Gebrakan Manchester City Sebelum Mereka Dibenci Banyak Orang

spot_img

Betapa malang nasibmu kini Manchester City. Dakwaan pelanggaran Financial Fair Play telah meluluhlantakkan kejayaan Citizens selama ini. City kini OTW jadi tim pesakitan setelah sanksi berat menantinya.

Borok City yang dicatat sejak kepemilikan Abu Dhabi itu kini telah terkuak. Kebencian sebagian publik kepada City yang selalu seenaknya membeli pemain, dan seenaknya juga mendominasi Liga Inggris kini terbayarkan.

Namun jika diingat, sebelum era Abu Dhabi yang bermasalah itu City harusnya berterima kasih dahulu pada taipan asal Thailand yang membuat namanya mulai berkibar.

Selamat Datang Thaksin Shinawatra

Asal tahu saja, City tak ubahnya dulu adalah klub yang hidup segan mati pun tak mau. City pada musim 2006/07 memecat pelatih Stuart Pearce dalam kondisi tim yang compang- camping setelah finish di peringkat 14 Liga Inggris. Sudah tidak ada manajer, tidak ada uang pula.

Namun hal itu seketika berubah berkat keajaiban pada Juni 2007. Ketika klub asal Manchester itu dibeli taipan Thailand, Thaksin Shinawatra. Dilansir ESPN, mantan perdana menteri Thailand itu mengambil alih saham mayoritas City dengan nilai 81,6 juta poundsterling.

Publik Citizens pun seperti ketiban durian runtuh. Dan benar saja perombakan besar-besaran dilakukan oleh Thaksin sejak kehadirannya. Salah satu yang fenomenal adalah penunjukan pelatih kawakan Sven Goran Eriksson. Pelatih Swedia itu dibayar mahal Thaksin guna mengawal era baru City.

Dari segi investasi pemain, Thaksin mengucurkan dana lebih dari 60 juta pounds untuk merekrut beberapa pemain kebutuhan Eriksson. Datanglah kemudian pemain macam Rolando Bianchi, Geovanni, Martin Petrov, Corluka, Garrido, Benjani, maupun Elano.

Total ada 13 pemain yang didatangkan di musim 2007/08. Termasuk hal sensasional membawa pemain Thailand seperti Teerasil Dangda. Hal itu membuktikan bahwa era Thaksin berusaha meningkatkan harkat dan marwah klub asal Manchester itu ke kancah dunia.

Nama Manchester City Mulai Dikenal Dunia Luas

Gebrakan awal Thaksin itu berdampak luas. Termasuk dari segi komersial. Pasalnya, di Liga Inggris pada saat itu belumlah ada pemilik dari Asia khususnya Asia Tenggara yang menjadi pemilik klub di Inggris.

Kita tahu sendiri bahwa pasar Liga Inggris di Asia termasuk yang tertinggi. Orang-orang di Asia khususnya Asia Tenggara saat itu juga akhirnya tahu ada klub kaya baru bernama Manchester City.

Tak lupa pula City di bawah Thaksin sempat diarak tur keliling Asia Tenggara untuk menyapa para penggemar. Dalam tajuk “Tur Pra Musim City” ketika itu, secara tidak langsung mengantarkan Brand City semakin terkenal. Contohnya saja dengan mulai banyaknya merchandise City yang laku dipasaran, peningkatan fanbase, serta pemberitaan yang intens di beberapa media.

Prestasi Biasa-Biasa Saja

Paling tidak kesan pertama ketika kedatangan Thaksin membuat publik City puas. Publik Citizens melihat sepakbolanya kini tak lagi terbelakang. Bahkan tetangganya Manchester United saja, musim itu mampu dikandaskan dua kali. Manchester City seakan telah memulai peradaban baru sejak saat itu.

Namun tunggu dulu, apakah era peradaban baru City di bawah Thaksin berjalan lancar? Nyatanya semua harapan yang sudah kadung berada di dalam benak publik Citizens itu adalah palsu. Keadaan berubah hanya sekejap ketika skuad besutan Eriksson itu perlahan terpuruk jelang akhir musim.

