Cinta Mati Claudio Marchisio yang Dibalas Cibiran dari Fans Juventus

spot_img

Eropa boleh punya trio gelandang terbaik di dunia dalam diri Luka Modric, Casemiro, dan Toni Kroos di Real Madrid yang kini tinggal kenangan. Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan Claudio Marchisio, Arturo Vidal, dan Andrea Pirlo. Trio Juventus yang pada eranya nyaris tanpa cela.

Tapi kita akan khusus membahas Claudio Marchisio-nya saja. Pria asli Turin itu memiliki kecakapan bermain bola yang luar biasa. Jika Arturo Vidal dengan dinamismenya menggerakan Juventus, Pirlo dengan kekuatan kakinya yang dahsyat, Claudio Marchisio adalah pesepakbola yang serba bisa.

Marchisio juga sosok yang setia. Ia menghabiskan hampir keseluruhan kariernya bersama Si Nyonya Tua. Marchisio menambatkan hatinya pada Juventus. Ia sudah kadung cinta mati pada Bianconeri. Bahkan kecintaannya pada klub dari Kota Turin itu tak bisa terluka hanya karena kelak, ia justru mendapat cibiran pedas dari para penggemar.

Lahir Juventus

Lahir Juventus. Seperti itulah Claudio Marchisio. Pria yang lahir 19 Januari di tahun ketika Argentina juara Piala Dunia untuk kedua kalinya itu mengawali karir di tim muda Juventus. Marchisio membentuk dirinya sebagai pemain dengan visi bermain yang bagus.

Selama di Juventus, ia terus mengembangkan kemampuannya secara taktikal. Tekadnya sederhana. Ia ingin bermain dengan idolanya, Andrea Pirlo. Maka dari itu, ketika Fabio Capello, pelatih Juventus kala itu memanggilnya ke tim senior pada musim 2005/06, ia senang bukan kepalang.

Setidaknya itu adalah jalan awal yang membuka kesempatan untuk bisa bermain dengan pemain idolanya. Namun, Marchisio yang kala itu masih berusia 18 tahun masih belum diberi kesempatan menjalani debutnya. Fabio Capello masih enggan memainkannya, terutama lantaran lini tengah Juventus sudah diisi pemain macam Patrick Vieira, Emerson, hingga Pavel Nedved.

Kesabarannya hampir saja tidak membuahkan hasil, jika kasus Calciopoli 2006 tidak menghantam Juventus. La Vecchia Signora terdegradasi ke Serie B. Klub harus dibangun ulang. Pelatih Juventus kala itu, Didier Deschamps memberi kepercayaan pada Marchisio. Ia dimainkan seiring pemain bintang yang hengkang.

Suatu saat Marchisio mesti menghaturkan terima kasih pada Deschamps. Sebab debut yang ia berikan menjadi batu pondasi karier Marchisio. Pada saat tiba waktunya, ia bisa bermain dengan Andrea Pirlo.

Trio MVP

Claudio Marchisio ternyata bukan sekadar bermain bersama Andrea Pirlo. Tapi pada musim panas 2011, tatkala Juventus dipegang pelatih bertangan dingin, Antonio Conte, Marchisio menjadi bagian penting di lini tengah.

Ia tidak hanya bermain bersama tapi merakit kemitraan dengan idolanya itu. Claudio Marchisio, Andrea Pirlo, dan satu lagi bakat dari San Joaquin, Arturo Vidal membentuk trio MVP. Trio yang kelak menambah daftar trio lini tengah hebat selain trio Xavi, Iniesta, dan Sergio Busquets.

Trio gelandang bentukan Conte ini menjadi sangat menakjubkan. Vidal, Pirlo, dan tentu saja Marchisio menjaga metabolisme lini tengah Juve. Menjadikan Bianconeri sulit terkalahkan. Pirlo menyumbangkan kekuatan kakinya.

Ia punya kemampuan menendang dan mengumpan dengan sama baiknya. Arturo Vidal yang sudah merajut reputasinya di Bundesliga piawai merebut bola. Ia bisa memenangkan bola, entah dengan cara menyakitkan atau lembut.

Sementara itu, Claudio Marchisio adalah gelandang serba bisa. Jika Pirlo punya kekuatan kaki yang hebat, kecerdasan teknik yang luar biasa, Marchisio adalah pelengkapnya. Kalau Pirlo adalah sosok regista, Marchisio mezzala-nya.

