Gol kemenangan Southampton atas tim seharga triliunan rupiah, Chelsea lahir dari kaki James Ward-Prowse. Lagi-lagi, sang kapten jadi dewa penyelamat klub yang sudah ia bela sejak usia belasan tahun tersebut. Berkat tendangan bebas yang mematikan, Southampton berhasil membawa pulang tiga poin dalam lawatannya ke Stamford Bridge.
Kemampuan Ward-Prowse dalam mengeksekusi tendangan bebas sudah tak bisa diragukan lagi. Kehebatannya itu bahkan sering jadi jurus terakhir apabila Soton menghadapi deadlock dan kesulitan untuk mencetak gol.
Spesialisasinya itu jugalah yang membuat beberapa klub besar Inggris tertarik untuk mendatangkannya. Namun, Ward-Prowse akan selalu memilih untuk bertahan di Southampton, klub yang ia cintai.
Daftar Isi
Siapa James Ward Prowse?
Ward-Prowse tumbuh di keluarga yang menggemari sepakbola. Kedua orang tuanya penggemar berat salah satu klub Inggris, Portsmouth. Saking ngefansnya, kedua orang tuanya menyaksikan pertandingan Portsmouth ketika Ward-Prowse sedang dalam kandungan. Kelak ketika ia lahir, sang ayah pun mengajaknya menonton pertandingan bola.
James sering diajak ayahnya untuk menonton pertandingan Portsmouth. Dengan demikian, Ward-Prowse tumbuh sebagai penggemar Portsmouth dan merupakan pemegang tiket musiman menjaga tradisi dari anggota keluarga lainnya.
Di usianya yang menginjak tujuh tahun, ayahnya memasukan Ward-Prowse ke akademi Portsmouth. Dia tampil beberapa kali untuk tim U-9 Portsmouth sebelum akhirnya ada pemandu bakat dari Southampton meliriknya setahun kemudian. Ketika berusia sembilan tahun, ia memutuskan untuk bergabung dengan akademi Southampton.
Delapan tahun menimba ilmu di akademi The Saints, Ward-Prowse akhirnya melakukan debut bersama tim senior pada tahun 2011 silam. Saat itu Ward-Prowse jadi salah satu bakat paling menjanjikan lantaran sudah mampu menembus skuad utama kala berlaga di Piala Liga kontra Crystal Palace di usia 16 tahun.
Meski sudah melakukan debut bersama tim senior, Ward-Prowse baru menandatangani kontrak profesional bersama Soton pada tahun 2012. Setelah menandatangani kontrak pertamanya, ia selalu menjadi andalan di lini tengah The Saints. Sejauh ini, pemain yang berposisi sebagai gelandang tengah tersebut bisa dibilang sebagai pemain yang identik dengan Southampton, karena ia tidak pernah membela klub lain selain The Saints.
Keistimewaan
Di awal Ward-Prowse bergabung dengan skuad utama Southampton, ia dikenal sebagai remaja yang selalu berusaha tampil menonjol baik di sesi latihan maupun dalam pertandingan. Ia tak hanya berbakat dalam hal teknik, tapi juga merupakan pemain yang rendah hati dan tak anti-kritik.
Ada banyak pemain Akademi Southampton yang tergoda dan menyeberang ke klub lain untuk membuktikan diri. Tapi Ward-Prowse memilih setia bertahan di klub. Menurut penuturan pelatih Southampton saat itu, Ralph Hasenhuttl, kesetiaan merupakan sifat yang identik dengan James Ward-Prowse.
Selain menjunjung kesetiaan, Ward-Prowse juga dikenal aktif berkomunikasi dengan rekan-rekan satu timnya. Ia menjadi pemimpin, baik ketika dalam pertandingan maupun di luar lapangan. Dia lebih suka berbicara dari hati ke hati kepada para pemain, daripada hanya mengkritik pemain lain.
Sadar tak akan pernah jadi gelandang terbaik di Inggris, ia meningkatkan kemampuan khususnya. Sebagai pemain yang mengidolakan David Beckham, tak heran apabila Ward-Prowse menjadikan keahlian tendangan bebas sebagai ciri khas permainannya. Ia sangat terobsesi dengan sepakan melengkung mantan punggawa Manchester United tersebut.
Jadi Salah Satu Penendang Bebas Terbaik di Inggris
Keahlian tendangan bebas yang dimiliki oleh James Ward-Prowse bak sebuah anugerah yang turun langsung dari langit. Saking akuratnya tendangan bebas Ward-Prowse, ia seakan tahu bahwa ia akan mencetak gol bahkan sebelum melepaskan tembakan.
Dari David Beckham, Gianfranco Zola, Thierry Henry hingga Cristiano Ronaldo, semua identik dengan seni tendangan bebas ini. Tapi penerus alami dari deretan pemain tersebut sangat jarang. Saat ini satu-satunya pemain yang terus membangun reputasi sebagai spesialis bola mati adalah James Ward-Prowse.
Kepada The Guardian, Ward-Prowse bahkan sempat menyombongkan diri soal tendangan bebasnya itu. Dengan nada angkuh, Ward-Prowse berkata kalau ia bisa saja mengarahkan bola ke mana pun ia mau. Dan apabila sasaran sudah terkunci, jangan harap penjaga gawang bisa menghentikan laju bola yang ia kirimkan.
Terdengar congkak, tapi itu fakta di lapangan. Kehebatannya juga dibuktikan dengan statistik gol dari tendangan bebasnya. Ward-Prowse sudah punya koleksi 17 gol tendangan bebas di Liga Inggris. Yang terbaru korbannya adalah Chelsea-nya Graham Potter.
Ia tak henti-hentinya mencetak gol dari skema bola mati. Menurut situs resmi Premier League, ia hanya membutuhkan satu gol tendangan bebas lagi untuk menyamai rekor legenda Inggris sekaligus idolanya, Beckham. Catatan manisnya ini semakin mengukuhkan dirinya sebagai eksekutor bola mati terbaik yang masih aktif bermain di Inggris
Sekali Southampton Tetap Southampton
Keistimewaannya itu membuat Ward-Prowse selalu menjadi topik hangat di bursa transfer musim panas. Setiap tahun pasti ada saja tawaran dari klub-klub Liga Inggris lainnya yang ingin menebusnya dari Soton. Namun, sang pemain tetap teguh pada pendiriannya. Sekali Southampton, tetap Southampton.
Pemain berusia 28 tahun itu sempat diminati oleh West Ham, Aston Villa, Liverpool, bahkan Manchester United. Khusus Aston Villa yang pada tahun 2021 baru mendapat banyak uang hasil penjualan Jack Grealish ke Manchester City langsung menyodorkan 25 juta pounds atau sekitar Rp461 miliar kepada Soton. Tapi itu tidak cukup untuk menebus kesetiaan Ward-Prowse.
Sang pemain bahkan rela menggadaikan mimpinya guna mengikuti jejak karir David Beckham yang bermain di Manchester United. Ward-Prowse tak kuasa meninggalkan Southampton karena merasa masih memiliki hutang budi pada klub.
Pada musim 2020/21, Ward-Prowse menjadi gelandang pertama yang bermain di setiap menit dalam satu musim Liga Inggris secara berturut-turut. Bukannya mencari tantangan baru dengan bergabung dengan klub yang lebih baik, Ward-Prowse justru menandatangani kontrak baru berdurasi lima tahun bersama The Saints.
Itu semua ia lakukan agar bisa bertahan lebih lama di Soton. Dilansir TeamTalk, Ward-Prowse menekankan kalau semua ini tentang bagaimana cara untuk membayar kepercayaan yang telah ditunjukkan klub kepadanya. Penandatanganan kontrak itu sekaligus mengakhiri spekulasi tentang masa depannya.
Menjadi Pemain Paling Dihormati di Tim
Kesetiaan James Ward-Prowse disambut baik oleh klub dan fans. Pengalaman mengajarkan pada Southampton bahwa kehilangan pemain bintang sangat tidak mengenakan. Jadi mereka senang dengan adanya Ward-Prowse yang melawan tradisi. Ia tak mengikuti jejak Gareth Bale, Luke Shaw, hingga Theo Walcott untuk hengkang dan bergabung dengan tim yang di atas kertas kualitasnya lebih baik.
Maka dari itu, pihak klub kini menjadikan James Ward-Prowse sebagai kapten tim. Ia menjadi pemain paling dihormati di ruang ganti. Bagi Ward-Prowse, hidup adalah tentang dedikasi dan loyalitas. Setelah hampir 12 tahun membela The Saints, Ward-Prowse diprediksi bakal jadi legenda klub suatu saat nanti.
Sumber: The Guardian, Sky Sport, BBC, Team Talk, Libero