Performa City di paruh musim kedua benar-benar jeblok. Memang tak semudah membalikan telapak tangan. Eriksson bukanlah tukang sulap. Ia tentu butuh proses panjang membangun tim ini. Tapi di sisi lain hal itu tak diterima begitu saja oleh Thaksin yang sudah menggelontorkan banyak uang.

Awal Kehancuran Thaksin

Instan adalah hal yang diinginkan oleh Thaksin. Nah, inilah yang jadi biang kerok kenapa City di bawah kepemilikan Thaksin tak langgeng umurnya. Proses pembinaan, filosofi tim, pemilihan staf, dan manajemen yang mumpuni tidak dijalankan oleh Thaksin.

Maka tidak heran jika kehancuran cepat atau lambat akan menghampiri. Benar saja, era Thaksin hanya berlangsung semusim. Selain tentu beberapa hal tadi, ada juga alasan utama yang melatarbelakangi kenapa taipan Thailand itu tak awet di City.

FYI aja, Thaksin adalah mantan perdana menteri Thailand dari faksi militer yang asetnya dibekukan di Thailand pada waktu itu. Ia dikejar-kejar kasus korupsi di negaranya. Thaksin dianggap buronan, sampai beberapa kali surat penangkapan ditujukan padanya.

Tentu itu adalah hal yang sangat rumit bagi City, dan membuat Thaksin putus asa. Ia tak tahu apa yang harus diperbuat. Kondisinya Eriksson telah dipecat. Di akhir musim memalukan dengan kalah telak 8-1 atas Middlesbrough, Dan akhirnya hanya finis di posisi 9 Liga Inggris.

Datanglah Taipan Abu Dhabi

Tak usah menunggu lama bagi Thaksin untuk melepas City. Ketika diketahui, taipan Abu Dhabi, Sheikh Mansour tertarik mengambil alih posisinya. Win-Win Solution pun diambil. Satu sisi Thaksin selamat dan untung, di sisi lain publik City juga mendapat harapan baru lagi di bawah kepemilikan yang lebih tajir. Bak rejeki nomplok bagi Thaksin, klubnya itu dibeli mahal oleh taipan Abu Dhabi itu sebesar 200 juta pounds.

Tepatnya 1 September 2008, pemindahtanganan City dari Thaksin ke Sheikh Mansour diteken. Mansour lewat Abu Dhabi United Group (ADUG) mengubah City langsung menjadi tim terkaya di dunia dalam semalam. Publik City pun hampir tidak percaya apa yang telah terjadi.

Namun, taipan Abu Dhabi itu tentu tak sembarangan juga lho membeli City. Karena City namanya ketika itu sudah dikenal dan seksi secara bisnis. Artinya, sumbangsih Thaksin menancapkan tonggak “brand” Manchester City sangatlah besar. Apa jadinya jika City tak dibeli Thaksin dulu? Mungkin saja Sheikh Mansour lebih melirik tim lain yang lebih seksi untuk dibeli.

Dalam banyak hal, pengambilalihan pertama di era Thaksin itu ibarat latihan lari. Kesalahan di ancang-ancang awal yang dibuat era Thaksin harus diperbaiki oleh Mansour supaya lebih gesit lagi larinya dan tak tersandung.

Nah, sejak saat itulah City mulai tak disukai banyak orang. Lho kenapa? Pembelian pemain yang tanpa batas, harga dan gaji pemain yang merusak pasaran, serta prestasi demi prestasi yang didapat seenaknya adalah beberapa faktor kenapa mereka banyak tak disukai orang sejak kepemilikan Abu Dhabi, bahkan hingga sekarang. Terutama para fans tim kuat Inggris macam MU, Arsenal, Chelsea, Spurs, Liverpool, yang terusik dengan hadirnya klub ghaib yang meresahkan itu.

Sumber Referensi : bleacherreport, tifofootball, planetfootball, espn, dailymail

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru