Klub yang menghasilkan pemain-pemain berbakat itu banyak. Satu yang paling terkenal AS Monaco. Klub yang berlaga di Liga Prancis itu sempat dikenal sebagai pabriknya pemain-pemain kelas wahid. Bahkan sudah banyak klub top Eropa yang memberikan testimoni atas kualitas yang ditawarkan pemain jebolan Monaco.
Namun, kenapa ya mereka lebih doyan jual pemain daripada membangun skuad mewah mereka sendiri? Kira-kira bakal semewah apa line up Monaco apabila tak menjual asetnya?
Daftar Isi
Fabian Barthez
Penjaga gawang jadi posisi paling penting dalam membangun tim. Dan AS Monaco pernah memiliki penjaga gawang sekaliber Fabian Barthez pada akhir 90-an. Kiper berkepala plontos itu bergabung dengan Monaco dari klub Prancis lainnya, Marseille pada tahun 1995.
Selama berseragam Monaco, catatan statistik Barthez cukup oke. Selain mencapai 192 penampilan, Barthez juga menghadirkan dua gelar Liga Prancis pada musim 1996/97 dan 1999/2000.
Ia bahkan mengangkat trofi Piala Dunia bersama Timnas Prancis sebagai pemain AS Monaco. Kemudian ia melanjutkan kesuksesannya di Inggris bersama Manchester United. Di sana ia meraih berbagai trofi termasuk dua gelar Liga Inggris.
Patrice Evra
Di sektor bek tengah bagian kiri, ada Patrice Evra. Bek kiri asal Prancis tersebut pernah berseragam AS Monaco selama empat tahun sejak 2002 hingga 2005. Meski sama-sama bergabung dengan Manchester United setelah dari Monaco, karirnya di Prancis tak bergelimang trofi seperti Barthez.
Empat tahun berseragam Monaco, Evra hanya menghadirkan satu trofi Piala Liga Prancis 2002/03 saja. Selain itu, pencapaian paling apiknya mungkin pada saat mengantarkan Monaco mencapai partai final Liga Champions tahun 2004. Sayangnya Monaco takluk di tangan Porto racikan Jose Mourinho. Dua musim setelahnya ia dilepas ke MU pada pertengahan musim 2005/06.
Benoit Badiashile
Sebagai tandem Patrice Evra di lini bertahan ada Benoit Badiashile. Pemain yang kini berseragam Chelsea tersebut merupakan pemain didikan akademi. Ia akhirnya berhasil menembus tim utama pada tahun 2018. Meski masih berusia muda, Badiashile langsung mendapatkan kepercayaan besar dari Monaco.
Badiashile jadi nama yang paling anyar meninggalkan Monaco. Pemain yang mengantongi 135 penampilan itu baru saja bergabung dengan Chelsea pada bursa transfer musim dingin kemarin. Namanya masuk dalam daftar proyek jangka panjang Todd Boehly di Chelsea. Dengan tubuhnya yang besar dan kuat, tentu ia akan menjadi andalan Monaco apabila tak dijual.
Ricardo Carvalho
Sedangkan untuk menjadi leader di lini belakang, ada Ricardo Carvalho. Pemain belakang yang sudah malang melintang di klub-klub top Eropa itu membela Monaco sejak musim panas 2013 dan seketika menjadi pemain andalan tim. Meski demikian, Monaco memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Carvalho yang kedaluwarsa pada Juni 2016.
Selama tiga musim membela Monaco, Carvalho memang tak menghadirkan trofi untuk klub. Tapi menurut Wakil Presiden Monaco saat itu, Vadim Vasilyev, Carvalho telah memberikan segalanya bagi klub. Ia bahkan membantu meningkatkan motivasi bermain para pemain muda. Jika Monaco tak melepasnya, barangkali ia akan menjadi pemimpin yang ideal bagi klub.
Fabinho
Di sektor gelandang bertahan, Fabinho akan menjadi pemain yang paling tepat untuk mengisinya. Fabinho memulai karirnya di klub Brasil, Fluminense. Ia sempat bermain di Rio Ave dan Real Madrid sebelum bergabung dengan AS Monaco pada 2013.
Pemain berkebangsaan Brazil tersebut menjelma gelandang bertahan yang andal selama bermain untuk Monaco. Pemain berusia 29 tahun itu juga ikut membantu klub menggulingkan dominasi Paris Saint-Germain dengan menjuarai Ligue 1 pada musim 2016/17. Sayangnya, Monaco tak kuasa untuk menahan sang pemain saat tawaran 45 juta euro datang dari Liverpool setahun kemudian.
