Ketika Gembong Narkoba, Pablo Escobar Menyulap Sepakbola Kolombia

spot_img

Kolombia bukan dikenal sebagai negara sepakbola seperti negara-negara tetangganya: Brazil, Uruguay, atau Argentina. Mereka lebih dikenal karena kebudayaannya. Kolombia juga terkenal sebagai salah satu pusat industri manufaktur terbesar di Amerika Selatan.

Negara yang berada di barat laut Amerika Selatan ini merupakan negara terbesar keempat di Amerika Selatan. Tak heran kalau Kolombia termasuk negara yang sangat beragam akibat migrasi besar dari Eropa beberapa puluh tahun lalu. Perpindahan penduduk itu pula yang membawa budaya sepakbola ke Kolombia.

Setelah itu sepakbola menjadi populer di negara ini. Awal mulanya di era 1980-an ketika kartel narkoba paling besar di dunia, Pablo Escobar turun tangan mengelola sepakbola. Dengan kekayaannya di Atletico Nacional, Escobar bahkan sampai mengubah wajah sepakbola Kolombia. Kala itu sepakbola Kolombia mendapat julukan “Narcos Football”.

Narcos Football

Menurut beberapa penelitian yang menelaah tentang hubungan antara sepakbola dan gembong narkoba mengemukakan, Narcos Football sudah dimulai pada awal 1980-an. Pada saat itu Kolombia mulai membolehkan hal-hal yang awalnya dianggap tak legal. Termasuk salah satunya peredaran narkoba.

Di era itulah, orang-orang mulai membangun kekuatan bisnis di bidang penyedia barang haram tersebut. Karena sepakbola merupakan olahraga paling populer di Kolombia, para kartel memandang klub sepakbola sebagai mekanisme sempurna untuk mencuci uang. Biaya transfer pemain dan gaji dinaikkan secara tidak sah ke angka yang mencurigakan dan berlebihan.

Skema semacam itu juga dimanfaatkan oleh Pablo Emilio Escobar Gaviria, yang dikenal sebagai satu di antara pemimpin kartel narkoba paling besar dalam sejarah. Di negaranya, Escobar bak memiliki dua jati diri. Sebagian menganggap kalau dia adalah salah satu orang paling berbahaya. Namun, di sisi lain Escobar justru dianggap penyelamat. Terutama di mata lapisan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan.

Meski uang yang dihasilkan dari perdagangan barang haram, ia tetap memiliki jasa dalam membangun perekonomian dan sumber daya manusia di sekitar Madeline. Salah satu jasanya adalah membangun persepakbolaan di negara Amerika Selatan ini. Berbekal saldo rekening yang tak terhingga, El Patron menyuntikan dana besar ke salah satu klub yang berasal dari kota kelahirannya, Atletico Nacional. 

Juara Copa Libertadores

Beda dengan kartel lain yang hanya menggunakan klub sepakbola sebagai tempat pencucian uang, Pablo Escobar tidak. Ia benar-benar mencintai olahraga yang satu ini. Escobar memang bukan atlet atau mantan pesepakbola profesional, tapi berkat kecintaan kepada sepakbola, ia juga memikirkan kemajuan Nacional.

Secara struktural organisasi Escobar memang tak tercatat sebagai anggota manajemen klub. Namun melalui penghasilan sekitar 70 juta euro per hari atau setara Rp1,1 triliun membuat dirinya dengan mudah membangun kembali Atletico Nacional secara menyeluruh. Ia bahkan melakukan transfer besar-besaran demi memperkuat tim yang berasal dari kota kelahirannya itu.

Berkat uluran tangan Pablo Escobar, Atletico Nacional jadi klub yang sangat kuat di Kolombia. Nacional bahkan sempat mendominasi kompetisi domestik Kolombia di pertengahan 1980. Pablo sesekali terlihat di tribun untuk menonton pertandingan Los Verdolagas. Ia sangat menikmati peran barunya sebagai investor klub sepakbola.

Puncaknya mungkin terjadi pada tahun 1989, saat klub El Patron tersebut menjuarai Copa Libertadores. Pada saat itu, Nacional jadi klub Kolombia pertama yang memenangkan gelar tersebut. Setelah juara, Escobar mengadakan pesta besar-besaran. Ia mengundang seluruh pemain Nacional untuk merayakan setiap keberhasilan yang mereka raih.

Kehancuran Sepakbola Kolombia

Kecintaan Escobar terhadap sepakbola tak hanya ditunjukkan melalui Atletico Nacional saja. Melainkan hampir di seluruh pelosok Kolombia. Selain membangun lapangan sepakbola sendiri di kediamannya. Escobar juga membangun lapangan sepakbola di daerah-daerah agar anak-anak lokal bisa menikmati sepakbola dari dekat rumah.

Apa yang telah dilakukan kartel narkoba ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Escobar memiliki pengaruh besar di sepakbola Kolombia. Saking besar pengaruhnya, bahkan ketika ia meninggal pada 1993, kekuatan Atletico Nacional menurun tajam. Kartel narkoba saingan Escobar mulai merusak nama baik sepakbola Kolombia saat itu.

Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat jadi akhir dari era keemasan sepakbola Kolombia di bawah bayang-bayang Narcos Football. Kolombia datang ke Amerika Serikat sebagai salah satu tim kuda hitam. Sayang, ekspektasi tinggi itu gagal diwujudkan Carlos Valderrama cs dan pulang lebih awal usai jadi juru kunci Grup A, kalah bersaing dengan Rumania dan Swiss sebagai juara grup serta runner up saat itu.

Dalam kegagalan timnas Kolombia tersebut, ada hal yang menyita perhatian dunia. Yaitu ketika pemain Timnas Kolombia, Andres Escobar dibunuh dengan cara tragis hanya karena melakukan gol bunuh diri. Dia meregang nyawa setelah ditembak mati algojo suruhan salah satu kartel narkoba saingan El Patron.

Tidak butuh waktu lama bagi kepolisian untuk mengungkap tragedi berdarah ini. Polisi menangkap pria bernama Humberto Castro malam hari setelah kejadian. Dia merupakan kaki tangan kartel narkoba Santiago Gallon. Peristiwa paling sadis di sepakbola ini telah mencoreng wajah sepakbola Kolombia.

Kebangkitan Sepakbola Kolombia

Setelah rangkaian mimpi buruk tersebut, sepakbola Kolombia mulai pulih. Uang haram Escobar pun perlahan lenyap beriringan dengan kematian Andres Escobar. Rodriguez Orejuela bersaudara, salah satu kartel yang berkuasa setelah kematian Pablo pun diekstradisi ke Amerika untuk menjalani hukuman penjara yang cukup lama. 

Sepakbola Kolombia mulai memberikan harapan pada awal 2000-an. Kebangkitan Kolombia pasca lika-liku Narcos Football tercipta di Copa America 2001. Bukan Brazil, Argentina, atau Uruguay selaku raksasa Amerika Latin yang melakukannya, melainkan Kolombia. Los Cafeteros berhasil membawa pulang trofi paling bergengsi se-Benua Amerika tersebut.

Kolombia menciptakan sejarah baru sekaligus menjadi tim ketujuh yang mampu menjuarai Copa America setelah Argentina, Bolivia, Brasil, Paraguay, Peru, dan Uruguay. Ini menjadi sebuah prestasi yang tak disangka-sangka, terlebih Kolombia baru saja lepas dari masa lalu yang kelam.

Nacional Masih Jadi yang Tersukses

Timnas Kolombia berhasil keluar dari kegelapan, lantas bagaimana kabar Atletico Nacional, mantan klub Pablo Escobar? Sama halnya dengan tim nasional, Atletico juga perlahan mulai membaik. Mereka tetap berusaha untuk tetap berlaga di kasta tertinggi sepakbola Kolombia. Meski sempat puasa gelar selama bertahun-tahun, Nacional tak pernah kehilangan nama besarnya di Kolombia. 

Setidaknya butuh 27 tahun lamanya bagi Los Verdolagas untuk kembali meraih gelar internasional, yakni Copa Libertadores. Mereka memenangkan turnamen tersebut pada tahun 2016 setelah mengalahkan wakil Ekuador, Independiente del Valle. 

Meski tak sesering dulu, Nacional masih bersaing di papan atas liga. Bahkan pada tahun 2022 kemarin, Nacional keluar sebagai kampiun Liga Kolombia. Menurut situs Transfermarkt, Los Verdolagas masih berstatus sebagai klub tersukses Kolombia dengan raihan 17 gelar liga dan dua gelar Copa Libertadores.

Sumber: Breaking The Lines, Sportskeeda, FFT, BRfootball, Foottheball

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru