Malangnya PSG, Skuad Elit Juara Liga Champions Sulit!

spot_img

Usai kalah dari Bayern Munchen di babak 16 besar, PSG terpaksa mundur dari perebutan gelar juara Liga Champions musim ini. Skuad asuhan Christophe Galtier takluk dari juara Liga Champions tahun 2020 dengan agregat 3-0. Miris bukan? Dalam dua leg, PSG bahkan gagal menjebol gawang Bayern yang bahkan ‘hanya’ dikawal kiper serep, Yann Sommer.

PSG tampil kurang menggigit meski diperkuat Kylian Mbappe hingga Lionel Messi. Kita ketahui, dari lini depan hingga penjaga gawang sudah ditingkatkan oleh PSG. Namun, mengapa klub dari Prancis ini selalu gagal membawa pulang si kuping besar?

Skuad Elit, Juara Sulit

PSG yang memiliki finansial kuat memang sangat mudah untuk membangun skuad yang berisikan pemain-pemain papan atas. Mereka bahkan tak kesulitan ketika Barcelona meminta harga yang tak masuk akal untuk Neymar tahun 2017 lalu. Namun, power yang mereka miliki justru menjadi bumerang.

Beberapa sumber mengatakan kalau Qatar yang menginvestasikan banyak uang ke PSG hanya bertujuan untuk bisnis, bukan kemajuan sepakbola. Jadi tak heran apabila pada akhirnya, Les Parisiens akan selalu berisi pemain-pemain kelas wahid, tapi manajemen tidak tahu cara mengelola tim.

PSG terdiri dari nama-nama pemain besar seperti Sergio Ramos, Gianluigi Donnarumma, Lionel Messi, Kylian Mbappe, dan Neymar. Namun, nama besar juga membawa ego yang besar pula. Dengan menggabungkan semua ke dalam satu tim, tentu menimbulkan konsekuensi yang cukup besar. 

PSG dianggap tidak memiliki sikap kolektif di balik rangkaian nama-nama besar itu. Tidak ada kohesi dan tidak ada semangat dalam kesatuan tim. Jadi, ketika bersaing di ajang sebesar UCL, mereka tak memiliki motivasi besar.

Apalagi kita semua tahu kalau PSG mengistimewakan Mbappe. Mereka bahkan memberikan kontrak eksklusif yang mungkin tak pernah didapatkan oleh pesepakbola profesional sebelumnya. Di PSG, Mbappe diberikan hak istimewa untuk mengambil keputusan di situasi tertentu dan hal itu sesekali membuat suasana ruang ganti PSG kian memanas.

Pemilihan Pelatih yang Ngawur

Sebetulnya ada kiat-kiat tertentu yang bisa ditempuh PSG untuk mengelola tim yang berisikan pemain-pemain bintang. Salah satunya dengan menunjuk pelatih yang tepat. Karena dengan adanya pelatih yang memiliki karakter yang kuat, ia bisa meredam ego para pemain dan menjadi jembatan antara pemain satu dengan yang lain. 

Dulu barangkali kita mengenal nama Sir Alex Ferguson yang memiliki karakter keras di Manchester United. “Persetan dengan status kebinatanganmu, di sini saya yang berkuasa.” Begitu kira-kira sudut pandangnya saat itu. Sir Alex bahkan tak segan untuk menyingkirkan pemain yang merasa lebih besar dari klub itu sendiri. 

Sedangkan di sepakbola modern ada pelatih-pelatih macam Jose Mourinho, Carlo Ancelotti, hingga Zinedine Zidane yang memiliki karakter yang khas untuk mengelola tim yang berisi pemain-pemain bintang. Bahkan Zidane yang terbilang masih muda sudah terbukti kualitasnya saat mengelola tim dengan Cristiano Ronaldo, Karim Benzema, hingga Sergio Ramos di dalamnya.

Menurut Copa90, PSG memang kesulitan menemukan pelatih yang pas. Tercatat hanya Thomas Tuchel yang terbilang lumayan. Laporan itu menyebut, Tuchel adalah satu-satunya pelatih terbaik yang pernah didatangkan ke Parc des Princes. Sayangnya, setelah gagal di Liga Champions, PSG justru memecatnya dan penunjukkan pelatih berikutnya tak punya rencana terukur. 

Musim ini saja, mereka menunjuk Christophe Galtier untuk menggantikan pilihan aneh lainnya, yakni Mauricio Pochettino. Kedua pelatih tersebut tercatat belum pernah menangani pemain-pemain berego tinggi. PSG sebenarnya hendak menggaet Zidane, tapi doi menolak dengan bersikeras hanya ingin melatih Timnas Prancis.

Jika target PSG cuma kompetisi domestik, Galtier memang sudah lebih dari cukup. Tapi dengan peta kekuatan sepakbola Prancis sekarang yang berbanding jauh dengan kekuatan PSG, tanpa pelatih pun PSG bisa jadi juara liga. Tapi ya kali klub sebesar PSG nggak pengen sesekali mengangkat trofi Liga Champions? 

Kesulitan Saat Melawan Tim Besar

Memiliki persaingan liga yang kurang kompetitif juga berdampak pada performa klub di Liga Champions. Terbiasa berlaga di liga petani membuat PSG sedikit terlena kala menghadapi tim-tim besar di kompetisi sebesar Liga Champions.

Dalam beberapa tahun terakhir, PSG kesulitan apabila menghadapi tim-tim yang bisa dibilang kualitasnya sedikit di atas mereka. Apalagi kalau ketemunya di fase gugur. Habis sudah. Musim lalu, mereka kalah dari sang raja Eropa, Real Madrid di babak 16 besar. Leg pertama menang 1-0 atas Madrid, tapi akhirnya kena comeback di leg kedua dengan agregat akhir 2-3.

Di musim 2020/21 kasusnya kurang lebih sama. Meski berhasil mengalahkan Bayern Munchen di perempat final, PSG kesulitan ketika menghadapi Manchester City di babak semifinal. Satu-satunya momen terbaik PSG adalah musim 2019/20.

Kala itu di fase gugur Liga Champions, PSG ‘hanya’ berjumpa Dortmund, RB Leipzig, dan Atalanta. Tapi dasar sial, di final mereka harus bertemu Bayern Munchen. Kemarin mereka bertemu lagi dan kalah lagi. 

Cara PSG Bertahan

Permasalahan PSG bukan soal mental saja, melainkan cara mereka bermain juga banyak kekurangan. Meski ada kredo bahwa pertahanan terbaik adalah menyerang, PSG tak bisa mengabaikan sisi pertahanan. PSG memang mendatangkan Sergio Ramos yang berpengalaman di Liga Champions, tapi itu saja tidak cukup.

Menurut Daily Mail, PSG memiliki komposisi yang tak seimbang antara sektor pertahanan dan penyerangannya. Trisula penyerang PSG yakni Kylian Mbappe, Neymar dan Lionel Messi dengan mudah menjadi yang terbaik dalam menyerang. Namun, ketiganya bukan tipe pemain yang mau turun dan membantu lini bertahan. Mereka tidak berkontribusi secara defensif dengan baik.

Itu diungkapkan oleh legenda Timnas Denmark, Peter Schmeichel. Menurutnya, ketika kehilangan bola, penyerang seharusnya ikut turun ke lini tengah untuk membantu pertahanan. Itulah yang dilakukan klub-klub seperti Real Madrid, Manchester City dan Bayern Munchen. Striker mereka tak segan berlari untuk mendapatkan kembali penguasaan bola. Sedangkan trio PSG enggan melakukan itu.

Emang Nggak Ada DNA Eropa

Beberapa klub tahu, selain skuad mentereng dan permainan yang apik, ada faktor lain yang diperlukan untuk sukses di Eropa, yakni DNA Eropa itu sendiri. PSG dipercaya tak akan pernah memiliki itu, meski sudah mendatangkan Lionel Messi. Toh, Messi juga sudah lama tak menjuarai Liga Champions. Trofi terakhirnya saja didapat pada tahun 2015.

Percaya tidak percaya, gen yang telah menjadi bagian dari DNA Eropa para klub top Eropa macam Real Madrid dan Bayern Munchen telah membantu meningkatkan kualitas tim di Liga Champions. Los Galacticos bahkan kini jadi klub tersukses di Eropa dengan berhasil mengoleksi 14 trofi Liga Champions. 

El Real jadi satu-satunya klub yang berhasil meraih trofi Liga Champions lima kali berturut-turut dalam lima edisi awal. Begitupun dengan FC Hollywood. Mereka mengklaim kalau DNA Eropa sudah mengalir di identitas klub sejak meraih hattrick trofi Liga Champions era 1970-an. Sedangkan PSG merupakan klub tanpa sejarah. Nama besarnya saja baru muncul awal tahun 2010-an.

https://youtu.be/7DpMJaIJazk

Sumber: Bundesliga, Copa90, Sportskeeda, Daily Mail, Sporting News

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru