Jika ada seorang pemain yang menolak untuk diganti oleh pelatih, tentu itu adalah kejadian yang mengejutkan dan tidak biasa. Tapi menolak untuk diganti di menit krusial dalam final melawan tim besar dan mengakibatkan seorang pelatih dipecat, itu baru luar biasa. Tentu saja yang dibicarakan adalah Kepa dan Sarri di final Carabao Cup 2019 melawan Manchester City. Itu terjadi di tanggal 24 November 2019
Daftar Isi
Kepa Tetap Ngeyel
Kedua tim bermain sama kuat. Baik Chelsea maupun Manchester City sama sama tidak bisa mencetak gol di 90 menit waktu yang tersedia. Sampai dua babak tambahan, masih saja tidak ada gol yang tercipta. Di babak tambahan kedua, ketika waktu menunjukan masa injury time, semuanya terjadi.
Maurizio Sarri berniat ingin melakukan pergantian kiper untuk mengantisipasi babak adu penalti. Namun Kepa Arrizabalaga, kiper baru Chelsea yang dibeli dari Bilbao dengan memecahkan rekor transfer seharga 72 juta pound, tidak mau diganti. Ia kukuh ingin tetap bermain di babak adu penalti.
Padahal sebelumnya, ia dua kali terlihat tersungkur di lapangan seperti sedang cedera. Tapi bukan itu saja alasannya. Sarri ingin memainkan Willy Caballero. Dia adalah kiper yang punya spesialisasi tendangan adu penalti.
Bahkan, Caballero adalah mantan kiper City yang membawa citizen menjuarai Carabao di tahun 2016. Yang mana juga lewat babak adu penalti melawan Liverpool. Jadi, strategi Sarri untuk mengganti Kepa dengan Caballero adalah strategi yang paling masuk akal.
Tapi Kepa punya ide lain. Ia ngotot tidak mau diganti, sambil memberikan sinyal bahwa dirinya masih fit. Sedangkan Sarri mulai mendidih. Ia terlihat sangat marah melihat Kepa yang tidak mau mendengarkan perkataannya. Padahal Caballero sudah berdiri tepat di belakang garis, menunggu Kepa untuk keluar.
Pada akhirnya, Sarri kalah. Pelatih asal Italia itu tidak bisa memaksa Kepa yang sama sekali tidak ada niat untuk sekedar ke pinggir lapangan. Sarri pun hanya bisa menunggu dengan kepala mendidih di bangku cadangan.
Tapi Kalah Juga
Setidaknya, Kepa bisa menyelamatkan tendangan dari Leroy Sane. Tapi itu sebenarnya tidak terlalu berpengaruh terhadap hasilnya. Sebelumnya ia salah menebak arah tembakan Gundogan, juga tak mampu menghentikan tendangan Aguero meskipun sudah menuju ke arah yang benar. Ia juga gagal menghentikan tendangan Bernardo Silva, meskipun bola mengarah ke tengah gawang.
Penjaga gawang City, Ederson telah menggagalkan tendangan pertama dari Jorginho. Azpilicueta dan Emerson mampu menuntaskan tugasnya dengan baik tapi, tendangan David Luiz yang gagal membuat situasi Chelsea jadi sulit. Meskipun Hazard melakukan panenka cantik, Chelsea masih tertinggal karena Kepa tidak bisa menyelamatkan tendangan dari City lagi. Hanya butuh Raheem Sterling yang menuntaskan tugasnya untuk membuat City keluar sebagai juara.
Sarri begitu marah dengan hasil itu. Dikabarkan ia langsung masuk ke lorong ruang ganti dan tidak mau menyalami lawan maupun anak asuhnya sendiri. Menggambarkan ekspresi Sarri sebagai kemarahan saat itu mungkin hal yang kurang tepat.
Sarri Telah Dikhianati
Bayangkan saja, bagaimana perasaan pelatih mengetahui anak asuhnya tidak mau mematuhi apa perkataannya. Yang akhirnya harus dibayar dengan harga yang luar biasa besar. Sarri tidak hanya marah. Ia pasti frustasi, bingung, dan kecewa.
Lebih jauh lagi, Sarri pasti merasa saat itu tidak ada pemain yang mendukungnya. David Luiz terlihat mencoba berbicara kepada Kepa. Meyakinkannya untuk mau diganti sebelum babak adu penalti. Tapi kemana Azpilicueta yang saat itu jadi kapten? Atau pemain senior lainnya.
Mengapa tidak ada yang mencoba untuk meyakinkan Kepa di lapangan, untuk mematuhi Sarri? Mengapa mereka membiarkan Kepa membantah instruksi pelatih? Dan mengapa para pemain Chelsea saat itu membiarkan Sarri marah-marah sendirian di pinggir lapangan? Jawaban dari pertanyaan itu akan mengungkap bagaimana hubungan Sarri dan Chelsea sebenarnya.
Itu diluar kesalahan wasit di pertandingan itu yang kurang tegas. Seharusnya ketika nomor punggung pemain sudah terpampang jelas di papan pergantian, wasit harus tegas menyuruh pemain itu untuk keluar lapangan. Tapi entah kenapa wasit saat itu, Jon Moss membiarkannya begitu saja.
Hanya Bisa Menangis
Tapi beberapa tahun setelahnya, kebenaran atas situasi itu pun terungkap oleh mantan pelatih kiper Chelsea, Massimo Nenci. Dikutip dari daily mail, Nenci mengklaim kalau Kepa sudah mengeluhkan cedera ringan sehari sebelum final itu.
“Sehari sebelumnya, Kepa mengeluhkan cedera ringan. Tapi itu tidak terlalu mengganggunya. Di akhir 90 menit laga itu, cederanya semakin terasa dan ia menerima perawatan di ruang ganti. Kemudian datanglah Rudiger, yang berkata kalau tim membutuhkan Kepa di pertandingan ini.”
Dokter klub saat itu membolehkan mengingat cedera Kepa juga tidak terlalu serius. Tapi memasuki babak pertambahan waktu, disinilah kesalahpahaman terjadi. Kepa ternyata tidak tahu strategi dari Sarri. Dan mungkin begitu pula pemain lainnya.
Kepa tidak mengira pergantian dirinya itu karena alasan taktik. Ia mengira, Sarri khawatir cederanya akan jadi lebih parah. Nanci melanjutkan, kalau situasi ruang ganti jadi sangat panas setelah laga. Semua pemain merasa marah, tapi tidak dengan Kepa. Ia hanya duduk dan meminta maaf sambil menangis keras.
“Semua pemain marah di ruang ganti. Tapi, Kepa adalah anak yang sangat, sangat baik. Ia menyadari kesalahannya dan dia menangis sejadi-jadinya. Dia adalah anak yang sangat baik.”
Nanci berkata kalau disitu Kepa menangis sambil meminta maaf kepada Sarri. Kepa berkata “Saya sungguh minta maaf, sungguh. Saya tidak paham.” Terlepas dari permintaan maafnya itu, Ia tidak dimainkan di pertandingan selanjutnya melawan Tottenham. Kepa juga dikabarkan harus membayar denda senilai seminggu gaji. Kira-kira sebesar 190 ribu pounds.
Di akhir musim 2018/19, Sarri berhasil menjuarai Europa League. Tapi itu jadi musim terakhirnya di Stamford Bridge. IA mengundurkan diri dari kursi kepelatihan Chelsea. Alasannya adalah Sarri homesick dan tak bisa menolak tawaran Juventus. Tapi juga ada rumor kalau Sarri dan manajemen Chelsea memang sudah tidak akur.