Aurélien Tchouameni
Tandem Fabinho barangkali ada Aurelien Tchouameni. Beda dengan beberapa pemain Monaco lain, Pemain yang baru diboyong Real Madrid awal musim ini bukan produk asli akademi Monaco. Tchouameni merupakan jebolan akademi Bordeaux. Ia baru bergabung dengan Monaco pada tahun 2020.
Sebagai gelandang bertahan, kemampuan pemain berusia 23 tahun ini cukup lengkap. Ia bisa bermain agresif tapi tetap bersih saat merebut bola dari lawan. Bahkan pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamp pernah mengatakan kalau Tchouameni sedikit lebih baik dari Paul Pogba.
Youri Tielemans
Sedangkan untuk penghubung antarlini, Monaco pernah memiliki Youri Tielemans. Tielemans mengawali karirnya di klub Anderlecht. Gelandang asal Belgia itu kemudian pindah ke AS Monaco pada 2017. Ia membela Monaco selama dua musim dan mencatatkan 65 pertandingan.
Meski demikian, ia belum pernah menyumbangkan satu gelar pun untuk Monaco. Setelah dua musim di Prancis, ia sempat diminati banyak klub-klub papan atas. Namun, dirinya justru bergabung dengan Leicester City dengan status pinjaman pada awal tahun 2019. Setelah dirasa memenuhi standar, The Foxes pun akhirnya mempermanenkannya di awal musim 2019/20.
James Rodriguez
Sedangkan di sektor gelandang kiri mungkin AS Monaco bisa mengandalkan James Rodriguez. Pemain yang bersinar di Piala Dunia 2014 ini merupakan gelandang yang kreatif. Mungkin dia bukan pemain yang mengandalkan kecepatan, tapi James mengunggulkan mobilitas dan kecerdasannya dalam membongkar pertahanan lawan.
Sayangnya, setelah James tampil mengesankan di Piala Dunia 2014, ia ditebus Real Madrid. Raksasa La Liga itu menawarkan 75 juta euro (Rp1,2 triliun), angka yang sulit ditolak oleh manajemen Monaco. Bersama Madrid, James jadi salah satu pemain bertipikal nomor 10 terbaik di Eropa.
Bernardo Silva
Di sektor kanan, Monaco pernah memiliki gelandang gesit nan kreatif lainnya yakni Bernardo Silva. Pemain berpaspor Portugal ini bergabung ke AS Monaco dari Benfica pada 2014. Ia awalnya datang sebagai pemain pinjaman, tapi berkat kontribusinya yang luar biasa, statusnya pun dipermanenkan pada musim berikutnya.
Silva juga bukan tipe pemain yang mengandalkan kecepatan namun ia lebih mengandalkan kontrol bolanya yang luar biasa. Ia memiliki peran penting dalam membantu Monaco merengkuh trofi Liga Prancis musim 2016/17. Bahkan berkat performanya yang ciamik, ia sempat dijuluki sebagai penerus Rui Costa di Timnas Portugal.
Kylian Mbappe
Untuk di sektor penyerang, Monaco bisa menggunakan dua penyerang yang salah satunya adalah Kylian Mbappe. Kemampuan pemain yang satu ini sudah tak diragukan lagi. Ia menjadi pemain muda paling berharga kala berseragam AS Monaco. Namun, 180 juta euro (Rp2,9 triliun) jadi angka yang cukup bagi PSG untuk memboyongnya pada tahun 2018.
Mbappe sendiri merupakan lulusan akademi Monaco. Ia dipercaya masuk ke tim utama AS Monaco pada tahun 2015. Mbappe yang kala itu masih 16 tahun mampu menunjukkan performa yang menakjubkan. Mbappe kemudian menjadi ujung tombak Monaco pada musim 2016/17. Ia berhasil mengantarkan klub menjuarai Ligue 1 dan menembus semifinal Liga Champions.
Thierry Henry
Sebagai lawan main Mbappe tentunya ada Thierry Henry. Image Arsenal memang lebih melekat pada Henry, tapi jauh kesuksesannya di London ia merupakan punggawa AS Monaco. Menariknya, ia merupakan jebolan akademi Monaco. Henry menembus skuad utama di tahun 1995 saat masih berusia 17 tahun.
Membela tim selama kurang lebih empat musim, Henry mencatatkan 141 penampilan di semua kompetisi. Tentu akan sangat menarik melihat Henry berduet dengan Mbappe di lini depan. Bek-bek lawan pasti dibuat ngos-ngosan dengan kecepatan dua pemain berkebangsaan Prancis ini.
Sumber: Sportskeeda, Mirror, Transfermarkt, Squawka, Bola


