Penantang Raksasa! Inilah 7 Underdog di Liga Champions Sejak Tahun 2010

spot_img

Masih segar di ingatan ketika Porto menjuarai Liga Champions di tahun 2004. Saat itu tim Jose Mourinho sama sekali tidak diunggulkan. Tapi itu jadi era terakhir underdogs menjuarai Liga Champions. Sejak era 2010 tidak ada lagi tim underdog yang juara. tapi banyak yang berjuang. Dan perjuangan itu patut untuk diapresiasi.

Schalke 2010/11

Mari kita mulai daftar ini dengan melempar ingatan ke musim 2010/11. Di musim itu, label underdog Champions League melekat pada diri Schalke. Padahal mereka mengawali musim itu dengan buruk. Die Knappen harus menelan kekalahan di empat laga awal Bundesliga.

Tidak puas dengan hasil itu, Felix Magath pun dipecat di pertengahan musim dan digantikan oleh Ralf Rangnick. Rangnick tentu mewarisi skuad yang compang-camping. Tapi setidaknya ia masih punya pemain berbakat seperti Neuer, Benedikt Howedes, Joel Matip, dan Julian Draxler. Juga pemain veteran seperti pangeran buangan Bernabeu, Raul dan Klaas-Jan Huntelaar.

Meskipun di liga mereka terseok-seok, di Liga Champions jalan mereka cenderung mudah. The Royal Blue mampu memuncaki klasemen grup yang berisikan Lyon, Benfica, dan Hapoel Tel Aviv. Raul dan kolega pun melenggang santai dengan mengalahkan Valencia di babak 16 besar.

Aksi luar biasa mereka tunjukan di laga perempat final. Di partai itu, Schalke mampu menekuk juara bertahan Inter dengan agregat 7-3. Tapi sayang sungguh sayang, mereka kalah di partai selanjutnya melawan Manchester United dengan agregat 6-1. Meskipun begitu, perjalanan mereka tetap membanggakan mengingat ini kali pertama mereka mampu mencapai semifinal Champions League.

Dortmund 2012/13

Di musim 2012/13, Borussia Dortmund ditempatkan di grup neraka berisikan Manchester City, Ajax, dan Real Madrid. Die Borussen mampu keluar sebagai pemuncak klasemen dengan catatan tanpa terkalahkan.

BVB diisi oleh bakat-bakat masa depan saat itu. Seperti Marco Reus, Ilkay Gundogan, Mario Gotze dan tentu saja Robert Lewandowski. Champions League musim 2012/13 seakan jadi panggung bagi pemain Polandia itu. Masih segar diingatan ketika ia mencetak empat gol ke gawang Madrid di semifinal.

Sayangnya mereka tidak bisa jadi juara setelah kalah lawan Bayern Munchen di final. Rival satu negaranya terlalu kuat untuk anak asuh Jurgen Klopp. Tapi ada satu pemandangan yang ngeri di final. Invasi Jerman terasa begitu nyata saat 80 ribu lebih orang datang ke Wembley untuk menyaksikan Der Klassiker di final Champions.

AS Monaco 2016/17

Tim asal Prancis memang tidak dikenal garang di Liga Champions. Tapi beda cerita dengan AS Monaco di musim 2016/17. Mereka mampu jadi wakil Prancis yang sampai ke babak semifinal.

Bisa dihitung sebagai underdog, ya karena mereka bukanlah tim bertabur bintang. Selain Falcao dan Joao Moutinho, Monaco tidak punya nama besar atau bintang masa depan. Tentu saja ada Kylian Mbappe, tapi selain dirinya tidak ada lagi. Pelatihnya, Leonardo Jardim pun bukan pelatih yang punya nama.

Laga alot sudah harus mereka lalui di babak 16 besar melawan Manchester City. Monaco bisa unggul gol tandang dengan agregat 6-6. Kemudian bisa menang telak lawan Borussia Dortmund yang dilatih Thomas Tuchel di perempat final. Sayang langkah mereka dihentikan di Semifinal oleh Juventus.

Ajax Amsterdam 2018/19

Selama abad ke-21, Ajax Amsterdam seperti klub kelas dua jika berpacu pada kompetisi Eropa. Jangan salah, Ajax memang bukan tim yang buruk. Tapi mereka tidak cukup baik untuk mendominasi benua biru.

Itu masih terasa sampai musim 2018/2019. Memang, Ajax di musim itu masuk ke zona Champions setelah mampu duduk di peringkat kedua Eredivisie musim sebelumnya. Tapi di musim 2017/18 Ajax bahkan tidak bisa lolos fase kualifikasi Champions League.

Itu yang membuat Erik Ten Hag, manajer Ajax saat itu ingin mengubah nasib klub di Eropa. Jika diperhatikan, tim Ajax musim 2018/19 memang tidak berisikan nama besar. Tapi mereka akan jadi bintang di masa depan. Seperti De Ligt, Frenkie de Jong, Donny van de Beek, David Neres dan Hakim Ziyech.

Pemain muda ditambah sistem brilian dari Ten Hag membawa mereka bisa menembus semifinal. Mengalahkan Real Madrid dalam laga paling dramatis di babak 16 besar. Sebelum akhirnya kandas dari Tottenham di semifinal.

Cerita Tottenham juga tidak kalah underdognya. Jangankan bisa diperhitungkan di Liga Champions, di liga domestik saja Spurs kurang diperhitungkan. Jadi saat mereka bisa mengalahkan Ajax untuk bisa sampai final, Pochettino berkata bahwa ini sudah seperti mimpi yang jadi kenyataan.

Tapi Spurs tidak bisa menang di final. Mereka tidak bisa mengalahkan hasrat buka puasa gelar Eropa Liverpool. Tapi bagaimanapun, perjalanan Spurs bisa sampai ke final tidak bisa diprediksi oleh siapapun.

Leipzig dan Lyon 2019/20

Musim 2019/20 memang jadi musim yang sedikit gila untuk dunia sepak bola. Pandemi yang menyerang menyebabkan kompetisi ditunda juga munculnya beberapa tim kejutan di Liga Champions. Pertama, tim unggulan seperti Liverpool dan Real Madrid harus tersingkir di babak 16 besar.

Atalanta berhasil menembus babak 16 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah. Dan terus melaju sampai perempat final. Dimana mereka ditaklukan oleh PSG. Selain itu, Leipzig dan Lyon juga muncul sebagai underdog. Kedua tim itu lolos dari grup yang sama, Grup G dengan tim jerman yang berada di puncak.

Itu membuat Lyon harus berhadapan dengan raksasa Italia, Juventus. Setelah susah payah menidurkan si nyonya tua, mereka mampu menaklukan Manchester City. Tapi Lyon tidak kuasa untuk mengalahkan Bayern Munchen yang sedang berada dalam mode angkat piala musim itu.

Sementara Leipzig dengan mudah mengalahkan Tottenham di babak 16 besar. Tim yang baru berumur jagung itu mampu mengalahkan Atletico Madrid di babak perempat final. Sampai akhirnya koyak di tangan PSG di babak semifinal.

Villarreal 2021/22

Terbaru, gelar pembunuh raksasa Eropa masih dipegang oleh Villarreal. Di musim 2021/22 pasukan Yellow Submarine mampu mengalahkan Juventus di babak 16 besar. Tidak sampai situ, anak asuh Unai Emery juga menaklukan Bayern Munchen di perempat final. Ya, kalian tidak salah ingat. Bayern Munchen sang raksasa Jerman ditenggelamkan begitu saja dengan agregat 2-1.

Tapi perjuangan mereka harus berhenti tidak jauh dari situ. Pasukan kapal selam kuning dikalahkan oleh Liverpool di babak semifinal. Tapi itu jadi perjalanan yang membanggakan untuk Villarreal. Mengulangi memori 2005/06, dimana mereka juga bisa sampai ke semifinal dan dikalahkan Arsenal di babak itu.

Sumber referensi: Balls, UEFA, Bundesliga, Spotskeeda, 90min, As, Insider, B/R, Optus

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru