Percaya atau tidak, sebelum Antonio Conte datang di musim 2011/12 Juventus adalah tim underdog. Ya, memang sulit dipercaya Bianconeri adalah tim non-unggulan di Serie A. Mungkin iya, jika di tingkat eropa. Tapi kalau di Italia, tidak bisa dibayangkan Juventus pernah jadi underdog.
Untuk penggemar yang lebih tua, pasti tahu bagaimana keadaan saat itu. Bagaimana Juventus berusaha untuk bangkit dari kasus calciopoli yang menerpa si nyonya tua di tahun 2006. Juventus harus turun ke Serie B, beberapa bintang meninggalkan klub, dan membuat Juve juga terkena masalah finansial.
Ketika bianconeri absen di kompetisi teratas di Italia itu, Serie A dikuasai oleh tim dari Milan. Khususnya Inter Milan yang mendominasi liga dengan mendapatkan scudetto lima kali berturut turut. Yaitu di tahun 2006 sampai dengan 2010. Lalu di tahun 2011, gantian AC Milan yang merengkuh scudetto.
Tapi setelah itu, bianconeri langsung mendapat 9 gelar liga dalam waktu 9 tahun. Dari tahun 2012 sampai dengan 2020, si nyonya tua tidak pernah absen dari podium puncak. Bagaimana Juventus memulai kesuksesan ini?
Daftar Isi
Datangnya Antonio Conte
Jalan si nyonya tua menuju dominasi Italia dimulai pada tahun 2010. Tepatnya ketika Andrea Agnelli menggantikan Jean-Claude Blanc sebagai presiden klub. Kemudian la vecchia signora juga merekrut direktur olahraga baru, Giuseppe Marotta.
Tapi langkah-langkah itu tidak langsung menyulap Juve jadi tim yang mendominasi Italia lagi. Pelatih baru, Luigi Delneri malah membuat bianconeri makin berantakan. La Vecchia Signora bahkan sampai terdampar di posisi ke-7 untuk dua musim berturut-turut. Yaitu di musim 2009/10 dan 2010/11. Itu membuat mereka tersingkir dari zona kompetisi Eropa.
Dengan hasil buruk itu, Juventus memecat Delneri dan segera mencari pelatih baru. Nama yang paling jadi sorotan adalah Antonio Conte. Waktu itu, Conte bukanlah pelatih kawakan. Ia belum pernah melatih klub sebesar Juventus. Sebelum ke Turin, dirinya merupakan pelatih dari Siena. Tapi prestasi yang perlu dibanggakan dari Conte adalah ia membawa tim asal Toscana itu promosi ke Serie A.
Terlepas dari itu, bagi Juventini Conte bukanlah nama asing. Ia adalah legenda bianconeri di tahun 1991 sampai dengan tahun 2004. Semasa bermain untuk Juve selama 13 tahun itu, ia telah mempersembahkan lima gelar Serie A dan juga trofi bergengsi lainnya. Termasuk Liga Champions tahun 1996.
Stadion Baru
Untuk melengkapi nuansa dimulainya era baru, Juventus juga pindah ke rumah baru. Mereka tidak lagi menempati stadion Delle Alpi. Padahal Stadion itu cenderung baru. Dibangun di tahun 1990 untuk penyelenggaraan Piala Dunia.
Tapi desain dari Delle Alpi tidak pernah cocok untuk kompetisi sepak bola Serie A. Dengan trek balap lari, Delle Alpi lebih cocok untuk stadion Olimpiade daripada stadion sepak bola. Adanya trek itu juga membuat jarak kursi penonton ke lapangan jadi semakin jauh. Anehnya lagi, trek balap lari itu tidak pernah digunakan untuk kejuaraan resmi.
Delle Alpi pun dirobohkan dan dibangun stadion baru dengan nama Allianz Stadium. Stadion itu berukuran lebih mungil dari yang sebelumnya, dan memiliki kapasitas yang sangat kecil. Yaitu sebesar 41.507 penonton saja. Dengan kapasitas seperti itu, Allianz bahkan tidak bisa memenuhi syarat sebagai tuan rumah final Liga Champions. Tapi itu jadi penanda era baru Juventus akan dimulai.
Membajak Pirlo
Terlepas dari itu, perlu diingat bahwa Antonio Conte mewarisi tim yang bobrok. Leonardo Bonucci yang baru datang di musim sebelumnya belum bisa membuktikan apapun. Ia jadi kambing hitam atas buruknya keseluruhan skuad Juve musim 2010/11.
Conte pun membeli Mirko Vucinic dari AS Roma. Ia diproyeksikan sebagai pencetak gol utama. Mengingat Alessandro del Piero yang sudah kelihatan tua-nya dan Alessandro Matri yang belum bisa diandalkan di skuad.
Tidak berhenti di lini serang, Conte juga sadar lini tengah dan belakang si nyonya tua sangat rapuh. Dengan begitu, ia pun membeli Andrea Barzagli dari Wolfsburg. Kemudian direkrut pula Stephan Lichtsteiner dari Lazio dan Arturo Vidal dari Bayern Munchen. Juve telah menghabiskan total 21 juta euro untuk tiga pembelian itu. Ditambah dengan Mirko Vucinic dari Roma, totalnya jadi 36 juta euro.
Tapi siapa sangka rekrutan paling penting bagi Juve musim itu didapatkan dengan status bebas transfer, alias gratis. Pemain itu adalah Andrea Pirlo dari AC Milan. Pirlo sudah jadi legenda Milan selama 10 tahun kebelakang. Dan tidak ada yang meragukan kemampuan regista itu.
Tapi ia kurang berkontribusi di perebutan scudetto AC Milan di musim sebelumnya. Manajemen il diavolo rosso pun memilih untuk tidak memperpanjang kontrak Pirlo. Conte tentu dengan senang hati menampung gelandang legendaris itu. Pirlo juga ingin membuktikan kalau dirinya belum habis.
3-5-2 Jadi Identitas
Pirlo memang akan membuktikan kepada Milan kalau langkah mereka melepasnya begitu saja adalah keputusan yang gegabah. Bersama dengan Claudio Marchisio dan Arturo Vidal, mereka membentuk salah satu trio lini tengah paling kreatif seantero Eropa.
Dalam perkembangannya, Conte juga mengalami beberapa perubahan strategi. Awalnya Conte mencoba untuk menggunakan formasi 4-2-4, yang kemudian bertransformasi menjadi 4-3-3. Namun, tak lama setelah Conte sadar bahwa ia punya tiga bek tengah yang tangguh, maka formasi 3-5-2 langsung jadi pakem.
Ini mengatasi permasalahan bek kiri yang lemah. Barzagli, Bonucci, dan Chiellini jadi trio bek paling kuat di dunia. Padahal pertahanan Juventus jadi bahan ketawaan di musim sebelumnya. Tapi dengan formasi tiga bek tengah, Juve hanya kebobolan 20 kali sepanjang musim Serie A.
Langkah Awal, Perubahan Besar
Juventus menjamu Parma di pertandingan pembuka Serie A, 11 September 2011. Laga berakhir dengan kemenangan bianconeri dengan skor meyakinkan 4-1. Pirlo langsung mencuri perhatian dengan mencetak dua assist. Begitu pula dengan Vidal dan Marchisio yang mencetak dua gol cantik.
Juventus menang tipis di pertandingan selanjutnya. Bertandang ke markas Siena, Juve menang dengan skor 1-0. Diikuti dengan dua pertandingan yang berlangsung imbang. Dua menang dan dua kali imbang bukanlah hasil yang menakjubkan. Tapi gaya permainan Juve sudah menunjukkan aura juara. Yang paling mencolok adalah intensitas dan gairah tim Conte saat itu.
Itu jadi bekal mereka melawan sang petahana, AC Milan di pertandingan minggu ke-5 Serie A. Laga berjalan alot sampai tiga menit menjelang waktu berakhir. Tapi Marchisio mampu membuat bianconeri unggul di menit ke-87. Sebelum akhirnya menggandakan keunggulan di injury time.
Kemenangan itu jadi pintu bagian awal musim yang menyenangkan untuk Conte. Juventus menjalani empat kemenangan beruntun di akhir Oktober sampai akhir September 2011. Tapi kabar buruk menerpa kota Turin menjelang jeda tengah musim. Legenda Juventus, Alessandro Del Piero mengumumkan untuk tidak akan memperpanjang kontraknya bersama bianconeri. Ini akan jadi musim terakhirnya bersama si nyonya tua.
Del Piero semakin tidak terpakai di skuad Juventus setelah Conte sudah punya pemain yang lebih muda seperti Alessandro Matri dan Mirko Vucinic. Keputusan itu sempat membuat publik Allianz Stadium geram. Tapi perlu dimengerti, itu adalah harga yang harus dibayar yang membuat Juventus menjadi klub besar. Juventus tidak ragu untuk menyingkirkan Roberto Baggio di 1995, ketika mereka melihat bakat yang ditunjukan Del Piero muda.
Tapi tentu saja, kemarahan Juventini bisa dimengerti. Del Piero adalah legenda hidup bianconeri. Ia tetap setia meski Juve harus turun kasta di tahun 2006. Ia selalu bangga mengenakan jersey hitam putih ketika yang lain merasa hina setelah kasus calciopoli menguak. Hengkangnya Del Piero adalah penanda berakhirnya sebuah era.
Skandal Lagi?
Memasuki tahun 2012, Juve mulai terlihat kesusahan meskipun masih mampu menghindarkan kekalahan. Dari bulan Januari sampai dengan pertengahan Februari, Conte melewati empat kemenangan dan tiga hasil imbang dari tujuh laga.
Cobaan tidak berhenti sampai disitu. Di laga melawan AC Milan di pertandingan setelahnya, Juve dituduh telah kembali melakukan skandal. Milan seharusnya bisa menang lewat gol dari Muntari. Tapi bola yang jelas-jelas sudah melewati garis itu malah tidak dianggap sebagai gol oleh wasit dan hakim garis. Dengan itu, Juve bisa terselamatkan dari kekalahan dan bisa menyelesaikan laga dengan hasil imbang 1-1.
Sontak ini membuat publik heboh. Cap klub calciopoli seakan kembali terlihat di jidat la vecchia signora. Daripada menganggap sebagai kelalaian wasit, publik menganggap kalau Juve telah menyuap wasit di laga itu. Tapi tentu saja tuduhan itu tidak bisa dibuktikan bahkan sampai sekarang.
Merebut Scudetto, Memulai Dominasi
Hasil imbang melawan Milan itu tidak mampu membuat Juve menggeser rossoneri dari posisi puncak. Apalagi Juve menjalani tiga pertandingan setelahnya dengan hasil imbang. Berbeda dengan Milan yang membawa poin penuh di empat pertandingan selanjutnya.
Namun layaknya roda nasib yang berputar, Juventus punya momennya sendiri untuk menyalip il diavolo rosso. Marchisio dkk. semakin terbiasa dengan formasi 3-5-2 yang digagas Conte. Trio BBC yang beranggotakan Bonucci, Barzagli, dan Chiellini jadi trio bek yang tidak tertembus. Dari pertengahan Maret sampai pertengahan Mei, atau akhir musim, Juventus hanya kebobolan enam kali.
Dalam rentang waktu itu, pasukan Conte menjalani 11 pertandingan. Dengan hanya sekali imbang dan 10 pertandingan sisanya adalah kemenangan. Disaat hanya dua pertandingan liga tersisa, AC Milan akhirnya kalah juga. Bermain di Giuseppe Meazza, rossoneri dikalahkan Inter dengan skor 4-1.
Dengan begitu Juve resmi merengkuh scudetto untuk pertama kalinya sejak kasus calciopoli di tahun 2006. Ini juga gelar pertama Juve sejak tahun 2003, mengingat scudetto mereka di tahun 2005 telah dicopot. Juventus kembali jadi klub raksasa Italia. Bianconeri mendominasi Serie A untuk delapan musim kedepan.
Sayangnya Conte tidak membersamai Juve selama itu. Setelah tiga musim berturut-turut ia mendapatkan scudetto, Conte memilih untuk mencari tantangan baru. Ia pun mengundurkan diri dari Turin untuk menangani timnas Italia.
Sumber referensi: Football Critic, B/R, B/R 2, Black Withe, Juventus, Serie A