Marchisio memainkan peran gelandang serang tengah. Ia dianugerahi kemampuan mengenali waktu. Marchisio sadar kapan harus menyerang dan kapan kiranya mesti mundur. Tak ayal ia sering dicap sebagai shuttler terbaik di belantika sepak bola pada eranya.

Saat Trio MVP itu berdansa di atas lapangan, kita akan melihat Marchisio bergerak dinamis. Ia kadang melepaskan tembakan jarak jauh. Lalu di menit yang lain, kita melihat Arturo Vidal berlari mengejar bola.

Kita juga akan menyaksikan betapa lengketnya bola di kaki Pirlo. Seolah ia bisa menghipnotis bola itu sehingga ke mana pun diarahkannya, bola tersebut akan nurut. Puncaknya, Trio MVP mengantarkan Juventus meraih scudetto musim 2011/12 dengan cara tak terkalahkan.

Menikah dengan Fans Torino, tapi Tetap Cinta Juventus

Claudio Marchisio sungguh cinta mampus pada Juventus. Tatkala terkena kasus Calciopoli, ia memilih bertahan. Sebab ia butuh menit bermain. Di satu sisi, di tahun yang sama, Marchisio bertemu pujaan hatinya.

Ketika harus menerima perawatan medis sekitar tahun 2006, di pusat pelayanan medis ia bertemu sosok perempuan bernama Roberta Sinopoli. Roberta langsung jatuh cinta pada Marchisio pada pandangan pertama. Sungguh kisah asmara Marchisio sangat indah.

Roberta mencintai Marchisio, pun sebaliknya. Marchisio beruntung, kisah cintanya berakhir di depan altar. Tapi kecintaannya pada sang kekasih tak membuat cintanya pada Juventus sirna. Walaupun sang istri adalah penggemar berat Torino yang jadi rival Juventus. Sementara mertuanya juga mantan pemain junior Torino.

Dicibir Fans

Tidak ada kisah cinta tanpa dinamika. Begitulah perjalanan cinta Marchisio dan Juventus. Barangkali ia tidak pernah menyangka, di tengah kemesraannya dengan Juventus, ia mesti mendapat cibiran dari para juventini.

Jelang final Liga Champions 2017, Claudio Marchisio mengunggah di media sosialnya foto tragedi di Mediterania. Ia berkomentar yang intinya mempertanyakan nasib seorang imigran. Marchisio juga ternyata belakangan diketahui pro-imigran.

Postingan itu dihujani pujian. Namun, di antara lautan pujian ada pula ombak kritik dari para penggemar Juventus yang tak kalah besar. Para penggemar Juventus yang kebanyakan dari mereka adalah kaum sayap kanan, meminta agar Marchisio fokus saja soal sepak bola. Tidak perlu mencampuri urusan para imigran.

Cibiran itu walau bagaimana merupakan kenyataan pahit yang mesti diterima Marchisio. Paling tidak mantan anak asuh Antonio Conte itu mengerti. Bahwa soal ideologi, paham, keyakinan tak bisa diusik. Singkat kata, ia jangan berpendapat selain paham yang dianut mayoritas penggemar Juventus.

Masih Tetap Dicintai

Ibarat jalan raya, cibiran itu hanyalah kerikil-kerikil kecil yang tak mungkin bisa menghalangi mobil cintanya Marchisio melintas ke jalan cintanya para fans Juventus. Marchisio tetap bersemi dalam hati segenap fans. Ia tak lapuk hanya karena mengutarakan pendapatnya soal hak-hak imigran.

Para fans bahkan berupaya agar Juventus tak menjual Marchisio saat sang pemain tak masuk rencana. “Jangan sentuh Marchisio. Tetaplah bersama kami,” begitu tulisan spanduk di tempat latihan Juventus.

Marchisio sungguh-sungguh jadi episentrum kecintaan para penggemar pada Juventus. Sampai-sampai Marchisio, oleh fans Juventus dijuluki “Il Principino” atau kalau diartikan secara bahasa berarti “Pangeran Kecil”.

Kelak Claudio Marchisio memang dilepas ke Zenit St Petersburg tahun 2018, tapi ia pensiun sebagai simbol dan ikon kembalinya Juventus. Jika Juventus adalah Nyonya Tua, Marchisio adalah pangeran kecil yang lahir dari rahimnya.

https://youtu.be/YETjr3y36NA

Sumber: TheSportsMan, Football-Italia, AroundTurin, BlackWhiteReadAllOver, Sportmob, BR, FootballParadise

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru