. Fans menuding pemilik baru telah menghancurkan tim dengan investasi yang buruk. Meski begitu, Tony Mowbray mencoba bertanggung jawab. Beruntungnya, Blackburn hanya semusim di kasta ketiga.

Harapan Baru di Tangan Jon Dahl Tomasson

Tatkala kontraknya habis, Mowbray tidak memperpanjangnya. Kedua pihak sepakat untuk berpisah. Momen inilah yang mengantarkan eks pemain AC Milan, Jon Dahl Tomasson ke Blackburn Rovers. Di sisi lain, Venkys ingin menata ulang tim.

Dengan finansial yang minimal, sebisa mungkin Blackburn harus optimal. Musim ini, Tomasson ditunjuk sebagai manajer. Ada ambisi besar yang mengendarai pekerjaan mantan pemain Denmark tersebut. Ia direkrut dengan durasi lima tahun.

Tomasson yang sudah mengantongi dua trofi Liga Swedia kala melatih Malmo bertekad mengembalikan Blackburn ke Premier League. Direktur sepak bola Rovers, Gregg Broughton mengatakan pemilik kini punya misi jangka panjang.

Penunjukkan Tomasson adalah pengejawantahannya. Mental Tomasson kala jadi pemain Newcastle United, AC Milan, dan Villarreal berharap bisa menular ke anak-anak Ewood Park. Tomasson merenovasi skuad dengan material bakat yang menarik.

Ada bek kuat Dominic Hyam dan pemain sayap Ryan Hedges. Blackburn juga punya pemain paling cemerlangnya saat ini, Ben Brereton Diaz yang usianya masih 23 tahun. Pemain lainnya, Tyrhys Dolan juga mendukung aliran bola.

Blackburn juga punya mantan pemain Southampton, Sam Gallagher yang jadi pengganggu dan pencetak gol. Pendekatan yang dipakai Tomasson sejatinya tidak terlihat meyakinkan. Ia pernah menerapkan penguasaan bola, tapi belakangan sering bermain pragmatis.

Blackburn kini sedang berada di zona play off promosi. Setidaknya itu sebelum menghadapi Stoke City. The Riversiders juga tampil apik di Piala FA. Mereka melangkah ke perempat final dengan melalap juara Liga Inggris 2016, Leicester City. Jadi, pada kangen nggak nih sama Blackburn Rovers?

https://youtu.be/I67K5nj4AIM

Sumber: BBC, TheAthletic, LancashireTheTelegraph, LancashireTheTelegraph2, ESPN, Quora, Squawka, TheGuardian, PanditFootball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru